
“Apa kamu membenci, Ayah?” tanya Handoko pada Daisy.
Gadis itu menatapnya hampir tidak berkedip, entah apa yang ada di dalam pikiran putrinya itu sekarang.
“Bukan begitu! Saya hanya tidak mau membuat Ayah dan Kakak repot.” Stefani tampak agak sedih.
Handoko tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berusaha mencari semua hal yang seharusnya dikatakan sekarang untuk bisa mengusir ekspresi sedih di wajah Stefani. Tetapi, ia tidak bisa menemukan perkataan yang cocok.
“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Azzam tiba-tiba, menyentak keheningan diantara Handoko dan putrinya.
Stefani berbalik dan tersenyum. “Tidak, hanya sedang memikirkan tanaman apa saja yang bagus ditanam di tanah ini, iya, kan, Yah?” Stefani memberi alasan.
“Begitu?” Azzam memperhatikan ekspresi kedua orang yang ada di hadapannya. Karena pada akhirnya tidak bisa menerka apa yang terjadi, ia tak mengabaikannya saja. “Saya sudah membuka pintu, ayo masuk dan melihat isi dalam rumahnya,” ajak Azzam senang.
Handoko mendahului putrinya masuk ke dalam bersama Azzam. Di ruang tamu ada sofa yang tertutupi kain putih. Memang sedikit berdebu, tetapi tak terlalu tebal. Handoko yakin kalau dibersihkan sedikit saja, maka mereka bisa tinggal segera di sana.
Azzam juga menunjukkan kamar-kamarnya yang berjumlah tiga buah. Di setiap kamar terdapat lemari dan tempat tidur sebagai salah satu fasilitas yang disediakan untuk pengontrak. Di dapur, juga sudah ada lemari dengan laci-lac penyimpanan bahan makanan, juga beberapa perabotan seperti dispenser. Listrik juga menyala, begitu juga dengan airnya.
Dibandingkan pavilliun, rumah yang ditunjukkan Azzam lebih luas dan fasilitas yang lebih baik juga.
“Tempat ini bagus!” kata Handoko memuji.
Azzam tampak senang mendengarnya. “Terima kasih, Pak. Soalnya saya mengatakan pada Ibu kalau yang mencari kontrakan adalah teman saya, jadi dia meminta menunjukkan rumah yang kondisinya paling bagus.” Azzam tampak malu mengakuinya.
“Terima kasih,” ucap Handoko dengan tulus. Tidak banyak orang yang memperlakukan putrinya dengan baik.
Karena itu, ia menghargai apa yang dilakukan oleh Azzam.
“Jika Bapak cocok dengan rumah ini, sebaiknya menemui ibu saya nanti. Saya akan pegang kuncinya sebagai sebuah bantuan, sehingga Ibu tidak akan menunjukkan rumah ini kepada orang lain.”
Sekali lagi Handoko mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Rupanya Stefani tidak masuk ke dalam. Ia berdiri di teras memperhatikan sekeliling dan beberapa detail bebatuan di dinding. Entah apa yang menarik dari hal tersebut.
“Rumah ini, bagus, Stefani. Ayo kembali dan menunggu kakakmu di rumah!” Handoko memeriksa jam tangannya terlebih dahulu dan menyadari kalau sebaiknya ia bergags. “Ayo Ayah antar sampai halte dekat rumah!”
***
Tampaknya perkataan yang diucapkan Daisy pada Handoko membuat pria tua itu tersinggung. Ekspresinya mendadak berubah dan tatapannya yang cerah menjadi redup. Tetapi, Daisy mengatakan hal yang benar. Ia hanya tak mau menarik orang lain ke dalam masalahnya.
Ia hanya memperhatikan saja Handoko yang masuk ke dalam. Ketika pria tua itu dan Azzam sudah menghilang ke dalam rumah, ia menyusul ke teras. Tetapi, kakinya teras begitu berat saat melangkah masuk ke dalam. Jadi ia memutuskan untuk tetap di teras, berdiri memandang halaman, kemudian tamannya, lalu dinding batu yang disusun dengan dinamika yang aneh. Entah karena Daisy yang tak mengerti strukturnya atau entah orang yang menempelkannya di dinding yang tak paham dengan aplikasinya.
Ia menunduk sedikit ketika menemukan sebuah kesalahan pada susanan, bergumam sendiri dan menegakkan punggungnya lagi.
