
Daisy tidak memikirkan hal buruk selain perselingkuhan yang kemungkinan diketahui Mahardika. Ia tahu Aida adalah wanita masa lalu papanya. Karena tidak mungkin seorang pria yang istrinya baru saja meninggal tiba-tiba saja bisa menemukan seorang wanita yang mau menikahinya tanpa perkenalan.
Daisy mengakui pesona papanya. Ibnu, papanya tampan. Foto-fotonya saat muda dengan seragam abu-abu atau juga dengan kemeja saat pertama kali bekerja di perusahaan keluarga mamanya Papa memang sangat tampan. Ia terlihat gagah dengan penampilan yang sederhana.
“Baiklah! Aku tidak akan marah saat Mas Dika bicara,” kata Daisy.
“Benar, ya?”
Perkataan demi perkataan Dika membuat Daisy semakin penasaran saja. Ada apa gerangan tentang papanya yang belum diketahui. “Ya, janji! Ada apa, sih, Mas? Kok saya jadi cemas mendengar Mas berkali-kali membuat saya berjanji?” Daisy tidak mampu bersikap tenang-tenang saja setelah apa yang dikatakan Mahardika.
“Soalnya aku sendiri kaget waktu papa kamu bicara, Daisy. Rasanya semua hal baik yang berusaha aku tanamkan di otakku sejak lama menjadi sia-sia saja. Astaga ... aku tidak tahu kenapa bertahan mendengar nasehatnya itu!” keluh Mahardika.
Daisy jadi semakin penasaran. Akan tetapi, ia sadar harus sabar menanti informasi yang akan disampai Mahardika. Kalau pria itu saja mengatakan ia cukup terkejut mendengar papanya bicara, pasti itu informasi baru yang belum diketahunya.
“Papa sama sekali tidak masalah kalau kamu menyukai Stefani sebagai manusia. Sungguh! Papa juga dulu menyukai seorang wanita saat sudah memiliki mamanya Daisy. Selama kamu bisa adil untuk keduanya, sama sekali tidak ada yang salah dengan hal semacam itu. Karena pada dasarnya, lelaki itu rakus!”
“Apa?” Daisy tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan Mahardika padanya. Apa maksudnya dengan semua kalimat-kalimat itu. Tak masalah kalau Mahardika menyukai Stefani? Yang penting harus adil? Ada terbersit sebuah dugaan di dada Daisy, tetapi ia ingin berpikir sangat positif. Bahwa iblis pun bisa menjadi malaikat kadang-kadang.
“Itu yang dikatakan papamu, Daisy! Dia mengajariku untuk menemukan wanita lain!”
Jantung Daisy menjadi tidak keruan saja. Ia merasa tidak nyaman karenanya. Walau ia sudah menduga kedatangan Aida ke rumah yang diperkenalkan sebagai ibu sambungnya sudah direncanakan bahkan sebelum kematian ibunya. Daisy sama sekali tidak menyangka kalau papanya berharap ia memiliki nasib yang sama seperti mamanya.
“Mas Dika akan mengikuti itu?” tanya Daisy.
“Apa kamu pikir aku gila Daisy?” tanya Mahardika. Daisy bisa mendengar suara helaan napas yang dalam. “Aku bermaksud merahasiakannya darimu, akan tetapi bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau dalam hubungan yang akan dijalin ini tidak boleh ada kebohongan?”
Daisy memang pernah membahasnya. Itu adalah komitmen mereka setelah diberitahukan menjadi pasangan masing-masing. Hal itu juga yang membuat mereka sama sekali tidak dihinggapi rasa curiga yang besar. Namun, kejadian Stefani sudah sedikit menguncang Daisy saat itu.
__ADS_1
“Maafkan saya, Mas, sudah mencurigai Mas Dika!” ujar Daisy menyadari kesalahannya sendiri.
“Tidak masalah! Aku harap kita bisa memewati ini.” Lalu ada keheningan di antara mereka selama beberapa saat. “Daisy, aku mau menemui orang pintar!”
“Eh? Kenapa jadinya ke orang pintar? Apa hubungannya orang pintar dan Papa?” tanya Daisy sama sekali tidak paham.
“Bukan! Ini bukan soal papamu. Ini soalmu!” Lalu Mahardika diam lagi untuk beberapa saat. Ia tentu memikirkan semua kata-kata yang akan diucapkannya. “Aku pernah pergi ke rumah orang pintas sebelumnya Daisy bersama Maulana. Apa aku sudah pernah mengatakannya padamu?” tanya Mahardika pada Daisy.
Rasanya memang benar Mahardika mengatakan hal itu tak lama ini. “Buat apa lagi ke sana! Mas Dika tidak usah pergi ke sana untuk saya. Saya rasa sudah memiliki solusi untuk masalah ini!” kata Daisy. Akan tetapi, tentu saja apa yang dikatakan Daisy bohong. Jangankan solusi, arti mimpinya saja sulit untuk ia pahami.
