
“Kamu mau ke mana tergesa-gesa jam segini?”
Padahal Mahardika sudah memilih waktu di mana kedua orang tuanya belum keluar dari kamar. Ia akan mengatakan kepada pelayan yang berpapasan dengannya kalau akan ke kantor karena ada berkas penting yang datang tiba-tiba dari luar kota--itu memang benar, hanya saja tidak sepagi ini.
“Ada hal mendesak di kantor, Pi! Mahardika harus bergegas!” Ia memberikan alasan yang seharusnya dikatakan kepada pelayan.
Jantungnya berdebar-debar tidak karuan karena takut papinya akan menelepon kantor untuk memastikan. Maka kecurigaan pada Mahardika akan kembali seketika. Usahanya untuk mendapatkan kepercayaan kembali dengan menerima siksaan dari Stefani akan jadi sia-sia. Bagaimana kalau mereka malah dinikahkan secepatnya?
Tidak! Hal tersebut tidak boleh terjadi. Ia akan menikahi Daisy, bukan hanya tubuh Daisy dengan jiwa Stefani di dalamnya.
“Dari Sumatera, ya?”
“Ya!” jawab Mahardika lekas.
Riwayat tentang keterlambatan laporan dari daerah itu memang telah menjadi rahasia umum perusahaan. Malahan pernah sekali datangnya tengah malam. Mahardika jadi harus begadang di kantor untuk menunggu.
“Mereka itu, bagaimana bisa melakukan hal yang sama hampir setiap bulannya. Mau dihentikan, tapi ya gimana!” runggut papi Mahardika. “Ya, sudah hati-hati!” kata pria itu sambil berlalu kembali ke arah kamarnya. Tampaknya ia habis memeriksa sesuatu saat berpapasan dengan Mahardika.
Mahardika menatap punggung papinya yang menjauh terlebih dahulu, memastikan kalau pria itu tidak berubah pikiran dan meraih telepon untuk memastikan kalau tidak ada kebohongan dalam alasannya. Begitu jelas kalau papinya sudah masuk ke dalam kamar kembali. Mahardika setengah berlari keluar pintu rumah. Mobilnya ada paling depan di garasi, sehingga dengan mudah keluar.
Ia melaju di jalanan yang masih lenggang. Kemacetan belum ada, karena orang-orang masih berada di rumahnya pada jam segini. Mahardika sampai dengan cepat di dekat rumah orang pintar. Ingat bahwa ada papan yang bertuliskan: Tidak boleh parkir di depan pagar. Diketepikan mobilnya agak jauh dari pagar masuk.
Rumah itu masih sama persis. Taman dan isinya masih sama, bahkan pakaian gotik yang dipakai oleh gadis yang mengaku asisten.
“Tuan menunggu kamu di dalam!” Suara dan nadanya juga masih sama persis saat memberitahu Mahardika kalau orang pintar yang ia cari ada di dalam kini.
Yang berbeda hanya kedatangan Mahardika tidak lagi ditemani Maulana. Ia sendirian saja mengiringi si gadis berpakaian gotik sampai ke ruangan kemarin. Si gadis mendorong pintu hingga terbuka, mempersilakan Mahardika untuk masuk ke dalam dan menunggu.
__ADS_1
Karena hanya sendirian saja, Mahardika jadi agak tegang. Matanya dengan liar memperhatikan semua yang ada di dala ruangan. Dari guci tua yang ada di sudut dekat lemari sampai boneka aneh yang dipajang begitu saja tanpa dibersihkan terlebih dahulu tampaknya.
“Sudah tanya pada orang yang Anda cintai apa yang didengarnya sebelum berpindah tubuh?” Pertanyaan yang diajukan lelaki yang kemarin lebih gamblang dari sebelumnya. Tidak lagi mengawang-awang di udara yang menyebabkan Mahardika harus memutar otak untuk mencerna.
“Ya! Bagaimana Anda tahu masalahnya?”
Si orang pintar tertawa. Lalu menarik kursi di dekat Mahardika. Meja di depannya menjadi tumpuan siku. “Ayo kita minum sedikit teh. Obrolan kita akan panjang!” kata si orang pintar. “Apakah kemarin kita sudah berkenalan?”
Mahardika sepertinya telah menyebutkan nama, tetapi si orang pintar hanya tersenyum-senyum saja waktu itu. Tidak memberinya informasi lebih jauh. Lagi pula dari informan tempat Mahardika mendapatkan nomor orang pintar ini hanya menyebutnya sebagai Tuan X saja.
