Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Botol yang Mengubah Takdir (3)


__ADS_3

PRAK!!!


Stefani membanting nampan yang didekapnya erat-erat sejak tadi. Ia kesal, sangat kesal pada keberadaan Daisy. Pada keberuntungan yang tidak bisa didapatkannya. Bagaimana mungkin Daisy masih saja bersikap seperti orang paling terluka di seluruh dunia padahal memiliki segalanya?


“Dia bilang aku harus minta maaf padanya! Memangnya aku salah apa?” teriak Stefani.


Untung saja, ia sendiri di sini. Kalau tidak orang-orang akan menoleh dan menatapnya dengan keingintahuan yang tinggi. Padahal ia hanya ingin menumpahkan kekesalannya saja.


“Ah ... kamu hanya sendirian saja, Stefani. Aduh, bagaimana ini?” tanya seseorang dari belakang.


Untungnya nampan yang tadi dilempar ke lantai sudah dipunggut kembali. Ia menoleh dan menemukan seorang perempuan yang lebih tua darinya dan bekerja melayani para tamu hari ini.


“Ada apa?” tanya Stefani.


“Nona meminta dibuatkan minuman yang biasa. Aku harus mengatar minuman Tuan besar lebih dulu, astaga ... ke mana semua orang sebenarnya?” tanya pelayan wanita itu pada Stefani.


“Biar aku yang buat minumannya! Antar dulu minuman untuk Tuan besar, baru jemput lagi kemari.”


Si pelayan yang datang tampak senang dan mengangguk. Ia mengambil minuman yang sudah ada di atas nampan dan bergegas keluar.


Stefani sama sekali tidak mengerti bagaimana keberuntungan terbentuk, tetapi ia sangat bersyukur telah diberi kesempatan seperti ini. Ia lekas mengeluarkan botol kecil yang didapat dari kakek tua yang ditemui kemarin dan tadi.


Selanjutnya ia mengambil gelas dengan tangkai panjang, menuangkan cairan biru yang tersisa semuanya ke dalam gelas. Untungnya minuman yang biasa diminum Daisy saat pesta berwarna, sehingga apa yang ditambahkan Daisy ke dalamnya tidak akan ketahuan. Ia isikan soda sebagai tambahan seperti biasa dan sebagai hiasan ia mengiris daun mint dan stawbery.


“Sudah selesai, Stefani?”


Pelayan yang tadi meminta bantuan pada Stefani masuk kembali ke dapur.


“Tentu saja! Untung saja semua bahannya sudah ada.”


Si pelayan menudukkan tubuhnya sedikit ke atas minuman untuk memeriksa dan kemudian mengangguk puas. “Terima kasih!” serunya.


Ia angkat dengan hat-hati minuman racikan Stefani ke atas nampan. Sebelum pergi, pelayan itu mengucapkan terima kasih.


Begitu pelayan yang membawa minuman pergi, Stefani bernapas lega. Ia agak sedikit takut ketahuan memasukan hal lain ke dalam minuman. Ada sedikit perubahan warna karena isi dari botol yang ditambahkan. “Tapi, botol itu hanya manis saja,” katanya meyakinkan diri, mengusir kekhawatiran di dalam hatinya juga.

__ADS_1


Stefani pikir sebaiknya ia pergi ke ruangan tempat pesta juga. Dengan begitu ia akan melihat hasil dari perbuatannya. Jikalah gagal, ia tak akan terlalu kecewa. Setelah mondar-mandir selama beberapa kali, Stefani menyusul pelayan yang membawa minuman tadi.


“Loh, sudah kembali?” tanya Stefani tanpa sadar. Ia lekas menutup mulutnya karena kaget dengan celotehannya sendiri.


“Kenapa memangnya? Apa kamu melakukan kesalahan dengan minumannya?” tanya si pelayan curiga.


Stefani harus memutar otak dengan cepat supaya bisa lepas dari kecurigaan. “Aku lupa memberi sedotan minuman itu. Aku akan dimarahi kalau melakukan kekurangan,” jawabnya. Padahal ia tahu sendiri kalau tidak akan ada yang memarahinya hanya karena sedotan.


Si pelayan tampaknya sedikit curiga, tetapi tidak mengacuhkan kecurigaan tersebut dengan cepat. Lagi pula pelayan itu bisa mengalihkan kesalahan pada Stefani yang sudah membuat kesalahan lebih besar sebelumnya.


“Kamu coba cek saja sendiri! Nona ada di taman!” suruh pelayan itu sambil masuk ke dapur.


Samar-samar Stefani bisa mendengar pelayan itu mengeluh betapa banyaknya pekerjaan dan dirinya yang malah mengkhawatirkan hal lain.


