Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Hanya Karena Kamu Pengecut!


__ADS_3

Apa benar Stefani dan Nona Daisy seakrab ini? Handoko jadi sangat penasaran.


Akan tetapi, dari yang dilihatnya kemarin, pertemanan seperti yang dikatakan majikan kecilnya sama sekali tidak benar. Jadi hanya ada satu hal yang bisa terpikirkan oleh Handoko sebagai jawaban, Nona Daisy kasihan dengan sikap Stefani makanya ia berkata demikian.


Hidangan yang dipesankan oleh Daisy adalah lele bakar dan lalapan. Ada sambal yang baunya wangi diletakan di atas piring kecil. Bakul nasi diletakan di tengah-tengah meja supaya tidak  terlalu mendesak piring makan yang ada di hadapan Handoko.


“Nona, ini terlalu banyak,” ujar Handoko setelah pelayan yang meletakan makanan pergi.


Daisy yang sedang mengobrol tentang buku yang akan keluar dengan temannya lekas menoleh pada Handoko. “Benarkah?” tanya Daisy terdengar tidak percaya. Majikan kecil Handoko itu berdiri sebentar dan kemudian memperhatikan isi meja. “Ini sama sekali tidak banyak, Pak Handoko. Ini sama seperti porsi biasanya yang Bapak makan di rumah!” jawab Daisy dengan yakin.


“Tapi, Nona--.” Handoko masih ingin protes.


“Karena saya yang belikan, maka ini tidak memakai uang makan siang Bapak! Jangan khawatir! Apa perlu memesannya untuk bawa pulang untuk Kak Maulana?” Daisy memiringkan kepalanya saat bertanya.


Handoko terkejut dengan tawaran murah hati tersebut, tetapi lekas mengelengkan kepalanya. “Tidak, Nona! Maulana pasti sudah makan siang di kantor!”


Daisy tersenyum simpul mendengarnya. “Kalau begitu, Bapak harus makan sampai habis semuanya, oke? Soalnya yang sudah dipesan tidak bisa dikembalikan lagi!”


***


Hal yang dipikirkan oleh ayah Stefani saat melihat makanan enak di depan matanya adalah putri dan anak lelakinya. Saat pertama berada di tubuh Stefani, Daisy jelas merasa asing dengan sikap itu. Karena pada dasarnya papa Daisy sangat acuh padanya. Lalu lama-lama ia menantikan momen di mana ayah Stefani bertanya apa yang ingin dimakan. Rasanya hal yang tidak akan pernah dirasakan kini menjadi kenyataan. Walau yang diperhatikan Handoko bukan Daisy, melainkan putrinya sendiri.


“Apa kamu tidak ada kuliah lain hari ini?” Azzam bertanya pada Daisy.

__ADS_1


Segera menyentak Daisy dari lamunannya. Membuat Daisy mengalihkan pandangannya dari Maya--sebagai alasan ia bisa memperhatikan Handoko diam-diam--kepada Azzam. Rasa penasaran Azzam sedikit menganggu, tetapi juga baik tujuannya.


“Tidak ada, sayangnya! Dua dosen yang seharusnya masuk siang ini hanya menitipkan tugas dan kami dibebaskan!” jawab Daisy.


Maya menambakan anggukan kepala saat Azzam menoleh. “Aku akan coba telepon Stefani dan memintanya datang ke sini!” kata Azzam. Tetapi ia kemudian menyadari sesuatu dan menoleh pada Handoko, ayahnya Stefani. “Apa Bapak mau menelepon Stefani? Dia pasti akan lebih bergegas jika Anda mengatakan kalau ada di sini sekarang!”


Handoko tampak terkejut. Daisy tahu alasannya. Tetapi, Handoko tidak akan bisa memberitahu alasan itu secara langsung pada Azzam.


“Ponsel Pak Handoko sedang rusak. Sementara aku tidak memiliki nomor Daisy. Karena itu aku memanggilmu tadi, Azzam!” kata Daisy.


Azzam mengangguk-angguk paham. Ia menekan dial dan menepelkan benda pipih itu di telinganya kini. Butuh beberapa saat sebelum Azzam menyerukan kata “Halo” pada pesawat telepon yang ada di telinganya.


