Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Makan Malam Buatan Daisy (1)


__ADS_3

“Benarkah?” tanya Mahardika tidak percaya.


Dilihatnya Daisy mengangguk perlahan. Wajah gadis itu jelas menampakan sebuah ketakutkan. Kejadian aneh macam apa yang bisa membuat Daisy bisa seperti ini? Padahal ia tahu kalau Daisy adalah wanita paling pemberani di dunia. “Apa?” tanya Mahardika ingin tahu.


Setitik rasa penyesalan di dalam hatinya muncul tiba-tiba. Kenapa Mahardika tidak bisa lebih memperhatikan Daisy lebih baik lagi. Bagaimana bisa semuanya menjadi aneh seperti ini dahulu baru Mahardika sadar sudah berapa lama mengabaikan Daisy.


“Dia berkata kalau aku akan mengetahui banyak hal mulai sekarang.”


Mahardika tercenung mendengarnya. Sedikit tidak mengerti sebenarnya apa yang aneh dari hal itu.


“Kamu mungkin tidan mengerti. Tapi, saat aku mendengar suara itu, aku tidak melihat siapapun di sana. Semua orang ada di kelas dan aku sendirian.


Lalu bulu kuduk Mahardika ikut merinding saat mendengarnya. Ia menelan ludah susah payah karena udara dingin yang tiba-tiba saja berembus di tengkuknya.


“Sebenarnya apa yang kalian lakukan berdua saja!”


Mahardika berteriak kaget dan melayangkan tinju secara asal ke belakang. Daisy terpekik ketakutan dan berjongkok melindungi dirinya di lantai. Sementara Maulana penyebab kekacauan terjatuh dan bergedebug di lantai karena pukulan asal dari Mahardika.


“Kakak!” teriak Daisy setelah sadar kalau tidak ada hal yang dikhawatirkan seperti sebelumnya.


“Kenapa kamu memukulku karena bertanya! Harusnya aku menghajarmu karena berduaan saja dengan adikku!” teriak Maulana.


Maulana yang terlambat sadar, tersenyum tanpa penyesalan. Sepertinya pukulan yang dilayangkan juga disebabkan karena kesal pada Mahardika juga. “Sudah kutanyakan tadi, apa yang kamu lakukan berdua saja dengan adikku?”


Mahardika mengaruk kepalanya. “Tidak ada. Aku hanya bertanya apa yang bisa dibantu. Kamu kan tadi meninggalkannya sendiri.”


Keringat dingin Mahardika mengucur deras karena takut. Bagaimana kalau Maulana tidak percaya dengan apa yang dikatakan. Apa Mahardika akan diusir dari tempat ini segera?


“Jangan dekat-dekat adikku! Aku sudah memperingatkanmu, kan? Aku bukan membencimu, tetapi aku tidak kuasa melihat adikku mendapat masalah karenamu. Kondisi Nona menjadi aneh, mudah meledak-ledak entah kenapa. Aku tidak mau dia muncul dan mengacak-ngacak rumah ini.”

__ADS_1


Mahardika paham. Tentu saja emosi gadis yang ada di rumah itu tidak sama seperti Daisy. Sebab orang yang sebenarnya ada di sini sekarang.


“Lalu Daisy, apa yang terjadi dengan pipimu?”


Mahardika seketika menoleh Daisy dengan tatapan menyelidik. Dari pipi yang satu, matanya pindah ke pipi yang satu lagi. Lalu ia mendapati keanehan di salah satunya. Selain warna yang tidak merata, pipi Daisy sedikit bengkak.


“Ada seseorang yang menamparmu? Apa dia menamparmu?” tanya Mahardika lekas.


Ia menguncang bahu Daisy lekas, tidak menghiraukan Maulana yang masih ada di sana.


Daisy mencoba melepaskan diri. Akan tetapi, Mahardika tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia meremas bahu Daisy lebih keras dari seharusnya.


Maulana yang melihat itu, menarik Mahardika, meneriakinya. “Apa yang kamu lakukan pada adikku? Kamu menyakitinya!”


Mahardika tersentak dan menoleh lekas pada Daisy yang mengernyit kesakitan. Walau begitu saat mata mereka saling bertemu, Daisy mencoba untuk tersenyum memaklumi. Namun, walau begitu Mahardika telah melukai gadis itu tanpa sadar.


Daisy mendekati Maulana, mengenggam bau pria yang saat ini menjadi kakaknya itu. “Aku baik-baik saja, Kak,” kata Daisy.


