
Stefani hanya bisa mengepalkan jemarinya karena kesal dan begitu marah saat sampai di pintu samping. Saat itu Mahardika tengah mengenggam tangan Daisy yang berada di dalam tubuhnya dan menarik gadis itu pergi ke depan.
Ia dengan sigap juga pergi ke depan, bermaksud menghentikan jika hal lebih parah terjadi. Akan tetapi, ada ibu tiri Daisy di sana, tengah mengobrol dengan pelayan tentang bunga yang tidak disukai dan meminta pelayan untuk menyampaikan pada Handoko, ayah Stefani untuk mengantinya dengan jenis yang baru.
Jadi Stefani tetap berada di dalam rumah, mengintip dari jendela satu sisi ketika Aida, ibu tiri Daisy berlari turun dari teras dan memanggil Mahardika. Daisy punya harapan besar pada wanita yang menjadi nyonya pertama di rumah ini.
Namun, harapan Stefani hanya sebuah harapan saja. Aida tampak memiliki kemarahan sendiri karena tidak dianggap. Ia menghentakan kakinya sebagai sebauh ekspresif dan berjalan ke atas teras kembali. Pelayan yang mengobrol dengannya tadi sudah pergi.
Stefani terlambat untuk menyingkir dan kemudian harus berpapasan dengan wanita itu. Biasanya Aida akan tersenyum bagai matahari di pagi yang cerah, kali ini ia memandang masam pada tubuh anak tirinya. “Apa? Kamu lihat sendiri kan kalau tunanganmu membawa wanita yang menyatakan cinta padanya?”
Pertanyaan yang diajukan Aida terdengar mengejek dan tidak menyenangkan. Stefani jadi ingin tahu apa yang sudah terjadi kemarin sehingga reaksi Aida jadi begini. Bukankah wanita ini adalah sekutu yang seharusnya dipertahankan? Ia bisa membantu di dalam banyak hal seandainya sikapnya menyenangkan.
“Aku melihatnya! Kenapa Mama tidak mencoba memisahkan mereka?” Stefani masih berusaha memanfaatkan keadaan yang seperti ini.
“Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah kamu melarangku ikut campur dengan urusanmu kemarin?” Setelah mengatakan hal itu Aida meninggalkan Stefani begitu saja.
Stefani pun berbalik, baik kembali ke kamarnya. Di dalam kamar ia menghempaskan diri ke ranjang, menelan semua penyesalannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan Mahardika. Apa salahnya dengan bersikap baik pada pria itu? Akan tetapi, Mahardika sudah menganggunya dalam balas dendam kemarin pada orang-orang tolol yang merendahkannya. Ia masih belum memaafkan perlakukan Mahardika yang itu.
“Kenapa tidak ada yang berjalan sesuai keinginanku?” teriak Stefani.
Ia sendirian sekarang. Raise belum kembali dari membawakan sarapan. Daisy juga sudah cukup lelah karena harus terus-terusana marah-marah sejak tadi.
Ia duduk di ranjang sementara Raise mengambilkan meja kecil yang ada di dekat lemari TV, kemudian menata makanannya yang dibawanya di atas meja yang ada di tempat tidur. Ada bubur dan juga susu hangat plus madu. Menu yang jarang Stefani nikmati ketika menjadi dirinya sendiri.
“Kenapa lama sekali?” tanya Stefani.
Perutnya mengerutu pelan karena mencium bau makanan.
“Maafkan saya Nona, koki kita membuatkannya dahulu saat saya bilang Anda sakit tenggorokan.” Raise menunduk setelah mengatakan alasannya. Ia kemudian mundur selangkah dari dekat tempat tidur dan terus begitu sampai Stefani selesai makan.
__ADS_1
Begitu beres, Raise kembali membereskan semua wadah makanan yang dibawa di atas nampan, melipat meja kecil dan meletakannya kembali ke tempat semula. Lalu meninggalkan Stefani sendirian lagi.
Stefani terpikir untuk menelepon Mahardika, menanyakan keberadaan pria itu. Apa yang akan diberikan sebagai jawaban pada Stefani.
Ia berjingkat turun dari atas tempat tidur ke pintu, menutup daun pintu dan menguncinya dari dalam. Dicarinya benda pipih yang kemarin dengan cepat ditemukan, tetapi kali ini tidak. Apa Daisy yang asli menyembunyikan ponselnya sekarang?