“Stefani! Bisakah kamu ke kafe di samping gedung jurusan? Ayahmu ke sini dan juga beberapa teman.” Azzam diam sebentar mendengarkan jawaban Stefani. Dari kernyitan di dahinya, Daisy tahu kalau Stefani bertanya untuk apa ayahnya mencari ke kampus. “Aku tidak tahu! Kemari saja dan dengarkan, oke? Apa aku perlu menjemputmu ke dalam?” Lalu Azzam menoleh ke arah luar kafe dan mengatakan kalau ia bisa melihat Stefani sekarang.


“Tampaknya dia malu karena didengar oleh banyak orang! Aku akan ke sana!” Daisy berdiri dari duduknya. Handoko melakukan hal yang sam aa. “Tolong makan saja makanan yang sudah dipesan, Pak! Saya akan menemui Stefani sendirian!” Daisy tersenyum dengan penuh keyakinan.


“Tapi, Nona!”


Seketika Daisy menjadi cemberut. “Saya mohon! Saya bisa mengatasinya sendiri. Dia memang tipe yang seperti itu, meledak-ledak, tetapi saya rasa itu bukan hal yang buruk!” Lalu ia meninggalkan meja mereka.


“Aku bertanya-tanya siapa yang sudah membuat Azzam terdengar bersemangat! Jadi, apa kamu akhirnya menambah target koleksi priamu?” Stefani bertanya dengan sarkasme.


“Ah?” Daisy mau tidak mau menoleh ke belakang pada Azzam, Handoko, dan Maya yang tengah memperhatikan mereka berdua. “Jangan bicara sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu. Kapan aku memiliki hobi mengumpulkan pria.”

__ADS_1


Stefani tampak muak. Ia hampir akan berbalik.


“Aku tidak tahu seberapa dalam kebencianmu padaku. Tapi, aku tidak menyangka kamu berani memanfaatkan orang lain untuk menghukum tubuhmu sendiri. Apa kamu berpikir apa yang terjadi seadainya para gadis itu melakukan hal lebih buruk selain mendorong dan memukuli?”


Stefani diam sebentar. “Aku tidak memikirkannya. Aku memang sebodoh itu, kan?”


Daisy tahu kalau percuma bicara dengan Stefani saat ia tak mau mendengar. “Apa untungnya mencari kebahagian dari orang lain kalau kamu memiliki banyak sekali orang yang menyayangimu, Stefani!”


“Lihat, kamu mulai berceramah! Bagian mana dari hidupku yang disebut dengan kebahagiaan. Ayah yang tidak bicara padaku? Kakak yang berkata kalau aku adalah pembunuh ibu? Atau kehidupan yang bahkan tidak membiarkanku menjadi orang berada?”


Daisy sedih mendengarnya. “Buka matamu Stefani! Kumohon!”


Stefani tertawa dengan suara keras. “Jadi sekarang kamu menempatkan dirimu sebagai orang malang? Ah?”


“Ada beberapa hal yang tidak kuketahui rasanya. Dan hidupku tidak segampang kelihatannya, Stefani. Kalau kamu sudah menjadi diriku, kamu pasti tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang mendekatiku yang tulus mau jadi temanku! Mereka hanya menghargai kekayaan yang aku miliki.”


“Lalu apa salahnya dengan itu? Jika uang bisa membeli cinta, maka gunakan uangmu itu! Kamu tidak perlu bersikap naif!” seru Stefani.


“Hal yang kuinginkan tidak bisa dibeli dengan uang!” Daisy menoleh pada ketiga orang yang duduk di dalam kafe, melambai, memberikan tanda kalau pembicaraan mereka baik-baik saja. Walau Daisy tidak yakin kalau Handoko akan percaya.


“Ada beberapa hal yang kadang tidak bisa kamu beli walau memiliki uang banyak, Stefani!” Daisy memberikan penekanan.


“Hanya karena kamu pengecut saja, kan?” Stefani berbalik dan meninggalkan Daisy begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2