
“Kenapa Ayah ada di sini?”
Handoko lekas menoleh pada kaca jendela yang terbuka dan menemukan putra sulunya masih dengan memakai helm menunduk. Ia tersenyum dan mengerakan tangannya layaknya mengusir dan membuka pintu.
“Ya, Nona Daisy ada di sini!”
Handoko memberitahu putranya walau yakin kalau Maulana sudah mengetahui hal itu juga. Ia bersandar pada pintu mobil menatap halaman parkir yang tenang. Tampaknya hanya saat pagi saja dan pulang kerja tempat itu akan ramai.
“Aku benar-benar minta maaf atas yang tadi pagi Ayah,” kata Maulana pelan, terdengar sedih dan penuh penyesalan.
“KAmu hanya marah karena dia keterlaluan. Tetapi, kamu tidak harus melakukannya Maulana. Aku memang melakukan semua yang dituduhkannya padaku!” kata Handoko. Ia merasa dadanya seperti diremas, menyakitkan dan membuatnya ingin menangis. Akan tetapi, Handoko terlalu tua untuk menangis.
“Dia tidak seperti yang kulihat beberapa hari ini. Aku pikir adikku akhirnya berubah! Aku pikir akhirnya dia paham kalau kita menyayanginya!” kata Maulana.
Handoko juga merasa demikian. Namun, perlakuannya memang selama ini juga seperti yang dikatakan Stefani. Penyesalannya belum terlambat, tetapi pasti akan susah untuk membuat putrinya menerima semua perlakuan baiknya sekarang.
“Ah, ada Kak Maulana di sini.”
Keduanya langsung menoleh ke arah suara. Daisy tersenyum sangat cerah beberapa langkah dari mereka.
“Apa kamu merasakan perasaan yang sama sepertiku Maulana?” tanya Handoko pada putra sulungnya.
“Ya,” jawab Maulana segera. “Apa kabar Nona Daisy?”
“Baik! Aku pikir Kak Maulana adalah yang paling rajin, ternyata Mahardika orangnya. Dia sudah ada di kantor dan mempelototi berkas saat aku masuk ke ruangannya tadi. Apa alasan Kakak terlambat?” tany Daisy bersemangat.
“Nasi goreng kornet!”
Daisy terkekeh sedikit, menelengkan kepala. “Ada apa dengan itu?” tanyanya terdengar penasaran.
“Aku kesulitan membuatnya karena tidak pernah. Tetapi setelah dua kali percobaan, aku berhasil!”
Daisy mengangguk-angguk, seolah pembicaraan tentang nasi goreng kornet begitu sangat penting dan pantas untuk diperhatikan. “Aku jadi penasaran rasanya? Pasti enak!” serunya penuh semangat.
“Yah, agak sedikit asin!” kata Maulana sedikit malu karena mendapatkan pujian atas usahanya. Tetapi, entah kenapa ia merasa senang.
__ADS_1
“Pak Handoko, sekarang antar saya ke rumah teman!” Daisy mengitari mobil untuk sampai di sisi sebelahnya. “Kapan-kapan boleh saya mencicipi nasi goreng buatan Kak Maulana?” tanya Daisy sebelum masuk ke dalam mobil.
Maulana mengangguk. Lalu melambai untuk yang terakhir kalinya.
***
“Aku bertemu dengan tunanganmu di luar, bersama ayahku!”
“Bersama ayahmu?”
Maulana mengangguk. “Untuk alasan yang tidak bisa kumengerti, Daisy meminta ayahku untuk menjadi sopir pribadinya kemarin. Ayah menyetujuinya karena itu artinya kenaikan gaji. Ayah senang karena akhirnya bisa menambah tabungan untuk Stefani.”
“Tidakkah dia terasa berbeda?’ tanya Mahardika.
Maulana menelengkan kepala tidak mengerti. Apanya yang terasa berbeda? Memang ia merasa ada perasaan yang familiar, tetapi tidak aneh. Itu seperti perasaan di mana semuanya telah kembali ke tempatnya.
“Dia tidak sama seperti kemarin! Dia adalah Daisy yang kutemui seperti sebelumnya, yang pengertian dan paham apa yang terjadi.”
Maulana membuka mulut, akan membenarkan, tetapi tidak jadi, sebab ia sama sekali tidak kenal Daisy benar. Baginya sebelum di apa Daisy tadi, gadis itu hanya salah satu orang yang dilayani ayahnya.
“Sudah kubilang! Pasti ada sesuatu yang salah, kan? Pasti ada hal yang menyebabkan semua itu terjadi.”