Tak sadar entah sudah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba Handoko sudah berada di belakangnya lagi, tengah berbicara pada Azzam.
“Baiklah kalau begitu, Pak!” Azzam tengah menyetujui sesuatu.
Daisy penasaran tentang apa pembicaraan ini sebenarnya. Lalu mereka bersama-sama kembali ke depan pagar rumah dan pamit pulang.
“Apa Ayah bisa me,pertimbangkan usulan saya?” tanya Daisy.
“Usulan tentang apa?” tanya Handoko.
“Soaln saya kos sendiri di dekat kampus. Maksud saya, itu lebih menghemat uang ketimbang menyewa rumah.”
Laju mobil Handoko melambat sedikit. “Stedani, entah kamu membenci Ayah tahu tidak, tetapi Ayah tidak mau membuat kesalah pahaman lagi padamu. Ayah tidak membencimu. Ayah tidak pernah menyalahkanmu karena kematian ibumu. Kamu dan Maulana adalah harta paling berhaga buat Ayah. Bagaimana mungkin Ayah mengusir putri Ayah sendiri dari sisi Ayah?”
“Saya mengusulkan seperti itu juga bukan karena membenci Ayah.”
“Tapi, nyatanya kamu tidak mau bersama Ayah!” sahut Handoko cepat. “Tidak bisakah kamu membiarkan Ayah berusaha menjadi ayah yang baik untukmu. Ayah sudah kehilangan hampir setengah waktu milikmu sebelumnya. Yang Ayah lakukan tidak menganti semua kehilanganmu, tetapi Ayah ingin selalu di dekatmu sampai waktunya kamu menikah!”
Daisy bertanya-tanya apakah papanya pernah berpikir sama seperti Handoko. Akan tetapi, ia sendiri yakin kalau tidak terjadi seperti itu.
__ADS_1
“Baiklah! Maafkan saya sudah membuat Ayah tidak nyaman.”
Daisy bisa merasakan jemari Handoko mengenggam tangannya. “Kamu tidak perlu merasa tidak nyaman padaku, Stefani. Kamu putriku!”
Masalahnya yang ada di dalam tubuh ini sekarang adalah Daisy, bukannya putri Handoko.
***
Bukannya aneh karena semalam Mahardika nyaris berbicara seperti orang beo di dalam acara makan malam keluarganya. Pagi ini bos Maulana itu bahkan tidak menyahuti salamnya. Itu adalah hal yang sangat aneh.
Maulana merasa kalau sudah terjadi sesuatu yang buruk. Akan tetapi, melihat bagimana kerutan di dahi Mahardka tertekuk, ia merasa harus menyimpan niatnya untuk bertanya.
Seperti yang dikatakan oleh Handoko, ia diturunkan di halte degan rumah utaman tempat Handoko bekerja. Dari hakte, Daisy hanya perlu berjalan beberapa menis saja untuk sampai di gerbang.
Saat akan masuk, tiba-tiba si penjaga yang kemarin tertawa-tawa melihatnya diantar oleh Azzam menghadang. Daisy tidak paham kenapa si penjaga melakukan hal seperti itu.
“Ada apa, Pak?” tanya Daisy ramah.
“Padahal sudah saya katakan kalau kamu harus mengurungkan niatmu!” ujar si penjaga pada Daisy.
“Ini soal apa?”
“Kamu masih saja pura-pura tidak tahu? Apa kamu tidak kasihan dengan kakak dan ayahmu? Bagaimana mungkin kamu menjadi seorang putri yang seperti ini?”
Daisy lekas mengerti setelah mendengar penuturan yang demikian. Ini soal dirinya yang dianggap telah mengusik Mahardika.
“Saya tidak melakukan apa yang Bapak tuduhkan! Bisa saya masuk sekarang?” tanya Daisy.
“Stefani, dengar ... kamu harus membuang jauh perasaanmu terhadap Tuan Mahardika. Walau aku tahu anak zaman sekarang tidak mengenal kata hutang budi. Tetapi, kamu harus mengingat itu Stefani. Kamu bisa hidup dan menikmati semua hal, karena kebaikan orang lain, jadi jangan jahat!”
“Saya akan mengingatnya, Pak!”
__ADS_1
Daisy bisa merasakan tangan si penjaga mengelus kepalanya dengan lembut. Pria itu tidak marah padanya, hanya merasa kecewa. Namun, Daisy tidak berusaha mengoda Mahardika dengan tubuh Stefani.