Stefani tak peduli, ia setengah berlari ke taman sebelah, tempat tadi siang menyatakan cinta pada Mahardika. Ia bertanya-tanya dengan siapa Daisy sekarang? Pertanyaannya tentu saja lekas terjawab sebab ia melihat sosok Mahardika yang berkilauan di tengah gazebo, di samping Daisy.


Lekas Stefani bersembunyi di dekat pepohonan yang telah dipangkar tukang kebun dalam bentuk-bentuk yang cantik.


“Apa yang sedang mereka bicarakan?” tanya Stefani penasaran.


Terlalu jauh untuk bisa mendengar obrolan Daisy dari sini. Kemungkinan akan ketahun juga jauh lebih besar, sebab pemandangan dari gazebo ke sekitar cukup terang. Stefani jelas akan diusir jika ketahuan. Ia tentu akan ketahuan.


Lalu tiba-tiba Daisy terlihat oleng, berusaha berpegangan pada Mahardika. Stefani yang melihat itu mendadak jadi panas dingin.


“Apa ini?”


“SESEORANG! SIAPAPUN TOLONG KEMARI!” teriak Mahardika panik.


Begitu para pelayan yang berada di sekitar sana keculai Stefani mendekati gazebo, lekas ia melarikan diri.


“Apakah itu karena aku? Astaga ... apakah itu karena aku?” tanya Stefani dengan wajah pucat.


***


“Untunglah tidak ada masalah lain,” kata Daisy sangat bersyukur.

__ADS_1


Matahari sudah terbenam. Pesta telah berlangsung selama tiga jam dan semuanya masih baik-baik saja.


“Kamu yakin tidak perlu memberitahu orang tuamu tentang Stefani?” tanya Mahardika.


“Tidak! Aku akan coba mengatasinya terlebih dahulu,” jawab Daisy lekas.


Daisy merasa harus mencoba mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi dulu. Tidak mungkin seseorang bisa berubah begitu saja. Bahkan beberapa hari lalu Brian masih menganggu Stefani.


“Aku melihat beberapa orang yang tidak seperti teman-temanmu,” Mahardika bersandar pada tiang gazebo.


Dalam cahaya lampu taman yang tidak terlalu terang, Daisy tampak layaknya peri yang terdampar dari negeri fantasi. Cantik, begitu manis, dan lembut.


“Mungkin itu teman-teman Stefani. Mas Dika tahu kan kalau aku dan Stefani lahir pada tanggal yang sama. Sejak awal, mendiang mama membiarkan dia dan aku berulangtahun bersama.”


Daisy penasaran dengan apa yang dpikirkan oleh Mahardika karena pria itu kemudian hanya diam saja. Ia menimang-nimang gelasnya. Minuman ini agak sedikit berbeda dari yang biasa, terlalu manis dan sodanya juga terlalu banyak. Tetapi, karena masih bisa diminumnya, Daisy pikir tak masalah.


Ia meneguk minumannya sampai habis sekarang. “Sepertinya kita harus segera kembali ke ....”


Tangan Daisy segera mengapai Mahardika, mencoba tetap berdiri tegap. Namun, ia benar-benar tidak bisa. Hanya dalam hitungan detik tubuhnya ambruk dan pandangan Daisy menjadi gelap.


Ia bisa mendengar Mahardika berteriak memanggil seseorang. Lalu semua suara menghilang dan kegelapan melingkupinya. Daisy sangat ketakutan. Ia mencoba memanggil Mahardika, lalu papanya. Akan tetapi, tidak ada yang datang sama sekali.


“Daisy ....”


Suara lembut seorang wanita menyapanya. Suara yang sangat dirindukan Daisy. Kapan ia mendengar suara wanita yang barusan di dengan menyebut namanya? Ah 10 tahun atau 14 tahun? Sudah lama sekali ternyata.


“Daisy ....” Suara itu terdengar lagi dan semakin dekat.


“Ma ... Ma! Daisy takut!”


Daisy merasa menjadi anak kecil lagi.


“Tidak apa-apa!” Daisy bisa merasakan sentuhan yang sangat lembut di lehernya. “Apa Daisy percaya sama Mama?”


Tentu saja. Tidak ada yang dipercaya Daisy di dunia ini selain mamanya. “Ya!”

__ADS_1


“Kalau begitu tidurlah! Belajarlah lebih banyak setelah bangun!”


Kini Daisy merasa amat sangat mengantuk. Ia merasakan tangan yang menyentuh lehernya itu kini memeluknya. Ia hanya perlu tidur saja.


__ADS_2