
“Kamu baik-baik saja?”
Handoko tak bisa tak bertanya begitu melihat wajah Stefani yang muram. Apakah ia melakukan kesalahan dengan menceritakan perkara Ibnu? Apakah ia lag-lagi ingat mendiang ibunya yang sudah meninggal?
Jika memang hal seperti itu yang terjadi, maka Handoko hanya perlu menyalahkan dirinya sendiri dan meminta maaf berkali-kali. Tak terbersit sedikit pun di dalam hatinya untuk membuat putri semata wayangnya sedih.
“Jadi, apa yang Ayah dan Stefani lakukan di dapur pagi-pagi begini?”
Kedatangan Maulana yang tiba-tiba mengubah ekspresi Stefani. Handoko merasa diselamatkan. Padahal ia tidak boleh merasa seperti itu.
“Sebenarnya Saya ingin mengejutkan Kakak, tetapi Ayah sudah melakukan semuanya.” Stefani menceritakan apa yang direncanakan.
“Kenapa Ayah melakukan itu?” tanya Maulana memprotes. “Bagaimana pun aku ingin memakan makanan Stefani yang sudah diupgrade. Aku ingin tahu apakah kebiasaannya menambahkan hal anek ke dalam masakannya sudah berubah atau belum!”
“Saya tidak melakukan hal itu!” seru Stefani.
“Ya, kamu melakukan hal itu sering sekali. Aku ingin menegur, tetapi takut kalau kamu tersinggung!” Maulana mengangkat tangan sedikit saat mengatakannya.
“Yah, aku tidak bisa membiarkan putriku mengikuti jejak kakaknya yang cangung. Apalagi saat dia berkata akan membuat nasi goreng yang sama persis denganmu, hambar karena kekurangan bumbu!”
Mulut Maulana terbuka dan tertutup seketika. Ia tampak akan menyangkal tetapi tak bisa berbuat apa-apa karena Handoko sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
Lalu Handoko mendengar suara mendengkur pelan yang berasal dari perut Stefani. Ketika ia menoleh wajah putrinya itu merah karena malu. Padahal lapar bukanlah hal yang memalukan.
“Baiklah, kita akan mulai pembicaraannya setelah makan!” kata Handoko tertawa. “Bawa nasi goreng dalam mangkok Maulana! Kamu belum kerja apapun sejak tadi!” seru Handoko memerintah.
Stefani mengambil tiga piring dengan beberapa sendok di atasnya, mengikuti Handoko ke meja makan di sisi lain dapur. Setelah mendapatkan semua jatah piring dan perlengkapan lainnya, Handoko dan Stefani duduk. Maulana sendiri menghilang kembali ke dapur dan kembali dengan tiga gelas juga teko berisi air putih.
“Apa yang kalian bicarakan tadi? Aku jadi penasaran karena kisahnya berhenti saat aku datang!” tanya Maulana kembali.
“Yah, aku menceritakan kebodohanmu saat masih kecil!” Handoko menimpali.
“Apa? Saya tidak bodoh Ayah!” katanya marah.
__ADS_1
“Apanya yang tidak bodoh! Kamu hanya berhenti menjadi bodoh setelah memiliki adik perempuan!” Handoko tampaknya tak memberi ampun pada Maulana. “Apa aku perlu menceritakan padamu Stefani, bagaimana bodoh kakakmu dulu?”
Stefani tertarik dengan cara menegakkan punggungnya. Ia menatap dengan saksama dan mendengarkan.
“Dia masih mengompol saat masu TK!”
“Hentikan itu Ayah!” teriak Maulana terdengar frustrasi.
“Mengompol tidak bisa menyebabkan seseorang menjadi bodoh, Ayah, itu disebabkan karena ketidak tahanan klep!”
“Aku mencintaimu Stefani!”
Handoko tertawa mendengar dan Stefani sendiri berjengit tidak suka. “Kakak tidak usah mencintaiku. Sebaiknya cari saja kekasih sana!”
Hal yang dikatakan Stefani benar. Sudah waktunya Maulana memikirkan masa depannya sendiri sekarang.
***
Azzam hanya berkunjung untuk bertanya apakah ada yang tidak dimengerti Stefani dari tugas yang diterima. Ia menemukan gadis itu duduk dengan memegang kepala di ruang tamu.
