Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kunjungan Mendadak Daisy (3)


__ADS_3

Daisy tidak lantas pergi dengan menggunakan mobilnya. Ia tersenyum saat melihat Azzam melewati mobil miliknya dengan melambatkan laju motor. Tampaknya pemuda itu penasaran dengan siapa yang datang ke rumah yang ditinggali Stefani.


“Hai ... Azzam!” sapa Daisy ramah.


Azzam berhenti, memandang Daisy dengan tatapan tak mengerti. “Kamu kenal denganku?” tanya Azzam.


Daisy tercenung seketika dan kemudian sadar kalau saat ini dirinya bukanlah Stefani. Ia sudah menjadi dirinya sendiri. Di dalam kehidupan pribadinya, Daisy sama sekali tidak kenal dengan Azzam atau orang-orang yang kenal dengan Stefani.


“Ah ... itu?” Daisy tidak memiliki alasan untuk memberitahu Azzam apa yang terjadi sehingga bsa kenal dengan pemuda itu. Ia tidak memiliki alasan yang akan bisa diterima dengan logis oleh orang lain.


“Apa aku boleh khawatir padamu?” tanya Azzam, pandangan pemuda itu menyipit. Ia memperhatikan Daisy dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Aku ... aku bukan penculik! Aku tidak mau menculikmu dan tidak akan bisa!” seru Daisy dengan panik sambil memejamkan mata.


Azzam tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Ia memegangi perut saking lucunya ekspresi Daisy kini. “Aku tidak berkata kalau kamu akan menculikku. Dilihat sekilas saja aku sudah tahu kalau tidak akan bisa!” Azzam berhenti tertawa dan berkacak pinggang.


Daisy merasa malu sekali. Ia mendadak cemberut dan tidak senang. “Baguslah! Astaga ... bagaimana bisa kamu sangat menyebalkan saat baru kenal!” keluh Daisy.


“Jadi ... siapa kamu? Aku sungguh tidak kenal denganmu.”


Daisy yang masih belum memiliki alasan untuk dikatakan pada Azzam kembali diingapi kepanikan. Ia mencoba mencari pertolongan dari sekitar, tetapi tidak ada seorang pun di dekatnya saat ini. Stefani jelas akan menjerumuskan mereka dalam masalah lainnya.


“Kenapa kamu ada di sini, Daisy?”


Daisy tidak melihat saat mobil tunangannya datang dan parkir tak jauh dari miliknya. Perasaan Daisy menjadi terasa sangat baik saat ini. Ia ingin merangkul Mahardika yang datang. Terpikirkan sebuah alasan yang paling logis di dalam otaknya sekarang.

__ADS_1


“Mas Dika pernah menyebutkan namamu,” jawabnya.


Azzam menoleh pada Mahardika yang datang dan mengangguk-angguk paham. “Jadi, siapa kamu?” tanya Azzam.


“Dia Daisy, tunanganku! Kenapa kamu mendekatinya.”


Mahardika berdiri di depan Daisy, menjadi tameng untuk melindungi tunangannya dari bahaya yang sama sekali tidak ada.


“Aku tidak mendekatinya! Dia yang menyapaku lebih dulu! Dasar pria posesif!” umpat Azzam. Ia akan melaju kembali dengan motornya, tetapi berhenti tiba-tiba. “Kamu yang mendekati Stefani, kan? Malah menuduh orang lain.”


Mahardika melotot mendengarnya. Azzam melarikan diri setelah mengatakan hal itu.


Jika Daisy tidak menahannya, Mahardika pasti telah mengejar Azzam dan bertingkah lebih kekanak-kanakan lagi. “Sudahlah, hentikan itu. Lagi pula aku tahu kenapa kamu mendekati Stefani dan membuat kacau pergaulanannya,” bisik Daisy menenangkan.


Mahardika menoleh ke arah Daisy, lalu mengangguk. “Aku tidak apa-apa sekarang. Jadi bisa lepaskan?”


Daisy memang tahu alasan kenapa Mahardika tiba-tiba muncul dan mengacau acara minum di depan toko buku dengan Azzam. Mahardika tahu kalau yang ada di sana tubuh Stefani dengan jiwa Daisy. Tetapi, saat ini Daisy telah kembali ke tubuhnya sendiri. Keberadaan Mahardika di sini bukankah dipertanyakan.


Mahardika mendekatkan diri pada Daisy, menyentuh pipi tunangannya dengan telunjuk. “Kamu cemburu?” goda pria itu tidak tahu malu.


“Aku tidak akan menampar Stefani kalau tidak cemburu hari itu, oke? Kalau kamu tidak mau memberitahu apa yang terjadi. Tidak masalah. Aku akan pulang sekarang!” tegas Daisy kesal. Pertanyaan yang diberikan Daisy bukan malah mengalihkan topik.


“Maafkan aku! Sungguh, aku ingin temanku yang merangkap menjadi bos mengalami masalah serius dengan tunangannya. Tetapi, karena aku tahu kalau dia akan melibatkan adikku yang tidak bersalah, aku tidak bisa diam saja.”


Daisy menoleh dengan menemukan Maulana dengan tatapan canggung tak jauh dari tempat dirinya dan Mahardika. “Ya?”

__ADS_1


“Motorku rusak saat akan pulang dan dia menawarkan diri untuk mengantar. Dia akan pergi tadi, tapi melihat kamu berdiri di sini jadi turun dan bergerak bak pahlawan,” jelas Maulana.


Daisy mengangguk. “Terima kasih, Kak Maulana.”


“Kenapa tidak berterima kasih juga padaku?” sambar Mahardika dengan cepat.


“Buat apa?” tanya Daisy.


Mata Mahardika melotot. Ia lekas menoleh pada Maulana yang tampak berniat melarikan diri segera. Lalu pada Daisy yang masih memandanganya dengan tatapan aneh.


***


“Bukankah kamu seharusnya bersikap sedikit baik pada Nona Daisy?”


Stefani mengambil napas dalam begitu mendengar suara ayahnya yang bertanya. Rasanya ia ingin berteriak dan kemudian mengatakan kalau tidak ada alasan buat Stefani bersikap baik pada Daisy. Namun, ia yakin kalau apapun yang akan dikatakannya akan berakhir merugikan diri sendiri.


“Dia sudah memaafkanmu atas kelakuanmu, Stefani. Ayah juga mau kamu memaafkan diri sendiri.”


Mau tak mau Stefani menoleh dengan cepat. Memaafkan diri sendiri? Memang apa yang sudah diperbuat sampai dirinya harus melakukan itu. Ia tak melakukan hal memalukan. Cinta tidak memalukan.


“Ayah membawa ayam goreng mentega dari tempat kerja. Katanya kami boleh membawanya pulang. Kamu akan menyukainya.”


“Apa Ayah tidak tahu kalau aku alergi pada produk olahan susu?” tanya Stefani.


Handoko, ayah Stefani tampak terkejut. “Tidak ... kamu makan ini sebelumnya.”

__ADS_1


“Bahkan Ayah tidak bisa mengenaliku dengan benar!” Stefani terdengar kecewa, padahal ia sama sekali tidak bermaksud begitu.


Jadi, ia memutuskan untuk meninggalkan ayahnya di depan pintu. Tidak mau lagi berurusan dengan ayah dan kakaknya yang begitu mengecewakan.


__ADS_2