Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Makan Siang dengan Stefani (1)


__ADS_3

“Sudah selesai!”


Mahardika menoleh pada suara yang terdengar riang di sudut sana. Tampaknya sejak tadi Maulana memang menghitung waktu untuk kembali pulang ke rumah.


“Baguslah! Apa perlu bantuanku?’ tanya Mahardika.


Keinginannya untuk membantu Daisy yang kini ada di tubuh Stefani tetap saja tidak bisa terbendung walau ia sudah mengatakan berulang kali kepada dirinya sendiri kalau hal tersebut hanya akan menambah masalah saja.


“Tidak usah!” seru Maulana dengan cepat.


Ia kemudian menyandang kembali tasnya. Lalu mengangkat semua berkas yang sudah diperiksa dan meletakannya di atas meja Mahardika.


“Baiklah kalau begitu! Kabari aku kalau kamu sudah pindah, oke?”


“Maksudmu mengirimkan alamat baruku? Tidak usah, terima kasih. Sudah kukatakan kalau kedatanganmu hanya akan membawa masalah untuk adikku!” kata Maulana terang-terangan.


Maulana keluar dari pintu, meninggalkan Mahardika yang termanggu. Ia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak tahu harus melakukan apa supaya bisa membantu. Ia ingat pada orang pintar yang ditemui. Segera ia membuat rencana untuk datang ke sana lagi. Dengan begitu, ia mungkin bisa memberi bantuan kepada Daisy nanti.


Karena tidak bisa mengantar, Mahardika pikir ia sebaiknya mengirimkan pesan saja kepada Daisy.


Mahardika: Hari ini pindah? Hati-hati.


***


“Jadi Stefani sudah pindah dari rumahmu?” tanya Brian untuk yang ketiga kalinya dalam waktu sejam.


Seolah-olah Stefani mengatakan kebohongan pada pria yang tampaknya terobsesi pada dirinya itu. Ia agak kasihan pada Daisy yang sedang mengantikan dirinya sebagai Stefani. Sebab, mendapatkan gangguan dari Brian.


“Ya, kan sudah kukatakan padamu!” kata Stefani.


Brian tampak senang. Entah apa yang ada di dalam otak pria itu untuk menunjukkan eksistensinya pada Daisy nantinya. Yang jelas tidak ada urusan dengan dirinya lagi.


Stefani memeriksa jam tangannya berkilauan karena permata, sebentar lagi jam makan siang. Ia lekas berdiri dari duduknya dan bergegas pergi. Karena hari ini dan besok Pak Handoko sudah mendapatkan izin dari Ibnu, ayah Daisy, ia jadi memakai sopir pribadi pria itu.


“Mau ke mana?” tanya Brian.


“Ke tempat Mas Dika! Mau makan siang!” seru Stefani tanpa menoleh sedikit pun dan keluar dari pintu.


Begitu sampai di luar gedung, ia melihat pria yang menjadi sopirnya tengah bersandar di pintu mobil, tengah merokok. Pria itu lekas membuang punting rokok di tangannya.

__ADS_1


“Ke mana Nona?” tanya pria itu pada Stefani.


“Ke kantor Mas Dika,” perintahnya.


Tanpa banyak tanya lagi si sopir melajukan mobilnya segera. Ia melintasi jalanan dan berbelok bberapa kali di persimpangan. Tepat pukul setengah satu Stefani sampai di kantor.


“Tidak usah tunggu saya, ya, nanti saya pulang di antar Mas Dika saja!” Pesan Stefani dengan sengaja.


Ia turun dan menunggu mobil yang mengantarnya menghilang di pintu gerbang masuk. Saat berbalik, Stefani melihat kakaknya yang tampak tergesa-gesa menuruni tangga.


“Pindahan hati ini, Kak” tanya Stefani ramah.


Aneh sekali rasanya karena harus menyapa orang yang seumur hidup dihindari. Apalagi pria itu tampaknya tidak senang padanya walau pun berwujud sebagai Daisy.


“Ya, permisi Nona!” katanya dengan cepat melewati Stefani.


Stefani bersyukur karena pria itu tidak menanggapi dirinya sewajarnya. Sebab jika terlibat obrolan panjang dengan Maulana, Stefani tidak tahu apakah bisa mempertahankan ekspresi normalnya.


Stefani melangkahkan kakinya naik ke lobi kembali, beberapa karyawan yang mengenalnya mengangguk hemat, akan tetapi tidak menghentikan pekerjaan mereka. Ia menaiki lift ke lantai tempat ruangan Mahardika berada.


