
“Apa tidak sebaiknya aku cuti saja hari ini, Yah?” tanya Maulana pada Handoko yang sedang mengepak pakaiannya sendiri di kamar.
“Tidak usah. Kita hanya mengemas beberapa saja. Jadi ini tidak akan lama. Ayah sudah minta izin pada Tuan besa supaya bisa kerja siang saja nanti. Kamu pergi saja!”
Bukan soal mengemas yang sebenarnya dikhawatirkan Maulana melainkan Stefani yang masih belum keluar kamar padahal sejak tadi. Ia ingin thu apakah kondisi Stefani sudah lebih baik dari semalam. Ataukah bertambah parah. Jika itu terjadi, ia ingin segera membawa adiknya itu ke dokter.
“Kalau Stefani masih belum keluar setelah jam makan siang lewat, Ayah hubungi aku, ya?” kata Maulana mewanti-wanti.
“Ya, ya! Sebaiknya kamu pergi sekarang!” usir ayahnya dengan kejam.
Maulana menyandang ransel miliknya yang berisi seluruh keperluan pekerjaannya seperti berkas yang dibawa untuk diperiksa berikut juga laptopnya sendiri. Ia tidak lantas langsung pergi ke pintu, tetapi ke depan kamar Stefani yang masih tertutup. Diketuknya pintu kamar Stefani yang masih tertutup.
“Stefani?” panggil Maulana penuh harap.
Namun, sayang sekali tidak ada sahutan dari dalam. Entah gadis yang dikhawatirkan itu masih tidur atau tengah ada di kamar mandi. Maulana akhinya menyerah. Saat berada di ambang pintu, ia mengulangi kembali permintaannya pada Handoko.
“Ayah harus menghubungiku kalau Stefani tidak keluar sampai saat makan siang, oke?”
“Ya, astaga anak ini! Kenapa kamu jadi begini. Sana pergi!” usir Handoko galak.
Lamat-lamat Maulana pergi. Keinginannya untuk berbalik ke belakang dan mencoba mendobrak kamar adiknya besar. Akan tetapi, seperti yang dikatakan sang Ayah, bahwa Stefani kemungkinan butuh istirahat sekarang. Mengangetkannya dengan cara itu hanya memperburuk keadaan saja.
Ia mengeluarkan motornya dari garasi milik keluarga Aghra. Lalu mengklakson satpam saat lewat pintu gerbang. Satpam menghentikannya di sana, mendekat dengan berlari-lari kecil
“Ada apa, pak?” tanya Maulana sambil membuka kaca helm.
“Apa sudah ketemu rumah kontrakannya?” tanya si satpam padanya.
“Sudah! Kemarin sudah bayar uang sewa juga.”
Si satpam bekerja hampir sama lamanya dengan ayahnya, jadi mungkin sedikit prihatin dengan yang terjadi pada mereka. Kalau dulu Maulana mengalami hal seperti ini pasti akan marah pada Stefani, tetapi sekarang rasanya hal yang dilakukan adiknya tidak seberapa jahatnya.
Ini hanya layaknya sebuah hukuman karena selama ini sudah menyia-nyiakan adiknya.
“Bapak pikir belum. Adikmu itu benar-benar ... Bapak tidak bisa berkata apa-apa padanya!”
Maulana ingin sekali marah, tetapi ia tersenyum saja. “Kalau begitu saya berangkat ya Pak! Sudah hampir waktunya masuk kantor!”
__ADS_1
Ia memutar pedal gas motornya dan melaju di jalanan dengan cepat.
Memang apa yang mereka tahu tentang adiknya. Tidak ada. Orang-orang hanya tahu apa yang dilihat saja dan berkomentar semaunya. Andai saja Maulana dan Handoko lebih perhatian pada Stefani, maka kejadian ia menyebut sebuah kekaguman sebagai cinta pasti tidak terjadi.
Apalagi sekarang Stefani sudah berubah, rasanya membicarakan orang yang sudah berubah di belakangnya sama sekali tidak benar.
Maulana sampai di kantornya, memarkir sepeda motor di tempat biasa dan melihat diparkiran khusus mobil milik Mahardika juga sudah ada di sana. Bos Maulana itu pasti sudah ada di kantor, memulai semua hal sendirian.
Maulana bergegas ke dalam kantor, menyapa beberapa orang dengan ramah sambil lalu. Untungnya lif menuju lantainya sedang kosong, Maulana memanfaatkan hal itu dengan sangat baik.
***
“Apa sebaiknya ditelepon saja ya?” tanya Mahardika entah pada siapa saat melihat meja milik Maulana yang ada di dalam ruangan yang sama masih kosong.
Maulana bukan orang yang terbiasa datang terlambat. Malahan, pria yang seusia dengannya itu selalu berada di dalam kantor lebih dulu darinya.
Mahardika jadi menyalahkan dirinya sendiri kini. Ini adalah salah satu kesalahannya karena membuat Maulana belum sampai. Apakah papa Daisy benar-benar mengusir Maulana dan keluarganya kemarin?