Akan tetapi, Maulana tidak perlu memikirkannya. Toh, tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia kemudian menguap dan meletakan berkas tambahan yang harus diselesaikan Mahardika hari ini.
“Ini masih pagi. Bagaimana kamu menguap dengan tidak sopan di depanku?” tanya Mahardika sambil mengernyit.
“Maaf, aku tidak bisa menghentikannya begitu saja. Aku bagun lebih pagi untuk menyiapkan sesuatu untuk adikku. Tetapi, yah ... ada masalah yang terjadi!” kata Maulana menerangkan, bukannya mencari alasan.
“Adikmu ... bukankah dia juga terasa sedikit berbeda?”
Maulana terdiam, berpikir sebentar dan memang merasakan ada yang berbeda. Akan tetapi, tidak begitu juga. Ia jarang mengobrol dengan Stefani, bahkan saat minggu datang. Ketika haris libur datang padanya, Maulana lebih memilih membantu ayahnya di taman. Sementara Stefani, ia jelas tidak tahu apa yang dikerjakan adiknya itu.
“Sepertinya aku harus banyak bicara dengannya!” kata Maulana tiba-tiba.
Sambil meraih satu berkas yang baru saja diberikan Maulana, Mahardika bertanya, “Sudah terjadi sesuatu juga pada adikmu?”
__ADS_1
“Aku menamparnya tadi pagi. Karena dia keterlaluan. Sekarang aku menyadari kalau aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang diinginkan.” Maulana menyesal, sudah melayangkan tamparan ke pipi Stefani.
“Ada begitu banyak yang tidak bisa kita kendalikan Maulana, kamu hanya perlu merubahnya dengan sekuat tenaga!” kata Mahardika.
Maulana mengangguk setuju.
***
“Mau apa kamu ke sini?”
Ini tidak seperti Maya yang biasanya. Perlakuan macam apa yang sudah diberikan pada salah satu teman dalam tanda kutip itu oleh Stefani yang ada dalam tubuhnya kemarin.
“Tentu saja mau menemuimu?” jawab Daisy.
Apapun alasan Maya marah sekarang pasti adalah karena kesalahannya. Daisy sudah sering menghadapi hal ini, ia tidak perlu merendah dan hanya meminta maaf. Orang-orang di sekelilingnya terbiasa untuk memanfaatkannya. Begitu juga dengan Daisy. Mereka seperti hubungan simbosis mutualisme, saling menguntungkan sat u sama lain.
“Tidak perlu! Bukannya kamu tidak suka padaku?”
“Aku menyesal sudah mengatakan itu. Karena itu aku menemuimu! Ada begitu banyak tekanan dan aku tidak bisa mengendalikan diri makanya meledak seperti itu.” Daisy sedikit tidak senang karena harus membuat alasan. Ia tidak memiliki kesalahan dilihat dari sisi manapun. Tetapi, yang melakukan itu adalah tubuhnya dan itu sama sekali tidak baik.
“Aku tahu kamu mengalami banyak masalah pada hari ulangtahunmu. Aku sudah mendengarnya! Tetapi, kenapa kamu jahat padaku!”
Dibandingkan Lola, Daisy lebih suka pada Maya yang sama sekali tidak suka ikut campur. Ia menyukai gadis pendiam yang sering duduk bersamanya jika ada atau tidak adanya Lola di dekat mereka.
“Aku benar-benar minta maaf, Maya. Kalau ini terjadi lagi kamu boleh menamparku!” kata Daisy yakin.
Daisy tak akan melakukan hal buruk pada Maya atau orang-orang yang ada di dekatnya di kampus. Maka yang bisa berbuat buruk seperti itu hanya Stefani saja.
Jika ada kesempatan, Daisy ingin menemui Stefani dengan benar untuk menanyakan apa alasan gadis itu berbuat demikian. Apa sebenarnya kesalahan Daisy hingga begitu dibenci. Ia tak memiliki apa yang dimiliki Stefani, sebuah keluarga, dan Daisy juga tak mau membuat masalah pada gadis itu.
“Kamu melakukannya dengan sangat jahat!” kata Maya kembali, masih menangis.
“Maafkan aku!” kata Daisy tulus. “Kepada siapa lagi aku telah memberi masalah?”
“Semuanya! Mungkin!” jawab Maya.
__ADS_1
Daisy sudah menduganya kalau ini bukan sebuah perjalanan yang baik. Urusan yang akan diselesaikannya lebih panjang dari yang diduga.