
Mahardika mengakui kalau dirinya sama sekali tidak berpikir dengan jernih. Ia kelewat senang manakala melihat Daisy tampak menyukai kue-kue yang dibawa. Setiap kali gadis itu menyuap sepotong kecil kue dengan garpu, rasanya susah payah dirinya untuk mengantri di toko kue itu sejak buka tidak sia-sia.
Ini pertama kalinya buat Mahardika mengusahakan sesuatu dengan waktu dan tenaganya. Ia bertanya-tanya apa lagi hal yang bisa membuat Daisy tersenyum seperti itu saat kunjungan lainnya.
Seperti kata Maulana, ia sudah berpikiran pendek. Jika ia pulang sekarang tanpa menemui Daisy, atau salah seorang keluar di rumah utama, Daisy yang saat ini berada di dalam tubuh Stefani hanya akan mendapat masalah.
“Maafkan aku!”
Mahardika bisa melihat alis Maulana terangkat sedikit, tampak tidak percaya dan juga tertarik. “Kamu minta maaf?” tangan pria itu menempel di dahinya segera. “Apa kepalamu terbentur sesuatu di rumah. Bagaimana bisa kamu mengatakan sesuatu yang begitu baik seperti itu?”
Mahardika tertawa dan menepuk punggung tangan Maulana dengan kejam. Lalu, melangkah panjang-panjang ke arah depan rumah utama, bukan ke mobilnya yang ada di halaman. “Tidak usah mengantarku!” katanya pada Maulana.
Seketika langkah kaki Maulana berhenti. Pria itu yang merupakan asistennya melambai segera. “Kalau begitu hati-hati. Aku akan kembali ke rumah sekarang!” katanya dengan meyakinkan dan membuat Mahardika kesal.
Mahardika tetap di depan pintu rumah utama sampai Maulana benar-benar menghilang. Barulah ia menekan bel beberapa kali untuk memberitahu kedatangannya. Seorang pelayan membukakan pintu lebar-lebar dan tersenyum menyambut kedatangan Mahardika.
“Mana Nona Daisy?” tanya Mahardika pada pelayan itu sambil melangkah masuk.
“Nona ada di atas, Tuan Muda. Saya akan mengantar Anda!”
Padahal Mahardika tidak perlu di perlakukan seperti itu. Ia hapal semua ruangan di rumah Daisy seperti rumahnya sendiri. Jadi ia bisa menemukan Daisy jika ditunjukkan di mana gadis itu berada.
Langkah kaki mereka sedikit bergema di tangga, sebelum teredam kembali oleh karpet tebal berwarna biru tua di lantai atas. Mahardika di antar ke kamar Daisy. Tetapi, pintu kamar gadis itu tertutup.
“Nona sedang ganti pakaian. Bisakah Tuan Muda menunggu di teras lantai dua?”
Raise yang muncul sebagai perwakilan menyilakan Mahardika meneruskan perjalanannya.
Mahardika hanya menurut saja. Ia sebenarnya tidak benar-benar berkeinginan untuk menemui tubuh Daisy yang sedang dirasuki Stefani. Melihat Daisy yang seperti itu membuat Mahardika kecewa dan berharap kalau tidak bertemu sekalian. Karena Daisy yang sering ditemuinya itu lembut dan pengertian. Bukannya seseorang yang mudah emosi dan sewenang-wenang.
__ADS_1
Teh datang lebih dulu dibandingkan dengan Daisy, walau Mahardika sudah menolak.
“Aku senang Mas Dika datang!” Daisy muncul dengan mengunakan gaun kuning lembut dan bando berwarna senada. Ia duduk di kursi sebelah Mahardika yang dibatasi meja. Menghadap ke arah halaman samping di mana gazebo berada.
“Aku ada keperluan dengan Pak Handoko.”
Daisy tampak tertarik dengan itu. Tentu saja, Pak Handoko adalah ayahnya Stefani dan jiwa yang ada di dalam tubuh Daisy adalah Stefani kini.
“Jangan tanya. Ini kejutan?”
Kening Daisy langsung berkerut mendengar hal itu. Tampaknya jika Mahardika melanjutkan membahas ini, ia akan dipakasa mengatakan semuanya.
“Apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Mahardika, berharap berhasil mengalihkan pembicaraan.
“Yah, seperti yang Mas Dika lihat t. Hanya Mas Dika yang tidak mengunjungiku!” Suara Daisy terdengar manja.
