
Handoko sudah ada di ruang kerja saat Stefani sampai. Tampaknya ia cemas dan curiga pada alasan pemanggilannya. Hanya saja Stefani tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi selain pada Handoko, ayahnya. Walau sekarang ia tak bisa berkata pada ayahnya kalau ia adalah putri yang sebenarnya.
“Selamat pagi Nona!” Handoko menyapa sambil menunduk sedikit.
Stefani suka dengan perlakuan Handoko kini. Harusnya memang Handoko melakukan hal itu pada Stefani sejak lama. Ia tidak butuh kasih sayang muluk seperti yang ditampilkan keluarga bahagia. Akan tetapi, ia akan sangat senang kalau Handoko sedikit menghormati kebahagiaannya dahulu.
“Duduklah!” suruh Stefani sambil memutari meja besar yang ada di hadapan Handoko dan duduk di belakangnya. “Bisa kamu ambilkan teh, Raise?” suruh Stefani.
Raise mengangguk dan pergi dengan cepat. Bahkan Stefani belum memulai pembicaraannya saat Raise kembali dengan kereta dorong berisi makanan kecil dan teh. Semuanya dihidangkan di atas meja kerja.
“Aku melihat tunanganku, Mahardika pergi ke rumah Anda tadi pagi? Apa yang terjadi?”
Ada sedikit harapan kecil Stefani tenang hukuman yang akan diberikan Mhardika pada Daisy yang tengah berada di tubuhnya. Sebelum berpindah jiwa, ia sudah cukup membuat masalah untuk Stefani. Jadi kalau orang-orang membenci gadis malang itu, pasti alasannya cukup besar.
“Tuan Muda Mahardika bilang kalau ingin menyiapkan hadiah kejutan untuk Anda!”
Kabar yang disampaikan Handoko jauh lebih baik dari harapannya. Ia merasa senang karena mendapatkan perhatian. Stefani berusaha menahan senyum.
“Itu asaja?” tanya Stefani tidak percaya.
“Ya, Nona, hanya itu saja yang dikatakan oleh Tuan Muda Mahardika tadi.”
Stefani berdehem, mengabil makanan kecil yang hidangkan Raise dan memalingkan wajah. Ia tak bisa mengendalikan ekspresi dengan benar layaknya Daisy. Jadi sebaiknya, ia tak benar-benar berhadapan dengan seseorang saat pembicaraan penuh emosi datang.
“Terima kasih sudah memberiku,” kata Stefani.
“Kalau begitu saya permisi, Nona!” kata Handoko sambil berdiri.
“Tutup pintunya saat kamu mau keluar ruangan!” suruh Stefani masih tampa melihat Handoko secara langsung.
Stefani juga hanya mendengar pintu berdebam pelan sebelum menoleh ke arah suara. Begitu ia sadar kalau dirinya sendirian. Seperti ada letupan di dalam dadanya dan seluruh tubuh Stefani mendadak menjadi sedikit panas. Ia kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja. Rasanya senang sekali sama seperti menerima kecupan di dahi tadi.
“Tenanglah Stefani!” gumamnya pada diri sendiri.
Ia tetap seperti itu sampai Raise datang kembali dengan kereta dorong kosong, memindahkan camilan dan cangkir-cangkir teh yang sudah digunakan.
__ADS_1
“Sarapan Anda sudah saya bawa ke lantai atas, Nona!” Sambil bekerja Raise memberitahukan tentang sarapan pada Stefani.
Seketika kepala Stefani meneleng. Ia penasaran dengan alasan Daisy yang sebenarnya tidak makan dengan papa dan mama tirinya. Stefani sudah pernah mencoba, tetapi tidak ada masalah yang terjadi.
“Baiklah! Terima kasih!” jawab Stefani.
Ia memutuskan untuk tidak bertanya pada Raise. Akan mencurigakan memberikan pertanyaan yang sensitif pada pelayan setia ini.
Ia berdiri dan pergi, meninggalkan Raise dengan pekerjaannya. Ia bisa mengurus makanannya sendiri.
Seperti perkataan Raise, Stefani menemukan makanannya di tata di sofa tengah tempat Mahardika duduk sebentar tadi. Tidak banyak yang dimakannya saat sarapan. Ada roti dengan selai, juga salad yang porsinya sangat kecil.
Stefani duduk sendirian saja menghadap makanannya. Ia pasti sudah menjadi aneh sekarang. Karena tiba-tba saja berpikir untuk mengajak Handoko makan bersama tadi. Akan tetapi, ia tak butuh perasaan melankolis seperti itu untuk tetap nyaman dengan kehidupan yang sudah dipilih.
