
Daisy berhenti di balik dinding. Kakaknya baru pulang dan makanan yang disiapkan untuk makan malam bersama ayah Stefani baru saja matang. Ia bersikeras untuk menyusun semua di piring dan menata ulang di meja. Tetapi tidak jadi dilakukan karena keburu penasaran dengan yang diceritakan kakaknya.
“Dia bilang mau ke tempat orang pintar! Saya pikir dia hanya bercanda, tetapi benar-benar dibawa ke sana!”
“Bosmu?”
“Ya. Aneh sekali tiba-tiba dia jadi begitu. Sebelumnya dia ....” Maulana, kaka Stefani tidak jadi bicara. “Kenapa kamu berdiri di sana, Stefani! Kemarilah!”
Daisy kaget. Padahal ia yakin tidak melongo ke arah kursi, hanya merapatkan diri di dinding dan berkata kalau saat ini tengah menjadi patung. Akan tetapi, tetap saja ketahuan. Sepertinya Daisy tidak berbakat menjadi mata-mata.
“Karena pembicaraanya tampak penting, saya hanya tidak mau menganggu!” kata Daisy sedikit panik. Ia mengangkat mangkok berisi nasi sedikit tinggi dan berjalan ke arah meja ruang tamu. Diletakan di sana dengan hati-hati. Kini semua makanan sudah terhidang.
“Jangan bicara seolah-olah kamu dan dan aku adalah orang asing. Kita ini saudara!” Maulana tampak sedikit sedih saat mengatakannya.
Seluruh tubuh Daisy mendadak mendingin. Perasaan apa yang kini dirasakan, kecewa juga layaknya seperti Maulana. Akan tetapi, Daisy amat sangat tahu dengan perasaan kecewa semacam ini. Ia jadi yakin kalau yang dirasakan bukan sebuah kekecewaan.
Takut!
Ia kaget dengan hatinya yang tiba-tiba berbisik. Kenapa ia harus takut pada kakak laki-laki Stefani yang tampaknya menyayangi adik perempuannya? Kenapa ia harus takut?
“Stefani! Stefani!”
Daisy terperanjat dan menyadari kalau ia telah melamun dengan tubuh gemetar. Karena itu ia kemudian menyeka keringat dingin di dahinya dan memaksakan diri untuk tersenyum pada Maulana.
Pria itu, kakak laki-laki Stefani hanya memandangnya dengan aneh. “Maafkan aku!” katanya masih terdengar sedih seperti sebelumnya.
Daisy tidak mencoba menghentikannya seperti biasa. Malahan ia merasa lega karena tidak melakukan hal itu. Sepanjang makan malam berdua dengan ayah Stefani, Daisy bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.
“Apa kamu tahu kenapa kakakmu memilih menghindar?” tanya Handoko pada Daisy.
Daisy menelengkan kepala, berhenti menyuap makanannya. “Maafkan saya, Ayah, saya benar-benar lupa.”
__ADS_1
“Baguslah kalau kamu lupa dengan itu. Aku sebenarnya berharap kalau kamu melupakan semua kenangan buruk dengan kami ini.”
Di dalam hati Daisy bertanya, apa yang sudah terjari pada Stefani sebenarnya. Seharusnya ia menyadari kalau selalu saja ada hubungan sebab akibat yang melatar belakangi sesuatu. Ia sempat berprasangka seluruh kebencian Stefani tanpa alasan padanya. Kenapa ia tidak bertanya pada diri sendiri apa yang melatar belakangi seluruh kemarahn gadis pelayan itu.
“Bisakah ayah menceritakannya pada saya?” tanya Daisy.
Handoko tampak enggan. Namun, ia pasti beranggapan kalau cepat atau lambat putrinya akan ingat apa yang terjadi.
“Suatu hari kamu menghilang, pada hari ulang tahunmu. Lalu kemudian kami mencarimu sekuat tenaga, tetapi tidak ketemu. Maulana yang menemukanmu pada akhirnya. Kamu bersembunyi di dalam rumah Tuan besar. Kami tidak menyangka kalau kamu ada di sana.” Daisy bisa melihat keraguan yang muncul di mata Handoko. “Saat itu Maulana juga masih kecil dan dia berkata kalau seandainya kamu tidak lahir pasti ibunya masih ada.”
Daisy terkejut saat mendengarnya. Bagaimana bisa seorang anak kecil meneriaki hal kejam seperti itu. Stefani kecil yang kaget tentu saja menjadi ketakutan. Secara tidak langsung Stefani kecil telah dituduh menjadi penyebab kematian ibunya.
