
Ini adalah tidur paling nyaman yang dirasakan Daisy. Tubuhnya terasa lebih ringan, perasaannya menjadi nyaman. Lalu, semuanya menjadi sangat baik seperti biasanya. Ia mengeliat di atas ranjangnya, menarik selimutnya tanpa melihat dan meringkuk.
Rasanya Daisy sama sekali tidak ingin bangun entah apapun yang terjadi.
Ketika ia sudah hampir kehilangan kesadarannya kembali. Pintu kamar Daisy diketuk pelan.
“Lima menit lagi, Raise!” teriak Daisy.
Hanya Raise yang selalu mengetuk pintu kamarnya jika ia bangun terlambat. Ia berguling dan menjadi kepompong dengan selimutnya segera, kembali memejamkan mata. Namun, ketukan di pintu kamar sama sekali tidak berhenti.
“Stefani! Ini sudah pukul 7! Kamu harus bangun dan mandi!”
Mata Daisy seketika terbuka lebar. Nama siapa yang dipanggil barusan? Otaknya lekas memberikan pertanyaan. Ia menendang selimut yang menutupi seluruh tubuhnya bak kepompong sekuat tenaga, lalu bergegas turun dari tempat tidur.
Kamarnya berbeda, begitu juga dengan ranjangnya. Semua di ruangan itu tidak sama dengan yang dimilikinya di rumah utama. Ia ada di dalam tubuh Stefani kembali. Tetapi, kenapa? Ia tak melakukan apapun soal itu. Ia sama sekali tidak melakukan sesuatu yang salah. Yang dilakukannya hanya tidur. Ya, tidur.
“Stefani! Apa semuanya baik-baik saja! Kalau kamu tidak menjawab, Ayah akan dobrak pintunya. Kamu sudah dari sore kemarin tidak keluar kamar!” Suara di luar penuh kepanikan.
Daisy sangat paham bagaimana bisa semua itu terjadi. Ia mengusap dadanya, mengatakan pada diri sendiri supaya bisa bersikap tenang. Kemudian memejamkan mata dan menoleh ke arah pintu.
“Ya, Ayah, saya sudah bangun!”
Samar-samar Daisy bisa mendengar helaan napas lega. Sepertinya perasaan khawatir pria tua itu lenyap seketika mendapatkan jawaban darinya.
“Apa kamu mau sarapan bersama? Ayah membuat sandwich!”
Daisy tidak tahu apakah bisa menelan dengan baik sekarang. Ia terlampau bingung. Terlampau penasaran dengan hal yang terjadi padanya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sudah dilakukan sehingga kembali ke tubuh Stefani. Ia yakin yang dilakukannya hanya tidur saja.
“Ya, saya akan keluar sebentar lagi!”
Tapi, ini hanya ada di dalam pikirannya saja. Orang lain yang tidak bersalah, tidak boleh tahu apa yang terjadi dan menjadi panik.
Maka ia beres-beres. Mempraktekan semua hal tentang beres-beres yang ditontonnya sebelum ini. Ia perlu sekitar lima belas menit untuk melipat sendiri selimut yang digunakan. Tempat tidurnya nyaris tidak mengalami kerutan. Begitu selesai membereskan tempat tidur, Daisy menyambar handuk yang tergantung di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tidak ada air panas yang keluar dari shower kamar mandi Stefani. Seharusnya seluruh shower di rumah ini memiliki pengatur suhu seperti yang dimiliki di kamar-kamar rumah utaman. Tetapi, tidak. Sepertinya seseorang di rumah utama yang mengurus pengadaan barang di seluruh rumah bermain-main dengan anggaran.
Daisy agak mengigil ketika selesai mandi. Ia membalut diri erat-erat dan berjingkat keluar dari kamar mandi. Bergegas mencari pakaian yang bisa digunakan dengan baik. Hanya ada beberapa jenis pakaian di lemari Stefani seperti terakhir kali dilihatnya. Daisy menyambar baju kaus, kardigan, dan jins, pakaian paling nyaman dan hangat yang ada di dalam pikirannya.
Walau memiliki ruang makan yang bersatu dekat dapur, keluarga Stefani selalu makan di ruang tamu. Daisy sama sekali tidak ingin bertanya kenapa makan di ruang depan. Sebuah kebiasaan jarang memiliki alasan yang logis.
Keluarga Stefani tampak lebih canggung dibandingkan saat ditinggalkannya kemarin. Mereka tampak hati-hati memperlakukan satu-satunya anggota keluarga perempuan ini. Ketika Daisy sampai di ruang tamu. Maulana berdiri, memberinya tempat duduk. Padahal ada kursi lain di sekitar mereka.
“Kamu mau yang isian apa?” tanya Handoko.
“Apa saja, Yah,” jawab Daisy sambil tersenyum.
