Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Makan Malam Buatan Daisy (2)


__ADS_3

“Nona, apa Anda ingin bersiap?” tanya Raise di depan pintu.


“Bersiap untuk apa?” tanya Stefani yang sedang duduk di atas bantal empuk di dekat pintu kaca menuju teras. Di pangkuannya ada sebuah buku yang diambil dari ruang belajar yang ada di samping kamar. Stefani baru saja menemukan fungsi ruangan itu tadi.


“Saya melihat mobil Tuan Muda Mahardika di halaman.”


“Benarkah?” Stefani menutup buku yang ada di atas pangkuannya dan melompat berdiri dengan tergesa-gesa.


Mengingat reaksi Mahardika kemarin, juga rencana yang didengar dari Handoko. Stefani menduga kalau Mahardika ingin memperbaiki hubungan yang memburuk dengannya. Stefani tentu harus mendukung sebagai penganti Daisy yang baik.


“Ya, Nona, saya sudah memastikannya ke depan dan memang ada mobil milik Tuan Muda di sana. Apa yang ingin Nona pakai untuk bertemu dengan Tuan Muda Mahardika?”


Sayangnya, Stefani masih belum terlalu paham soal mode. Walau ia sudah membaca beberapa majalam mode saat kembali ke tubuh Daisy untuk kedua kalinya. Ia masih belum paham juga bagaimana memadupadankan pakaian bagian atas dan bawah.


“Bantu aku cepat!” suruh Stefani sambil melemparkan bukunya ke atas meja di tengah ruangan.


Raise tersenyum dan membuka pintu, dua pelayan lainnya masuk. Raise hari ini yang tampaknya bertugas untuk memilih jenis gaaya yang akan digunakan oleh majikannya. Ia dengan sigap mengambil gaun berwarna pastel, serta hiasan kepala dari rajutan dengan warna yang hampir sama persis. Anting yang digunakan Daisy adalah jenis mutiara yang tidak bulat bentuknya berwarna agak krem.


Stefani dibantu berhias dengan warna-warna yang lembut. Parfum yang digunakan juga ringan. Setelah selesai, sebuah cermin yang lebih tinggi darinya di dorong mendekat. Stefani benar-benar sangat mengagumi penampilannya saat menjadi Daisy ini.


Ia terpesona selama beberapa saat. Saat ia menoleh, dilihatnya kalau orang-orang yang membantu sama-sama terpesona.


“Jadi, di mana Mas Dika sekarang?” tanya Stefani riang.


Raise menoleh kepada dua pelayan lain, kepalanya meneleng sedikit. Tatapannya tampak meminta jawaban. Tetapi tidak ada kalimat yang meluncur dari mulut keduanya. Tampaknya orang-orang itu sedang berusaha saling sikut.


“Kenapa kalian diam saja? Di mana Tuan Muda Mahardika?” tanya Stefani mendesak.


Para pelayan yang ada di hadapannya saling pandang. Agak takut salah satu dari mereka maju selangkah dan mulai bicara.


“Nona ... Tuan Muda Mahardika ada di pavilliun!”


Stefani tahu di mana pavilliun. Ia sedang berusaha untuk tidak memikirkan tempat yang didatangi Mahardika kini. Bisa jadi ia hanya singah sebentar.

__ADS_1


“Dia pasti akan sebentar lagi ke sini!” kata Stefani sambil memaksakan dirinya tersenyum. Tangannya terkepal sekuat tenaga supaya tidak meledak tiba-tiba.


“Anu, saya melihat Tuan Muda memangku belanjaan dan berjalan ke pavilliun bersama dengan Maulana.”


Stefani tertawa tiba-tiba mendengar hal tersebut. Rasa benci menjalar dengan cepat pada Daisy yang kini ada di tubuhnya. Ia tidak mengerti di mana kesalahan dari cara bersikapnya selama ini. Maulana membencinya karena telah membuat ibu mereka meninggal. Kakaknya sendiri yang berteriak kepada Stefani hari itu. Ia juga tidak pernah mencari masalah dengan Maulana atau pun ayahnya. Ia tahu, semakin sedikit mereka saling bicara, semakin sedikit pulan gangguan yang diakibatkan olehnya.


“Bagaimana mungkin sampai akhir hanya aku saja yang kalah?” bisik Stefani kesal.


Seluruh tubuhnya gemetar karena amarah. Ia menatap Raise yang tampak ketakutan.