“Jangan membenci kakakmu, Stefani!”
Sorot mata penuh kesedihan itu lagi ditangkap Daisy. Andai saja papanya sendiri di rumah besar memiliki sedikit penyesalan saat memutuskan menikah, Daisy tentu akan bersikap baik pada ibu tiri yang terus-terusan mau menyingkirkannya.
“Saya marah mendengarnya. Ingatan saya juga pasti marah dan takut.”
Daisy tidak tahu bagaimana cara membesarkan anak karena belum menikah. Akan tetapi, pasti sulit membesarkan dua anak tanpa kehadiran seorang istri. Tetap setia saja sudah merupakan hal yang luar biasa. Bagaimana mungkin Daisy berkata sangat jahat.
Stefani terkurung di sini sendiri karena tidak tahu apa yang dilakukan. Sikap diam dan kaku ayahnya disebut sebagai pengabaian dan kemarahan kakakanya yang kemungkinan lelah membuatnya ketakutan dan benci. Ia mendadak menjadi buta dan berkata kalau tidak memiliki apa-apa.
“Saya akan melupakannya. Saya akan memaafkannya pelan-pelan. Walau pun lama, saya yakin kalau hubungan saya dan Kak Maulana akan membaik.”
Tampaknya jawaban yang diberikan Daisy kini adalah hal yang diinginkan ayah Stefani. Akan tetapi, apa yang terjadi nanti saat Stefani dan Daisy kembali ke tubuh sebenarnya?
Daisy mengambil piring bersih yang seharusnya diisi makanan Mualana. Ia tak tahu apa yang disukai kakaknya sehingga mengisi semua jenis makanan di atasnya. Menumpuk semuanya menjadi satu layaknya sebuah gunung.
“Mau dibawa ke mana?” tanya Handoko.
“Ke tempat Kakak. Dia pasti lapar!”
__ADS_1
Daisy yakin kalau Maulana memang lapar. Tetapi, ia nyaris tidak tahu apa yang dikatakannya kepada kakak Stefani untuk memberi semangat.
“Ini lebih berat dari yang kupikirkan?” gumam Daisy pelan dengan piring penuh makanan di tangannya.
Ia belum mengetuk pintu kamar Maulana yang dekat dengan dapur. Kamarnya sendiri ada di paling depan dan kamar ayahnya di tengah-tengah di antara mereka.
“Aku akan makan nanti ....”
Kata-kata Maulana terhenti melihat kalau bukan orang dalam prasangkaannya yang datang.
“Kakak pikir Ayah yang datang, ya?” tanya Daisy sambil tersenyum.
Perasaan asing milik tubuh Stefani kembali dirasakan. Akan tetapi, sampai kapan itu terjadi. Mereka akan bertemu setiap hari nantinya dan apakah salah satu dari mereka harus terus melarikan diri karena perasaan takut ini.
“Aku akan makan nanti.” Mata Maulana terpaku pada piring dengan gunungan makanan di tangan Stefani. “Untuk apa itu?”
“Saya tidak tahu apa yang kakak sukai sebagai lauk, jadi saya ambil semuanya.”
“Kamu tidak perlu memaksakan diri jika tidak menyukaiku Stefani. Aku baik-baik saja. Aku memang salah dan pantas sekali untuk diperlakukan buruk.” Maulana menyugar rambutnya dan memalingkan wajah.
“Saya tidak ingat ... tapi sepertinya tubuh saya ingat.” Daisy bisa melihat ekspresi yang sama dengan Handoko, sedih dan kecewa. “Tapi, bisakah kita berbaikan nanti. Saya akan mencoba untuk berbaikan dengan kakak.”
Tampaknya Daisy mengatakan hal yang diharapkan sekali lagi hari ini.
“Aku akan memakannya di dalam, terima kasih!” Maulana mengambil piring yang dibawa Stefani masuk.
Karena terlalu cepat, Daisy tidak tahu bagaimana ekspresi Maulana. Pintu kamarnya juga ditutup tiba-tiba. Padahal ia ingin melihat apakah Maulana benar-benar memakan makanan yang dibawakan.
Seseorang melintasi di belakang Daisy. Ia menoleh dan menemukan Handoko yang membawa tumpukan piring bekas makanan.
“Kenapa Ayah melakukannya sendiri?’ seru Daisy kesal.
__ADS_1
Padahal ia sudah bertekad untuk mempelajari banyak hal mulai sekarang. Ia ingin melihat bagaimana Mahardika terkesan dengan kemampuannya sebagai istri nanti.