Sebagai gantinya Stefani menyipit dengan mengancam, kalau Azzam tidak menghentikan ejekannya, ia akan berakhir dengan diusir menuju pintu kelar tanpa ampun dan penjelasan.
“Maafkan aku!” kata Azzam sambil mengangkat tangan. “Boleh duduk?’ tanya Azzam kemudian.
Stefani mengangguk. “Duduklah!’ suruhnya sebagai tambahan. “Saya tidak mengerti bagaimana pun caranya saya membaca catatanmu. Ini bukan kesukaanku, sungguh!”
Azzam heran mendengarnya. Setahunya Stefani masuk ke jurusan ini karena menyukainya. Bagaimana mungkin hal itu jadi tidak disukai lagi sekarang?
“Apa dosen di kelas menyulitkanmu? Kamu tidak mungkin tiba-tiba tidak suka pada hal yang kamu sukai sebelumnya.”
Stefani tampak tersentak, seolah sadar sudah mengatakan sesuatu yang salah dan terlalu panik untuk menjelaskan.
“Jangan panik begitu. Semua orang seperti itu, Stefani, karena satu atau dua alasan menjadi tidak suka dengan sesuatu. Jika kamu bisa mengatasinya, kamu akan merasa lebih baik!” Azzam memberikan support untuk menenangkan hati Stefani.
__ADS_1
“Be-nar! Terima kasih sudah mengatakan hal baik. Jadi bisa kamu membantuku sedikit dengan ini?” tanya Stefani pada Azzam, menyodorkan modul milik Azzam yang dipinjam.
Azzam terpana melihat catatan-catatan yang berantakan. Layaknya seekor kera yang melompati tiap pepohonan tanpa maksud yang jelas kecuali dirinya sendiri yang tahu.
“Maafkan aku!” Azzam mengucapkan kata maaf lagi. “Kamu tidak paham karena catatanku berantakan!” tambahnya saat melihat tatapan tidak mengerti Stefani atas permintaaan maafnya.
Stefani tertawa. “Tidak apa! Saya juga hanya bisa memahami catatan sendiri. Jadi, tentu saja kamu juga begitu!”
Azzam merasa sangat malu sekarang. Ia mulai menerangkan bagiana mana saja yang harus diperjelas dari tugas yang diberikan dosen dan bagaimana melakukannya. “Seharusnya ini tidak akan menyulitkanmu setelah ini!” Azzam mengakhirnya penjelasannya dengan kalimat menyemangati.
Stefani mengangguk pelan dan mulai melakukan semua arahan Azzam. Cukup lama gadis itu terdiam membuat outline dari tugas yang akan dikerjakanya. Setelah selesai, ia kemudian menghela napas lega.
“Terima kasih! Saya sudah berniat untuk minta tolong pada Kak Maulana tadi! Tapi, kamu sudah membantu!” kata Stefani pelan.
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa untuk beristirahat.
“Kelasmu dimulai jam berapa?’ tanya Azzam.
Stefani menelangkan kepalanya sedikit terlebih dahulu sebelum kemudian menjawab, “Tidak ada kelas hari ini?”
Azzam juga tidak harus ke kampus hari ini. Ia berencana pergi ke pusat kota untuk mencari beberapa buku referensi. “Mau ikut dengabku!” ajak Azzam. Perasaannya mengatakan kalau Stefani akan ikut.
“Ke mana?’ tanya Stefani ingin tahu lebih dulu.
“Toko buku!”
Stefani tampak mempertimbangkannya dengan sangat baik. Lalu ia mengangguk. “Boleh!”
Azzam hampir saja menjerit karena senang. Akan tetapi, ia berhasil bertahan di detik-detik terakhir dan hanya tersenyum dan mengangguk-angguk saja.
“Apa yang kamu lakukan pemuda gil*? Mencoba menculik adikku?”
Azzam lekas menoleh ke arah pintu dan menemukan Maulana tengah berdiri di sana dengan jaket dan helm yang dipangkunya.
__ADS_1
“Eh, men-cul*k?”
Bagian mana dari ajakannya yang terdengar seperti penculikan. Azzam jelas tidak menawarkan permen pada Stefani.