Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Berbaikan (3)


__ADS_3

Saat pertama kali bertemu dengan pria itu, Daisy mengingat papanya. Bahkan saat ini juga Daisy ingat dengan papanya seketika. Tetapi, dibadingkan papanya, papi Mahardika lebih manusiawi. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan istrinya yang telah mengalami lost memory.


“Ada apa sepagi ini?” tanya papi Mahardika sambil masuk ke ruang makan.


Mami Mahardika hanya tersenyum-senyum kecil saja mendengar pertanyaan suaminya. Wanita itu membalikan piring yang belum dibuka dan menambahkan makanan ke atas piring segera.


“Apa kamu tidak makan siang di rumah lagi hari ini?” tanya Mami Mahardika.


“Ya, masih ada banyak hal yang perlu diurus sebelum kita pergi. Mahardika tidak akan bisa mengurusnya sendiri nanti!” kata papi Mahardika sambil duduk di kursinya. “Jadi, ada apa, Daisy?”


“Tidak ada apa-apa, Om, hanya ingin berkunjung saja karena sudah lama sekali tidak!” jawab Daisy sambil tersenyum.


Daisy agak bersyukur dengan kedatangan papi Mahardika, karena usaha wanita yang sudah melahirkan tunangan itu terhenti di tempat. Ia tak jadi makan-makanan yang tak disukainya.


“Om pikir kalian bertengkar lagi! Belum lama sampai Mahardika melakukan hal yang tidak baik padamu, kan? Kalau terjadi sesuatu seperti itu lagi katakan saja pada OM, akan Om pastikan kalau Putra Om menyesal sudah membuatmu menangis!”


“Terima kasih, Om, tetapi saya sudah tidak apa-apa sejak hari itu. Sekarang saya merasa semuanya sudah baik-baik saja.”


Karena sudah beberapa hari Daisy berada di tubuhnya sendiri dan selama itu sama sekali tidak ada tanda-tanda pertukaran jiwa lagi.


“Kalau begitu ayo sarapan dulu! Kamu tidak kuliah pagi ini?”


Daisy mengeleng pelan. “Hari ini tidak ada jadwal kuliah, Om!”


Keheningan melingkupi sarapan pagi di rumah Mahardika. Daisy penasaran kenapa sejak tadi, Mahardika tidak membantunya dalam menjawab semua pertanyaan. Ternyata pria itu berkonsentrasi dengan makanan di depannya.


Mahardika selesai dengan sarapannya dan menunggu dengan tenang sampai Daisy selesai juga. Begitu Daisy meletakan sendoknya dan melirik Mahardika, pria itu mengedip.


“Kalian boleh pergi lebih dulu!” kata papi Mahardika. Ia masih menikmati sarapan dengan istrinya.

__ADS_1


“Terima kasih sarapannya, Tante, enak sekali!”


Mami Mahardika mengangguk penuh semangat. “Sering-sering kemari ya, Daisy! Mahardika sering sarapan di kantor!”


Daisy mengangguk dan berjanji akan sering mampir seperti permintaan maminya Mahardika. Saat Daisy beramah tamah, Mahardika telah berdiri menanti di pintu ruang makan. Mahardika menunggu sampai Daisy cukup dengan dengan dirinya dan baru mulai berjalan. Mereka beriring-iringan menuju pintu utama.


“Mas Dika belum berangkat ke kantor, kan?” tanya Daisy ingin tahu.


Pria di sampingnya masih menggenaka celana olahraga dan baju kaus yang tampaknya sudah kumal. Ke mana pria necis yang dikenal biasa.


Mahardika bertingkah seolah memeriksa jam tangan, padahal tidak ada apapun di pergelangan tangan pria itu. Daisy tertawa kecil melihatnya.


“Apa-apaan sih, Mas?” tanya Daisy.


“Aku sedang melihat apakah masih ada waktu sampai sebelum berangkat kerja untuk menemanimu? Ah, tampaknya masih banyak. Maulana tidak akan keberatan untuk disuruh sendiri menyiapkan rapat pukul 11.”


Mata Daisy menyipit. “Itu namanya ekploitasi tenaga kerja! Bisa kena undang-undang!”


“Ah, aku akan katakan pada Kak Maulana jika tidak boleh mengekploitasi tunanganku saat bertemu nanti!” janji Daisy.


Mahardika tertawa mendengarnya. Ia kemudian berhenti di tengah-tengah taman tempat mereka berjalan, memandang pada tanaman yang belum selesai ditanam.