Saat memikirkan apa yang terjadi karena kesalahannya pintu ruangan terbuka dan Maulana masuk dengan wajah lesu.
“Oh, maaf, aku akan segera menyelesaikan pemeriksaan berkas.” Pria itu menjatuhkan tasnya di samping kursi kerja mengeluarkan setumpuk dari dalam tasnya dan memulai memeriksa pada Mahardika belum memerintahkan.
“Bukan, aku tidak menunggumu karena ini. Apa benar kalian diusir Pak Ibnu?” tanya Mahardika.
Ia menghentikan Maulana saat akan membuka berkas yang baru saja dikeluarkan dari tas. Memaksa temannya itu mengangkat kepala dan melihat ke arahnya.
“Itu benar!” jawab Maulana sama sekali tidak berniat untuk basa-basi.
“Ini karena aku datang untuk makan malam?” Lebih tepatnya karena Mahardika tahu kebenaran tentang Daisy dan Stefani. Namun, ia tak bisa mengungkapkan hal itu.
“Ya, benar!” jawab Maulana sama sekali tidak berbasa-basi lagi. Lalu pria itu memindahkan tangan Mahardika dari atas berkas yang akan diperiksa. “Kumohon, jangan merasa bersalah! Kami tidak masalah dengan itu, malah baik menurutku. Sekarang kami bisa mencoba untuk tinggal di luar pavilliun. Baik buat Stefani karena kemungkinan ia akan berinteraksi dengan banyak orang di rumah kontrakan baru.”
“Kalian sudah punya rumah kontrakan baru?” tanya Mahardika.
“Ya.”
“Padahal aku punya sebuah rumah yang bisa kalian pakai. Tempat itu kosong dan tidak jauh juga dari kantor ini.”
__ADS_1
Mata Maulana menyipit seketika. “Kamu berniat menjadikan adikku selingkuhanmu?”
Wajah Mahardika memerah seketika karena marah. “Mana mungkin seperti itu. Aku hanya merasa karena masalah ini terjadi karena kedatanganku! Aku harus bertanggung jawab sama banyaknya seperti kalian!” tegas Mahardika.
“Tidak! Seperti yang aku bilang tadi, kami sudah mendapatkan rumah kontrakan yang bagus dengan harga yang bagus juga. Jadi tenang saja!”
Mahardika tidak mau membuat masalah lagi, jadi ia tak akan memaksa soal rumah. Ia bersyukur karena tidak ada masalah apa-apa.
“Apa kamu masih punya tabungan untuk itu?”
“Kamu pikir aku ini boros? Ayah bahkan tidak mau menerima uang gajiku sedikit pun selama tiga tahun bekerja denganmu. Jadi, aku punya cukup uang tabungan. Jangan khawatirkan itu!”
“Baguslah!” kata Mahardika.
Jika Maulana sedikit saja mengeluh, ia akan segera mengirimkan uang ke rekening pria itu. Anggap saja sebagai balas jasa sudah melindungi jiwa tunangannya Daisy.
“Aku mau pulang cepat hari ini. Stefani sakit! Karena itu ayo kita mulai menyelesaikan semua ini!” pinta Maulana.
Mahardika tergoda untuk pergi bersama Maulana. Akan tetapi, ia berhasil mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu. Daisy hanya akan mendapat masalah lainnya kalau ia muncul.
“Baiklah!” Mahardika bergegas ke mejanya sendiri. Mengerjakan bagian lain yang ada di sana sejak kemarin.
Ia baru akan berkonsentrasi saat pintu ruangannya terbuka lebar dan tubuh Daisy yang kini dikendalikan Stefani muncul. Gadis itu membawa keranjang di tangannya, berisi sesuatu yang beraroma manis.
Maulana sama sekali tidak peduli, karena ia berusaha keras untuk menyelesaikan berkas yang ada di tangannya tepat waktu.
“Seharusnya kamu mengetuk pintu dulu atau memberitahukan kedatanganmu melalui resepsionis di depan,” tegur Mahardika.
Stefani yang asli menelengkan kepala dan tersenyum tidak peduli. “Aku tidak akan menganggu, kan? Aku punya hak berada di ruangan ini. Kemarilah dan temani aku sarapan. Aku bosan karena harus makan sendirian terus!”
Mahardika membuang napas. Semalam Stefani menelepon menggunakan ponsel yang diberikan, menanyakan apa yang disukai makan saat sarapan dan dengan asal ia menjawab roti selain. Pagi ini gadis itu muncul di sini dan tampaknya membawa apa yang disebutkan semalam dengan asal itu.
“Aku sudah sarapan di rumah! Jadi, kamu bisa sarapan sendirian saja, kan? Aku akan menemanimu dengan duduk di sana dan mengerjakan berkas,” usul Mahardika.
“Baiklah. Apa boleh buat!”
Entah bagaimana Stefani setuju begitu saja. Ke mana semua sikap keras kepalanya itu?
__ADS_1