Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Rencana Makan Malam (1)


__ADS_3

Maulana benar-benar ingin bersmbunyi di dalam lubang kemarin. Ia tidak dapat menikmati ketoprak yang sudah dipesan, tetapi senang bisa membuat Stefani antusias makan setelah melihat betapa enggan adiknya itu melangkahkan kaki untuk duduk di tukang ketoprak yang mangkal di trotoar dekat pos penjaga bagian dalam.


Saat melihat betapa enggannya Stefani melangkahkan kaki mendekat, Maulana ingin berteriak dengan gusar. “Aku tidak akan meracunimu!”


Lebih senang lagi pada akhirnya Stefani membuat sarapan sendiri setelah hampir sepuluh hari tidak memasak. Telur yang digoreng sedikit berminyak. Nasi gorengnya juga kurang bumbu. Bahkan teh manis yang dibuatnya hambar dan entah kemana teh celup itu menghilang. Namun, selama Stefani yang membuatnya, Maulana berniat menghabiskan semua.


“Yakin tidak mau kuantar saja?” tanya Mualana sekali lagi saat mendorong motornya keluar dari garasi di belakang.


Stefani tampak mengikutinya dan dari kaca spion dilihat adiknya itu mengeleng. “Tidak usah! Kakak jadi repot!”


Maulan berhenti dan menoleh ke belakang. “Aku sama sekali tidak repot!” tegas Maulana.


Stefani tertawa kecil mendengar suara false Maulana saat bicara.


“Arah kantor dan kampus berlawanan arah. Aku bisa berangkat sendiri!” kata Daisy menolak dengan alasan yang sangat maksud akal.


Padahal Maulana hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan adiknya. Tapi, tampaknya walau sudah membuka diri sedikit demi sedikit, Stefani masih enggan berlama-lama bersamanya terlalu dekat. Keajaiban saat lari kemarin, Stefani tidak melarikan diri.


“Kalau begitu biar aku natas kamu sampai halte!” pinta Maulana.


Untungnya Stefani sama sekali tidak menolak. Ia naik ke boncengan setelah Maulana menyalakan mesin motornya. Ada keinginan untuk melaju saja sampai ke kampus Stefani, tetapi nurani Maulana mengingatkan kalau ia akan rugi jika ingkar janji.


“Kapan-kapan biarkan aku mengantarmu!”


Stefani mengangguk. Dari kaca spionnya Maulana bisa melihat kalau Stefani melambai saat ia pergi. Rasa senang karena hubungannya menjadi selangkah lebih baik membuat Maulana tersenyum-senyum sendiri. Perasaan senang itu dibawanya sampai ke kantor.


Ia tak peduli dengan orang-orang yang berakhir dengan menganggap Maulana gila.


“Wah, lihatlah siapa yang sejak pagi senyum-senyum. Apa kamu baru saja menang lotre? Atau pada akhirnya kamu mendapatkan pacar?” tebak Mahardika yang baru datang dan mengayun-ayunkan kunci mobilnya.


Wajah cerah Maulana mendadak menjadi cemberut. Ia mempunya keinginan menyumpalkan sesuatu ke dalam mulut Mahardika.

__ADS_1


“Kamu tidak akan iri dengan yang aku dapatkan, kenapa aku harus bercerita padamu,” runggut Maulana kesal.


Ia melepaskan jaketnya, menyisakan kemeja lengan panjangnya saja. Kemudian menyisir sedikit rambutnya dengan jari. Ia kemudian duduk dan mulai mempersiapkan mejanya kini.


“Katakan itu padaku? Walau sama sekali tidak membuatku iri.”


Walau berkata tidak mau mengatakannya, Maulana tetap mau berbangga diri atas apa yang dilakukan adiknya. Jadi ia membusungkan dada dan memejamkan mata untuk mengingat sesasi kaget karena Stefani membuatkannya sarapan pagi ini.


“Astaga, kenapa lama sekali!” seru Mahardika kesal. Terdengar seperti seorang wanita yang tidak sabaran.


Maulana memang sengaja melakukan hal itu. Ia kemudian tertawa karena berhasil. “Stefani membuatkanku sarapan pagi ini. Setelah 10 hari ... dan dia tersenyum memberikannya!”


Mahardika melongo.


Maulana tidak peduli dengan ekspresi Mahardika, atau pria itu kemudian mengatakan kalau sama sekali tidak tertarik. Toh, sebaiknya Mahardika memang tidak tertarik dengan Stefani. Akan ada masalah yang sangat besar jika sampai ada ketertarikan antara Mahardika dan adiknya.


