
Mahardika menunggu Daisy di taman depan pavilliun. Pada jalan setapak yang bercabang empat, salah satu cabangnya mengantarkan siapa saja kembali ke halaman depan, tempat kendaraan di parkir dan pintu masuk ke garasi. Begitu melihat Daisy keluar dari pintu pavilliun, Mahardika melambai seperti orang yang baru saja berjumpa.
“Bagaimana caranya supaya kamu mendapatkan izin untuk keluar mengantarku? Maulana tidak akan membiarkannya!” Mahardika terkekeh kecil melihat tingkah bawahannya yang sedikit memalukan tetapi membuat hatinya nyaman itu. “Aku tidak pernah melihatnya overprotektif terhadap seseorang!”
“Dia menyayangi adiknya!” jawaban Daisy sudah pasti.
Bahkan jika memiliki adik seperti Maulana baik itu laki-laki atau perempuan Mahardika akan menyayanginya.
“Jadi, apa yang kamu katakan pada Maulana supaya mendapat izin keluar mengantarku?” tanya Mahardika sekali lagi.
Daisy mengarahkan sesuatu ke depan Mahardika. Ia sedikit menyipit untuk bisa melihat apa yang ada di tangan gadis itu. Ia kemudian terkekeh kecil saat tahu kalau yang ada di tangan Daisy adalah bawang putih yang amat dibencinya.
“Aku bilang akan memberimu ini kalau kamu berubah menjadi binatang buas di bawah cahaya bulan,” ujar gadis itu sambil tertawa.
Mahardika juga tertawa bersamanya.
Taman ini sepi saat malam karena kebanyakan pelayan tidak lagi beraktifitas di luar. Mereka lebih banyak di dalam rumah utama. Jadi mata-mata yang sebelumnya melirik dengan penuh ingin tahu lenyap seketika. Setelah menghentikan tawanya, Mahardika menatap ujung sepatu pantofelnya.
“Walau pun aku ingin, aku tidak bisa menjadi binatang buas dengan melihat kalau bukan wajahmu yang ada di sana!”
Daisy berhenti melangkah, membiarkan Mahardika mengambil langkah lebih jauh terlebih dahulu. Setelah itu baru berjalan kembali. “Aku tahu kalau hal ini akan terasa canggung!” kata Daisy pelan.
“Bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Hanya saja ....”
“Aku paham, sungguh! Kamu tidak perlu menjelaskan padaku. Karena aku juga merasa canggung berada di tubuh ini. Semua hal yang terjadi padaku begitu asing dan aneh. Tetapi, aku menyukainya. Apa kamu bisa melihat bagaimana orang di keluarga itu memperlakukanku bukan?”
“Ya, mereka orang yang menyenangkan. Aku merasa aman karena kamu bersama mereka!” kata Mahardika.
Pria itu sudah sampai di depan mobilnya sendiri, lalu memutar pinggangnya ke belakang untuk menatap Daisy. Lalu ia melangkah ke pintu mobil, menariknya hingga terbuka. “Makan malam yang sangat enak! Terima kasih sudah mengajakku!”
“Aku bahkan tidak menyangka kalau hasilnya akan baik. Nasi goreng buatanku pagi tadi hambar dan agak gosong!” Daisy mengosok-gosok kedua tangannya seperti orang kedinginan.
“Ah, aku jadi tahu alasannya kenapa Maulana senang sekali tadi saat sampai di kantor. Kamu memberinya imunitas berupa nasi goreng rupanya.”
__ADS_1
“Apa itu? Mana bisa nasi goreng menjadi imunitas. Untuk orang-orang seperti kami, hal-hal kecil seperti itu akan membuat kamu bersemangat lagi!” terang Mahardika.
“Kami?” Daisy tidak paham sebutan “kami” yanga diucapkan Mahardika.
“Sudahlah! Sampai jumpa!”
Mahardika tidak bisa menjelaskan yang dimaksudnya sebagai “Kami”. Saat ia menyalakan mesin mobil dan lampu menyala menyoroti Daisy, tampak olehnya wajah gadis itu cemberut. Ia merasa lucu karena menyadari kalau Daisy juga bisa bersikap kekanak-kanakan seperti itu.
Ia membelokan mobilnya, dan mulai melaju ke arah luar halaman rumah keluarg Aghra. Penjaga gerbang yang juga bertugas sebagai satpam membukakan gerbang bahkan sebelum mobil Mahardika sampai di sana. Ia melaju dengan mulus dan sampai ke jalanan utama hambatan.
