Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Tolong Lepaskan Dia Sekarang!


__ADS_3

Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh putrinya dan majikan kecil Handoko? Makanan yang ada di dalam piringnya sudah habis. Perutnya kenyang tetapi menjadi sangat tidak nyaman dengan ekspresi wajah Daisy yang tidak biasa.


“Tampaknya itu pembicaraan serius?” Teman Daisy, Maya berkata sambil menumpang dagu. Pandangannya mengarah pada Daisy dan Stefani yang berdiri cukup jauh dari luar kafe.


“Tentu saja, katanya ini soal para pembully yang waktu itu sempat menganggu Stefani! Aku ingin tahu, tapi ini pasti hal yang dibicarakan secara pribadi.” Azzam yang juga duduk di sana ikut menimpali.


Handoko mencuci tangannya dan menarik serbet yang tersedia di dalam kotak. “Bapak akan ke sana untuk memeriksa!” kata Handoko.


Tepat saat ia berdiri dari tempat duduk. Stefani tampak sedang menyemburkan kemarahan pada Daisy dan pergi begitu saja. Majikan kecil Handoko itu menoleh ke arah kafe dan tersenyum seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Bahwa kemarahan Daisy biasa saja, sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.


Daisy lekas mendekati Handoko di dalam kafe. Ia menghela napas dalam dan masih saja tersenyum.


“Tampaknya gadis itu sama sekali tidak berterima kasih atas bantuanmu, Daisy!” Maya mendekap dirinya sendiri. Wajahnya tampak tak sedap. Pandangan matanya masih lagi menatap ke arah Stefani menghilang tadi.


“Tidak! Dia memang selalu seperti itu entah senang atau sedih! Benar, kan, Pak?” Daisy meminta bantuan Handoko untuk melakukan sesuatu terhadap dugaan orang lain.


“Ya-ya! Memang begitu!”


Handoko tidak mengerti kenapa Daisy mencoba untuk membuat kesan baik Stefani pada orang lain. Ia tahu anaknya memang jarang bersikap ramah pada seseorang. Itu kesalahan yang tidak akan bisa disangkal Handoko.


“Kalau begitu, ayo kita kembali ke kelas, Maya! Mungkin saja salah satu asdos sudah masuk sekarang untuk menyerahkan tugas. Kalau tidak kita bisa pulang! Kamu bawa mobil?” tanya Daisy.

__ADS_1


“Yap. Ayo!” Maya mengambil tasnya dan menyelempangkan di dada. “Aku bawa mobil! Jadi tidak usah!” tolaknya pada tawaran mengantar Daisy yang jarang terjadi.


Daisy mengangguk, mengambil tas sandang hitamnya yang manis sendiri. Maya sudah lebih dulu pergi menuju ke parkiran diikuti Handoko. Sementara Daisy masih tetap berada di kantin membayar seluruh makanan mereka.


“Kamu tahu segalanya tentang kafe kampus, ya? Itu sesuatu yang sama sekali tidak kusangka!” Azzam menunggui Daisy saat membayar.


“Apa kamu pikir saya ini makhluk ajaib yang tidak pernah menginjakkan kakinya di tanah?” Daisy terdengar cukup kesal. Soalnya Azzam sudah berkomentar seperti itu sejak tadi. Rasanya menyebalkan karena terus-terusan mendengar diri sendiri diremehkan.


“Aku tidak bermaksud menyinggungmu!”


“Kamu sudah menyinggungku!” jawab Daisy. Ia telah menyelesaikan pembayaran semua makanan dan minuman.


“Pembicaraan dengan Stefani tidak berjalan lancar, ya?”


“Tidak seperti itu!”


“Kamu tidak bisa berbohong! Aku melihatnya! Jika kalian akrab, caranya bicara tidak akan seperti itu!” Azzam berkata dengan pelan, menoleh keluar kafe merasa agak canggung. “Aku benar-benar minta maaf!”


Daisy tahu kalau Azzam suka pada Stefani. Akan tetapi, saat ini Daisy merasa sudah saatnya Azzam move on. Sikap Stefani yang sekarang hanya akan membuat pria baik seperti Azzam merasa sakit saja. Ia tidak mau Azzam merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun, pantaskah Daisy mengatakannya.


“Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku? Kamu memandanginya sejak tadi!” Azzam mulai salah tingkah karena Daisy sejak tadi memandangnya lekat-lekat.

__ADS_1


“Azzam apa aku boleh mengatakan sesuatu yang agak kurang ajar padamu?” tanya Daisy.


“Apa?”


“Tolong, lepaskan Stefani sekarang!”


Prang!!


Azzam menyenggol meja di dekatnya karena kaget. Gelas di atas meja yang tergantung pada tatakan saling bertabrakan dan menimbulkan suara yang keras. Wajah Azzam menjadi pucat mendengarnya. Seolah Stefani baru saja mengabarkan kepada pemuda ini kalau dunia akan kiamat.


“Aku pasti mendengar sesuatu yang salah di sini!” Azzam tertawa. Mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri.


Bagaimana mungkin Azzam tidak mendengar apa yang dikatakan Daisy. Mereka hanya tinggal berdua saja di kafe dan tampaknya kelas lain belum selesai sehingga tidak ada tanda-tanda kalau para mahasiwa dan mahasiswi lainnya akan masuk ke dalam.


“Kamu mendengar hal yang benar, Azzam. Aku memintamu untuk berhenti mengejar-ngejar Stefani! Beri waktu pada dirimua sendiri sekarang!”


Hening. Bahkan Azzam membeku di depan Daisy. Lalu pria itu monda-mandir sebentar dan tak lama ia menatap Daisy dengan tatapan penuh kemarahan. “Tahu apa kamu soal perasaanku? Kamu muncul dan tiba-tiba saja menyuruh untuk melepaskan Stefani! Dia tidak mengatakan apa-apa, kenapa kamu yang repot?”


Daisy menghela napas. Ia tahu kalau melepaskan seseorang tidak mudah. Daisy butuh bertahun-tahun untuk merelakan kalau papanya tidak akan lagi mengharapkan Daisy. Tetapi, dalam kasusnya ini tentang keluarga. Berbeda dengan Azzam yang menyukai orang asing.


“Azzam, aku berkata begini karena tidak mau kamu tersakiti!”

__ADS_1


Wajah Azzam memerah. “Aku yang akan merasakan sakit, kenapa kamu repot untuk mengurusnya! Maaf, Daisy tapi kamu keterlaluan!” Azzam menghentakan kakinya seperti anak kecil dan kemudian berbalik pergi.


Tatapan Daisy hanya mampu mengiringi kepergian Azzam saja sampai pemuda itu menghilang di belokan.


__ADS_2