
Daisy berhasil menyapu seperti tutorial yang dilihatnya di youtube. Ia selalu saja merasa bangga pada dirinya sendiri setiap kali berhasil menyelesaikan tantangan. Kemarin ia berhasil mencicu piring sendiri tanpa bantuan orang lain. Entah hal mekajubkan apa lagi yang berhasil dilakukannya sampai sore nanti.
Karena senang dengan pencapaiannya Dais berpikir untuk menghadiahi sendiri dirinya dengan segelas meinuman boba nanti saat pergi ke kampus besok. Untuk sekarang hanya itu yang bisa dibeli dan kemudian dinikmati.
Ia tak bisa menyebabkan orang tua Stefani dan juga kakak gadis itu yang bekerja keras di tempat lain banyak pikiran. Hidup tidak selalu mudah, bahkan untuk dirinya.
Daisy melirik jam dan mendapati kalau sudah malam sekarang. Seharusnya ayah Stefani sudah pulang sejak tadi, tetapi anehnya tidak ada yang muncul sampai jam segini. Ia pikir kemungkinan ini adalah efek yang terjadi siang tadi.
“Semoga tidak terjadi hal yang buruk. Andai saja aku bisa kembali ke tubuku, sepertinya akan lebih baik. Aku bisa mengembalikan alur yang seharusnya,” gumam Daisy penuh harap.
Tapi, harapan itu nyaris sia-sia. Ia sudah dua hari berada di dalam tubuh Stefani dan tidak bisa berbuat banyak selain berusaha melakukan hal yang biasa dilakukan gadis itu.
Stefani yang asli juga sepertinya ada di tubuhnya dan membuat ulah.
“Astaga, sebenarnya seperti apa dia melihatku selama ini? Aku berusaha untuk tidak membuat khawatir orang lain,” gumam Daisy kembali.
Ia masuk ke kamarnya setelah memastikan kalau ayah atau kakak Stefani tidak akan pulang lebih cepat. Ia duduk perlahan di tepi ranjang dan tak sengaja menduduki sesuatu yang keras.
Rupanya itu tas Stefani. Ia ingat pada kotak hadiah yang diberikan Azzam.
“Apa aku boleh membukanya?” tanya Daisy kebingunggan.
Pada dasarnya hadiah untuk orang lain tidak boleh dibuka tanpa persetujuan. Akan tetapi, ia sekarang menjadi diri Stefani. Jadi sepertinya mengintip hadiah yang diberikan Azzam untuk tubuh yang digunakan ini sama sekali tidak apa-apa.
Ia tarik tas itu yang sudah diletakan di sisinya dan kemudian diambil kotak yang dimasukan ke dalam tas tadi siang saat ada di kampus. Kotak kecil yang dibungkus dengan cantik. Daisy masih sedikit bimbang saat kotak itu ada di tangannya.
“Maafkan aku Stefani. Sepertnya kamu akan semakin membenciku atas masalah ini, tapi aku terlalu penasaran!” kata Daisy pelan.
Ia membuka tutup kota perlahan dan terpana pada isinya. Kalung cantik dengan leontin berbentuk kelopak bunga keberuntungan. Perasaan saat Azzam memilih kado itu lekas sampai pada Daisy. Seperti halnya Mahardika pada dirinya, Azzam sangat menyukai Stefani hingga berharap hal baik selalu terjadi pada gadis itu.
“Bagaimana kamu hanya melihat pria yang tidak peduli denganmu dan melupakan yang ada tepat di hadapanmu Stefani?” tanya Daisy kebingunggan.
Karena sekarang Daisy yang menjadi diri Stefani, pikirnya tak masalah kalau liontin yang dihadiahkan pada Stefani ini dipakai. Ia berharap keberuntungan datang pada dirinya yang kini ada di dalam tubuh Stefani.
__ADS_1
Ia memandangi liontin yang ada di lehernya itu kini dan tersenyum. Merasa semakin lebih baik lagi. Walau sekarang tidak ada solusi dari masalah ini, akan tetapi pada kenyataannya solusi itu akan datang.
Daisy sangat yakin dengan hal itu.
“Baiklah ... waktunya istirahat!” seru Daisy dengan penuh semangat.
Ranjang Stefani masih tetap asing buat Daisy, langit-langit kamarnya juga begitu. Akan tetapi, setelah malam pertama yang dilewati dengan teringat semua hal tentang mama kandungnya serta hal buruk yang terjadi, ranjang ini sungguh sangat nyaman.
Sebenarnya Daisy ingin sekali mengucapkan selamat malam pada Handoko, juga Maulana, tetapi sudah terlalu malam untuk menanti semua orang. Daisy tidak boleh egois. Ia tidak boleh mengatakan pada dirinya kalau semua akan baik-baik saja.
Lama-lama memandang langit-langit yang asing itu, kantuk menyerang Daisy. Matanya perlahan terpejam dan kemudian ia terengut oleh mimpi yang aneh.
