
Aida menoleh pada Ibnu yang berlalu begitu saja. Mana semua kebiasaan manis yang dilakukan lelaki yang menikahinya setelah istri pertamanya meninggal itu. Memang apa yang salah? Aida hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja soal sarapan yang diketahuinya.
Aida sama sekali tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Maka ia lekas mengejar langkah kaki Ibnu yang tergesa-gesa pergi ke luar rumah.
“Mas! Mas Ibnu!” panggil Aida.
Tetapi, Ibnu sama sekali tidak berhenti. Bahkan menoleh pun tidak. Aida merasa dihukum atas sesuatu yang sama sekali tidak dilakukan. Ia yakin tidak melakukan kesalahan.
Jadi, ia hanya memandangi Ibnu yang melangkah dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga. Ia tetap di sana sampai mobil yang digunakan Ibnu menjauh dan keluar dari gerbang.
Tak lama setelah itu, Daisy juga keluar. Langkahnya cepat seperti hal Ibnu. Tiba-tiba saja Aida mendapat firasat kalau Daisylah yang menjadi penyebab sikap Ibnu berubah. Gadis itu pasti sudah mengatakan sesuatu pada suaminya hingga mengabaikan Aida seperti ini.
“Mau ke mana tergesa-gesa, Daisy?” tanya Aida ramah.
Daisy berhenti, menoleh cepat dan tampak tidak senang melihat Aida. Apa yang salah dengan orang-orang yang memiliki darah Aghra sebenarnya? Aida mau tak mau berpikir demikian.
“Saya mau menemui Mas Dika! Ada apa, Ma?” tanya Daisy ramah.
Aida sampai lupa tempat ia berada kini. Mereka sedang ada di luar pintu rumah. Dan di luar pintu rumah keluar mereka harus terlihat sangat sempurna.
“Kamu mengatakan sesuatu pada papamu, kan?” tuduh Aida lekas.
Ia berusaha mempertahankan senyum formal di wajahnya. Padahal ia ingin melompat dan menarik rambut Daisy dari kulit kepalanya.
“Memberitahu hal apa yang Mama maksud? Karena ada banyak hal yang harus aku perbincangkan dengan Papa. Pertama anggaran yang masih saja terpotong, kedua tentang Mama yang pergi seperti toko perhiasanya berjalan, ketiga--.” Daisy diam sebentar, mengumpulkan hal yang bisa disebut rahasia tentu saja. “Ah, saya ingat, ketiga tentang pria bertato yang berjalan dengan Mama di depan pasar.
Wajah Aida menjadi merah seketika. Ia benar-benar benci dengan anak-anak. Anak-anak seperti halnya Daisy membuat kesabaran semua orang tua menipis. Seperti kaa Tarco, kita tidak langsung mati hanya karena tidak memiliki anak.
__ADS_1
“Yang mana pun! Kamu akan memiliki keuntungan jika memberi tahu salah satu saja!”
Daisy tampak sangat kecewa. “Sayang sekali, saya tidak sempat mengatakan salah satu dari tiga hal yang Mama khawatirkan! Saya terlalu sibuk melakukan banyak hal sampai tidak bisa memikirkan hal tidak jelas seperti itu!” Daisy memperbaiki letak tasnya saat bicara. “Maaf, Ma, saya harus pergi sekarang!”
Aida ingin sekali meloncat dan menarik rambut dari kulit kepala Daisy. Benar-benar sangat ingin.
***
Apa sebaiknya Daisy tinggal di apartement saja? Dengan begitu ia tidak harus bertemu dengan Aida dan yang paling penting Papa. Kelogisan dan kewarasanya selalu saja diuji setiap kali dua orang itu berusaha sok akrab dengannya.
Ia ingin berteriak kepada kedua orang itu untuk bersikap seperti diri mereka sendiri dan tidak mencoba untuk menjadi orang lain terus-terusan karena tidak cocok.
“Ini membuatku sakit kepala!” keluh Daisy sambil membenturkan kepalanya ke setir mobil.
Mobil yang dikendarai Daisy berhenti di lampu merah. Jalanan pagi ibukota sangat padat dan menyiksa. Tetapi, Daisy tidak tergesa-gesa.
