
Maulana mengikuti di belakang dengan motornya. Seperti yang ia katakan pada Stefani saat mengantarkan adiknya itu naik kendaraan. Akan tetapi, ia terpisah dengan cepat dengan mobil pick up karena mengikuti jalan pintas. Ia melewati gang-gang yang dikenal dengan baik dan sampai lima belas menit lebih cepat dibandingkan mobil pick up yang membawa adik dan ayahnya.
Di depan rumah telah ada Azzam yang menanti kedatangan mereka. Ia memang mengirimkan pesan kepada ibu Azzam tadi saat mendapatkan telepon dari ayahnya. Tetapi, tidak menyangka kalau wanita itu malah mengirim putranya yang tengah kasmaran dengan adiknya Maulana.
“Sudah lama menunggu? Tidak kuliah kamu?” tanya Maulana pada pemuda itu.
Azzam mengenakan celana panjang dari katun dan baju kaus berwarna biru. Ia bersandar di pagar dan asyik dengan ponselnya saat Maulana baru turun tadi. Ketika motornya berhenti Azzam mengangkat kepalanya dan tersenyum cerah melihatnya.
“Tidak, Kak, saya baru saja sampai!” kata Azzam padanya.
Maulana tahu kalau pemuda itu berbohong. Hidung Azzam memerah karena panas, begitu juga dengan legannya yang memegang ponsel. Ia ingin mengatakan betapa bodohnya Azzam karena melakukan hal ini. Akan tetapi, timbul juga rasa kasihan pada pemuda itu di hatinya.
Maulana mengeluarkan kunci rumah dari sakunya sementara Azzam pergi ke rumahnya entah untuk apa. Saat Maulana sampai di pintu dan mulai membuka pintu, Azzam kembali dengan perlengkapan bersih-bersih.
Ketika ia sampai di ruang tamu, Maulana melihat kalau tempat itu lebih bersih dari kemarin saat ia datang.
“Rumahnya dibersihkan lagi?” tanya Maulana pada Azzam.
“Ya, Ibu menyuruh yang biasa bersih-bersih tadi pagi. Katanya karena kemungkinan Kakak dan keluarga akan masuk hari ini atau besok. Ternyata tebakan Ibu benar.” Azzam menejelaskan dengan seidkit malu.
“Terus sapunya buat apa?” tanya Maulana sambil memandang yang dibawa Azzam masuk dan diletakan di dekat pintu.
“Bonus. Soalnya orang yang baru pindah biasanya kesulitan menemukan alat bersih-bersih dan sering lupa beli karena sibuk. Jadi setiap yang pindah selalu dikasih ini sama Ibu.”
Maulana melongo dan mengangguk. Lalu mengambil alat bersih-bersih berupa sapu, kain pel, ember dan serokan tersebut dan membawanya masuk.
Maulana pikir kalau Azzam akan meninggalkannya sendirian setelah menyerahkan alat bersih-bersih, tetapi pemuda itu malah mengikutinya dengan patuh sampai ke dapur tempat ia meletakan semua alat itu.
“Kenapa kamu ikuti saya?” tanya Maulana seolah sudah tahu apa yang ditunggu Azzam sebenarnya.
“Mungkin saya nanti bisa bantu angkat-angkat barang,” kata Azzam malu-malu seperti anak remaja padahal usianya sudah 20 tahun.
Maulana akan mengusir pemuda itu saat didengarnya klakson mobil pickup di luar. Maulana lekas mengurungkan niatnya. Ia mendengkus dan meninggalkan Azzam di belakang. Ia bisa mendengar langkah kaki pemuda itu mengikutinya.
Stefani meloncat lebih dulu dari atas mobil pickup turun. Disusul Handoko, ayah mereka. Yang terakhir sekali setelah mematikan mesin mobil, sopir yang mengantar turun.
“Wah, rumah ini sih lebih besar dari pavilliun kan, Han? Nggapa apa nih kalau tinggal di sini!” kata pria itu sambil memuji.
Handoko mengambil kardus di belakang, Stefani hanya menenteng tas miliknya saja. Azzam tergopoh-gopoh ke belakang melakukan hal yang dikatakannya kepada Maulana di dalam tadi.
__ADS_1
“Tidak usah, Azzam. Barang-barang kami tidak sebanyak itu, kok!” kata Stefani lekas.
Maulana memuji adiknya yang mengatakan hal itu. Bagus! Ia berkata keras-keras di dalam hati.
Akan tetapi, dasar Azzam yang bebal atau kepercayaan dirinya terlalu besar, pemuda itu tetap tersenyum dan menurunkan barang-barang dari belakang mobil pickup.
“Biar sedikit akan lebih cepat kalau dibantu turunnya, Stefani!”
Maulana langsung membayangkan dirinya menyeret Azzam turun dari mobil pickup mereka dan berseru di depan pemuda itu: Kamui tidak butuh bantuanmu.
***
Azzam menurunkan barang-barang dan memasukannya ke dalam rumah segera setelah itu. Mobil pickup yang membawa barang-barang Stefani langsung pergi lagi setelah semua barang diturunkan.
“Yang bisa kami kasih jadi cuma minuman, kan? Maaf, ya, Azzam!”
