
Saat ia dengar dari calon mertuanya kalau Daisy sudah pergi kuliah, pikir Mahardika semua pasti telah baik-baik saja. Ia tidak mempertimbangkan faktor perubahan yang jelas dirasakannya juga kemarin saat menemui Daisy.
Faktor perubahan itu baru teringat oleh Mahardika tadi saat mendengar tunangannya itu terisak dan berkata kalau semua orang jahat.
“Apa yang sudah terjadi?” tanya Mahardika sepanjang perjalanannya dari kantor menuju kampus Daisy.
Jelas jawaban dari pertanyaannya itu tidak ada, sebab ia belum sampai ke gedung jurusan Daisy. Harapnya apa yang dikhawatirkannya akan terjadi pada Daisy tidak benar-benar dialami tunangannya itu.
“Daisy, di mana kamu?” tanya Mahardika ketika telah berbelok ke parkiran.
“Aku ada di lobi. Punggungku sakit sekali,” keluh gadis itu di dalam telepon.
“Aku akan segera ke sana!” seru Mahardika pasti.
Ia menarik rem tangan sebelum mematikan mesin, kemudian melepas sabuk pegangan dan keluar dari mobil. Lapangan parkir ramai oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang akan pergi dan baru datang.
“Oh, Mas Dika!”
Dika terhenti ketika namanya di panggil. Ia menoleh dan mendapati beberapa orang yang pernah di lihatnya bersama Daisy. Tetapi, kali ini tanpa Daisy di tengah-tengah mereka.
“Ada yang lihat di mana Daisy?” tanya Mahardika.
Dari pada mencari sendiri lebih efektif menanyakan kepada orang-orang yang satu kelas atau mengenal tunangannya cukup dekat.
“Mas Dika ditelepon, Daisy?”
Mahardika mengangguk. Keningnya sedikit berkerut dengan ekspresi teman-teman Daisy itu. Seolah-olah mereka sedang marah dan akan mengatakan sesuatu yang tidak dipercaya Mahardika.
“Ada apa?” tanya Mahardika.
Ia tak suka dibuat penasaran, apalagi di saat dirinya terburu-buru seperti ini. Isakan Daisy terngiang-ngiang di telinganya.
“Apa Daisy ada masalah? Atau kepalanya terbentur saat pingsan di pesta ulang tahunnya?”
Mahardika bisa menjawab kalau sepertinya Daisy memang punya masalah. Tetapi jika itu terbentur, ia akan menjawab tidak. Mahardika masih ingat bagaimana dirinya menangkap tubuh Daisy yang terjatuh.
“Dia berbuat menyebalkan. Lalu kenapa dia berdandan seperti itu. Memakai begitu banyak riasan dan pernik. Kami tahu dia kaya, tetapi tidak harus norak seperti itu!” cerocos panjang gadis yang mewakili yang lainnya.
__ADS_1
“Tunggu! Tunggu!” Mahardika kesulitan mencerna apa yang disampaikan orang-orang itu.
Pasti ada kesalah pahaman antara teman-teman Daisy sekarang. Tunangan Mahardika adalah orang yang paling bisa menempatkan sesuatu. Ia bisa menyesuaikan apa yang dipakai dengan tempat digunakan pakaian tersebut. Mahardika pasti tahu betul style Daisy saat pergi ke kampus.
“Sepertinya kalian salah paham!” kata Mahardika menenangkan orang-orang itu.
“Apanya? Salah paham di mana?” Bibir gadis yang bicara pada Mahardika mengerucut tidak senang. “Dia menampar Lola hanya karena mengatakan yang sebenarnya.”
“Dia menampar seseorang?” tanya Mahardika.
Ingatannya kembali pada hari di mana Stefani menyatakan perasaan padanya. Saat itu memang sudah keterlaluan dan wajah bagi Daisy untuk lepas kendali. Akan tetapi, setelah itu Daisy pergi menemui Stefani dan menuntut permintaan maaf yang layak. Mahardika melihat semuanya.
“Ya! Lola! Teman yang selalu bersamanya!” Gadis itu berapi-api untuk menceritakan hal yang diketahui. “Lola hanya mengatakan hal aneh pada penampilan Daisy!”
Mahardika memijat pangkal hidungnya. Pelipisnya juga berdenyut sekarang. Ia menegakan badan dan berkacak pinggang memandang orang-orang itu. “Sepertinya kalian memiliki dendam pada Daisy!”