Walau sepertinya Maulana tidak terima dengan perlakukan Mahardika, ia masih mendengarkan Daisy. Andai Maulana tahu kalau yang sedang bersamanya bukan adik yang sesungguhnya, tetapi tubuh yang diisi jiwa Daisy. “Keluarlah! Duduklah di ruang tamu!”


Mahardika tidak menyahut sama sekali, tidak berusaha membela diri. Ia tahu kalau sudah melakukan kesalahan. Langkahnya lambat dan sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat sesuatu yang ajaib, seperti Maulana yang memanggilnya kembali.


***


Daisy bersedekap dengan canggung di sisi Maulana. Ia sama sekali tidak ingin hal seperti ini terjadi. Ia sudah pernah memperingatkannya kepada Mahardika sebelumnya bahwa apapun yang dilakukan pria itu, harus dipikirkan baik-baik. Tetapi, baru tiga hari Daisy ada di tubuh Stefani, Mahardika sudah membuat pertemuan tiga kali dengan sangat sengaja.


“Baiklah, satu masalah sudah bisa kita letakkan di tempatnya,” ujar Maulana. Ia berbalik dan menatap Daisy. “Jadi, apa yang terjadi pada pipimu. Ayah berkata kalau kamu hanya mendapat kecelakaan kecil dengan siku orang lain. Steani, aku tidak bisa kamu bodohi!”


Daisy yakin sudah memoles bekas jari di pipinya dengan sangat baik. “Aku benar-benar baik-baik saja,” katanya mengelak.

__ADS_1


Ia mengeluarkan satu per satu bahan-bahan yang dibeli oleh Maulana dan Mahardika, menghitung jumlah yang akan digunakan hari ini dan menempatkannya ke dalam kulkas selebihnya.


“Ada banyak barang yang tidak aku sebutkan.” Daisy berharap kalau Maulana dengan senang hari merubah arah pembicaraannya.


“Memang sengaja dibeli. Mungkin kamu menginginkannya untuk sarapan atau makan siang besok!” jawab Maulana. Baru saja Daisy mau bersyukur, Maulana kembali ke pokok permasalahan awal. “Jadi, siapa yang membuat masalah denganmu? Apa itu Nona Daisy?”


“Ayah juga curiga pada Daisy, tetapi itu tidak benar. Dia tidak punya kuliah hari ini, Kakak bisa bertanya pada Ayah soal kebenarannya.” Maulana orang yang lebih gigih dibandingkan Handoko di depan. “Ini ulah beberapa mahasiswi yang salah sangka. Apa Kakak pernah menonton sinetron FTV soal pembullian?”


“Mereka melakukan hal itu padamu?”


Daisy mengatupkan bibirnya. Di dalam kepalanya, ia balik bertanya: Bukankah kamu menanyakan ini padaku?


“Aku bisa menyelesaikannya! Azzam juga tadi bertanya apa ada yang bisa dibantu. Tapi, aku bisa menyelesaikannya!” kata Daisy.


“Siapa Azzam?” Kening Maulana berkerut lebih parah dari sebelumnya. “Aku baru mendengar tentang Azzam ini. Apa dia lelaki? Jelas lelaki karena dia bernama Azzam. Apa hubungannya denganmu?” Rentetan pertanyaan Maulana muncul.


Daisy yakin kalau tidak melakukan kesalahan. Ia hanya mengutip hal-hal yang dikatakan Azzam saja, sama persis dengan yang dikatakan Maulana.


“Dia teman di kampus!”


“Kamu tidak pernah menyebutnya sebelumnya! Bagaimana hubungan kalian?”


Aneh. Daisy merasakan perasaan tertekan yang teramat parah lewat pertanyaan Maulana. Tetapi, dia tetap memberikan jawaban. “Dia temanku. Jadi kami mengobrol, kadang makan bersama. Hal-hal semacam itu. Kenapa Kakak bertanya?”


Mata Maulana terbelalak. Ia menoleh ke belakang dan modar-mandir sebentar. Lalu meletakan tangannya di bahu Daisy, tanpa tenaga. “Daisy, pria selain aku dan Ayah adalah orang jahat! Kamu tidak boleh dekat dan mempercayai mereka. Kamu dengar?”


Daisy merasa sedang diajari tentang orang asing yang menyapamu tiba-tiba adalah orang jahat. Jadi ia tertawa. “Kakak, aku sudah 20 tahun sekarang!”


“Kenapa dengan 20 tahun! Bagiku kamu masih adik. Jadi aku akan mengatakan padamu sekali lagi! Pria yang mendekatimu tiba-tiba hanya memanfaatkanmu! Kamu tidak boleh mempercayai mereka!” Maulana berkata sekali  lagi.

__ADS_1


__ADS_2