
Reaksinya lebih hebat dari yang dibayangkan Mahardika. Dalam bayangannya Daisy tetap akan menikmati minumannya tampak anggun dan seolah-olah tidak peduli. Bukan berarti Mahardika senang jika diacuhkan.
“Mas mau beramah tamah pada wanita yang meracuniku?” tanya Daisy padanya.
“Meracuni?” Mahardika mengeleng. “Kita sudah mengirimkan hal itu pada dokter, dan mereka bilang tidak ada racun di sana Daisy!”
“Mas Dika membelanya?” Mata Daisy terbelalak dengan cara yang aneh.
Mahardika mengeleng saat mendengar tuduhan tersebut. Ia tidak membela Stefani. Ia hanya tidak suka memberikan tuduhan yang tidak berdasar pada seseorang yang kemungkinan tidak bersalah. Ingat hukum praduga tidak bersalah yang ditekankan seluruh dunia.
“Daisy! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Memang tidak ada racun di dalam minuman yang kami minum. Itu tidak disebut membela jika mengungkapkan fakta.”
Daisy menghantam meja tempat letak mug dan cangkir teh dengan kedua telapak tangannya. Kedua benda itu bergetar, terguling, dan pecah di lantai. Mata Daisy merah dan ia berdiri.
“Sama saja!” Lalu gadis itu mondar-mandir selama beberapa detik di depan Mahardika sebelum kemudian berkacak pinggang. “Sebaiknya Mas Dika pulang sekarang!” usirnya.
Mahardika butuh waktu sepersekian detik untuk mencerna apa yang baru dikatakan Daisy padanya. Lalu ia menghela napas. “Aku sudah salah, Daisy! Hentikan ini. Ini tidak seperti dirimu yang biasa!”
“Memang aku biasanya seperti apa, Mas Dika? Mas bahkan tidak kenal denganku!” kata Daisy melawan. “Sekarang, pergilah, kumohon. Aku ingin istirahat!” kata Daisy sekali lagi meminta Mahardika untuk pergi.
Mahardika menyugar sambut di kepalanya dan kemudian mengangguk sebelum berdiri dan pergi. Ia berjalan ke pintu balkon dan berdiri di sana selama beberapa detik, berpikir bagaimana caranya untuk meminta maaf pada Daisy. Tetapi, ia jelas menyadari kalau dirinya sama sekali tidak bersalah.
Mahardika benar-benar heran dengan perubahan yang terjadi pada Daisy dalam semalam. Gadis itu masih seperti biasa semalam bagaimana mungkin menjadi seperti ini sekarang.
Mahardika juga ingat memberikan sesuatu sebagai hadiah ulang tahu kemarin malam dan Daisy berkata akan memakai benda itu dengan baik. Tetapi, benda itu bahkan tidak ada di tubuh Daisy saat ini.
“Aku pasti hanya terlalu banyak pikiran saja. Tidak mungkin hal seperti itu terjadi!” Mahardika mengelengkan kepala mengusir segala hal buruk yang tiba-tiba menghampiri dirinya.
Ia melambai pada Raise saat melihat pelayan itu berjalan melintasi hall ruang tamu.
“Ya, Tuan Muda?” tanya Raise.
Tatapan Raise seakan bertanya kenapa Mahardika pergi secepat ini?
__ADS_1
Pertunangan yang dilakukan Mahardika dan Daisy sama sekali tidak berdasarkan rasa suka sama suka. Ini semua berawal dari desakan untuk menghubungkan antar keluar. Layaknya pertukaran kesepakatan antara keluarganya dan keluarga Daisy.
Menurut Mahardika sendiri sama sekali tidak ada salahnya, sebab masih ada kesempatan untuk menolak seandainya suatu saat Mahardika jatuh cinta pada orang lain. Tetapi, Mahardika tidak mengalami hal seperti itu. Ia malah menyukai keberadaan Daisy yang acuh tak acuh, berpendidikan, mampu mengendalikan perasaannya.
Namun, hari ini semua itu seperti tertendang. Bergulir bagai bola dan menjauh dari Mahardika. Daisy berbeda dari yang tampil pada hari-hari sebelumnya.
“Ayah!”
Mahardika berhenti ketika didengarnya suara yang membuatnya muak semalam. Aneh, nada suara yang berbeda itu menarik pehatiannya sedikit. Apalagi dengan perkataan yakin yang diucapkan oleh gadis itu tadi. Aku Daisy!