“Tidak! Aku harus melakukannya Daisy. Aku tidak mau menjadi orang bodoh yang tidak bisa membantumu. Padahal Maulana saja bisa membantumu tanpa dia sadari. Dia memberimu perasaan nyaman di dalam keluarganya yang tidak bisa kamu dapatkan di rumahmu sendiri.” Mahardika tampak frustrasi saat mengatakannya. “Karena itu, aku harus membantumu dengan cara yang aku bisa! Kamu pasti bisa kembali lagi ke tubuhmu Daisy!”
Daisy menghela napas juga, tidak bisa menolak keinginan Mahardika. “Baiklah! Lakukan yang Mas Dika pikir benar.”
“Terima kasih!” Mahardika terdengar lega karena Daisy sudah mengizinkannya.
Di pintu kamar Daisy terdengar ketukan pintu kini. Serta suara seseorang yang memanggil untuk keluar dan makan malam lebih awal. “Sepertinya saya harus memutuskan panggilan sekarang. Maaf, ya, Mas!” kata Daisy.
Ketukan di pintu kamar Daisy yang baru kembali terdengar. Daisy mengenali suara panggilan itu mirip Handoko. “Ya, Ayah! Saya akan segera keluar sekarang!” sahutnya supaya panggilan tersebut berhenti.
Ia meletakan ponselnya di atas ranjang, tepatnya di bantal. Lalu beringsut turun dari ranjang. Saat Daisy membuka pintu Handoko tersenyum di luar pintu. Tangannya membimbing Daisy untuk ke ruang makan yang bersatu dengan dapur. Maulana tengah menghidangkan kotak makan di sana. Kali ini menunya adalah sate madura.
“Yang ini manis dan milikku dan ayah pedas. Jadi kamu tenang saja, kamu bisa makan ini!” kata Maulana menerangkan.
Daisy mau tak mau tertawa karenanya. Ia kemudian duduk di kursi yang kosong dan menarik sate madura bagiannya. Dicicipinya kuah kacang sate sendikit dan ia mengangguk-angguk senang karean sesuai dengan perkataan Maulana. “Ini enak!’ puji Daisy.
Maulana tampak senang dengan pujian itu.
__ADS_1
***
Tak sia-sia rupanya Brian menunggu tak jauh dari gerbang rumah Daisy. Ia melihat mobil pickup yang melaju dengan kecepatan sedang, melewatinya begitu saja. Dengan jarak yang aman akhirnya ia mengikuti mobil pickup tersebut. Untungnya walau berkali-kali hampir ketahuan, Stefani tampaknya tak begitu peduli dengan kelebat wajahnya.
“Dasar ... bagaimana mungkin dia tidak sadar dengan keberadaanku di sini?” gumam Brian sambil merapatkan sedikit wajahnya ke setir supaya tidak dapat di kenali.
Ia melihat kakak lelaki Stefani memisahkan diri darinya. Yang membuat Brian kaget adalah tempat mobil pickup yang diikuti itu adalah tempat di mana ia akhirnya melihat Azzam. Rivalnya itu langsung bergegas menurunkan barang-barang takala pickup berhenti.
Brian membuka kata mobil dan membuang ludah karena merasa kesal atas tindakan Azzam. Bagaimana bisa Azzam bersikap sok baik pada Stefani sampai akhir.
Stefani dan keluarganya, juga ditambah Azzam masuk ke dalam rumah setelah mobil pickup pergi meninggalkan rumah. Ia pikir sebaiknya pergi saja, sebab toh sudah mengetahu di mana Stefani pindah. Ia bisa sering-sering ke sini setelah ini. Akan tetapi, kemudian ia melihat Azzam tak lama setelah itu berdua dengan Stefani.
Panas sekali hati Brian saat itu. Ia mendorong pintu untuk turun dan bergegas menghampiri Azzam di rumah kontrakan Stefani yang baru. Tampaknya Azzam juga tak menyadari keberadaannya. Pria itu tampak asyik mengobrol entah apa yang dibicarakan.
Lalu kemudian Stefani tiba-tiba saja menangis. Ia mengusap air matanya berkali-kali karena tak mau Azzam melihatnya.
Brian juga menghentikan langkahnya seketika itu juga. Ia menyadari kesalahannya yang akan mengkonfrontasi Azzam secara terang-terangan. Ini bukan gaya Brian. Ia tak bisa menujukan identitasnya sekarang dan kehilangan kesempatan untuk menjadi pahlawan untuk Stefani.
Segera Brian berbalik kembali dan menghubungi tiga orang yang susah dibayar untuk menganggu Stefani di kampusnya. Gadis yang dihubunginya langsung mengangkat telepon karena akhirnya senang dihubungi kembali. Artinya akan ada uang masuk untuk mereka bertiga.
“Aku tunggu kalian di tempat biasa! Jangan lama!” kata Brian.
Ia menyentak pintu mobilnya hingga terbuka kembali dan masuk ke dalam. Lalu melaju segera ke tempat yang dijanjikan.
“Di sini!” Salah seorang dari tiga gadis yang ditugaskan Brian untuk menganggu Stefani melambai di sudut ruangan. Kafe itu cukup sepi sekarang sehingga tidak akan ada orang yang akan mencengar pembicaraan mereka.
Brian lekas menghampiri ketiga gadis itu. “Apa kabar?” tanya berbasa-basi.
__ADS_1
Akan tetapi, ketiga gadis itu hanya menyeringai mengejek Brian.