***
“Kakak mau ke mana?” tanya Daisy saat telah selesai membereskan semuanya.
Handoko telah kembali pada pekerjaannya. Ia tak memiliki hal lain yang dilakukan selalin memikirkan cara untuk kembali ke tubuh semula seperti kemarin. Ia berusaha menginta-ingat apa yang dilakukannya waktu itu sebelum kembali ke tubuhnya di rumah utama. Ia tak melakukan hal yang spesial.
Daisy lekas menatap jam dinding. Sudah terlalu siang untuk lari sebenarnya, tetapi masih bisa. Matahari masih belum terlalu tinggai dan tak perlu jauh-jauh lari. Sebab perumahan tempat mereka tinggal memiliki track lari.
“Boleh ikut?” tanya Daisy.
Maulana tampak tidak percaya. Matanya melebar dan ia kehilangan seluruh kemampuan bicara tiba-tiba.
“Tidak boleh?” tebak Daisy melihat reaksi yang diberikan Maulana atas pertanyaannya.
Maulana menyisir rambutnya menggunakan jari-jari. “Bukannya tidak boleh ... hanya tidak sangka kalau kamu akan ikut.”
“Jadi boleh?’ tanya Daisy.
Kepala Maulana mengangguk. Ia lalu menjatuhkan diri di atas kursi ruang tamu. “Cepat ganti baju!” suruh Maulana kepada Daisy.
Daisy tersenyum lebar dan kemudian bergegas ke kamarnya. Ia mencari pakaian yang pantas digunakan untuk lari pagi. Ia memilih celana training hitam dengan baju panjang lengan yang terbuat dari katun. Lalu keluar dengan menenteng sepatu olahraga yang tampak sudah lama tidak digunakan.
__ADS_1
Ia pikir Maulana akan meninggalkannya. Akan tetapi, kakak Stefani itu sedang mengutak-atik ponsel. Ia mengangkat kepala sebentar saat mendengar langkah kaki, kemudian berkonsentrasi kembali dengan apa yang sedang dikerjakan.
“Sudah!” seru Daisy riang.
“Kenapa kamu bahagia sekali? Ini hanya lari pagi!”
Sebenarnya saat menjadi Daisy, ia tak pernah melakukan hal ini. Yang namanya lari pagi buat Daisy adalah berkumpul dengan teman-temannya. Mereka membicarakan banyak hal di kafe dengan setelan olahraga dan kemudian kembali pulang. Jadi, ini adalah pengalaman pertama buat Daisy berlari di lingkungan rumahnya.
“Ayo berangkat!” kata Daisy dengan semangat yang membara.
Maulana yang memimpin olahraga ini. Mereka keluar dari gerbang dan berbelok masuk ke dalam perumahan. Beberapa orang sedang melakukan hal yang sama dengan Maulana.
“Kakak ternyata memiliki banyak pengemar. Apa salah satunya kekasih Kakak?” tanya Daisy asal saat berhenti karena sesak napas. Maulana tidak sesak sedikit pun dan hanya berkecak pinggang saja.
“Tidak ada pacar! Sudah selesai? Ayo mulai lagi!”
Daisy berusaha keras untuk menyamakan kecepatan dengan Maulana, tetapi tidak berhasil. Belum sampai lima ratus meter berlari, napasnya sudah sesak lagi. Ia memegangi lututnya dan berhenti, tidak sempat memanggil Maulana untuk memberitahukan keadaannya.
Daisy pikir kalau dirinya akan ditinggal. Akan tetapi, Maulana malah menempelkan air mineral dingin ke pipinya. Daisy hampir menangis karena sangat berterima kasih dengan pemberian itu.
“Ayo ke sana!”
Daisy tidak bergerak saat Maulana menyuruhnya duduk di depan tukang ketoprak. Ia tidak pernah makan-makanan pinggir jalan. Otaknya mempertanyakan kehigienisan makanan itu.
“Kenapa diam saja? Kemari!”
Seketika Daisy membayangkan isi kotak obat di pavilliun. Ia berharap ada obat sakit perut juga di dalam sana.
Pedagang ketoprak itu menggoda Maulana saat Daisy duduk di sana. Mengatakan kalau akhirnya Maulana memiliki kekasih setelah tetap menjomlo dalam waktu lama karena bertekad menikahkan adiknya lebih dulu.
“Dia adikku!” Maulana dengan wajah memerah bersemu.
Kakak Stefani ini tampak konyol karena berusaha menyembunyikan wajahnya dari Daisy.
Perasaan Daisy mendadak iri pada Stefani. Mungkin hanya ada begitu banyak kesalah pahaman di dalam keluarga kecil itu.
__ADS_1