Baru saja berpikir demikian, Stefani melihat benda itu di atas meja rias, tersambung dengan charger. Ia bergegas mengambilnya dan tersenyum segera membayangkan nominal uang di dalam rekening bank Daisy yang bisa diakses. Akan tetapi, ketika membuka kunci ponsel, Stefani tak berhasil.
Daisy telah memasang kunci berlapis untuk ponselnya.
Rasanya Stefani ingin membanting ponsel tersebut. Namun, jika melakukannya, dengan mudah dirinya akan kehilangan semua. Ia memejamkan mata untuk menenangkan diri dan dengan tangan gemetar menurunkan ponsel kembali ke atas meja rias.
Ia berjingkat ke pintu kembali, membuka kunci dengan hati-hati. Lalu dudu di atas ranjang seolah tidak melakukan apa-apa sejak tadi dan memanggil Raise mengunakan walkie talkie. Raise bergegas menemuinya di kamar kembali.
“Ya, Nona?”
“Pinjami aku ponselmu!” kata Stefani sambil menadahkan tangan.
“Tidak. Pinjami saja aku ponselmu! Astaga ... bagaimana mungkin aku tidak bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan dengan benar!” keluh Stefani dengan sangat sensitif.
Raise terdiam. Lalu mengeleng. “Nona sudah memerintahkan saya jika Anda berulah lagi saya bisa melawan!”
Mata Stefani sontak terbelalak. Daisy tengah mengajarkan hal yang tidak perlu pada pelayan-pelayannya. Ia menegakkan badan segera, turun dari atas tempat tidur dan melayangkan tamparan ke pipi Raise.
“Kamu pikir bisa berkata seperti itu padaku? Kamu pikir siapa dirimu!” teriak Stefani murka.
Tidak ada yang berjalan sesuai rencananya.
***
__ADS_1
“Wajahmu benar-benar sangat cerah ya, Maulana!” sindir Mahardika ketika berpapasan dengan orang kepercayaannya itu saat akan masuk kantor.
Maulana mengumbar senyum dan sama sekali tidak sadar dengan kalimat sindiran. “Apa semuanya baik-baik saja? Aku memang mendengar kalau Nona Daisy panas tadi pagi. Tetapi, aku tidak mencoba mencari tahu. Kamu tahu kalau adikku membuat masalah terus, kan?”
Mahardika tergoda untuk memberitahu kalau yang ada di rumah Maulana sekarang adalah Daisy dan bukannya Stefani. Namun, apa ada yang percaya?
“Ya, kondisinya tidak seburuk yang aku pikirkan. Ia tampaknya bisa berdiri dari ranjang dan masih sempat bersikap acuh tak acuh!”
“Syukurlah!” Maulan tulus mengatakannya. “Adikku juga bilang kalau dia memaafkanku! Aku takut sekali dia akan bersikap tidak baik lagi. Aku janji padamu, Dika, akan membuat Stefani melupakanmu! Dia hanya kekurangan perhatian selama ini!”
Di dalam hati Mahardika menjawab kalau ia tak mau dilupakan Daisy yang kini ada di dalam tubuh Stefani.
“Maulana, Apa kamu tahu di mana rumah orang pintar yang hebat?”
Bagaimana pun Mahardika mencari di internet tentang fenomena pertukaran jiwa, ia tak menemukan apapun selain kalimat: Sebuah kejadian di luar nalas manusia yang melibatkan makhluk lain sebagai perantara. Maka ia hanya bisa mencari cara yang tidak masuk akal pula.
“Maksudmu dukun?”
Kepala Mahardika mengangguk diiringin pelototan tidak percaya dari Maulana.
Maulana lalu menjulurkan tangan untuk bisa menyentuh dahi Mahardika. Apa dipikirnya kalau mahardika berubah menjadi gila sekarang?
Lekas Mahardika menampik telapak tangan Maulana. “Kamu tahu atau tidak?” tanyanya dengan sedikit kesal.
“Siapa kamu?” Maulana tidak menjawab pertanyaan Mahardika malah menyipitkan mata mengacam.
“Mahardika, bosmu! Tinggal jawab!” seru Mahardika kesal sekali.
Maulana mundur dengan cepat karena takut. “Dika tidak akan menanyakan dukun padaku. Dia tidak percaya hal yang seperti itu! Tolong kembalikan Dika padaku!”
__ADS_1
Rasanya Mahardika ingin menampar Maulana. Dengan begitu pria itu akan diam seribu bahasa dan tidak bertingkah sangat menyebalkan seperti saat ini.