Gadis yang berbicara dengan penuh semangat itu berjengit kaget. Lalu ia dengan cepat mengendalikan diri. “Semua orang akan membenci nasibnya itu, Mas Dika. Kami juga tidak suka padamu!”
“Kalian bahkan tidak mengenalku!”
“Kami benci keberuntungan yang kalian punya. Kalau pun kami dekat dengan kalian, kami tak akan benar-benar dekat, karena kalian berbeda!”
“Aku pikir kenapa Mas Dika lama sekali sampai lobi, ternyata ada orang-orang ini yang menahan!”
Mata gadis yang berbicara dengan Mahardika tampak kaget, ia kemudian memalingkan wajah.
“Mas Dika bisa nilai sendiri bagaimana tunangan Mas bersikap hari ini,” bisik si gadis pada Mahardika.
Mereka--gerombolan tempat gadis itu berjalan tadi--meninggalkan Mahardika.
Akan tetapi, Daisy tidak membiarkan itu terjadi. Dengan cepat, ia mendekati Mahardika dan kemudian menarik pergelangan tangan si gadis yang tadi berbicara dengan Mahardika.
“Apa yang kamu katakan pada tunanganku?” tanya Daisy penuh kemarahan.
Mahardika tidak pernah melihat Daisy seperti ini. Bahkan saat ia melayangkan tamparan pada Stefani di hari ulangtahunnya, Daisy masih mengendalikan diri.
“Apa yang kamu lakukan Daisy? Memalukan!”
__ADS_1
Seperti yang dikatakan gadis tadi pada Mahardika, penampilan Daisy benar-benar buruk. Terlalu banyak pernik dan pilihan pasangan pakaiannya juga tidak seperti biasanya. Seperti dipilih secara acak dengan memejamkan mata.
“Apa Mas bilang? Memalukan? Aku melalukan?”
Napas Daisy pendek-pendek karena marah. Ia seperti dirasuki sesuatu yang bukan dirinya. Ia menyentak tangannya yang ada di dalam genggaman tangan Mahardika.
“Karena kamu memang berlaku seperti itu sejak beberapa hari lalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu marah dengan sesuatu yang seharusnya tidak menganggumu. Kamu tahu kalau kamu berbeda dan seumur hidup berhasil mengendalikan diri. Astaga, Daisy! Sebenarnya apa yang terjadi?”
Mahardika benar-benar tidak paham.
Wajah Daisy memerah dan ia kemudian memekik keras-keras layaknya orang gila.
Gadis yang berbicara dengan Mahardika tadi telah lari, bersama dengan teman-temannya. Mahardika tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Nona, Anda tidak boleh seperti ini!” Kalimat itulah yang menyadarkan Mahardika.
Ia menatap pria tua yang ada di depan Daisy, memegangi bahunya.
“Kenapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan? Kenapa hanya aku yang harus menahan diri! Ini semua salah Ayah!”
Pada akhir kalimatnya, Daisy mendorong pria tua yang berbicara dengannya. Mahardika mengenalinya sebagai pria tua yang kemarin dipanggil Ayah oleh Stefani.
Pria itu terjatuh dengan keras, dan Daisy tampaknya tidak sampai di situ saja.
“Apa yang kamu lakukan pada ayahku?” teriak Stefani.
Napasnya pendek-pendek. Wajahnya basah oleh peluh, begitu juga dengan pakaian yang digunakan.
Daisy tampak kaget dengan kedatangan Stefani, kemudian ia menarik gadis itu sama halnya seperti tadi dan melayangkan tamparan.
“Andai saja kamu tidak ada!” kata Daisy pada Stefani.
Mahardika kaget dengan kata-kata yang dilontarkan Daisy. Ia jelas mengenal Daisy. Walau tidak begitu dekat, tetapi Mahardika jelas yakin kalau Daisy, tunangannya tak akan berlaku seperti itu. Tidak! Daisy tak akan melakukan hal bodoh karena itu.
Daisy mengangkat tangannya lagi, mencoba untuk menampar Stefani yang masih terkejut karena tamparan pertama.
Mahardika segera melemparkan diri ke depan Daisy, mengahalangi sikap wanita itu. Tamparan Daisy mengenai pipinya, perih, serta tak menyangka. Seharusnya Daisy masih sempat menghentikan tamparannya.
__ADS_1
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Mahardika dengan mata memerah.