“Saya akan melihat ke pavilliun dulu, Nona!”


“Tidak perlu!” seru Daisy lekas.


Ia berjalan maju melewati para pelayan yang bekerja untuknya.


“Nona ... saya mohon, jangan seperti ini!” Raise menangkap tangan Stefani, mengenggamnya dengan mata yang terlihat memohon.


Ada begitu besar dorongan bagi Stefani untuk berteriak kepada Raise saat ini. Getaran pada tubuhnya menjadi semakin keras. Ia menyentak tangannya dengan cepat dan setengah berlari meninggalkan para pelayan yang sudah mempersiapkannya menjadi seorang putri.


Orang-orang yang ada di pavilliun tampaknya sangat bahagia. Semakin sakit saja hatinya saat ini. Tangannya terkepal dan siap dilayangkan kepada salah satu orang di pavilliun.


“Baguslah aku tidak perlu mencari-cari alasan untuk mengacak-ngacak dirimu!” kata Stefani saat mencapai pintu.


Semua yang sedang makan di ruang tamu--Daisy, Mahardika, Maulana, dan Handoko menoleh secara serempak padanya.


Handoko yang bereaksi sangat cepat melihat kedatangan Stefani ke sana. Pria itu melemparkan sendok yang ada di dalam genggamannya dan berdiri.


“No-na, ada yang bisa saya bantu?”


Ia melirik Daisy yang kini ada di tubuh Stefani. Gadis itu tampak tidak peduli dengan kedatangannya.


“Aku tidak punya urusan denganmu!” kata Stefani menepis tangan Handoko yang terulur.

__ADS_1


Tepisan itu yang mungkin menjadi penyebab berdiri Daisy yang duduk di lantai untuk pertama kalinya. “Ada peraturan yang mengatakan kalau kamu ingin dihormati oleh seseorang, kamu harus lebih dulu menghormatinya. Tampaknnya Nona Daisy lupa tentang peraturan itu.”


Stefani lagi-lagi mengepalkan tangannya menahan amarah. Sebuah serangan telak telah dilayangkan Daisy di depan semua orang.


“Ayah, duduklah kembali dan makan. Nona Daisy sepertinya mencari saya!”


Handoko menoleh cepat-cepat pada Daisy yang sebenarnya. Tatapannya memohon supaya Daisy tidak ikut dengan Stefani.


“Tidak apa-apa, Ayah, saya akan baik-baik saja. Nona Daisy hanya akan berbicang sebentar. Ya, kan?” Daisy menoleh pada Stefani untuk mendapatkan jawaban.


Stefani harus menjawabnya, walau itu akan membuktikan bahwa Daisy lebih unggul darinya. “Ya.”


***


Kabar itu pasti sudah sampai pada Stefani sekarang, soal Mahardika yang berada di pavilliun entah untuk alasan apa. Daisy sudah menduga kalau Stefani akan muncul cepat atau lambat, tetapi tidak saat waktunya Handoko dan Maulana bersantap sambil tertawa.


Daisy menghela napas, membuangnya dengan amat sangat perlahan.


“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Stefani?”


Langkah kaki gadis itu berhenti di tengah taman. Suara tawa tadi menghilang, semuanya kini pasti sedang cemas dengan yang akan terjadi pada tubuh Stefani. Yah, walau ada satu orang yang benar-benar cemas pada Daisy.


“Apa yang berusaha kamu tunjukkan padaku?”


“Apa?”


Daisy tertawa mendengar pertanyaan itu. “Kenapa itu terdengar seperti aku adalah penjahatnya? Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa bertukar tubuh denganmu!”


“Kamu mau pamer kalau di mana pun kamu berada orang-orang akan selalu memihakmu, kan?”


“Aku hanya berusaha hidup dengan baik. Aku sudah bilang padamu, kalau kamu ingin dihormati, sebaiknya kamu menghormati orang lain dulu.”


“Memangnya kamu pikir aku tidak berusaha!” Stefani mulai berteriak.

__ADS_1


Daisy mengeleng. “Tampaknya usahamu masih kurang. Tenangkan dirimu, kamu hanya menarik perhatian orang-orang saja dan aku tidak mau terlibat masalah,” kata Daisy.


“DIAMLAH!” Tangan Stefani terangkat dan akan bersarang di pipi Daisy.


__ADS_2