Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Ini Peringatan


__ADS_3

“Nona?” Handoko benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Seingatnya Mahardika dan Daisy saling menghargai satu sama lain. Memang pertunangan yang diadakan saat Daisy berusia 17 tahun itu tidak didasari cinta seperti yang dilakukan orang lain. Makanya, hanya ada saling menghormati dalam hubungan anak-anak itu. Tetapi, apa yang dilihatnya barusan bukan saling menghormati, melainkan melarikan diri.


“Jangan mengasihaniku!” Daisy berkata dengan kemarahan yang sangat jelas di dalam suaranya.


Handoko tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Ia mundur dan membiarkan saja Daisy memaki-maki sambil menendangi kerikil di lapangan parkir. Setelah kelelahan, gadis itu bersandar pada mobil yang disopiri Handoko.


“Kita kembali!” kata Daisy.


Handoko seperti tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Daisy yang kemarin benar-benar berbeda sekali dengan hari ini. Seolah mereka adalah orang yang berbeda. Perasaan aneh yang muncul di dalam hati Handoko mendadak menjadi lebih kuat.


“Baik, Nona!” Handoko menyetujuinya.


Ia membukakan pintu mobil di bagian penumpang. Daisy masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun. Menghempaskan dirinya dengan cara menyakitkan menurut Handoko.


“Akan ke mana kita sekarang?” tanya Handoko.


Ia menyalakan mesin mobil dan kemudian mulai memakai sabuk pengaman. Diliriknya ke arah Daisy terlebih dahulu sebelum kembali menatap ke depan dan mengulangi pertanyaannya.


“Kita akan pulang!” kata Daisy setelah termenung sesaat.


Handoko menganti gigi mesin secara manual, secara bertahap menginjak pendal gas dengan ujung sepatunya. Mobil sport yang dikendarai melaju melintasi lapangan parkir, berputar dan kemudian keluar menuju jalanan. Tak lama mereka berkendara bersama yang lainnya di jalan raya.


Selama perjalanan, Handoko hanya dapat melirik Daisy sedikit melalui kaca spion tengah, memperhatikan suasana hati anak majikannya itu. Wajahnya tampak kesal, gelap, sedikit memerah karena menahan amarah. Handoko yakin, tidak pernah melihat Daisy seperti itu. Bahkan pada hari kematian mendiang ibu kandungnya. Ia selalu melihat gadis kecil yang kini memasuki usia dewasa itu tenang. Berbanding terbalik dengan putrinya.


“Apa Nona mau singgah ke suatu tempat dulu?” tanya Handoko.


Tatapan Daisy langsung mengarah pada Handoko. Perasaan Handoko mendadak jadi tidak tenang. Perasaan familiar yang berusaha dienyahkan muncul kembal. Perasaan ini pasti hanya karena sikap yang hampir mirip dengan putrinya.


“Aku sudah bilang pulang! Kenapa masih bertanya!” seru Daisy marah sekali.

__ADS_1


Ada nyeri yang tidak bisa dideskripsikan Handoko muncul di hatinya. Tetapi, seharusnya tidak terjadi, Daisy bukan putrinya. Hanya anak majikan yang iaihat setiap hari. Kadang-kadang saja gadis itu berpapasan dengannya dan menyapa. Hanya kebetulan Daisy menjadikan dirinya sebagai sopir. Itu pun pasti karena ingin mencari tahu tentang putrinya yang sudah membuat masalah.


Kembali hanya keheningan saja yang mendominasi seluruh perjalanan mereka. Handoko menekan klakson supaya penjaga gerbang membuka pintu untuk masuk.


Belum berhenti mobil yang dikendalikan Handoko, Daisy sudah meloncat turun di pintu belakang. Bunyi bergedebuk kakinya saat menyentuh beton menyeramkan. Langkah kakinya panjang-panjang meninggalkan mobil dan semakin menjauh.


Namun sayangnya, gadis itu tidak pergi ke pintu utama, melainkan ke taman samping, jalan setapak dari batu sunggai yang ditata menuju ke pavilliun.


Handoko secara asal saja memarkir kendaraannya kini. Ia turun dengan tergesa-gesa dan membuat heran para pelayan yang kebetulan ada di sekitar sana. Ia menunduk dan menyapa sebelum berlari kecil ke jalan yang sama dengan Daisy.


“Nona!” Ia menyerukan panggilan.