Dibandingkan dengan Maulana, Azzam merasa lebih nyaman saat bersama Handoko, Ayah Stefani.
Saat bersama Maulana, Azzam seperti sedang diawasi oleh binatang buas yang siap penerkam kapan pun. Padahal ia yakin tak melakukan kesalahan. Ia hanya tersenyum saja, setiap kali mendapatkan intimidasi dari tatapan kakak lelaki Stefani itu.
Mungkin kalau ia mempunyai adik perempuan yang cantiknya seperti Stefani, Azzam akan mengerti kenapa ia menjadi tidak disukai.
Azzam paham kalau seorang gadis melakukan banyak hal saat pindah ke rumah baru. Akan tetapi, hampir tidak ada barang yang harus di tata Stefani karena rumah kontrakannya sudah menyewakan semua barangnya juga. Asalkan tidak dirusak saja tentunya.
Azzam meneguk minumannya dengan cepat dan menatap ke dalam ruangan tempat Stefani menghilang lagi. Ia berdoa dalam hati supaya Stefani keluar sebentar saja untuk mengantarnya ke depan.
Akan tetapi hal itu tentu saja menjadi tidak mungkin.
Namun, saat Azzam berdiri dan pamit. Stefani benar-benar muncul. Ia sudah lebih rapi dari tadi dan tampaknya telah berhasil menata kamarnya dengan cepat.
“Sudah mau pulang?” tanya Stefani saat melihat Azzam berhenti dan tersenyum padanya.
“Ya, sudah sore. Harus mandi juga!” Seharusnya Azzam tidak mengatakan hal itu. Hanya saja berdiri di dekat Stefani sudah membuatnya salah tingkah saja. Padahal Stefani tidak melakukan apa-apa dan hanya tersenyum saja padanya.
“Bisa antar Azzam keluar?”
Azzam rasanya mau mencium Pak Handoko, ayahnya Stefani karena sangat pengertian. Ia akan menobatkan Pak Handoko sebagai calon mertua yang paling baik di dunia.
“Baik, Ayah!” Stefani menyahut dengan patuh dan mengiringi langkah Azzam keluar.
__ADS_1
Azzam dengan sangat sengaja berjalan lambat sekali. Ia mau memperlama waktunya bersama Stefani sehingga bisa mengingatnya dengan baik. Padahal hanya berjalan saja.
“Apa kamu suka rumahnya?” tanya Azzam pelan sekali.
“Ini rumah yang bagus!” jawab Stefani.
Akan tetapi, sayang sekali ia tampak sama sekali tidak senang dengan yang dikatanya. Malahan di telinga Azzam suara Stefani terdengar sangat sedih.
“Kamu tidak suka rumah ini?” Azzam berhenti dan menoleh kepada Stefani.
Hanya saja gadis itu tidak mengangkat kepalanya dan menunduk. “Aku bukannya tidak suka di rumah ini. Tetapi, rumah sebelumnya penuh dengan kenangan. Entah kenapa aku merasa sedih karena harus berpisah dengan tempat itu.”
“Kamu ingat mendiang ibumu?” tanya Azzam.
Azzam menyesali dirinya yang sok tahu. Karena ia melihat Daisy menitikan air mata kini. Rasanya tengorokannya jadi tercekik karena tidak bisa mengatakan apa-apa lagi sekarang.
“Aku memperlihatkan hal yang buruk padamu!’ kata Stefani sambil menghapus air matanya. “Maafkan aku!”
“Tidak! Aku yang harusnya minta maaf. Bagaimana pun aku yang sudah membuatmu menangis dengan menanyakan hal yang sentitif.” Azzam panik. Ia jadi melambai-lambai seperti orang bodoh saja. “Tidak usah mengantarku. Aku bisa keluar sendiri, kok. Semoga perasaanmu menjadi lebih baik besok!” kata Azzam.
Ia melangkah beberapa langkah menuju pintu dan berbalik untuk melihat Stefani. Tetapi Azzam hanya melihat punggung gadis itu saja, semakin jauh dari pintu gerbang.
Azzam melangkah gontai menuju rumahnya sendiri. Ia merasa sudah melakukan kesalahan besar.
“Wajah Kakak kenapa begitu?” Adik lelaki Azzam menyapa di depan pintu masuk rumahnya sendiri.
“Anak kecil tidak perlu tahu!” katanya keras.
Jelas saja adik Azzam menyampai protes keras karena disebut sebagai anak kecil diumurnya yang sekarang. Stelah Azzam lewat, anak lelaki itu mencak-mencak tak karuan karena lutung kasarung.
Ibu Azzam juga menanyakan hal yang sama padanya. Azzam berniat tidak menjawabnya. Walau kemudian ia kembali lagi dan memandang ibunya dengan saksam.
“Kenapa? Kamu baru sadar kalau Ibu cantik?” tanya wanita yang melahirkan Azzam itu narsis.
“Bukan, mau tanya kalau cewek nangis ... gimana buat nenanginnya?” tanya Azzam.
“Kamu berencana buat anak gadis orang yang mana nangis ah? Ibu tidak pernah mengajari kamu seperti itu, ya?”
“Astaga, Bu, cuma tanya!’ pekik Azzam frustrasi.
__ADS_1