Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Botol Ajaib Milik Stefani (2)


__ADS_3

Stefani berganti pakaian, berhasil makan nasi goreng yang ada di atas meja dan kemudian membersihkan sedikit piring di dapur. Ia benar-benar heran dengan semua barang yang ditata dengan rapi. Apa-apaan penataan yang sempurna, seolah seorang ahli terjerembab ke sini dan melakukan semuanya dengan penuh semangat setelah melihat dapur milik keluarga Stefani.


“Mereka pasti sudah gila!” gumam Stefani sambil meletakan piring terasing di antara piring-piring lainnya.


Ia memakai celana training yang paling banyak di dalam lemari dan baju kaus panjang. Cahaya matahari selalu membuatnya sadar kalau kulitnya tidak seputih gadis-gadis kebanyakan. Bukan berarti para gadis itu putih semua, tetapi Stefani ia harus lebih putih dan cantik.


“Mau apa kamu di luar sini?” tanya salah seorang pelayan saat melihat Stefani ada di taman.


Ia lekas menutup pipinya dengan tangan, takut seseorang akan mulai bergosip padanya jika ia tidak segera melakukannya.


Stefani menunjukan sapu lidinya.


“Jangan terlalu dekat dengan rumah besar! Nyonya mengatakan kamu tidak boleh bertemu dengan Nona Daisy lagi. Astaga, bagaimana mungkin Pak Handoko memiliki putri yang membuat masalah sepertimu!”


Kening Stefani lekas berkerut mendengarnya. Apa yang salah dengan dirinya? Tidak ada. Orang-orang yang seperti ayah dan kakaknya yang sudah salah memperlakukan Stefani selama ini.


“Dasar sok tahu!” kata Stefani setelah si pelayan yang menegurnya tadi kabur.


Ia mulai menyapu rumput yang telah dipangkas dan kini malah menguning karena terik matahari. Sesekali mata Stefani melirik ke arah pintu samping. Ada beberapa pelayan yang tengah beres-beres. “Kenapa harus beres-beres di sana, sih?” tanya Stefani dalam hati.


Kemungkinan para pelayan telah diperintahkan untuk berjaga karena keberadaan Stefani. Yah, semua orang tampaknya sudah waspada dengan penyusupannya.


Stefani mengumpat pelan, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Pasti ada kesempatan untuk bisa masuk ke dalam.


Perlahan-lahan Stefani telah selesai menyapu bagian terdekat dari rumahnya, ia sampai di dekat halaman, tempat mobil-mobil terparkir. Di depan sana sepi. Sepertinya para pelayan tidak menyangka kalau Stefani benar-benar akan bekerja.


Hari sudah hampir tengah hari sekarang. Pintu depan terbuka sedikit tanpa ada seorang pun yang tampak di sana.


Kesempatan! Begitu pikiran Stefani memberitahu dirinya.


Ia mencari tempat di mana sisi pengawasa tidak ada. Lalu meletakan sapu lidinya di sana. Berjingkat dan mengendap-endap ke pintu masuk. Persetan dengan CCTV. Selama peghuni rumah, para penjaga di CCTV tidak akan datang dan bertindak.

__ADS_1


Benar-benar tidak ada pelayan satu pun saat Stefani naik dari pintu depan ke lantai dua. Para pelayan hanya ditugasi berjaga di pintu samping dari pavilliun dan taman gazebo. Apa mereka pikir kalau Stefani tidak berani masuk dari pintu depan? Benar-benar lucu.


Manusia selalu menjadi lebih berani saat dihadapkan pada kenyataan kalau terjepit. Itu fakta yang bahkan bisa mengubah sejarah.


Lantai dua tidak dijaga. Karena pemiliknya tentu beraktivitas di bawah. Stefani dengan leluasa bisa masuk ke kamar Daisy. Di dalam karpetnya begitu empuk sehingga meredam langkah kaki. Jadi selama pintu tidak terbuka atau tiba-tiba dibuka dari luar, tidak ada yang akan menyangka kalau Stefani ada di dalam.


Ia menyisir tempat tidur yang sudah dibersihkan dan dirapikan. Botol yang diberikan oleh si kakek tua tidak ada di sana. Ia berjingkat dan pergi ke lemari penyimpanan parfum. Kalau-kalau pelayan seperti Raise memindahkan botol itu karena menyangka itu parfum. Stefani masih belum menemukan botol yang berfungsi sebagai media penghubung dirinya dan Daisy itu.


