
Dia memanggilku dengan nama? Setelah hampir tiga tahun, akhirnya dia mengabulkan permintaanku.
Azzam benar-benar mau berteriak seperti orang gila karena kegirangan, tetapi ia tak mau membuat hal yang memalukan di depan Stefani. Mata indah yang selalu sayu itu menatapnya menengadah karena keheranan juga ingin tahu.
“Ada apa?” tanya Stefani polos.
Azzam mengeleng. “Tidak ada! Hanya senang saja!”
Stefani masih belum beranjak pergi. Ia tampak canggung dan sedikit takut. Pasti ada sesuatu yang terjadi, tetapi ia tak mau bertanya. Selama ini Stefani hampir tidak memberikan respon yang positif terhadap usahanya.
“Senang untuk apa?” tanya Stefani, masih dengan tatapan polos yang baru pertama kali dilihat Azzam.
Biasanya Stefani seolah mengulitnya habis-habis, membuatnya tak bisa banyak berkata-kata. Tetapi, rasa sukanya tidak juga surut walau sudah terang-terangan ditolak gadis di depannya ini.
Azzam ingat pada kado yang akan diberikannya pada Stefani. Anehnya kali ini Stefani akan menerima kado itu. Kado yang tidak mahal tetapi tetap saja membutuhkan beberapa hari untuk mengumpulkan uang yang cukup untuk membelinya.
“Aku punya sesuatu untukmu!” kata Azzam.
Kotak kecil yang ada di dalam tas akhisnya keluar. Jantungnya berdetak keras saat menyerahkan kotak itu pada Stefani.
“Untukku?”
Stefani tampak senang, begitu polos dan jujur dalam tatapannya. Azzam bertanya-tanya apakah selama ini buta atau terlalu takut untuk melihat sisi Stefani yang seperti ini. Gadis itu tersenyum manis sekali. Mampu merontokan semua kegagalan yang mencongkol di dalam dadanya selama ini, membuat benih baru timbul.
“Ya, kamu tidak suka?” tanya Azzam hati-hati.
Ia mengingat baik-baik setiap penolakan Stefani. Tetapi, bukannya ia masih saja terus berusaha walau ditolak berulang kali. Ia tetap menatap punggu Stefani yang menjauh dengan cepat. Belakangan ia bahkan merasa kalau Stefani menyatu dengan udara.
“Ini benar-benar untukku? Sungguh?”
Tangan Stefani mengambil kotak yang disodorkan Azzam. Pipinya yang kemerahan saat mendekap kotak itu di dadanya memberi pertanda kalau kali ini gadis itu menerima hadiahnya.
“Boleh aku buka?” tanya Stefani pada Azzam.
Mata gadis itu berbinar-binar saat menatapnya.
“Bisakah kamu membukanya nanti saat sendirian di rumah?” tanya Azzam.
Rasa malu merayap dengan cepat di dalam hatinya. Bagai laba-laba besar di dalam sana.
Stefani balas menatap Azzam. Lalu tersenyum sangat manis. Senyum yang jarang dilihat Azzam. Kepalanya tiba-tiba berteriak, kalau yang dilihatnya adalah orang lain bukan Stefani yang dikenal.
Orang-orang bisa berubah saat waktunya telah tiba! Hati Azzam berkata lain.
Ia lebih suka dengan apa yang dikatakan hatinya. Sebab yang ada di depannya Stefani, masih gadis yang sama dengan yang membuatnya suka pertama kali saat berjumpa. Masih gadis yang sama yang menatapnya dengan mata jernih.
__ADS_1
“Baiklah!” jawab Stefani riang.
Wajah gadis itu terlihat senang mendekap kotak yang harganya tidak seberapa itu. Seharusnya aku memberikan yang lebih bagus, batin Azzam.
“Hari ini ada kelas?” tanya Azzam pelan.
Stefani mengangkat kepala, mengangguk. “Ya, tapi ....” Gadis itu tampak ragu untuk mengatakannya pada Azzam.
***
Ada kuliah, dua mata kuliah hari ini. Di situlah masalah yang sedang dipikirkan oleh Daisy. Ia tidak mengetahui ruang kelas tempat seharusnya ia berada. Sepertinya bertanya pada pemuda yang memberi Stefani kado bukan keputusan yang tepat.
“Kenapa kamu diam saja?” tanya Azzam padanya.
Mata yang tajam dan tampaknya sangat pintar tersebut memperhatikannya. Rasanya seperti diiris tipis-tipis, begitu pelan, sehingga mau tak mau Daisy akan mengatakan apa yang ditanyakan padanya karena katakukan.
Daisy ingat tentang Stefani yang juga pingsan bersamaan dengannya. Apakah ia bisa menggunakan hal itu sebagai alasan? Daisy tidak akan tahu kalau belum mencoba. Ia hanya perlu bertahan sampai menemukan cara untuk kembali ke tubuhnya semula.
“Begini ... kemarin aku tidak kuliah karena kebingungan. Aku tidak ingat apapun tentang kuliah?”
“Ah?” Azzam tampak binggung.
Daisy sendiri sama binggungnya dengan Azzam. Memangnya ada orang yang pingsan dan kemudian tidak ingat apapun?
“Pada hari ulangtahunku, aku pingsan. Aku tidak ingat apa-apa setelah itu!”
“Apa kamu baik-baik saja? Kalau memang ada masalah seharusnya kamu tidak kuliah dulu! Astaga ... ada kejadian seperti itu ya dua hari lalu!” Azzam bicara dengan cepat dan panik. Ia melambai-lambai, tampak ingin memeriksa Daisy.
