Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Brian dan Caranya Mendekati Stefani


__ADS_3

Keduanya--Daisy dan juga Azzam menoleh ke arah asal suara secara serempak dan menemukan Brian. Kenapa pria itu ada di sana? Rasanya ini bukan tempat yang akan didatangi Brian, walaupun terdesak.


“Kamu mengikutiku?” tebak Daisy tiba-tiba.


Daisy tidak akan melupakan fakta bahwa Brian terobsesi pada Stefani. Lalu saat ini ia tengah menjadi Stefani itu.


Melihat bagaimana Brian kaget mendengar tebakan, sepertinya yang baru saja dikatakan itu benar. Brian melihat mereka di jalanan dan memutuskan untuk mengikuti. Pasti butuh beberapa waktu bagi Brian untuk meyakinkan diri untuk masuk ke tempat makan kecil ini. Sekali lagi Daisy menekankan dalam hati kalau tempat ini bukanlah pilihan untuk Brian.


“Buat aku mengikutimu! Aku hanya ingin mencoba hal baru saja!” teriak Brian.


Suaranya terdengar false. Wajahnya juga sedikit memerah karena ketahuan, walau pun ia tidak benar-benar mengaku.


“Meja yang lain kosong. Aku akan duduk di sini!” Brian memutuskan sendiri apa yang diinginkan.


Daisy juga adalah orang yang diajak kemarin. Jadi ia menghentikan gerakan Brian dan menoleh pada Azzam yang sejak tadi diam saja.


“Apakah dia boleh bergabung dengan kita, Azzam?” tanya Daisy.


Azzam memandang Daisy, kemudian mengangguk. “Dia kenalanmu, kan, jadi tidak masalah! Lain halnya kalau dia adalah orang yang selalu menganggumu!”


Daisy berusaha menahan senyum. Ia sedikit penasaran dengan bagaimana Azzam bereaksi saat diberitahu kalau Brian adalah pria yang menyukai Stefani dan menganggu gadis yang disukainya dengan alasan itu. Mungkin akan terjadi perang?


“Kenapa aku perlu izin untuk duduk di sini?” runggut Brian, tetapi ia menjatuhkan diri dengan cara yang heboh.


Kemudian pesanan Daisy dan Azzam datang. Pelayan yang mengantar menatanya dengan baik lalu mengucapkan terima kasih dan selamat makan dengan ramah.


Daisy tidak jadi menyuap makanan yang dipesankan Azzam padanya karena Brian keburu merebut makanan yang akan dimakan. Ia menghela napas dan menarik kembali piring keramik yang diletakan di depannya tadi. Azzam tidak mengatakan apa-apa.


“Makananmu terlihat enak, makanya aku ingin mencoba.”


“Apa kamu tahu kalau kelakuanmu sama sekali tidak sopan? Kamu bisa memesannya sendiri jika menginginkannya!” kata Daisy. Ia memukul tangan Brian yang kembali mau menarik piringnya.


Tampaknya Brian terkejut dengan tindakan Daisy. Apa ia menyangka Daisy akan bersikap lemah saat ini. Mungkin dirinya ada di tubuh Stefani, tetapi ia adalah Daisy. Dirinya tidak akan memaklumi tindakan sewenang-wenang Brian. Membiarkan diri tersiksa untuk hal aneh seperti menarik perhatian adalah tindakan zolim. Memangnya akan ada malaikat yang turun dari langit jika melakukan hal lemah semacam itu.


“Kenapa?” tanya Daisy saat melihat Brian menatapnya dengan tatapan heran.

__ADS_1


“Kamu berubah, ya?” Brian menyeringai sedikit.


Daisy tidak bisa menebak apa yang sedang direncanakan si penganggu itu. Walau pun tidak kentara, tetapi saat menjadi Daisy saja keberadaan Brian sudah menyebalkan. Tidak ada yang menyukai Daisy secara tulus di kelasnya. Ia hanya tidak diganggu karena adalah anak tunggal yang memiliki kekayaan, itu saja.


“Manusia berubah setiap harinya. Kenapa kamu terkejut hanya saat melihatku?”


“Kamu berubah karena ditolak Mahardika?”


Pembicaraan ini disengaja, Daisy tahu itu. Ia melirik Azzam yang tampak tidak terganggu. Kemampuan mengendalikan diri pria di sampingnya memang lumayan hebat. Daisy  pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama.


“Penolakan Mas Dika bukan urusanmu. Kenapa kamu harus repot dengan itu!”


