
Dia bulan gadis polos seperti sebelumnya!
Kalimat itu mengema di dalam kepala Andien. Ia merasa sangat marah dan ingin berteriak. Rasanya usaha Andien untuk bersikap baik pada Stefani mendadak menjadi sia-sia. Ia menoleh ke sekitar. Orang-orang yang melewati Andien menatapnya dengan heran. Padahal ia tak membutuhkan tatapan penuh rasa kasihan tersebut.
Ada beberapa orang yang mengenalnya bertanya apakah Andien baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja!” jawab Andien sambil tersenyum senang. Ia kemudian bergegas menyusul Stefani ke kelas dan menemukan gadis itu duduk sambil membaca catatannya. Ia tampak sangat berkonsentrasi seperti biasa.
Andien menjatuhkan diri di kursi di depan Stefani, menarik buku catatan yang sedang dibaca gadis itu.
“Kembalikan!” Stefani memberikan penekanan kepada kata-katanya.
Adien gentar sebentar, tetapi tak mengembalikan buku catatan itu ke tangan Stefani. “Kamu tidak bisa begini padaku! Aku sudah menjadi satu-satunya teman yang mau dekat denganmu!”
Stefani menaikan alisnya sedikit. Lalu ia tertawa. Stefani berdiri, menarik buku catatannya dengan paksa dari tangan Adien. “Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan itu, bukan! Jadi jangan bersikap kalau kamu mengalami kerugian.”
“Kamu seperti orang lain!”
Stefani memperhatikan sebentar. “Memang orang lain!” jawab Stefani lekas tanpa perasaan.
Wajah Andien mendadak terasa panas sekarang. Ia ingin bicara kembali, membuat Stefani menaruh perhatian padanya. Tetapi ia yakin kalau hasilnya akan sama saja sia-sia. Jadi, ia menarik buku catatan Stefani hingga helaiannya robek dan melemparkannya ke lantai.
Adien akan pergi saat ia merasakan seseorang menarik rambutnya. Andien terpekik kesakitan.
“APA YANG KAMU LAKUKAN!” teriak Andien.
__ADS_1
Rambutnya ditarik lebih keras. Ia bisa merasakan seseorang bernapas di tengkuknya. “Kamu tidak berpikir bisa melarikan diri setelah membuat kesalahan, kan? Kamu menganggu orang yang salah!”
Andien begidik ngeri karena bisikan itu. Ia berteriak-teriak pada orang-orang didekatnya untuk minta tolong. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berusaha untuk melakukan sesuatu. Andien merasa menjadi binatang sirkus.
“LEPASKAN! LEPASKAN AKU, STEFANI!” Andien berteriak. Ia berharap ada seseorang yang menyelamatkannya.
***
“STEFANI!”
Stefani melirik ke pintu. Ia melihat Azzam berdiri dengan gagah di sana. Pemuda itu melemparkan tas yang disandangnya di bahu sebelah kanan ke lantai dan mendekati Stefani seketika. Ia mengenggam tangan Stefani dan memintanya untuk melepaskan Andien.
“Tolong lepaskan dia! Kamu akan dapat masalah!”
Stefani menghela napas dalam dan melepaskan genggamannya pada rambut Andien. Di dalam genggamannya ia menemukan gumpalan rambut yang putus atau juga tercabut dari kulit kepala Andien. Ia meniupnya di depan Andien dengan senyum mengejek.
Andien bersikap sebagai korban pada Azzam.
Stefani melirik Azzam, menunggu reaksinya tetapi pemuda itu sama sekali tidak melakukan apa-apa. Tampaknya Azzam sedang menunggu pembelaan diri dari Stefani. Sayangnya Stefani sama sekali tidak ingin membela diri.
“Aku memang menarik rambutnya karena kesal!” kata Stefani.
Azzam tampak tercenggang dengan pengakuan Stefani itu. Matanya seolah berkata sebenarnya apa yang sedang dilakukan Stefani.
“Bagaimana kamu kesal padanya?” tanya Azzam mencoba bersikap selogis mungkin.
__ADS_1
“Tidak ada! Dia terus-terusan menempel padaku dan membuat kesal. Karena dia tidak mau pergi, aku menarik rambutnya untuk membuat dia mendapatkan pelajaran!” kata Stefani menjelaskan.
Stefani berbalik dan memungguti helaian buku catatannya yang berserakan di lantai karena tarikan Andien tadi. Tanpa menunggu keputusan Azzam apakah ia bersalaha atau tidak, Stefani duduk di kursinya kembali.
Ia mencoba menyusun catatan yang tidak lagi tampak seperti bentuk aslinya.
“Maaf, aku lihat Andien menarik buku catatan Stefani saat akan pergi sampai robek. Jadi, karena itu Stefani marah!”
Stefani menjadi kesal kembali pada mulut-mulut yang tidak bisa menahan diri dan menjadi pahlawan. Padahal Stefani sudah bertekad untuk menjadi penjahat supaya bisa menjauh dari Azzam. Ia tak mau lagi menjadi gadis polos baik hati seperti yang ada di mata Azzam.
“Tidak! Aku hanya menarik rambutnya karena kesal!” sela Stefani.
Ia bisa mendengar Azzam membuang napas. “Aku senang karena kamu membela temanmu, Stefani, setelah semua yang dia lakukan dan pertengkaran kalian! Tapi, kamu tidak bisa menyembunyikan kesalahan orang lain!”
Azzam menatap pada Andien. Entah apa maksud tatapannya itu karena Andien tampak ketakutan.
“Aku tidak melakukan hal itu! Mereka hanya memfitnahku!” kata Adien.
Ia tidak lagi pura-pura menangis. Air matanya meleleh di pipi. Tetapi, tampaknya air mata itu sama sekali tidak berpengaruh pada Azzam. Karena Azzam hanya menghela napas dalam.
“Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan!” kata Azzam pada Andien.
Azzam berjalan ke arah tasnya, menarik benda itu dan meletakan kembali tali tas dibahunya. Kemudian ia menunggu Andien cukup dekat dengannya dan membiarkan gadis itu berjalan lebih dulu.
“Stefani, aku akan bicara denganmu lagi nanti!”
__ADS_1
Stefani tidak mau bicara dengan Azzam. Tetapi, dosen malah masuk tak lama kemudian dan membuat langkah Stefani terhenti di tempat.