Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Maulana dan Kegalauannya (1)


__ADS_3

“Ka-kak?”


Ini memalukan. Dari mana pun Daisy melihatnya, apa yang sedang dilakukan Maulana memalukan. Memangnya ada orang yang akan tiba-tiba datang dan kemudian malah menuduh orang lain melakukan hal buruk tiba-tiba tanpa bukti. Penculikan? Yang benar saja, Azzam baru menawarkan untuk ke toko buku bersama saja.


“Kenapa diam saja?” tanya Maulana sambil berkacak pinggang.


“Kakak ... bagaimana pun saya melihat ini sangat memalukan,” gumam Daisy dengan cukup jelas.


Maulana dan Azzam menoleh serentak, tentu bisa dengan jelas medapati kalau wajah gadis yang berdiri di tengah-tengah mereka memerah karena malu. Ia melotot memandang Maulana memperingatkana jika pria itu masih saja bicara omong kosong maka akan dibencinya seumur hidup. Ralat, selama ia masih menjadi Daisy di tubuh Stefani tentu saja.


“Apanya yang memalukan? Aku hanya mengatakan hal yang benar saja. Dia tiba-tiba saja mengajak seorang gadis pergi tanpa izin wali, namanya penculikan!” Begitu Maulana tetap bersikeras untuk membuat dirinya menang.


“Ahh ... terserahlah!” keluh Daisy. “Aku akan pergi denganmu, Azzam, jemput aku tiga puluh menit lagi! Aku ingin mencari beberapa buku untuk bacaan!”


Seketika Daisy ingat dengan sisa uang di dalam dompetnya setelah beberapa hari digunakan untuk uang jajan dan pelengkapan yang lebih murah dibadingkan dengan kehidupan sebagai dirinya sendiri. “Ah, aku akan cari satu buku yang cocok untuk kubaca!” kata Daisy memperbaiki niatnya sendiri.


“Apa maksudmu pergi dengannya?” tanya Maulana.


Tetapi, Daisy tidak menghiraukannya. Ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Maulana dan Azzam di depan begitu saja. Maulana menyusul dan mencegat Daisy di depan kamar. Melotot tidak percaya akan keputusan Daisy itu.


“Kamu tidak boleh pergi dengannya!” tentang Maulana.


“Kenapa? Karena dia penculik? Kakak ... ah, saya tahu Kakak sayang pada saya. Tetapi, membuat saya tidak tahu apapun bukan cara menyayangi yang baik. Kakak sudah lama melakukan ini, kan? Menjauhkan lawan jenis dari saya?”  tanya Daisy.


Sebenarnya ini adalah dugaannya saja. Sebab Stefani yang asli hampir tidak memiliki teman yang akrab baik perempuan maupun laki-laki. Aneh, mengingat bagaimana Daisy memiliki cukup banyak orang yang berpura-pura jadi temannya.

__ADS_1


“Aku melakukan ini demi kebaikanmu!” kata Maulana.


Daisy hampir saja tertawa. “Mengisolasi manusia dari manusia lainnya bukan perbuatan yang baik, Kak. Kakak tidak membuat saya lebih pintar dari orang lain.”


Maulana tampak terkejut dengan perkataan Daisy. Ia mundur selangkah dan menjadi lebih canggung dari sebelumnya. Daisy pikir sebaiknya ia tidak melunak sedikit pun. Dengan begitu Maulana bisa mengetahui kalau perbuatannya kepada Stefani salah.


Maulana berbalik ke belakang. Tak lama Daisy bisa mendengar suara pintu terbanting tertutup. Barulah Daisy bisa bernapas lega. Ia merasa tidak enak harus bersikap tegas pada Maulana. Tetapi, ia harus melakukannya untuk kebaikan Stefani dan juga kakak laki-lakinya itu.


Daisy mengantik pakaiannya segera. Ia menghabiskan waktu beberapa menit hanya untuk memberikan serangan terhadap Maulana. Ketika ia memoles lipglos di bibirnya, klakson terdengar dari luar. Daisy bergegas menyambar tas selempangnya ban berlari keluar. Azzam ada di luar pagar, tampak santai dengan celana jins dan kemeja yang digunakan.


