Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Mungkin Saja Saya Tidak Tahu


__ADS_3

“Anda mau saya antarkan ke suatu tempat Tuan?”


Ibnu terperanjat, mengangkat kepala dan menyadari kalau dirinya sudah ada di tempat para pekerja di rumahnya beristirahat, garasi yang terhubung dengan dapur utama.


Ibnu sendiri nyaris tidak mengerti kenapa dirinya bisa sampai ada di sini. Ia yakin kalau dirinya tadi hanya berjalan tanpa arah. Sedikit berniat ke makam istrinya untuk mengeluh dan tiba-tiba sudah ada di garasi.


Karena tidak bisa berbalik dengan tiba-tiba, Ibnu memikirkan sebuah tempat yang bisa dikunjungi dengan mobil dan cukup jauh pulang pergi sehingga ia bisa berpikir.


“Antar saya melihat beberapa pereusahaan kecil yang melakukan merger dengan perusahaan Aghra.” Akhirnya hanya itu yang bisa diputuskan oleh Ibnu.


Handoko, sopir putrinya meletakan gelas kopi dan mengambil seragam yang dilepas dan digantungkan di belakang. Setelah seragamnya terpasang, ia segera bergerak dengan tergesa-gesa menuju mobil.


“Bapak mau saya pakai kendaraan yang mana?” tanya Handoko ingin tahu.


“Terserah kamu saja!” kata Ibnu lekas. “Kalau kita berdua saja, bisa kan kalau kamu tidak terlalu formal?”


Handoko menoleh pada Handoko saat bertanya. Tetapi, hanya itu saja. Pria yang usianya hanya terpaut beberapa bulan dari Ibnu tersebut hanya memembukakan pintu mobil supaya majikan yang pernah menjadi teman sekolahnya itu bisa masuk.


Handoko melaju dengan pelan melintasi halaman dan sampai di jalan utama kota. Mereka hanya bicara jika menunjukkan jalan saja.


“Tuan, apa saya boleh sedikit lancang sedikit?” tanya Handoko saat mereka berhenti di lampu merah ketiga.


“Apa?” Ibnu mulai bicara santai.


“Apa hubungan Anda dan Nona baik-baik saja? Saya bertanya pada Nona kapan terakhir kali kalian makan bersama. Nona bilang tadi pagi.”


Ibnu tahu untuk memperbaiki hubungannya dengan Daisy diperlukan banyak usaha. Menyembunyikan kenyataan tentang buruknya hubungan dengan sang putri tidak akan banyak membantu.


“Aku tahu sudah melakukan kesalahan!” kata Ibnu mengaku. “Tapi, aku melakukan semuanya untuk Daisy. Sungguh, semua hal yang aku lakukan untuk Daisy dan tidak ada yang bisa menyangkal hal itu!” kata Ibnu berapi-api. Padahal ia tahu kalau Handoko bukan orang yang aka menyampaikan apa yang diinginkan pada putrinya itu.


“Hubungan saya dan Stefani juga tidak baik, Tuan!” kata Handoko.

__ADS_1


“Tolong, jangan panggil aku begitu! Aku sudah cukup merasa sangat jauh dari orang-orang sekarang sampai aku ingin jadi pengemis saja.”


Handoko tertawa mendengarnya. “Dia tiba-tiba menjadi baik dan kemudian kembali seperti semula. Dia berubah menjadi orang lain dan kembali menyadari kalau hal yang dia lakukan percuma. Aku juga seburuk itu menjadi seorang ayah!” Handoko membuat pengakuan yang mengejutkan.


“Kita ayah yang buruk!”


“Kenapa kamu menikahi Aida, Ibnu. Aku tahu kalau kamu pernah berpacaran dengan Aida, tetapi itu sudah lama sekali. Sudah berlalu 12 tahun sehingga tidak mungkin perasaan itu sekuat saat masih SMA.”


Ibnu menimbang-nimbang memutuskan apa yang akan diberikan sebagai jawaban kepada Handoko. Tetapi, kemudian ia memutuskan kalau tidak ada hal yang harus dirahasiakan lagi untuk sekarang ini.


“Aida mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saat kami bertemu kembali keadaannya sangat buruk dan mantan suaminya mengancam akan menjual Aida jika tidak mendapatkan uang!”


“Kamu membeli keselamatan Aida?” tanya Handoko kaget.