Ia tak tahu apakah yang dilakukan salah, tetapi Daisy pikir ini hal yang harus dilakukan untuk seseorang yang peduli padanya. Daisy menangkap tangan Azzam, meletakan di dahinya. “Aku baik-baik saja sekarang, kamu bisa memeriksanya. Seseorang yang sakit biasanya panas. Apa aku terasa panas?”
Wajah Azzam seketika memerah, tetapi ia sama sekali tidak menarik tangannya dari genggaman Daisy. “Tidak. Tidak. Syukurlah!”
“Tapi, apa kamu percaya padaku?” tanya Daisy pada Azzam.
Percuma ia menceritakan apa yang terjadi, jika Azzam tidak percaya.
“Ya, aku percaya!” kata Azzam dengan yakin.
Hati nurani Daisy terasa sakit mendengar keyakinan di dalam suara Azzam. Walau ia sama sekali tidak berbohong. Ia hanya menceritakan hal yang terjadi dan bisa diterima nalar Azzam. Sementara soal bagaimana jiwanya ada di tubuh Stefani seperti suatu kebohongan yang sangat besar. Padahal hal itu benar-benar terjadi.
“Terima kasih!” kata Daisy lirih.
“Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke kelas. Aku juga akan menyampaikan apa yang terjadi pada asisten dosen. Sungguh!”
Daisy terbelalak. “Tidak usah sampai seperti itu. Aku masih bisa mengikuti pelajaran mata kuliah. Orang-orang di kelas pasti akan merasa iri jika aku dianak emaskan. Bisakah kamu melakukan itu untukku Azzam?”
__ADS_1
Azzam menghela napas. “Tentu saja, kamu sudah memanggilku dengan nama sejak tadi. Aku sudah menyuruhmu melakukan itu untuk lama.”
“Be-narkah?” tanya Daisy sedikit ketakutan.
Apakah Azzam ini adalah pemuda yang seharusnya ia hindari? Tetapi, kenapa Stefani yang asli memberinya undangan ulang tahun?
***
Sekarang dirinya adalah Daisy, bukannya Stefani. Jadi tidak mungkin sopir yang merupakan ayahnya saat menjadi Stefani mengenalinya, kan? Walau dirinya sendiri yang sudah meminta kepada papa Daisy untuk menjadikan ayahnya sopir pribadi, tetap saja kecemasan itu menghampiri Stefani.
“Kita turun di mana, Nona?” tanya Handoko padanya.
Stefani kaget, pikirannya tengah melalang buana sejak tadi. “Terus saja, nanti ada tulisannya jurusan Ba ... ah, Jurusan Ekonomi, masuk!”
Hampir saja ia pergi ke jurusannya sendiri. Daisy ada di jurusan Edkonomi dan tidak pernah mampir ke tempatnya. Sebenarnya beberapa kali Daisy yang asli berbaik hati untuk mengantarkan Stefani. Akan tetapi, ia menolak. Hidupnya sudah cukup rumit dengan perasaan dan orang-orang yang ingin tahu di mana sebenarnya ia tinggal.
Handoko tidak mengatakan apa-apa, ia melaju dengan tenang dan kecepatan yang konstan. Untuk orang yang baru membawa mobil kembali setelah sekian lama, ayah Stefani sangat berhati-hati.
“Nona, putri saya sangat ingin bertemu dengan Anda!”
“Ah?” seru Stefani kaget. “Buat apa?”
Stefani tak mau bertemu dengan tubuhnya sendiri sekarang. Akan sangat memalukan melihat bagaimana ia tampil selama ini dengan pakain jelek dan monoton dan banyak hal lainnya. Walau sekarang ia ada di tubuh Daisy dan tidak perlu takut ketahuan, Stefani sama sekali tidak mau.
“Mungkin putri saya mau minta maaf Nona. Dia sudah melakukan hal yang buruk!”
“Aku tidak mau bertemu dengannya!’ kata Stefani lekas.
Daisy yang ada di tubuhnya sekarang pasti berusaha dengan sekuat tenaga untuk bertemu dengan tubuhnya lagi. Anak majikannya itu sangat pintar, dengan hanya melihat bagaimana tindak tanduk Stefani pasti ia akan ketahuan.
“Apa Nona sangat marah pada Stefani!”
“Bukan hanya marah, tetapi sangat benci!” jawab Stefani lekas dengan berapi-api.
Dari kaca spion tengah Stefani melihat wajah ayahnya yang tampak sedih. Apa yang terjadi selama dua malam ini? Bagaimana ayahnya yang dingin bisa ekspresi seperti itu. Stefani jadi makin membenci Daisy. Kenapa, bahkan setelah berada di tubuhnya, Daisy mendapatkan perhatian yang tidak didapatkannya selama ini?
“Berhenti!” seru Stefani keras-keras.
“Tapi, kita belum sampai Nona!” kata Handoko panik.
Ia menepikan mobil dengan hati-hati dan kemudian menoleh ke belakang. Namun, Stefani sudah menyentak pintu belakang mobil dan keluar. Handoko tergesa-gesa ikut keluar bersamanya.
“Nona, apa saya sudah mengatakan sesuatu yang membuat Nona marah?” tanya Handoko, ayah Stefani pada dirinya.
Stefani mengepalkan tangan karena marah. Astaga, bagaimana mungkin ada orang yang sangat beruntung seperti Daisy. Ia mendapatkan apa yang tidak didapatkan orang lain. Ia bahkan merebut semua hal yang didapatkan oleh orang lain.
__ADS_1
“Jangan bicara padaku! Kenapa selalu seperti ini!” seru Stefani marah pada ayahnya.