“Apa kamu lama menunggu?” tanya Daisy ingin tahu.


“Tidak! Sama sekali tidak lama. Aku baru saja sampai!” kata Azzam sambil menyodorkan helm pada Daisy.


“Apa Kak Maulana ada di dalam?” tanya Azzam.


“Karena tampaknya aku harus minta izin supaya tidak dtuduh menculik!” Azzam tertawa kecil saat berujar. Padahal tidak ada hal lucu yang dikatakan. Mungkin itu hanya bentuk grogi dari yang akan dilakukannya saja. Azzam tampak memikirkan dengan benar perkataan Maulana.


“Kakak saya agak aneh untuk beberapa hal, kamu tidak perlu memasukan perkataannya di dalam hati!” larang Daisy.


Daisy harap apa yang dikatakan kepada Maulana tadi diperhatikan dengan baik. Ia tak mau Maulana mengulangi perbuatannya yang sama memangkas hubungan sosial dirinya atau Daisy yang asli. Kekhawatiran yang berlebihan tidak baik untuk siapapun termasuk Stefani yang asli.


“Tapi, yang dikatakan oleh Kak Maulana ada benarnya. Seharusnya aku minta izin pada seseorang saat mengajakmu! Bagaimana kalau ada hal buruk yang terjadi?”


“Kamu berniat mencelakai saya?” tuding Daisy lekas.

__ADS_1


“Tidak! Mana mungkin aku melakukan  hal buruk semacam itu!” Azzam jelas panik mendengar tuduhan seperti itu. Tetapi, ekspresinya langsung berubah begitu mengetahui tuduhan tersebut hanya candaan Daisy saja. “Aku tidak mau kamu mengalami hal buruk Stefani. Sungguh!”


“Baiklah! Akan buruk nanti saat sampai di toko buku dan mereka belum buka. Apa menurutmu kita tidak terlalu cepat berangkat?” Stefani selesai dengan helmnya dan kini berusaha naik ke atas jok motor milik Azzam.


“Tidak! Tenang saja. Toko buku buka jam 9 pagi. Saat kita sampai ke sana pasti sudah dibuka!” Azzam menyalakan motornya sekarang.


Tak lama mereka sudah berkendara di jalan menuju ke tengah kota.


***


TEEET! TEEET!


Maulana tersentak karena klakson mobil pickup di belakangnya. Ia menoleh dan tampak bingung. Bahkan ia sama sekali tidak bereaksi walau dimaki oleh si pemilik pick up. Begitu kendaraan level menengah itu lewat, barulah Maulana melaju kembali. Pikirannya penuh dengan banyak hal salah satunya adalah perkataan adiknya tadi.


“Apa aku memang salah?”


Selama perjalanan menuju kantor pertanyaan itu menghantui Maulana dengan sangat keras, membuatnya hampir menabrak bamper mobil orang lain berkali-kali karena tidak bisa fokus. Ia bahkan menyesal harus menggunakan sepeda motor pergi ke kantor dalam pikiran yang ruwet begini.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Mahardika yang sampai bersamaan dengan Maulana.


Maulana melirik bos sekaligus temannya itu sedikit sebelum membuang napas lagi. Hal itu membuat Maulana melotot karena tidak paham, tentu saja kebingungan juga.


“Apa yang salah denganku? Aku baru menyapamu, kan?” kata Mahardika kesal dengan sikap Maulana.


“Katakan padaku, apa benar aku berlebihan?” tanya Maulana pada Mahardika.

__ADS_1


Sekali lagi Mahardika menatap dengan kebingungan. Maulana baru saja bertemu dengan dirinya, tetapi langsung ditanyai hal yang membingungkan. Mahardika butuh beberapa penjelasan sebelum menjawab.


“Aku akan menjelaskannya sambil masuk!” kata Maulana dan kembali pria muda itu menghela napas dalam yang berat.


__ADS_2