“Dia membutuhkan perlindungan dan putriku membutuhkan sosok seorang ibu!” Suara Ibnu kecil. Ia tahu kalau sudah membuat keputusan yang salah untuk Daisy. Seharusnya ia bertanya pada putrinya itu apa yang ingin dilakukan. “Lalu kemudian aku menyadari kalau sudah membuat kesalahan dan aku tidak bisa memperbaikinya!”


“Tidakkah kamu pikir kalau putrimu berhak untuk mengetahui alasan kenapa kamu menikah lagi?”


Ibnu tertawa kecil. “Apa kamu pikir anak sepintar Daisy tidak tahu alasan aku menikah lagi setelah hampir 8 tahun berlalu?” tanya Ibnu.


“Dia mungkin tahu. Tapi, bisa saja salah paham!”


Ibnu tersentak. Kemudian menyadari kalau dirinya mungkin memang membutuhkan waktu untuk bicara dengan Daisy apapun yang terjadi.


***


Daisy membenamkan dirinya di dalam kasur empuk. Bantalnya sengaja ditumpuk sehingga menjadi benteng kecil untuk dirinya sendiri. Daisy ingat kapan sering memainkan permainan ini dulu. Lalu ia juga ingat siapa yang sudah mengajarinya permainan seperti ini.


“Apanya yang minum teh? Dia pasti cuma ingin bertanya tentang kenapa aku makan bersama mereka?” runggut Daisy.


Karena kegerahan dan merasa menjadi terlalu dekat dengan orang yang dibenci, Daisy memutuskan untuk menendang semua bantal yang ada di sekelilingnya hingga jatuh ke lantai.

__ADS_1


Ia memandang ke sekeliling kamar. Tetapi, tidak ada hal yang dikiranya bisa mengalihkan pikiran. Maka Dasy berjingkat ke balkonnya mencari-cari Handoko, sopirnya. Ia ingin tahu apa yang sedang dikerjakan pria tua itu. Ia juga sudah bersikap tidak sopan kepada Handoko saat berada di atas mobil tadi.


Namun, dilihatnya Handoko tengah berjalan tergesa-gesa diiringi papanya. Ke mana kira-kira papanya memerintahkan Handoko pergi? Jelas Handoko tidak bisa menolak jika majikannya meminta di antar.


Sedikit tidak senang karena orangnya dimanfaatkan seenaknya oleh sang papa, Daisy berpikir untuk menghentikan hal itu.


Ia berlari menuju pintu segera dan hampir saja menabrak Raise yang masuk dengan minuman yang diminta Daisy tadi.


“Taruh saja minumannya di sana! Aku mau ke bawah!”serunya pada Daisy sambil terus berlari.


Raise berteriak supaya Daisy sedikit berhati-hati dengan langkah kakinya. Daisy menyerukan kata “Ya” saat sampai di tangga.


Ia mendapatkan tatapan ingin tahu dari pelayan lain yang berpapasan dengannya di tangga dan ruang tamu. Tapi, hanya sebatas itu saja. Mereka mengabaikan Daisy dengan segera.


Akan tetapi, saat sampai di pintu depan, mobil miliknya yang kini digunakan sang papa sudah melaju pergi ke gerbang. Daisy tidak mungkin dengan cara memalukan mengejar mobil yang tidak bergerak. Hal tersebut melelahkan dan hanya menambah frustrasi saja.


“Hei, kamu yang di sana itu!” Daisy memanggil seorang pekerja yang tengah memegang sapu lidi.


“Saya Nona?” tanya si pekerja kaget.


“Ya!”


Si pelayan dengan langkah kaki kecil dan tepat mendekati Daisy. “Ya, Nona?”


“Pak Ibnu dan Pak Handoko mau ke mana?” tanya Daisy ingin tahu.


Si pelayan menelengkan kepala lalu mengeleng. Daisy benar-benar kecewa dengan kejadian itu. Ia berharap diberik petunjuk tentang nama sebuah tempat sehingga Daisy bisa mengikuti.


“Kamu kembalilah!” usir Daisy segera.


Ia tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Ia terlalu kesal untuk berada di dalam rumah. Tiba-tiba saja Daisy mendapatkan ide secara mendadak. Bagaimana kalau ia mengikuti mobil papanya saja?

__ADS_1


__ADS_2