Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Perhiasan yang Hilang (4)


__ADS_3

Beberapa saat sebelum pulang, Handoko mendapatkan pesan dari para pelayan dari Daisy. Gadis muda itu mengatakan kalau tidak tidak butuh bantuan sopir untuk sementara waktu.


Handoko sendiri memiliki dugaan tentang kenapa ia dilarang untuk menjadi sopir sementara. Bukan karena Daisy tidak butuh, tetapi karena Handoko telah menyingung majikan kecilnya itu. Akan tetapi, Handoko bisa beristirahan sebentar karena itu. Ia bisa kembali menikmati pekerjaan sebagai tukang kebun.


“Ayah tampak lelah!”


Maulana putra Handoko meletakan cangkir teh di depan Handoko. Mereka baru saja makan malam. Stefani bergabung dengan mereka berdua tadi dan telah kembali masuk ke dalam kamarnya setelah makan.


“Ada banyak hal yang terjadi dan itu membebani semua orang. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Handoko. Ia melihat kalau putranya pun tampak lelah hari ini.


“Pekerjaanku ditambah si Maulana. Entah kenapa? Dia kalau senang nambah kerjaan, susah pun begitu!”


Walau mengeluh, tetapi setiap kali Handoko meminta putranya untuk mundur dari perusahaan selalu saja tidak mau. Jadi, ia memilih untuk mendengarkan keluh kesah saja tanpa banyak komentar.


“Aku membuat Nona Daisy tersinggung!” kata Handoko mengaku. “Jadi, untuk sementara dia tidak akan memakaiku sebagai sopir!”


Maulana meletakan cangkir tehnya cepat-cepat hingga isinya tumpak ke meja. Pria muda itu mengambi serbet dan mengeringkannya dengan segera. “Nona muda yang rasional itu tersinggung! Dia bahkan bersikap baik setelah Stefani menyatakan perasaan pada tunangannya! Apa yang terjadi Ayah?”


Maulana terdengar sangat penasaran. Ia memandang Handoko dengan tatapan ingin tahu yang begitu besar. Tetapi, Handoko sengaja berlama-lama menikmati tehnya.


“Ayah!” desak Maulana.


“Ayah menanyakan kapan terakhir kali Nona Daisy makan bersama dengan papanya. Dia menjawab, tetapi kemudian sama sekali tidak bicara lagi setelahnya. Tampaknya hubungan Nona Daisy dan Pak Ibnu sangat buruk!”

__ADS_1


Maulana tampak terkejut dengan fakta itu. Ia bersedekap dan tampak berpikir keras. “Mereka tampak baik-baik saja saya lihat. Tidak tampak sedang marah atau bermusuhan. Malahan saling mendukung satu sama lain!” kata Maulana berargumen.


Handoko tersenyum. “Bagi orang lain juga keluarga kita tidak memiliki masalah, Maulana! Hanya kita saja yang tahu apa yang salah dalam keluarga ini!” kata Handoko.


Maulana mungkin merasa tertampar seketika. Ia kemudian memperbaiki duduknya segera. Pandangan matanya tertuju pada kamar sang adik perempuan kini.


“Jadi, hubungan mereka kurang lebih seperti kita?” tanya Maulana dengan suara kecil.


“Mungkin lebih buruk, Maulana. Stefani masih mau melihat wajah kita. Dia hanya melampiaskan kekesalan karena merasa diabaikan. Akan tetapi, Daisy telah menutup hatinya sendiri untuk papanya. Ia tidak percaya kalau papanya menyayanginya. Atau dia sudah tidak mau mempercayainya lagi.”


“Kalau begitu kasihan sekali Pak Ibnu!”


Handoko mengeleng. “Daisy adalah korban dari keegoisan orang dewasa yang berpikir, “Apa yang mereka lakukan adalah yang terbaik” padahal tidak ada sama sekali!”


“Apa Ayah pernah berpikir untuk menikah kembali?” tanya Maulana.


Handoko terkejut dengan pertanyaan itu. Namun, ia kemudian terseyum pada putranya. “Aku terlalu mencintai ibu kalian. Aku tidak tahu apakah wanita yang aku nikahi akan menyayangi kalian. Karena itu, walau kalian pada akhirnya tidak menyayangiku, aku mau membesarkan kalian berdua sendiri!” jawab Handoko.


Handoko tahu kalau sudah memberikan jawaban yang benar.


***


“Kamu dari mana?”

__ADS_1


Aida terlonjak kaget. Hari belum gelap dan jam makan malam masih sekitar satu setengah jam lagi, tetapi Ibnu yang seharusnya tidak ada di rumah sudah duduk di ruang tamu dengan baju santai.


“Kamu sudah pulang, Mas?” tanya Aida sedikit cemas.


Tetapi, ia lebih dulu sampai di bandingkan dengan Daisy, seharusnya gadis itu masih belum bisa mengadu dan membuat masalah dengan Aida.


“Aku sudah pulang sekitar beberapa jam yang lalu. Saat itu kamu tidak ada di rumah! Aku pikir kamu pergi arisan atau apa.” Mata Ibnu seolah menilai dengan sangat baik.


Aida tengah memakai semua perhiasan yang tadi dipakai saat akan pergi. Ia memakainya di dalam mobil tadi karena takut para pelayan akan mengosip saat ia datang dan tidak menggunakannya. Ia tak menyangka yang duduk di ruang tamu adalah suaminya.


“Ya, saya memang keluar. Apa Mas mau makan di luar?” tanya Aida. Jangan pikirkan hal seperti Ibnu menemukan sesuatu. Karena sampai saat ini hal yang dirahasiakan sama sekali tidak tahu apapun.


Ia sudah berhasil menyimpan rahasia sampai saat ini.


“Kamu keluar seperti itu? Kamu sudah menjual perhiasan?”


Aida tertawa mendengarnya. Ia menyuruh dirinya untuk membuat alasan lain yang masuk akal. “Ini sedang tren Mas. Aku cuma mengikuti tren saja!” Suaranya bergetar dan Aida berdoa semoga Ibnu sama sekali tidak menyadari getaran dalam suaranya.


Ibnu memandangnya tanpa berkata-kata lagi. Ia kemudian menghela napas dan berdiri. “Aku sedang tidak lapar jadi hari ini tidak usah membuat makanan yang banyak!” katanya pada Aida dan Ibnu pun pergi.


Aida terpaku cukup lama di depan pintu, heran, apakah sudah melakukan kesalahan selain memakai perhiasan terlalu banyak. Kemudian Aida memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan suaminya itu. Toh, besok pagi pasti sudah baik-baik saja seperti sebelumnya.


Memang sejak tadi pagi suasana hati Ibnu tidak baik. Sejak Daisy meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan apa-apa dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2