Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Botol Ajaib Milik Stefani (1)


__ADS_3

“Kenapa kamu masuk dengan cara tidak sopan begitu?” tanya Mahardika saat pintunya terbuka tanpa ada ketukan sebelumnya.


“Ayahku menelepon!” kata Maulana dengan wajah panik.


Ia melangkah lebar-lebar sehingga Mahardika berpikir kalau sudah terjadi kecelakaan atau kemalangan yang membuat Maulana melakukan hal aneh pada cara berjalannya. Ia menanti sampai Maulan bernapas dengan benar dan mengatakan apa yang menyebabkan ayah pria itu menelepon.


“Ayah bilanga da bekas tamparan di pipi Nona saat keluar dari gedung fakultasnya tadi. Ayahku bilang,tempat kuliha, tetapi bagiku itu pasti gedung fakultas Ekonomi!” terang Maulana diiringin keterangan tidak jelas lainnya.


“Maksudmu!”


“Dasar bodoh! Artinya seseorang sudah menampar Daisy! Astaga, bagaimana kamu menjadi tulalit hanya dalam waktu satu hari!”


Butuh persekian detik bagi Mahardika menyerap infosmasi yang diberikan Maulana. Kemudian ia berdiri tiba-tiba hingga membuat tumpukan map di atas meja terkejut dan jatuh, tidak lagi menjadi sebuah tumpukan.


“Ada yang menamparnya?’ tanya Mahardika.


“Bekasnya berbentuk telapak tangan, kamu jelas tahu itu apa artinya!” Maulana ikut berseru di dekat Mahardika.


Tubuh Mahardika kembali melorot ke atas kursi kembali, wajahnya lebih murung dibanding sebelumnya. Ia berpikir dengan keras. “Dia minta maaf kemari karena apa yang dilakukannya kemarin!”


“Apa yang dilakukannya kemarin?” tanya Maulana ingin tahu.


“Dia membuat keributan di kampus. Aku harus menyeretnya untuk berhenti. Benar-benar sesuatu yang tidak kusangka dari Daisy. Biasanya ia bisa mengendalikan diri dengan baik. Tadi dia datang dan mengatakan kalau yang mengamuk bukan dia!” kata Mahardika sambil menghela napas dalam.


Maulana juga menjatuhkan bokongnya di atas kursi, menengadah menatap langit-langit ruangan kantor Mahardika yang dicat putih. “Tadi pagi aku juga menampar Stefani. Dia berkata hal yang jahat pada ayahku! Aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu!”


“Wah! Wah! Kamu melakukan hal yang jahat pada adik yang sangat kamu sayangi? Dan kemarin kamu mengangkat kerah bajuku karena aku mengatakan hal yang jahat pada adikmu. Apakah aku harus menghajarmu kali ini?” ejek Mahardika.


Maulana tertawa. Akan tetapi, kemudian ia berhenti setelah beberapa babak. “Sepertinya mereka seolah mengalami titik jenuh di hari yang sama!” kata Maulana.


“Apa menurutmu aku harus membawa Daisy berlibur? Mungkin kamu benar dengan kejenuhan itu!” Mahardika  mendapatkan ide seketika. Kepalanya menegak dan ia tersenyum dengan lebar. Tumpukan berkas yang rubuh tadi dikembalikan seperti semula.

__ADS_1


“Boleh saja! Kamu bosnya di sini! Tapi sebaiknya kamu menemui Daisy dulu!”


Mahardika tersenyum. Ia sebenarnya merasa tidak tenang sejak melepas Daisy setelah minta maaf. Ini adalah waktunya ia menunjukkan perhatiannya pada Daisy. Ia tak mau terus menerus bersikap baik pada tunangannya.


“Selesaikan pemisahan berkas ini, ya, Maulana!’ kata Mahardika.


Mata Maulana terbelalak. Ia tampak akan protes. Kemudian menyadari kalau dirinyalah penyebab kepergian Mahardika dari kantor.


“Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa!’ keluhnya sambil memandangi meja yang penuh dengan tumpukan berkas.


Mahardika yang sudah sampai di ambang pintu tertawa mendengarnya.


***


Stefani membanting pintu kamarnya keras-keras, memasang kunci di sana sehingga tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamarnya, kecuali mendobrak pintu hingga tanggal. Lalu ia duduk di depan cermin dan menatap pipinya yang kemerahan karena tamparan Maulana.