“Saya Mahardika!” Mahardika menyebutkan nama, persis seperti diteleponnya pertama kali.
“Saya sudah tahu. Anda hanya belum tahu nama saya, kan?”
Mendengarnya Mahardika kesal. Bahkan si orang pintar tertawa senang menatap kekesalan pada raut wajahnya. Ia memaling wajah pada suara berkeriut yang lama-lama semakin keras dan si gadis gotik muncul di pintu dengan kereta dorong berisi teko teh dan cangkirnya.
Si gadis gotik melaksanakan perintah tanpa banyak bertanya, seolah-olah sudah terbiasa melakukannya dan tidak keberatan diperintahkan demikian.
Si orang pintar menunggu sampai si gadis gotik menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian keluar. Kali ini hanya langkah kakinya saja yang terdengar, tanpa suara keriutan roda kereta yang perlu diminyaki supaya tidak berisik.
“Saya Shaman. Anda boleh memanggil saya hanya dengan nama saja.”
Akhirnya Mahardika mendengar nama si orang pintar. Shaman, namanya memang terdengar ganjil dan mistik.
“Jadi bisakah Anda memberitahu pada saya dari mana Anda mendengar masalah yang menimpa orang yang saya cintai?” tanya Mahardika.
Shaman tersenyum, masih dengan cara menyebalkan seperti sebelumnya. “Bintang-bintang yang memberitahu saya. Mereka berkata kalau ada pertukaran yang aneh. Biasanya pertukaran tidak seperti ini, tetapi tampaknya mereka ditakdirkan untuk melakukan ini.”
__ADS_1
“Mana ada takdir yang menukar jiwa di tubuh seseorang dengan orang lain?” dengus Mahardika dengan tidak senang.
“Baiklah, beritahu saya apa yang dikatakan oleh orang yang dicintai. Apa yang didengarnya sebelum jiwanya bertukar? Dia pasti mendapatkan pertanda.”
Mahardika mengigit bibir dalamnya, bermaksud untuk berbohong. Akan tetapi, ia datang ke sini atas keinginannya sendiri mencari tahu apa yang bisa dilakukan supaya membantu Daisy. “Katanya seseorang berbisik kalau dia akan mengetahui hal yang tidak diketahui. Itu terjadi beberapa kali. Kemudian ada kejadian di pesta ulang tahunnya.”
“Itu pertanda. Sepertinya ada kekuatan yang tidak bisa dijelaskan ingin memberitahunya banyak hal. Orang yang kamu cintai sangat bijak, makanya dipilih untuk ini.”
Mahardika membenarkan hal itu. “Tetapi, dia kesulitan karena itu.”
“Kekuatan itu telah menemuinya. Dia keluar dari rumah itu dan ditemui karena kebijaksanaannya.”
“Jadi, dia bisa kembali ke tubuh semula, kan?” tanya Mahardika.
Shaman sama sekali tidak mengangguk, juga tidak pula mengeleng. “Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kamu harus menyelesaikan milikmu juga.”
“Masalahku kecil!”
“Tidak ada besar atau kecil sebuah ujian untuk orang lain. Setiap masalah adalah titik balik buat orang tersebut, tetapi bisa jadi sebuah hukuman.”
Mahardika mendongkol mendengar jawaban Shaman untuknya. Ia menyambar cangkir berisi teh, meminumnya segera. Akan tetapi, air itu tak bisa ditelannya. Semua disemburkannya kembali keluar, lidahnya terbakar.
Shaman masih saja tersenyum di samping Mahardika, menyesap pelan cangkir miliknya. “Tidak ada masalah yang besar atau kecil. Semuanya harus diselesaikan dengan baik. Kadang kala masalah adalah hal yang membuat kita tambah bijaksana. Lainnya adalah hukuman!” Diulanginya lagi kalimat sebelumnya.
Mahardika hanya bisa semakin mendongkol. Ia meletakkan cangkir teh pelan-pelan di atas tatakan, menunduk dan memaksakan dirinya tersenyum. “Terima kasih nasehatnya. Saya tidak akan melupakannya sampai kapan pun.”
“Baguslah! Karena kamu yang akan menyadari kesalahanmu sebelum yang lainnya sadar.”
__ADS_1
Mahardika tak lantas berdiri seperti yang diniatkan. Ia menatap Shaman penuh tanda tanya. Ingin tahu hal apa yang harus disadari dibandingkan yang lainnya.