Sudah pukul delapan malam saat ia keluar. Kemacetan yang biasanya menguasai jalanan di sore hari sudah lenyap. Setengah jam kemudian Mahardika sudah sampai di jalan masuk perumahannya dan sampai di dalam halaman rumahnya sendiri.
Seorang pelayan menyongsong kedatangan Mahardika di luar pintu masuk. Wajahnya tampak cemas.
“Ada apa?”
Kondisi orang tuanya memang agak tidak baik belakangan. Mahardika menjadi khawatir kalau kondisi keduanya bertambah buruk.
“Tuan Muda dicari Tuan Besar! Tampaknya Tuan sangat marah!”
Dilihatnya pelayan mengangguk untuk meyakinkan Mahardika.
Akan tetapi, Mahardika sama sekali tidak mengerti kenapa ayahnya marah. Mahardika merasa tidak melakukan kesalahan di perusahaan. Juga tidak melakukan kesalahan dalam bertindak. Seingatnya keuntungan perusahaan juga meningkat dari tahun lalu.
“Terima kasih sudah memberitahuku! Kamu bisa ke dalam lagi sekarang.”
Si pelayan menunduk pada Mahardika dan pergi ke dalam lebih dulu dari Mahardika.
Mahardika menghela napas beberapa kali, menyiapkan diri menghadapi masalah tidak terduga. Begitu selesai, ia melangkahkan kaki dengan pasti ke dalam rumah. Ia melewati ruang tamu dengan cepat, juga ruang tengah dan berbelok ke kanan.
Diketuknya pintu besar yang dicat coklat dan mengkilap oleh pernis. Pintu yang terlihat megah dan agak sedikit menakutkan.
“Papi, ini Mahardika!”
__ADS_1
“Masuklah dan tutup pintunya kembali!” suruh pria yang ada di dalam ruangan.
Mahardika melakukannya sesuai perintah. Ia menutup pintu dengan hati-hati supaya tak menimbulkan suara yang terlalu berisik. Ia tidak melihat bagaimana wajah ayahnya yang duduk di balik meja. Begitu mengangkat kepala, Mahardika baru tahu kalau wajah ayahnya tampak sangat masam.
“Apa kamu tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” tanya ayahnya pada Mahardika.
“Tidak!” jawab Mahardika jujur. Ia sama sekali tidak bisa memikirkan hal apapun yang bisa disebut sebuah kesalahan sehingga berhak dimarahi.
Pria yang duduk di balik meja tiba-tiba berdiri seketika, keluar dari tempat perlindungannya. Dengan langkah panjang-panjang yang tenang ia mendekati Mahardika. Tahu-tahu Mahardika sudah menerima sebuah tamparan di pipinya.
“Ini karena kamu tidak menyadari kesalahanmu!” kata ayah Mahardika tenang. “Sekarang aku akan memberitahumu apa kesalahan yang sudah kamu perbuat.”
Mahardika tidak menyahut. Ia tidak tahu apa yang sudah dilakukan sampai sang ayah menamparnya. Ia mundur selangkah membiarkan ayahnya kembali ke meja baru duduk di kursi di depan.
“Apa yang sudah saya lakukan, Pi?’
“Apa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sebagai pria?”
“Ya!”
“Apa kamu sudah melakukannya dengan baik?” tanya ayahnya Mahardika.
“Tentu saja, Pi, saya tidak pernah melakukan hal buruk pada wanita!”
Ayah Mahardika menghela napas dalam. “Kamu rupanya tidak sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan! Aku tidak keberatan kalau kamu membatalkan pertunaanganmu, tetapi kamu harus melakukannya dengan cara yang baik. Yang kamu lakukan tadi, adalah hal yang tidak termaafkan!”
Mulut Mahardika terbuka dan tertutup beberapa kali. Ia mau membela diri. Ingatannya membawa Mahardika pada kejadian di taman tadi. Pada Stefani yang mau melukai Daisy yang asli. Benar juga, walau pun Stefani sudah salah, ia seharusnya tidak melakukan hal itu. Lalu, ia juga makan malam di rumah Maulana tanpa memberitahu Stefani.
Mungkin ia tahu kebenarannya, tetapi orang-orang tidak.
“Apa kamu sudah ingat kesalahanmu?” tanya ayah Mahardika kembali.
“Ya!” Mahardika menjawab.
__ADS_1
“Baguslah! Karena aku ingin kamu memperbaikinya dengan benar.”