Daisy tidak menoleh. Ia sudah sampai di depan pavilliun tempat Handoko dan keluarnya tinggal. Pintu pavilliun terbuka, Stefani putrinya pasti telah pulang dari kampus. Bergegas Handoko mencapai teras pavilliun. Namun, ia terlambat karena Stefani telah mendapatkan tamparan.


“Stefani!” pekik Handoko kaget. Ia berlari ke arah rumah, hampir menabrak Daisy yang memandangnya masih dengan tatapan marah yang tidak mengerti.


Handoko ikut berjongkok di dekat putrinya, menanyakan apa yang terjadi.


Perasaan familiar yang lebih kuat menyergap dada Handoko.


Bagaimana mungkin ia begitu yakin kalau yang ada di depannya bukan Stefani, melainkan Daisy, putri majikannya?


***


“Nona ... ada masalah apa?” tanya Raise sambil berjalan dengan langkah kecil yang cepat di samping Stefani.


Stefani berhenti di dalam ruangannya. Hanya berjarak satu langkah dari pintu.


Ia berbalik dan menarik tangan Raise yang akan ikut masuk, lalu mendorong tubuh pelayan setia Daisy itu menjauh dari pintu. “Biarkan aku sendiri!” tegasnya.


Namun, Raise tampaknya tak akan membiarkan hal yang diinginkan Stefani dengan mudah begitu saja. Ia mencoba melangkah maju lagi, masuk bersama-sama Daisy ke dalam kamar. Akan tetapi, sekali lagi Raise didorong keluar.

__ADS_1


“Aku akan memukulmu nanti kalau kamu bersikeras.” Seluruh tubuhStefani bergetar karena menahan amarah.


“Nona!”


Satu kali dorongan lagi, Raise terjengkang di lantai dan pintu kamar di banting Stefani keras-keras. Pintu kamar lalu dikunci dari dalam.


Setelah sendirian, Daisy melempar tasnya ke atas ranjang dan mencopoti semua pernah-pernik yang dipasangkan padanya dengan cara yang kasar, membuangnya ke lantai sambil berteriak-teriak.


Stefani tahu kalau ruangan ini sama sekali tidak kedap suara. Hanya saja ia terlampau kesal dengan Mahardika, Daisy dan siapapun yang dikenalnya. Bukankah sekarang dirinya adalah Daisy yang mereka semua sayangi, tetapi kenapa tidak ada satu pun yang berkelakukan seperti pada Daisy.


“Aku sudah berusaha! Memang apa bedanya aku dan Daisy? Aku sekarang adalah dia!” teriak Stefani, tidak peduli dengan seseorang yang akan mendengarnya.


Setelah berteriak-teriak melampiaskan kekesalannya, Stefani mendadak lelah sekali. Ia menjatuhlan diri dan duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal. Ia mengatur napasnya kembali, memandangi semua yang dimilikinya sebagai Daisy kini. Ada banyak pakaian bagus, pernik, perhiasan, sepatu, dan ia tak perlu lagi khawatir dengan uang tunai yang dimiliki di dompet. Seharusnya hidupnya menjadi lebih mudah.


“Tapi, bukan hanya itu saja yang aku inginkan!” Air mata Stefani menetes tanpa aba-aba.


Rasa sesak yang teramat sangat mendorong semuanya keluar. Ia mau juga perhatian seperti yang Daisy dapatkan selain kemudahan. Ia mau semua yang membuatnya merasa iri.


“Aku tidak akan menyerah begitu saja! Aku tidak bisa menyerah!” katanya dalam isakan.


Samar-samar Stefani mendengar pintunya diketuk dari luar. Raise pasti masih di depan.


“Nona! Apa Anda baik-baik saja?” Suara pelayan yang mengurus Daisy sejak lama itu bergetar. Kalau tidak disahuti, pasti sebentar lagi ia akan membuat seseorang datang untuk membuka pintu.


“Ya, aku baik-baik saja.” Stefani menyahut dengan suara yang parau.


Ini belum berakhir. Ia belum kehilangan apapun sekarang. Jadi, kalau ia bertahan sedikit lagi di tubuh Daisy maka semuanya akan kembali ke tempat semula. Orang-orang itu kemungkinan hanya heran dengan perubahan sikapnya yang tenang menjadi gampang meledak-ledak. Mereka semua perlu beradaptasi.


“Rupanya masih perlu banyak sekali waktu supaya kamu sadar, ya?”


Mata Stefani terbelalak. Ia menoleh dan menemukan kakek tua yang memberinya botol kecil di belakang, tampak gusar padanya.

__ADS_1


__ADS_2