Kali ini Brian beraksi kembali, bukan menarik piring makanan Daisy, tetapi mencekal pergelangan tangan Stefani yang kecil hingga terasa nyeri. Mau tidak mau air mata Daisy mengenang karena menahan sakit.


“Lepaskan aku!” suruh Daisy dengan suara gemetar.


“Jika ada seseorang yang mengajakmu bicara, kamu sebaiknya menghormatinya, Jangan mengabaikan!” seru Briak terdengar kesal.


“Caramu untuk menarik perhatian masih saja kekanak-kanakan! Kamu bukan anak kecil lagi, Brian!” seru Daisy.


Ia sangat beruntung karena Azzam menahan kursi yang digunakan sehingga tidak jatuh ke lantai. Lalu kursi tersebut di kembalikan ke tempat semula oleh Azzam dengan Daisy yang masih duduk di atasnya.


“Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin ikut campur, tetapi tampaknya aku tidak bisa membiarkannya begitu saja!” Azzam membuang napas. “Apa kamu sudah selesai makan, Daisy?”


Daisy tidak berhasil menghabiskan sepertiga dari makanan yang tadi datang, tetapi ia sudah tidak mau berada di tempat yang sama dengan Brian lagi.


“Ya, sudah selesai!”


“Kalau begitu ayo kita pergi!” ajak Azzam.


Ia mengenggam tangan Daisy entah sengaja atau tidak dan menariknya keluar dari tempat makan. Di depan mereka berdiri bersisian membayar makanan yang sudah dipesan.


Bukan Brian namanya yang akan membiarkan Stefani, gadis yang disukai pergi begitu saja dengan pria lain. Ia mengejar segera setelah Daisy berdiri dan keluar bersama Azzam.


“Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Tidak benar!”

__ADS_1


Daisy berbalik untuk menyelesaikan masalah dengan Brian, tetapi Azzam lekas mencegah.


“Kamu kembali saja ke motor dan tunggu aku di sana!” pinta Azzam.


“Hei, aku tidak ada urusan denganmu!” seru Brian dengan aksen yang menyebalkan, layaknya seperti preman.


Jika ia hanya melihat sebagai dirinya sendiri, Daisy akan berlalu begitu saja. Namun, saat ini ia adalah Stefani dan tidak bisa membiarkan hal menyebalkan seperti ini terjadi di sekitarnya. Ia bukan orang yang suka menindas, tetapi juga bukan orang yang bisa ditindas.


“Tidak apa-apa, Azzam, aku bisa mengatasinya!” kata Daisy.


Ia menepuk bahu Azzam sedikit sebagai kode untuk memberinya kesempatan. Ia kemudian berbalik menatap Brian yang tampak senang karena akhirnya dipedulikan.


“Bukankah aku sudah mengatakan kalau kamu kekanak-kanakan?” Daisy ingat kalau mengatakannya sebagai Daisy dulu. Tapi, ia tak terlalu memikirkannya karena Brian tak mungkin menghubungkan hal itu.


“Kapan memang kamu berkata seperti itu?”


“Brian! Aku tidak akan menyukaimu kalau kamu mengangguku!” tegas Daisy. Lalu ia berbalik dan tersenyum pada Azzam. “Ayo kita pergi sekarang!” ajaknya.


***


Sebenarnya pada saat berangkat dari gedung jurusan tadi, Azzam juga hanya terus diam saja. Hanya saja kali ini diamnya lebih karena ia memikirkan betapa kesempatan untuk bersama Stefani begitu berharga. Pria bernama Brian yang tadi bergabung dengan mereka di tempat makan sepertinya memang menyukai Stefani dan parahnya gadis itu juga mengetahuinya.


Apa perasaanku juga terlihat jelas, ya? Azzam bertanya-tanya dalam hati.


Tanpa disadarinya mereka sudah sampai di pakiran gedung jurusan. Stefanimenyerahkan kembali helm yang tadi dipinjami Azzam.


“Terima kasih, ya!” kata Stefani tersenyum saat mengatakannya.


“Apa aku boleh bertanya?” tanya Azzam.


Ia mengantungkan helm di tempatnya dan menatap pada Stefani yang menunggu. “Pria itu ... Brian. Apa hubungan kalian dekat?” tanya Azzam hati-hati.


Jelas kalau Stefani bersikap santai pada pria bernama Brian itu. Padahal butuh waktu lama buat Azzam untuk bisa berbicara banyak pada Stefani seperti ini.


“Kami tidak dekat. Dia seperti musuh bebuyutanku!” Stefani tampak tak perlu berpikir panjang saat menjawab. Serta tak ada kebohongan dalam kata-katanya.

__ADS_1


__ADS_2