“Kalian yang jahat padaku kenapa aku yang menerima hukuman?” desisnya sambil terisak.


Stefani kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja rias, terisak karena kesal, marah, dan tak tahu harus berbuat apa-apa. Kenapa tiba-tiba saja ia kembali ke tubuhnya sendiri. Ia tidak melakukan kesalahan. Apakah obat itu memiliki satu pantangan?


“Apa dia melakukan itu supaya aku gagal?” duga Stefani.


Ia merasa semakin kesal karenanya. Ia kemudian ingin mencari pria tua itu, menanyakan kenapa melakukan hal jahat pada dirinya. Tidak cukupkah kejahatan yang terjadi pada dirinya. Tidak cukupkah semua hal buruk yang terjadi pada diri Stefani.


“Tapi, di mana dia berada?” tanya Stefani.


Ia menghentak-hentakan kakinya di lantai. Lututnya terbentur sudut meja rias dan terasa sangat neyeri. Ia memaki keras-keras tidak peduli dengan keadaan rumah di kiri kanan yang mungkin masih berpenghuni.


“Stefani!” pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.


Stefani jadi terperanjat, terkesiap. Sangkanya kedua penghuni rumah lainnya sudah pergi bekerja. Tetapi, masih ada yang di rumah rupanya.

__ADS_1


“Apa?” tanya Stefani dengan nada yang menyebalkan.


Andai saja Stefani menjadi orang yang mendengarkan suaranya sekarang, ia akan merasa kesal, ingin menjambak dan menampar. Tetapi, ia terlanjur kesal untuk menyadarinya.


“Ada nasi goreng kornet di atas meja makan. Jangan lupa makan!”


“Sudah kubilang jangan sok perhatian padaku!” teriak Stefani keas-keras.


Helaan napas berat terdengar. “Maaf, karena aku menamparmu tadi. Itu karena kamu keterlaluan, bukan karena aku membencimu!” kata si pengetuk pintu.


“Apa Kakak tahu kalau Kakak cuma memperhalus perkataan benci menjadi keterlaluan? Pergilah! Biasanya kalian bahkan tidak peduli aku hidup atau tidak!” seru Stefani sekali lagi.


Berbicara dengan keluarganya hanya membuat Stefani semakin merasa buruk. Kekesalannya semakin mencongkol, muncul dan tampak membengkak bak bisul yang telah masak dan akan meletus. Menyebalkan.


Tidak ada sahutan. Samar-samar Stefani bisa mendengar suara langkah kaki perlahan menjauhi pintunya. Disusul suara keriutan pintu lainnya. Kini Stefani benar-benar sendirian dan tidak akan ada yang mengusik kekesalannya lagi.


Setelah cukup lama selang waktu berlalu sejak penghuni rumah meninggalkan Stefani sendirian, ia merasa sedikit lebih lega. Pikirannya kembali menjadi jernih sekarang. Ia mundur dari ambang pintu dan duduk di kursi meja rias kembali dan mulai berpikir tentang pantangan lagi, kalau ada.


Namun, semakin dipikir, ia tak melakukan hal yang bisa menjadi pantangan. Jadi ia merasa sangat bodoh sekarang.


“Apa yang salah?” tanya Stefani pada dirinya sendiri.


Lalu tiba-tiba ia ingat pada botol kecil yang diberikan oleh si kakek tua padanya sebelum ia kembali ke tubuhnya sendiri.


Karena kaget dirinya ada di dalam tubuh sendiri, Stefani sampai tak ingat pada botol kecil itu. Jadi ia berdiri lekas-lekas dan mulai menyibak selimut. Tidak ada apapun yang jatuh setelah selimutnya ditarik dan dikibar-kibarkan.


“Di mana itu berada?” pekik Stefani tertahan. “Astaga, tentu saja!’


Ia mengingat kembali dengan jelas setelah penjaga memeriksa kamarnya dan ia masuk. Stefani menyuruh Raise menyimpan benda itu di kotak riasnya.


“Aku harus kembali ke kamar Daisy untuk mengambil botol itu!” tekadnya segera.

__ADS_1


Sebelum itu ia harus bersiap untuk melakukan hal tersebut. Karena ayahnya tengah mengantar Daisy sekarang, Stefani punya alasan untuk berkeliaran di taman mencari kesempatan. Dengan begitu ia bisa mencari celah untuk masuk ke rumah.


“Aku harus segera mendapatkan botol tersebut!” tekadnya.


__ADS_2