Ia berbelok masuk ke dalam kawasan perumahan elit setengah jam kemudian. Penjaga gerbang seperti yang ada di depan gerbang miliknya mengangkat topi untuk memberi penghormatan pada Daisy saat ia mengklakson untuk memberi tahu kedatangannya.
Daisy tersenyum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh si penjaga gerbang dan mengucapkan terima kasih karena sudah dipersilakan masuk.
Sarapan di rumah keluarga Mahardika belum di mulai. Nyonya rumah ada di depan, tengah memetik beberapa tangkai bunga segar untuk dimasukan ke dalam vas bunga. Anggota keluarga lainnya tampak bersiap di dalam.
Begitu Daisy turun dari mobilnya, wanita itu bergegas mendekatinya dan memeluk Daisy dengan hangat.
“Daisy! Apa kabar? Kamu datang disaat yang tepat! Sarapan di sini, ya?” pinta wanita yang tadi hendak memetik bunga-bunga segar.
“Baik, Tante. Saya kebetulan belum sarapan!” kata Daisy ramah.
__ADS_1
Si wanita yang tadi hendak memetika bunga memegang jemari Daisy dan mengayun-ayunnya saat berjalan seperti anak kecil. Ia membawa Daisy ke ruang makan lekas, menempatkan Daisy di kursi sebelah kanan di samping putranya.
Si wanita yang hendak memetik bunga tadi, yang adalah maminya Mahardika mengutus pelayan untuk memberitahukan kedatangan Daisy pada sang putra. Selama pelayan pergi, si wanita meminta Daisy memakan salad buah yang dinilai terlalu manis dan meminum susu. Solagannya hampir sana dengan slogan susu di televisi.
“Daisy?!”
Daisy menoleh saat mendengar suara Mahardika. Napas tunangan Daisy itu cepat dan sesak. Tampaknya saat mendengar dari pelayan kalau Daisy ada di sini, Mahardika berlari seperti orang gila.
“Hai, Mas!” sapa Daisy riang. Matanya melirik dengan ketakutan pada pancake yang tampaknya terlalu manis untuk di makan.
Akan tetapi, Mahardika malah berpura-pura tidak tahu. Ia duduk di kursi Daisy dan mengambil jenis sarapan yang diinginkan.
Makanya Daisy jadi terpaksa membuka mulut lebar-lebar menerima suapan besar pancake yang rasanya sama manis dengan jenis sarapan yang lain.
“Tidak biasanya kamu ke rumahku? Ada apa?” tanya Mahardika setelah meneguk roti berbarengan dengan susu. “Apa ini ada hubungannya dengan papamu lagi?” Pada pertanyaan terakhir, Mahardika berbisik. Sebisa mungkin membuat maminta tidak mendengar.
Setelah menolak suapan makanan berikutnya, Daisy mengangguk kepada Mahardika. Artinya masalah yang dihadapi sekarang masih dari orang yang sama.
“Aku tidak tahu apa yang diinginkan Papa. Pagi ini dia datang ke kamarku hanya untuk bertanya apa aku akan sarapan di bawah atau tidak? Tidakkah itu membuat Mas Dika heran?”
Mahardika membelalakan mata tidak percaya. Jadi bukan hanya menanyakan bagaimana kabar kuliah Daisy, kali ini ia juga berusaha memperhatikan makan putri yang hampir delapan tahun diabaikan.
“Mas, apa sih yang dicari seorang wanita yang sudah menikah ke pasar?” Daisy mengingat pertemuannya kemarind engan Aida.
“Pasar?” Mahardka tampak berusaha menemukan jawaban yang paling logis. “Mungkin belanja kebutuhan poko di rumah. Kadang-kadang mami juga melakukannya!”
Daisy menekur sebentar, mengabaikan makanan yang datang selanjutnya. Ia tidak ingat ada kantong belanjaan di tangan Aida. Ia juga tidak melihatnya mengantri di depan mobil Aida. Kalau memang Aida belanja maka pasti akan banyak orang yang mengaku menemukannya.
__ADS_1
“Jika kamu tidak membuka mulut sekarang, maka Mami akan marah!” Mahardika mengingat dan dengan terpaksa Daisy membuka mulut lebar-lebar.
“Ada siapa ini? Daisy?” tanya papi Mahardika dingin.