“Apa kamu meninggalkan sesuatu Maulana?” tanya Mahardika.


Mahardika mengangkat kepalanya dan menatap dengan mata sipit dirinya. “Kenapa kamu kemari? Aku terlalu sibuk untuk meladenimu!”


“Ketus sekali! Tunanganku Sayang, seharusnya kamu bertanya apakah aku sudah makan siang atau belum.” Suara Stefani mendayu-dayu saat mengatakannya. “Karena kamu tidak menanyakannya, biar aku saja yang menanyakannya padamu. Mas Dika sudah makan siang?” tanya Stefani.


“Belum! Kalau kamu mau pergi makan, pergi saja sendiri! Aku punya banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan!” kata Mahardika masih ketus seperti sebelumnya.


Ia kembali menekuri berkas bersamaan dengan mengetikan sesuatu ke dalam komputer miliknya.


“Wah, wah, tidak boleh begitu. Kebetulan aku sudah menyuruh sopir yang mengantarku tadi pulang. Masa aku harus menelepon Papa lagi untuk menyuruhnya menjemputku di sini?” Walau suara Stefani lemah lembut, tetapi semuanya berisi ancaman.


Mahardika tak punya pilihan lain selain berhenti mengetik dan dengan tatapan marah menatap Stefani. Entah sumpah serapah seperti apa yang sedang diucapkan di dalam otak oleh Mahardika.


“Aku akan mengantarmu pulang!” kata Mahardika.


Ia menekan sesuatu di laptopnya dan berdiri. Ia melewati Stefani yang ada di depan meja tanpa mengatakan apapun.


“Kalau begitu bisa makan siang sebentar dong, ya?” tawar Stefani.

__ADS_1


Yang didengar Stefani dari Mahardika hanya helaan napas berat yang berisi keengganan yang luar biasa. Tetapi, sekali lagi pria itu tentu tak dapat menolaknya sekarang.


“Lakukan saja sesukamu!”


“Baguslah!” ujar Stefani sambil melangkah di belakang Mahardika. “Sebab Papa tidak akan senang kalau aku pulang dan malah menanyakan tentang makan siang di rumah!”


***


Apa ada begitu banyak perubahan yang terjadi? Mahardika benar-benar tidak mengerti. Ia pikir perubahan hanya dibawa oleh Daisy di keluarga Stefani saja.


Maulana menjadi lebih perhatian kepada adik perempuannya, begitu juga dengan ayah gadis itu. Akan tetapi, dari pihak Daisy sendiri rupanya ada perubahan.


Ibnu, ayahnya Daisy biasanya tidak akan memberikan perhatian kepada Daisy apapun yang dilakukan tunangan Mahardika itu. Ia sudah melihatnya hampir beberapa tahun ini, Daisy selalu berusaha menyelesaikan urusannya sendiri. Melihat bagaimana Stefani mengancamnya saat ini, tampaknya Stefani sudah membuat perubahan pada sikap Ibnu.


“Kamu mau makan di mana?” tanya Mahardika.


Ia menarik pintu di arah sopir dan masuk. Stefani tetap berdiri di luar dan tidak masuk juga. Maka Mahardika menurunkan kaca mobil dan menjulurkan kepalanya untuk bisa melihat Stefani.


“Apa yang kamu lakukan! Ayo cepat masuk!” suruh Mahardika.


“Tidak mau membukakan pintu untukku?”


“Ah?” Mahardika mengaga karena keheranan.


Daisy yang jelas-jelas tunangannya saja tidak bersikap seperti ini. Akan tetapi, bagaimana Stefani menuntutnya untuk bersikap layaknya pasangan kekasih.


“Masuk cepat!’ suruh Mahardika tidak mau mengalah.


Stefani menghentakan kakinya dan berjalan pergi.


Mata Mahardika membelalak tidak percaya melihatnya. Ia mengatakan pada dirinya bahwa ia haris memiliki kesabaran berlapis-lapis untuk bisa menghadapai gadis yang seperti ini.


Mahardika lekas keluar dari mobil dan mengejar Stefani. Ditangkapnya pergelangan tangan gadis itu dan ditariknya ke dekat mobil kembali. Pintu mobil miliknya disentak dengan kasar dan didorongnya tubuh Stefani ke dalam.


“Ini perbuatan yang tidak menyenangkan, Mas Dika! Kalau aku jahat, aku pasti akan membuatmu sangat menyesal!” kata Stefani.


“Baguslah! Dengan begitu kamu akan berhenti mengangguku selama beberapa hari karena aku mendekam di penjara, kan?”


Stefani cemberut seketika mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2