***
Stefani merasa sangat segar. Dibandingkan dengan yang ada di rumahnya, kamar mandi milik Daisy sangat menakjubkan. Suhu air di showernya bisa diatur. Lalu ada bathup yang tidak dimiliknya di pavilliun.
Isi kotak obat yang ada di kamar mandinya pun banyak. Dari mulai pencuci muka, sampai obat jerawat yang harganya sama dengan uang jajan Stefani sebulan saat menjadi dirinya yang sebenarnya juga ada.
“Nona, Anda akan makan malam di mana?” tanya Raise.
Pertanyaan Raise selama dua hari ini terdengar aneh di telinga Stefani. Di mana lagi seorang putri tunggal yang paling disayangi di dunia akan makan kalau bukan di tengah keluarganya. “Di bawah!” katanya.
Raise untuk kesekian kalinya pada hari ini terkejut. Memang apa yang salah dengan perkataan Stefani. Aneh benar pelayan setia Daisy ini.
Ia kemudian memoleskan krim ke wajahnya secara merata dan menikmati melihat wajah cantik Daisy yang tanpa cacat di depan cermin. Wajah bercahaya yang sangat didambakan Stefai dulu. Memang dirinya yang sebelumnya juga putih, tetapi tak secantik Daisy yang terawat.
“Apa menu di bawah?” tanya Daisy penasaran.
Raise yang ada di belakangnya belum juga menjawab, jadi Stefani memutar tubuhnya supaya bisa melihat Raise dan mendesak pelayan itu.
“Ada steak salmon saun krim, mie godog jawa, ayam asam manis, dan nasi, Nona.”
Semua lauk yang disebutkan Raise tidak pernah dicoba Stefani. Jadi kenapa ia harus makan di kamarnya sendiri? Toh, tidak ada yang memarahinya untuk turun ke bawah.
__ADS_1
Sama dengan halnya Raise yang tampak kaget dengan keputusan Stefani untuk datang ke ruang makan di lantai bawah, keluarga Daisy, papa dan mamanya masih memasang tampang kaget bercampur bingung.
Stefani benar-benar tak mempedulikan hal itu. Ia senang berada di sana dan akan tetap begitu walau apapun yang terjadi. Ia duduk dibantu pelayan lain, karen Raise tidak bertugas untuk melayaninya saat makan.
Piring diletakannya di atas mejanya sebelum kemudian nasi diangkat mendekatinya. Ia mengambil dua sendok dan meminta dua lauk sekaligus.
“Apa uang sakumu kurang Daisy?”
Daisy yang tengah menikmati makanannya dengan lahap dan berencana untuk menambah satu sendok nasi lagi berhenti. “Ya?” tanya Stefani dengan tidak paham.
Ia bahkan belum mencicipi uang saku yang ada kartu kreditnya. Jadi ia tidak tahu apakah itu cukup atau tidak.
“Kamu tampak sangat menikmati makananmu sampai aku sulit percaya dengan itu!” Papa Daisy mendesah. “Biasanya kamu bahkan tidak mau melihat wajah kami?”
Stefani mengerjap. Perkataan yang jelas-jelas mengatakan kalau di dalam keluarga ini ada konflik tampak sangat jelas. “Memang manusia tidak boleh berubah?” tanya Stefani mengambil jalan pintas.
Kedua orang tua yang ada di hadapannya saling pandang dan tertawa dengan canggung.
Stefani sama sekali tidap peduli karena makanan yang dihidangkan sangat enak. Ia lalu melanjutkan acara makannya tanpa mempedulikan siapa-siapa lagi.
“Daisy, soal keinginanmu untuk menjauhkan Stefani darimu, apa yang ingin kamu lakukan padanya?” tanya mamanya tiba-tiba.
“Tuan ... saya mohon jangan lakukan hal buruk pada putri saya. Saya tidak memiliki kekuatan seperti Anda. Jadi, tolong kasihani saya Tuan!”
Entah dari mana ayah Stefani datang, tetapi ia langsung jatuh di lantai dan mulai memohon. Seharusnya ayahnya tidak memiliki kasih sayang yang seperti ini padanya.
“Katanya putrimu sudah membuat masalah buat Daisy di kampus, Handoko! Aku tahu kalau kamu sangat sayang pada putra dan putrimu, tetapi kalau mereka sudah melakukan hal buruk, tetap harus dihukum.” Pap Daisy akhirnya angkat bicara.
“Tidak Tuan! Putri saya tidak melakukan kesalahan! Ada Tuan Dika yang akan menjadi saksi!”
Stefani benar-benar geram melihat bagaimana ayahnya membela Daisy, padahal saat dirinya ada di posisi Daisy, pria itu sama sekali tidak membela.
“Keterlaluan! Sangat keterlaluan! Jadi kamu anggap aku berbohong?” tuding Stefani penuh amarah.
__ADS_1