Namun, Mahardika malah merasa merinding dibuatnya. Andai saja yang mengucapkan hal itu adalah orang yang diinginkan. Mahardika berhasil tersenyum seolah yang diketahuinya bukan hal penting. Ia kemudian menerima duduk di sofa di tengah kamar tidur Daisy.
“Apa Mas Dika mau sarapan di sini dulu?” tawar Daisy.
“Tidak! Ada sesuatu yang harus kukerjakan di rumah. Maaf, tapi mungkin aku akan sarapan denganmu lain kali.”
Ketidak sukaan Daisy yang tubuhnya kini ditempat Stefani tergambar jelas di wajahnya. “Begitu. Sepertinya Mas Dika benar-benar menjauh dariku, ya? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Daisy dengan nada sedih yang dibuat-buat.
“Hanya perasaanmu saja, Daisy! Aku akan pergi sekarang! Cepatlah sembuh!” kata Mahardika pada Daisy.
Mahardika melayangkan ciuman ringan di dahi Daisy, sedikit memaksakan diri. Ia tak mau Daisy melampiaskan kemarahannya pada orang lain, terutama pada jiwa Daisy yang sebenarnya. Ia berhenti di pintu sebentar dan berbalik, melambai seperti biasa.
***
__ADS_1
Kecupan di dahinya sedikit membuat Stefani tidak dapat berpikir dengan baik. Ia menyentuh dahinya segera dan hampir saja berteriak kegirangan di depan Mahardika. Akan tetapi, ia berhasil berjalan ke pintu, menutupnya terlebih dahulu dan meloncat-loncat layaknya orang gila.
Jantung Stefani berdegup kencang karena senang dan tidak menyangka. Akan tetapi, rasanya sangat aneh. Ini tidak seperti ia benar-benar menginginkan perlakukan itu dari Mahardika. Lebih karena ia kaget dan merasa kalau hal baru yang sedang dilakukannya menyenangkan.
“Tenangkan dirimu, Stefani!” kata Stefani pada dirinya sendiri sambil mengelus-ngelus dadanya.
Dentuman di dalam dadanya menghilang dengan cepat. Ia bisa berpikir dengan jernih sekarang.
Ia duduk kembali di ranjang, masih penasaran dengan alasan kedatangan Mahardika ke rumah dan malah menemui Daisy di tempatnya dulu. Apakah karena sikapnya selama ini tiba-tiba saja Mahardika jadi tertarik pada tubuhnya yang diisi jiwa Daisy. Kalau memang benar, hal seperti itu tidak bileh terjadi. Stefani tidak akan membiarkannya begitu saja.
“Raise! Raise!” Stefani memanggil pelayan setia yang bertugas mengurus majikannya sejak kecil.
Ia menanti dengan tidak sabar kemunculan Raise di pintu yang sudah ditutup sebelumnya.
Awalnya Stefani mendengar langkah kaki, sebelum ketukan pintu dan suara Raise yang memberitahukan kedatangannya. Pelayan setianya itu tampak lelah dan berkeringat, sepertinya tadi Raise tengah menyiapkan saran untuk dirinya.
“Ya, Nona?”
“Bisakah kamu memanggil Pak Handoko? Aku ingin bertanya sesuatu padanya!”
“Baik, Nona!” kata Raise dan segera berbalik. Tetapi, ia tak jadi keluar pintu dan menatap ke arah Daisy kembali. “Saya akan menyuruh beberapa pelayan untuk membantu Nona bersiap.”
Stefani mengangguk. Ia memang membutuhkan bantuan supaya tak tampak memalukan saat berhadapan dengan ayahnya.
“Aku akan menunggu.” Stefani membiarkan Raise keluar.
Tak lama empat orang pelayan yang sering dilihat Stefani mengurusi pakaian majikan-majikan mereka masuk. Satu di antaranya membantu memilihkan pakaian yang akan digunakan, yang lainnya menyamakan warna riasan dengan warna pakaian. Dua lainnya mengurusi bak mandi yang akan digunakan Stefani.
Hidup Daisy selama ini benar-benar berada di surga. Ia tak perlu bersusah payah untuk memikirkan banyak hal karena sudah ada begitu banyak orang yang membantu. Entah itu makan, pakaian.
__ADS_1
Stefani merendam dirinya di busa dengan aroma terapi, sementara ditinggalkan sendirian di dalam kamar mandi, Stefani hampir saja tertidur lagi karena merasa nyaman.