“Wajahmu terlihat tidak baik tadi? Apa yang terjadi?” tanya Mahardika.


“Papa semakin bersemangat untuk mendekatiku! Mas, apa Papa merencanakan sesuatu lagi kali ini? Aku sama sekali tidak masalah selama Papa tidak mencoba mengusikku. Bagaimana pun rasanya sama sekali tidak menyenangkan saat Papa terus-terusan datang dan berusaha bicara padaku!” kata Daisy.


“Mungkin Om Ibnu hanya mau mencoba memperbaiki hubungannya denganmu Daisy!” Mahardika berpikir logis. Terlalu logis malahan.


Daisy diam, memandangi kelopak bunga yang akan mekar tak jauh dari tempat ia dan Mahardika berdiri. “Apa Mas tidak berpikir kalau hal itu terlalu terlambat. Sudah delapan tahun dan selama itu Papa sama sekali tidak berpikir untuk memperbaiki hubungan. Sebagai gantinya ia mendorong Tante Aida untuk semakin dekat denganku!”

__ADS_1


“Ah, kamu menanyakan soal pasar tadi, kan?” Mahardika membuka kembali permasalahan tentang Aida yang ditemui Daisy di depan pasar. “Siapa memangnya yang pergi ke pasar? Salah satu pembantu rumah tanggamu? Atau kamu mau mencoba untuk pergi ke pasar?”


Daisy mengeleng. “Bukan aku, tapi aku melihat Tante Aida di pasar. Lebih tepatnya aku melihat Tante di luar pasar. Dia tidak sendirian, ada seorang pria bertato bersamanya saat itu!”


“Mungkin teman Tante Aida. Usianya sudah tidak muda dan kemungkinan dia memang memiliki teman nyentrik seperti itu juga ada. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Tante Aida bukar berasal dari keluarga seperti mamamu.”


“Aku tahu tidak seharusnya curiga! Tetapi, aku mencurigai banyak hal sejak bertukar jiwa dengan Stefani!” Daisy merasa tidak tahan lagi menyimpan semuanya sendiri.


“Papa dan Tante Aida dulu pernah pacaran saat SMA.”


Daisy tidak berani menoleh ke arah mahadrika. Ia takut dengan ekspresi terkejut di wajah Mahardika. Ekspresi yang menegaskan: Pantas saja kedua orang itu menikah padanya.


“Dari mana kamu tahu soal ini? Ada seseorang yang memberitahumu, kan?” tanya Mahardika, suaranya masih sama seperti sebelumnya, datar. Seolah-olah tunangan Daisy itu tidak tertarik tentang fakta papa Daisy.


“Pak Handoko dan Papa dulu berteman saat sekolah. Saat aku menjadi Stefani, Pak Handoko meminta putrinya yang saat itu aku untuk tidak menganggu Daisy. Dia berkata kalau mengenal Papa dan juga Tante Aida. Ia juga menceritakan keterkejutan Papa yang menikah tak lama setelah Mama meninggal.”


Mahardika menjadi pendengar yang baik. Tak sedikit pun pria itu mencoba menginterupsi apa yang sedang di ceritakan Daisy.


Pak Handoko berkata kalau sama sekali tidak menyangka Papa akan menikah dengan Tante Aida. Katanya, aku pasti terluka karena fakta itu!”


Daisy berhenti. Ia tidak mau menceritakan apa-apa lagi. Kenyataan itu tidak membuatnya baik-baik saja. Tiba-tiba saja Daisy merasa kalau melakukan sebuah kesalahan.


“Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bercerita padaku kalau tidak mau Daisy!” kata Mahardika.


“Maafkan aku, Mas Dika!”


Mahardika tertawa saat mendengar Daisy meminta maaf. Memang apa yang sudah kamu lakukan padaku sehingga kamu minta maaf, bodoh!” kata pria itu keras-keras. “Tidak banyak orang yang sekuat kamu Daisy! Toh, kalau pun kamu bercerita, tidak ada yang berubah!”


Yang dikatakan Mahardika benar semuanya.

__ADS_1


“Sekarang, kamu hanya perlu membiarkan papamu mendekat sedikit lagi! Bertahanlah! Mungkin saja akhirnya dia menyadari kesalahannya Daisy. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, kan?”


Andai saja perasaan Daisy sedikit lebih baik mendengar pernyataan itu. Tetapi, Daisy masih tidak baik-baik saja.


__ADS_2