Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Perhiasan yang Hilang (2)


__ADS_3

Ia tidak suka dengan pandangan mata Daisy yang menyelidik dan juga penuh dengan kecurigaan. Ia tidak suka harus berpapasan dengan Daisy dengan penampilan yang seperti ini dan berpura-pura baik-baik saja. Makanya begitu ia sampai di daerah pasar dan kemudian menanggalkan seluruh perhiasannya saat turun dan kemudian memasukan semua itu ke dalam tas jinjing perasaannya menjadi semakin tidak baik saja.


“Antar aku ke pos!” katanya pada seorang pria ceking yang memang disiapkan untuk menunggunya di parkiran.


Si pria ceking menyeringai pada Aida dan menadahkan tangannya terlebih dahulu.


Aida sedekit merunggut mana kala harus mengeluarkan uang senilai 50 ribu rupiah dan menyerahkannya ke telapak tangan pria ceking. Ia kemudian mengikuti si pria yang lekas bergerak sambil memasukan uang jalan ke dalam saku celana jins lusuhnya.


Setiap kali datang, si pria ceking melakukan hal yang sama. Ia juga selalu membuat rute berbeda dengan sebelumnya. Sehingga jikalau ada orang yang mengikuti Aida akan merasa sesat di tempat ini. Pasar ini cukup luas dan memiliki beberapa jalan masuk. Toko-toko juga tersusun dengan tidak teratur. Orang-orang yang baru pertama kali masuk akan kebingungan dan memilih untuk keluar kembali.


Si ceking berhenti di jalan masuk utama ke rumah paling belakang di pasar itu. Ia melambai sebagai isyarat kalau sudah mengantarkan Aida dengan selamat.


“Apa kamu tahu kalau Ibnu bakal curiga kalau kamu memintaku mengantarkan uang padamu sesering ini?” tanya Aida para pria yang tengah duduk di teras depan rumah dengan pagar tinggi itu.


Aida mendekati pria itu, duduk di sampingnya dan kemudian membuka tas jinjing yang dibawa. Ia mengeluarkan satu perhiasan emas yang indah senilai uang 20 juta rupiah. Ia tidak tahu kenapa harus terus-terusana menuruti perkataan lelaki bertato yang sedang duduk ini. Tetapi, ia jelas tidak bisa menolak.


Tangan pria itu menimang-nimang kalung indah dengan beberapa berlian imitasi di sana. Ia mengedip pada Aida.


“Begini, dong! Jangan terlalu pelit memberikan apa yang kamu miliki!’ katanya. Jari-jarinya yang lain menyentuh dagu Aida. Ia mengirimkan kecupan dari jauh untuk mengoda.


Aida menepuk tangan pria yang menyentuhnya itu dan memalingkan wajah. Ia semakin kesal saja sekarang. Aida berdiri, tetapi ditarik kembali untuk duduk.

__ADS_1


“Aku harus pergi sekarang!” Aida kesal dengan tindakan si pria bertato. Ia menyentak tangannya dari genggaman pria itu dan berdiri kembali.


“Jika kamu pergi aku akan datang ke rumah Ibnu dan mengatakan kalau aku tidak pernah menceraikanmu sekali pun! Bagaimana?”


Aida berhenti. Ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja didengar. Tahukan pria itu bagaimana usaha Aida untuk mendapatkan kepecayaan Ibnu. Tahukah apa saja yang sudah Aida korbankan untuk menjadi seperti ini sekarang. Ia bahkan tidak berani untuk memimpikan memiliki anak.


“Kemarilah!” suruh pria bertato itu pada Aida.


Aida mendekati pria yang pernah menjadi suaminya itu. Tarco. Dia mencintai Tarco bahksan sampai sekarang. Dijatuhkan kembali tubuhnya di sebelah Tarco.


Tarco menyarangkan ciuman di leher Aida segera. “Aku merindukanmu! Kamu tahu?”


“Aku harus pulang secepatnya!” Aida menyukai sensasi yang dirasakannya di sekujur tubuh. Akan tetapi, ia tidak bisa melakukan hal ini sekarang. Ia tadi berpapasan dengan Daisy dan gadis itu pasti sudah mulai mencari tahu.


Aida langsung membeku seketika. Ia kemudian tak bisa melakukan apa-apa lagi selain membiarkan fantasi Tarco padanya. Sebenarnya Aida menyukainya.


***


“Daisy?”


Bukannya pria yang dipanggil Papa oleh Daisy seharusnya ada di kantor. Daisy yakin kalau hari ini adalah jadwal papanya untuk mengurusi beberapa hal dalam manajemen perusahaan. Seperti mengawasi beberapa sistem dan melihat langsung apakah rencana yang telah disusun dikerjakan dengan baik sesuai aturan.

__ADS_1


Langkah kaki pria itu panjang dan cepat. Padahal Daisy bermaksud melarikan diri kembali ke atas dan mengurung diri di kamar.


“Apa kamu sudah makan?” tanya Ibnu, Papa Daisy.


Daisy mengingat semua makanan yang dinikmati bersama Maya. Beberapa jenis roti dan pencuci mulut. Tetapi, semua itu membuatnya kenyang.


“Sudah!” jawab Daisy singkat. Kakinya menaiki tangga di belakang. Ia hanya ingin pergi.


Papanya tampak sangat canggung. Tetapi, juga tidak memilih melarikan diri. Ia mengosokan telapak tangannya ke celana sebelum berbicara.


“Apa kamu mau minum teh dengan Papa?” tanyanya pada Daisy.


Hampir saja Daisy jatuh. Ibnu, papa Daisy dengan cepat mengejar tubuh anak gadisnya yang oleng di anak tangga. Ia sigap memegangi tangan Daisy yang dingin dan gemetar.


“Kamu sakit? Apa ada sesuatu yang sakit?” tanya Ibnu cemas.


Daisy menepis tangan papanya dengan segera. “Papa yang sakit! Apa sih yang Papa rencanakan? Papa mau aku bagaimana? Kenapa tidak bersikap seperti biasanya saja!” Daisy menghujani papanya dengan banyak pertanyaan. Seluruh isi kepalanya yang kebingungan dimuntahkan sesegera mungkin.


“Apa? Papa tidak sakit, Daisy. Papa hanya--.” Tampaknya Ibnu juga tidak bisa menjelaskan kenapa sikapnya mendadak menjadi aneh.


“Papa tidak seperti ini bahkan saat Mama meninggal! Apa yang sebenarnya Papa rencanakan?” tanya Daisy dengan air mata yang telah siap jatuh.

__ADS_1


Daisy menaiki tangga, naik ke kamarnya kembali.


Ibnu tetap di tempat Daisy meninggalkannya, menerkur tidak tahu harus berbuat apa.


__ADS_2