Gadis itu berlari-lari kecil mendekati pria yang seusia papanya Daisy. Tampak canggung saat membantu mengambil sapu lidi dan menyerahkannya pada pria tersebut. Wajahnya cerah, sama sekali tanpa masalah.
Anehnya, Mahardika merasa kalau gadis itu sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Tetapi, hal yang dikatakan gadis itu dengan percaya diri jelas tidak mungkin.
“Tuan muda?” Suara Raise yang tadi dipanggil menyentak Mahardika, membuatnya menoleh pada pelayan wanita itu.
“Ah, suasana hati Daisy sedang buruk, jadi aku akan pergi sekarang.” Mahardika melihat Raise mengangguk. “Bukannya Daisy suka teh?”
“Lalu kenapa hari ini dia minta coklat?”
Raise mengeleng.
“Terima kasih,” kata Mahardika pada Raise yang mohon pamit segera.
***
Mau pulang, ya? Daisy bertanya-tanya dalam hati.
Ia sengaja berkeliling di taman untuk melihat apakah ada kesempatan untuk bertemu dengan tubuhnya tanpa sengaja. Akan tetapi, selain menerima tatapan kemarahan dari pelayan-pelayan lain yang sangat royal dengan majikannya. Tidak ada hal aneh yang terjadi.
Ayah Stefani sedang mengunting beberapa tanaman di taman depan. Daisy melihatnya dan mengetahui bagaimana taman selalu tampak rapi dan indah setiap hari. Rupanya semua orang di kediamannya ini sudah sangat bekerja keras.
“Ayah!” Daisy berteriak, melihat sapu lidi yang tergelatak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
“Oh, Stefani! Kenapa kamu kemari?” Lelaki tua yang kepalanya telah berwarna abu-abu itu tampak panik bergegas turun dari kursi tinggi yang digunakan untuk memotong dahan bunga.
“Boleh aku membantu Ayah?” tanya Daisy.
Ia mengingat-ingat cara menyapu yang dipelajarinya saat SD. Pasti tidak akan menyusahkan. Bukankah dirinya baru saja selesai mencuci piring sebentar tadi?
Ayah Stefani menghela napas dalam dan mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi jangut. “Stefani, kamu benar-benar suka dengan Tuan Mahardika, ya?
“Ah?” Daisy jelas kaget. Padahal ia tidak berbicara seperti itu. Kali ini ia hanya benar-benar mau membantu saja. Apa salahnya dengan mencuci piring dan menyapu?
“Cinta tidak salah, Stefani, tetapi kamu harus sadar dengan siapa kamu jatuh cinta.”
Ah, seharusnya nasihat yang baru disampaikan ayah Stefani ini didengar oleh Stefani sendiri. Tetapi, sayangnya saat ini Daisy yang ada di tubuh Stefani bukannya orang yang asli.
“Ayah ... kali ini saya benar-benar ingin membantu. Sama sekali tidak memiliki niat seperti yang baru saja Ayah katakan!”
Yah, walau ada sedikit niat lain di dalam hati Daisy, tetapi bukan tentang Mahardika. Ia hanya mau bertemu tubuhnya sendiri.
“Kembalilah ... Ayah tidak membutuhkan bantuan!” tolak Ayah Stefani, mengambil sapu lidi yang dipegang Daisy.
Ini salah paham. Tetapi, Daisy merasa sedih dibuatnya. Ini sama seperti saat papanya menuduh Daisy melakukan hal jahat kepada mama tirinya. Tuduhan hanya karena ia tak suka. Sama persis.
Ayah Stefani tampaknya menyadari kalau kata-katanya sudah membuat Daisy sedih. “Stefani, Ayah tidak marah padamu!” kata pria itu pada Daisy.
Saat itulah Mahardika melewati mereka untuk menuju mobilnya. Daisy terpaku, ingin tahu seberapa banyak Mahardika mendengar. Apakah pria itu ingin tahu sesuatu dan menemukan keanehan pada dirinya yang ada di dalam sana. Tetapi, Mahardika hanya melewati mereka saja, tanpa berkata apa-apa.
Daisy menahan napas sampai mendengar suara deru mesin mobil yang perlahan menghilang. Kemudian ia berbalik dengan lesu. Ia akan kembali ke kamar Stefani, berguling di sana seharian penuh dan memikirkan kembali apa yang bisa dilakukan untuk bertemu dengan tubuhnya.
“Kamu bisa menolongku!” kata ayah Stefani.
Daisy berhenti dan menoleh lalu tersenyum. “Terima kasih, katanya.
Hanya saja perasaannya sama sekali tidak lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1