“Di mana mereka menaruhnya?” tanya Stefani kebingungan.


Ia mendengar suara ribut-ribut di luar. Dadanya langsung berdegup kencang karena khawatir. Stefani meloncat dan bermaksud berlari ke pintu keluar. Berharap bisa mengecoh Raise dan Daisy yang kemungkinan akan masuk ke dalam. Lalu ia melihat botol itu di meja rias Daisy, di antara toner pembersih.


Ia berbalik dan menyambar botol yang dicari. Lalu berdiri di sebelah pintu yang akan menyembunyikan dirinya dari siapapun jika pintu terbuka.


Baru saja melakukan itu, pintu berayun dan hampir membentur Stefani. Ia menahan napas dan mendengar suara Raise yang terdengar khawatir.


“Saya akan ambilkan kompres Nona!” kata Raise.


Raise bergegas ke arah yang sama dengan Stefani bersembunyi, tetapi tidak melihatnya karena terlalu sibuk. Saat itulah Stefani tanpa pikir panjang berlari dari samping pintu dan keluar.


***


Daisy kaget melihat bayangan yang melintas di kaca di depannya.


“Stefani!” gumam Daisy lirih.


Kepalanya yang sudah sakit karena menahan tangis berdenyut lebih hebat. Yang diinginkan sekarang hanya sendirian dan menangis. Akan tetapi, para pelayan yang bekerja untuknya tidak akan memberikan waktu yang seperti itu pada Daisy.


“Sudah saya sediakan di ruang ganti, Nona!” kata Raise di belakang Daisy.


“Terima kasih!” kata Daisy. “Bisakah kamu membiarkan aku sendiri, Raise?” Daisy harus mencoba untuk mempunyai waktu privasi sekarang. Ia benar-benar hanya ingin sendiri saja.

__ADS_1


“Tapi, pipi Anda?” Raise tampak enggan untuk melakukan itu.


“Kumohon!” Daisy gagal mengendalikan getaran dalam nada suaranya.


Raise tersentak sedikit, kemudian menunduk. Ketika ia mengangkat kepalanya kembali, masih ada keenganan dalam tatapannya.


“Saya permisi, Nona,” kata Raise kemudian dan berbalik pergi.


Ia menutup pintu kamar Daisy yang terbuka dengan hati-hati.


Barulah Daisy menjatuhkan diri ke lantai. Ketegaran yang berusaha dipertahankan selama perjalanan pulang dan melewati ruang tengah seketika lenyap.


Daisy mulai terisak, merasa lelah, dan takut. Ia tidak bisa bercerita pada siapapun betapa takutnya ia sekarang. Ia tak bisa berkata apa yang dialami kemarin sama dengan mimpi buruk.


Ia sungguh ingin marah pada Stefani yang sudah mengacaukan kehidupan yang dipertahankan selama ini. Akan tetapi, ia tahu betul kalau kemarahan itu sama sekali tidak berarti. Stefani tidak salah apapun dalam pertukarang tubuh. Mungkin saja gadis itu berpikir yang dialami adalah sebuah mimpi buruk sehingga tidak melakukan apapun pada benda-benda yang dimiliki Daisy.


“Astaga ... kenapa harus begini?” isaknya diakhir air mata yang dihapus Daisy.


Cukup lama Daisy menangis.


Setelah selesai kepalanya serasa bertambah berat berkali-kali lipat. Tubuhnya letih.


Ia memaksakan diri untuk bangun. Setiap langkah kakinya seolah mengambang di udara.


Ia pergi ke ruang ganti dan berganti pakaian. Pakaian yang dikenakan sebelumnya dicampakan begitu saja di lantai.


Lepas semua itu, ia kembali ke dalam kamarnya menjatuhkan diri di atas ranjang. Berusaha memejamkan mata.


“Kumohon, jangan lagi berpindah tempat!” kata Daisy lirih.


Baru saja Daisy memejamkan mata, ia mendengar suara berisik yang asalnya dari pintu. Apalagi sekarang?

__ADS_1


“Nona ... kami menangkap Stefani di bawah! Ia tampaknya dari atas sini!”


__ADS_2