Ia kembali mengingatkan diri bahwa saat ini ia adalah Stefani dan bukan dirinya, yaitu Daisy. Ia tak boleh banyak protes dengan apa yang ada di depannya.
Setelah menyodorkan sandwich pada Daisy, Handoko, ayah Stefani sama sekali tidak menyentuh bagiannya. Begitu juga dengan Maulan, kakak laki-laki Stefani. Keduanya memilih memandang Daisy mengunyah makanannya menjadi potongan kecil dan kemudian menelannya.
“Ada apa, Kak, Yah?” tanya Daisy yang mulai merasa tertekan karena dipandangi tanpa berkedip oleh ayah dan kakak Stefani.
Ia mengangguk-angguk dan sepertinya sama sekali tidak berbohong dengan apa yang dikatakan barusan. Parahnya lagi, Handoko tampak dengan eskpresi yang mengatakan: aku merasakan hal yang sama.
Daisy jadi bertanya-tanya, hal buruk apa yang sudah dilakukan Stefani pada keluarganya. Lalu apakah ia harus memperbaiki juga hal ini sama seperti kehidupannya.
Maka Daisy mendesah pelan, tidak mengerti sebenarnya sampai mana ia harus memperbaiki sesuatu dan menahannya.
“Stefani?” Daisy diinteruspi dari lamunannya.
Daisy tersenyum. “Saya baik-baik saja!”
Kedua orang yang menatapnya tampak lega. Mereka kemudian meraih sanwich bagian masing-masing dan mulai memakannya.
***
Seluruh tubuh Stefani basah oleh peluh. Ia menatap langit-langit yang entah bagaimana bergoyang dalam pandangannya. Ia mendadak takut karena langit-langit yang kemudian jatuh dan menghimpitnya. Karena itu Stefani berteriak memanggil kakak dan ayahnya.
__ADS_1
“TOLONG AKU!” teriaknya setelah semua usaha yang diteriakan sia-sia, sama sekali tidak ada jawaban.
Lalu pintu terbuka tiba-tiba, dan muncul seorang wanita dengan pakaian pelayan dari luar. Raise. Wanita itu tampak terkejut dan pucat. Ia menghampiri Stefani segera.
“Kenapa kamu yang muncul! Panggil ayah dan kakakku! Apa kalian masih mau menyiksaku lagi!” Stefani menepis tangan Raise, mendorong tubuh yang berusaha untuk menariknya berdiri. Ia beringsut menjauh dari ujung ranjang, melarikan diri, ketakutan.
“Nona! Astaga! Nona!” Raise berteriak, menguncang tubuh Stefani yang kembali didapatkannya.
Nona? Kenapa Raise memanggilnya Nona? Kepalanya yang sakit dan tubuhnya yang lemah jatuh kembali di kasur. Pelan-pelan ia baru menyadari kalau semua yang ada di sini bukan miliknya. Ini semua adalah milik Daisy.
Aku kembali ke tubuh Daisy! Stefani berseru girang di dalam hati.
“Badan Anda panas sekali. Apa ada yang tidak nyaman?” tanya Raise panik.
“Kepalaku sakit, tengorokan juga. Semuanya terasa tidak nyaman!” keluh Stefani.
Astaga, kenapa ia harus berpindah tubuh ke tubuh Daisy saat gadis itu sedang tidak sehat. Stefani jadi tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Ia membiarkan saja saat Raise membantunya dalam tidur kembali dengan benar.
“Saya akan membawakan kompres dan juga lap. Anda sangat berkeringat!” kata Raise.
Stefani sudah merasa nyaman dengan posisi tidurnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia memejamkan mata kembali. Sakit kepalanya sedikit berkurang karena sedang tiduran. Ia kembali bertekad untuk lebih cepat sehat kembali. Sebaiknya ia menuruti kata-kata Raise sekarang.
Raise kembali dengan membawa barang yang dikatakannya. Kompres demam dengan gel dan lap lembut yang menyerap.
Dibantu oleh Raise, Stefani duduk, membiarkan dirinya dimanjakan oleh perlakuan Raise. Setelah seluruh tubuhnya sudah terasa nyaman, Raise menghilang kembali dan kembali dengan baju ganti. Raise membantunya melakukan semua.
“Anda mau makan sesuatu Nona? Anda tidak makan apapun sejak kemarin sore.”
Raise dengan tenang menanti jawaban.
Masalahnya Stefani sama sekali tidak ingin apapun sekarang. Ia hanya ingin tidur dengan tenang. Mungkin setelah bangun nanti ia akan baik-baik saja, sakit kepalanya akan hilang, begitu juga dengan sakit di tenggorokannya. Bagaimana kalau ia bangun pada pagi selanjutnya dan kembali di tubuhnya?
Mata Stefani seketika terbuka lebar kembali mengingat hal itu.
__ADS_1