
Kejadian kemarin membuat Ibnu terkejut. Bukankan anak perempuan seharusnya bergantung pada papanya. Akan tetapi, mengapa semuanya menjadi begitu rumit sekarang. Kemarin jelas-jelas Daisy tidak memerlukan dirinya sebagai tempat bergantung. Fakta itu menyakitkan hati Ibnu, membuatnya tidak tenang. Daisy adalah putrinya dan tidak berubah walau pun dirinya bersikap dingin belakangan ini.
“Sayang?” Aida terdengar akan protes.
“Makanlah!” tegas Ibnu sekali lagi.
Aida tampak masih memprotes, tetapi Ibnu akan meninggalkannya jika masih ada protesannya. Jarak antara Daisy dan Ibnu sudah sangat jauh sekarang dan rasanya untuk mengejar kembali sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Makanya, Ibnu pikir hanya cara ini yang bisa dilakukan untuk mengembalikan hubungan mereka yang sudah rengang.
Dengan wajah tegang Aida melanjutkan sarapannya. Tetapi kali ini ia tidak lagi bertanya apa yang diinginkan Ibnu. Tampaknya ia sudah cukup kecewa dengan sikap Ibnu yang lebih membela Daisy dibandingkan dirinya.
“Jadi, Daisy ... bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Ibnu pada putrinya.
Daisy segera saja terbatuk-batuk kecil karena kaget. Ia mengambil minuman yang dengan cepat diisi oleh pelayan. Kemudian menghabiskan isi gelas dalam beberapa tegukkan. “Papa tadi tanya apa?” tanyanya kebingungan.
“Bagaimana kabar kuliahmu?” tanya Ibnu sekali lagi.
Apakah selama ini ia tidak pernah menanyakan kabar kepada putrinya ini. Kenapa tampaknya gadis di depannya ini terkejut sekali. Tidak mungkin kan kalau Ibnu begitu dingin sampai tidak menanyakan kabar anak semata wayangnya ini.
“Saya baik, Papa! Apa Papa perlu memanggil dokter sekarang. Ini aneh sekali!” ungkap Daisy dengan tidak enak.
“Apanya yang aneh. Aku melakukan hal yang dilakukan orang lain kepada anak-anak mereka!” kata Ibnu.
__ADS_1
“Masalahnya, Papa jarang sekali bertanya seperti ini! Saya jadi merinding karena hal itu. Jadi, saya mohon Papa jangan melakukan hal ini lagi. Saya jadi takut!” ungkap Daisy tampak jujur.
“Takut? Kamu jadi takut karena aku bertanya tentang bagaimana kabar kuliahmu? Yang benar saja!” Ibnu berusaha mencairkan suasana dengan membuat lelucon. Akan tetapi, lelucon itu tampak lebih garing dibandingkan dengan kelihatannya. Itu membuat Ibnu menjadi salah tingkat.
“Papa tidak pernah menanyakan keadaan sekolah saya sejak saya berusia 12 tahun!” Daisy mengatakan hal itu tanpa tersenyum.
Perkataan Daisy membuat perasaan Ibnu sakit. Ia tidak bermaksud begitu. Ia tak bermaksud mengabaikan putrinya sampai begitu. Ia hanya melakukan semua hal yang dibisa untuk memastikan kalau Daisy memperoleh kenyamanan. Ia tak pernah sekali pun melupakan putrinya.
“Daisy, Papa--.”
“Saya sudah selesai sarapan. Makanannya enak sekali! Terima kasih!’ Daisy mengelap mulutnya dengan serbet dan meletakannya dengan hati-hati di samping piring. “Saya permisi, Papa!” Daisy meninggalkan meja makan. Pelayan yang tadi membantu mendorong kursi ke dalam kali ini menariknya keluar saat Daisy berdiri.
“Sayang, kamu harus habiskan sarapanmu!” tegur Aide dengan caranya yang khas seperti biasa, mendayu, seharusnya membuat Ibnu merasa tenang.
“Aku sudah tidak ingin sarapan. Aku akan ke kantor sekarang!” katanya. Ia berdiri, mengambil tas kerjanya dan pergi. Ia meninggalkan Aida yang masih sarapan seorang diri dan tidak sekali pun berusaha mencari tahu bagaimana ekspresi Aida saat ini.
***
Daisy berhenti tepat di tengah tangga. Ia lekas menoleh ke belakang dan tak lama melihat sosok papanya keluar dari ruang makan. Pria yang membesarkannya itu berhenti di tengah hall dan menoleh ke arah Daisy berdiri. Karena kaget, Daisy langsung berlari naik ke lantai dua.
“Ada apa, Nona?” tanya Raise yang muncul dari arah kamar Daisy membawa penyedot debu dan handuk yang dipakai Daisy di kamar mandi tadi.
__ADS_1
“Ti-dak!” jawab Dasiy agak gagap. “Raise, apa kamu pernah mendengar papaku bertanya bagaimana sekolahku?” tanya Daisy memastikan.
Dilihatnya Raise mengeleng pelan dan tampak kebingungan. Akan tetapi, Daisy sama sekali tidak peduli. Ia hanya ingin membuktikan kalau memang benar papanya berubah.
“Ini membuatku takut, Raise!” kata Daisy. Dipelukanya pelayan kepercayaan itu dan ia merasa sedikit lebih tenang dibandingkan tadi.
“No-na, ada apa sebenarnya?” Raise terdengar takut.
Belakangan di mata orang lain Daisy memang aneh. Tiba-tiba saja menjadi pemarah dan tidak bisa mengendalikan emosi. Tiba-tiba saja tidak ingat apa yang sudah dilakukannya kemarin. Daisy ingin bertanya pada Raise keanehan apalagi yang sudah diperbuat tubuhnya saat Stefani ada di dalam.
“Tidak ada! Jangan pikirkan apa yang aku katakan. Aku baik-baik saja sekarang!” tegas Daisy.
Raise memperhatikan Daisy selama beberapa detik. Setelah merasa cukup tenang ia kemudian menghembuskan napas lega. “Jadi apa yang akan Anda lakukan hari ini?” tanya Raise.
Sebenarnya selain keanehan, Stefani sudah mengacaukan jadwal harian Daisy yang sudah disusun dengan sangat baik. Jadi, tentu pelayan kepercayaannya menjadi binggung apa yang harus dilakukan dengan itu. Hidup Daisy yang teratur tiba-tiba saja amburadul.
“Hari ini aku ada jadwal kuliah!” jawab Daisy. “Jadi, bisakah kamu memanggil Pak Handoko dan menyuruhnya untuk bersiap?” tanya Daisy.
Raise tampak senang karena mendapat tugas. Ia berseru, “Baiklah!” Sebelum pergi dan seperti angin lenyap pada anak tangga menuju lantai bawah.
Daisy kembali ke kamarnya, menyiapkan diri. Memeriksa semua buku yang diperlukan untuk kuliah siang ini dan mendapati kalau catatannya kosong. “Astaga!” keluh Daisy tidak menyangka akan mendapatkan kesulitan dari Stefani lagi. Kesulitan yang paling dasar.
__ADS_1