
Semua manusia punya masalah. Jangankan manusia, hewan bahkan memiliki masalah seperti kehilangan persedian makanan dan juga jumlahnya yang berkurang terus menerus. Jadi, jika Maulana atau Mahardika mendapat masalah tidak ada yang menarik.
“Kita sudah sampai di lift dan apa masalahnya?” tanya Mahardika saat Maulana masih juga belum bicara apa-apa.
“Stefani marah padaku!” Maulana memulai ceritanya. “Dia berkata kalau aku terlalu berlebihan mengekangnya dengan sekitar. Aku tidak melakukan hal yang seperti itu, Mahardika. Aku hanya tidak ingin orang-orang melukai adikku saja!” kata Maulana menjelaskan.
“Akhirnya adikmu sadar apa yang sudah kamu lakukan, ya?” Mahardika terdengar mengejek.
Maulana tampak kesal dan hanya memalingkan wajah saja. Namun, ia sama sekali tidak menyangkal kesalahan yang dilakukannya seperti saat berbicara pada Stefani tadi. Ia tahu kalau memang sudah melakukan hal itu sejak lama. Ia menjauhkan Stefani dari orang-orang yang berusaha mendekati gadis itu terutama laki-laki.
“Aku tahu kamu menyayanginya, Maulana! Tapi, adikmu tidak akan selamanya jadi anak kecil yang tempramental!”
Mahardika berharap Stefani tidak selamanya menjadi seperti yang dikatakannya. Karena sekarang saja ia sudah cukup kesulitan untuk membuat Stefani tenang.
“Ah, aku tidak tahu kalau selama ini sudah sangat menyulitkannya!” keluh Maulana sekali lagi.
Wajahnya menjadi semakin buruk saja. Rasanya Mahardika ingin memukul kepala pria itu dengan sesuatu supaya bisa sadar. Tetapi, ia tak bisa melakuka n hal itu. Dirangkulnya bahu Maulana dan diremasnya sedikit. “Kamu bisa melakukannya dengan lebih baik sekarang. Karena Stefani sudah mengatakan kalau ia tak suka dikekang, sepertinya kamu harus melakukan seperti yang diinginkannya.
“Baiklah! Aku bisa minta maaf padanya setelah sampai di rumah sore nanti.”
“Kamu bisa meneleponnya sekarang jika ingin!” usul Mahardika.
“Dia pergi dengan Azzam ke toko buku. Dia tidak akan mengangkat teleponku!”
Mahardika pernah bertanya tentang siapa Azzam ini dan perasaannya mendadak menjadi tidak enak sekarang. Walau pun ia berkata pada dirinya sendiri kalau yang diajak oleh Azzam adalah Stefani, tetapi Mahardika sangat tahu kalau di dalam tubuh Stefani ada jiwa Daisy.
“Kenapa kamu berhenti berjalan?” Maulana yang sudah melangkah ke depan lebih dulu menoleh kembali ke belakang.
__ADS_1
Mahardika sedang berniat untuk berbalik ke belakang dan mencari Daisy sekarang juga. Ia tidak rela jiwa tunangannya berkencan dengan pemuda lain. Tidak, bagaimana kalau Daisy benar-benar menyukai pria itu.
“Apa yang kamu lakukan? Tidak keluar dari lift?” Maulana menanti di lorong setelah keluar dari pintu.
Mahardika masih memiliki keinginan untuk kembali ke bawah, sampai di tempat parkir dan kemudian melaju menuju ke tempat Stefani. Tapi, ia tak tahu tujuan gadis itu sekarang. Maka, Mahardika hanya bisa melangkahkan kaki keluar lift mengikuti Maulana. Perasaannya kini sama buruknya dengan pria yang diikuti kini.
***
Tempat parkir toko buku yang dituju Azzam ada di kiri gedung, karena itu setelah menurunkan Stefani di depan, ia pergi ke tempat parkir dan baru berjalan pelan menuju ke pintu masuk toko buku.
“Apa kamu lama menungguku?” tanya Azzam.
Kepala Stefani mengeleng dan ia melongokan kepalanya pada deretan rak alat tulis untuk bisa menemukan tangga ke lantai dua tempat buku-buku dipajang. Tampak tidak sabar naik ke lantai dua.
“Ayo masuk! Padahal kamu bisa masuk dulu baru mengirimkan pesan di mana kamu berada!” kata Azzam.
“Aku bisa berjalan sendiri tanpa dituntun!” kata Stefani pada Azzam.
Azzam dengan sedikit enggan melepaskan genggam tangannya. Ia kemudian melangkah lebih dulu di depan Stefani, supaya tak membuat agds itu tak nyaman. Sebuah kemajuan karena Stefani mau pergi dengannya ke tempat seperti ini.
Ini kencan!” Kepala Azzam berteriak keras karena girang. Ia merasakan panas menjalar di wajahnya karena malu. Lantas ia berbelok segera ke arah deretan buku yang dipamerkan di dalam bungkusnya sebelum dibeli seseorang.
Azzam dengan cepat mendapatkan semua buku yang diinginkan. Ia mulai menjulurkan leher untuk melihat di antara rak-rak buku yang rendah dan menemukan Stefani di sana. Tetapi, ia tak menemukan gadis yang dicari. Apakah Stefani sedang menunduk untuk menemukan sesuatu di rak bawah?
Jadi Azzam membenarkan pikiran itu dan berjalan dengan pelan menyisir rak-rak buku yang rendah. Sesekali menjulurkan lehernya untuk melihat sesuatu yang lebih jauh di antara rak-rak buku.
Ia menemukan Stefani akhirnya sedang bersandar di tembok, menikmati sebuah buku tentang psikologis manusia yang memiliki tekanan dan membuat banyak sifat berbeda di dalam dirinya sendiri.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka kalau kamu tertarik dengan psikologi.”
Stefani terkejut, menjatuhkan buku yang sedang dibaca dan menoleh dengan cepat pada Azzam.
Azzam mengangkat tangannya meminta maaf. Dengan cepat ia menunduk dan menyambar buku yang ada di lantai, memberikannya kembali kepada Stefani.
“Tidak apa dan terima kasih!” Stefani menerima kembali buku yang disodorkan padanya. Akan tetapi, tidak membacanya. Buku tentang psikologi itu ditaruh kembali di tempat semula.
“Kamu sudah menemukan buku-bukumu?” tanya Stefani.
Azzam mengangkat tinggi pencapaiannya dan tersenyum bangga. Stefani juga melakukan hal yang sama.
“Hanya satu?” tanya Azzam ingin tahu.
“Ya, hanya satu. Ini pun butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Jangan khawatir!” kata Stefani.
Azzam berjalan lebih dulu ke meja kasir, menyerahkan miliknya dan mengambil milik Stefani sekalian untuk dibayar. Stefani dengan segera memukul bahunya, memprotes tindakan Azzam.
“Hei, aku yang mengajakmu untuk ke sini, jadi biarkan aku membayar buku yang satu itu!”
Stefani tampaknya masih memiliki tenaga untuk memprotes apa yang dilakukan Azzam.
“Kalau kamu mau melakukan sesuatu, bisa belikan aku minuman dingin nanti?” tanya Azzam.
Ia rasa itu sudah cukup untuk timbal balik bayaran bukunya. Tapi, Stefani masih saja cemberut. Ia meninggalkan Azzam di depan meja kasir dan turun dari tangga. Akan tetapi, Azzam yakin kalau Stefani tidak akan pulang semudah itu.
Saat ia turun tangga, gadis itu ada di ambang pintu keluar, menanti dengan tatapan tidak sabar.
__ADS_1