“Apa sebaiknya aku sarapan di tempatmu besok?”


“Makanya, aku tidak bisa membiarkan kamu hanya menikmatinya sendiri saja. Kamu harus berbagi kesenangan dengan temanmu!” kata Mahardika senang.


Ekspresinya seolah berkata: Aku tidak akan membiarkan kamu bersenang-senang sendirian saja, jadi aku harus ikut.


“Tidak! Dengan orang yang sudah menolak adikku dengan cara yang sadis. No. Big No!” Maulana menyilangkan kedua tangannya di dada, sebagai sebuah penolakan yang tidak terbantahkan. Ia kemudian menelengkan kepala melihat ekspresi sedih Mahardika.


Bagaimana pun Maulana tahu betul kalau Mahardika tidak bersalah pada Stefani. Adiknya yang sudah membuat masalah dan menyebabkan segala hal menjadi canggung.


“Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melukainya. Juga aku tidak bermaksud membuatnya salah paham dengan kebaikanku, Maulana. Kamu tahu betul aku menghormati adikmu!” kata Mahardika dengan mata yang sedih.


“Bagaimana kalau makan malam? Dia janji akan membuatkan malam juga hari ini. Aku tidak tahu hasilnya seperti apa karena tampaknya kemampuan memasak adikku menurun drastis.” Maulana sama sekali tidak pernah marah pada Mahardika. Karena itulah ia menampar Stefani dan bukannya Maulana. Ia tahu hal yang bensar dan salah.


Mahardika mengangguk dengan senang. Kemudian ia dengan langkah ringan menuju mejanya sendiri.

__ADS_1


Maulana memulai pekerjaannya dengan menghubungi setiap bagian untuk menyerahkan laparan. Tiga puluh menit kemudian pintu ruangan Mahardika diketuka dan satu per satu dari perwakilan bagian yang masuk untuk memberikan setumpuk laporan.


***


Daisy memasak?


Mahardika pensaran dengan bentuk, jenis makanan, dan bagaimana Daisy membuatnya. Hampir lima tahun bertunangan, tak sekali pun Daisy memberikan kesempata spesial pada Mahardika mencicipi buatannya. Hanya sesekali Daisy akan menuangkan teh dan memilih jenis camilan yang dinikmati bersama.


Ia kesal, iri, dan juga ingin melayangkan sebuah pukulan sambil berseru pada Maulana: Jangan mengambil kesempatan memakan masakan tunanganku!


Tetapi, jelas ia tak bisa melakukan hal itu. Daisy sudah menekankan padanya kalau pertukaran jiwa ini hanya dianggap lelucon bagi orang-orang. Tidak ada kasus yang seperti itu.


“Tapi, ini kesempatan. Aku mungkin bisa bertanya pada Daisy sebenarnya kejadian apa yang dialami sebelum pertukaran jiwa berlangsung,” gumam Mahardika pelan sekali saat beranjak ke mejanya dan tidak dalam menyembunyikan betapa gembira karena diundang Maulana.


Ia hanya perlu menyelesaikan semua berkas tepat waktu dan pulang dengan menyeret Maulana. Bisa saja ia mengajak temannya itu yang untuk sementara menjadi kakak Daisy, sebab tunangannya berasa di tubuh Stefani.


“Aku masih saja penasaran dengan kedatanganmu kemarin!” ujar Maulana setelah para utusan dari seluruh bagian di perusahaan keluar. Berkasnya membuat Maulana tengelam.


Mahardika khawatir tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.


“Bukannya kamu sudah mendengar alasanku? Kenapa masih bertanya?” Mahardika selesai menanda tangani dua berkas, menyisihkannya di sisi kanan dan mengambil yang lainnya. Ia memeriksa dengan cermat dan cepat dan menyelesaikan penanda tanganan.


“Pertama, kamu tidak pernah melakukannya. Kedua, kamu melarikan diri dari Nona Daisy sebelumnya dan membawaku ke tempat lelucon!”


Maulana muncul sebentar dan menghilang lagi di tumpukan berkas.


Mahardika paham apa yang dimaksud dengan tempat lelucon yang dikatakan pria itu. Yah, karena tidak tahu apa yang terjadi tentu saja teman Mahardika ini mengatakan hal semacam lelucon.


“Semua orang bisa berubah dalam waktu semalam.”


Tidak ada jawaban dari Maulana. Artinya pria itu mengakui hal semacam itu bisa saja terjadi.

__ADS_1


__ADS_2