
“Nona mencari saya?” tanya Handoko.
Ia berdeham karena suara parau yang didengar sendiri. Kemudian mengikuti Raise yang berjalan lebih dulu setelah mengatakan pada Handoko kalau Daisy mencari. Mereka masuk ke rumah utama dan naik dari tangga samping, beberapa kali berbelok sampai di pintu kamar Daisy. Raise mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk dan memberitahu Daisy kalau Handoko telah datang dan menghampirinya.
“Pak Handoko mau minum teh?” tanya Daisy begitu Handoko telah berdiri di hadapannya.
Handoko terkejut lalu segera menoleh pada Raise yang ada di sampingnya. Namun, ia tak bisa mendapatkan jawaban dari Raise. Pelayan wanita Daisy itu tampak sama terkejut dengan dirinya.
“Nona ....” Raise berujar pelan, meminta pemahaman dari permintaan Daisy yang terkesan tidak masuk akal.
“Bisakah kamu menyiapkannya Raise?” Kalimat perintah yang berbalut dengan pertanyaan keluar dari mulu Daisy segera. Pelayannya jadi tidak memiliki kesempatan untuk menolak. Daisy kemudian menunggu sampai Raise keluar dari kamar sebelum bicara lagi dengan Handoko. “Mari, Pak!’ katanya dengan ramah.
Handoko mengikuti Daisy ke teras, duduk dengan canggung di depan gadis itu yang tersenyum cerah padanya. “Apa kabar Pak Handoko baik-baik saja?”
Handoko menelengkan kepala tidak paham. Jelas mereka terakhir bertemu sore kemarin saat ia mengantarkan Daisy pulang beserta dengan mobil yang dikendarai. Daisy juga memberikan padanya kue yang tak jadi disantap bersama dengan Mahardika di kantornya.
“Ya, Nona, saya baik!” jawab Handoko masih dalam kebingungan.
Ia harus menjawab saja tanpa banyak berpikir. Ada cukup banyak keanehan yang sama sekali tidak bisa dimengerti Handoko sejak beberapa minggu lalu. Mulai dari anaknya yang menyatakan cinta pada tuangan Daisy. Gadis di depannya yang kemudian mempekerjakannya sebagai sopir padahal bisa menyetir. Sikap aneh yang ditunjukkan gadis yang sama pada semua orang--kadang-kadang meledak-ledak, kadang kala sangat terkendali seperti halnya saat ini. Lalu, perasaan Handoko yang mengatakan kalau ia sedang berbicara dengan seseorang yang dikenalnya.
__ADS_1
“Baguslah!” jawab Daisy. “Bagaimana dengan Stefani?”
Sudah hampir seminggu Handoko menyopiri mobil Daisy dan tidak pernah sekalipun gadis di depannya bertanya apa kabar putrinya. Pertanyaan tiba-tiba ini cukup membingungkan Handoko. Apa sebenarnya jawaban yang diinginkan anak majikannya ini.
“Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan Nona. Kalau kesehatannya ... dia baik-baik saja!” jawab Handoko lekas.
“Syukurlah kalau begitu!” Daisy kembali tersenyum setelah mendengar jawaban Handoko. “Jika dia sedikit berubah, katakan pada saya!”
Handoko lekas mengingat bagaimana sikap putrinya yang aneh tadi pagi. Seolah-olah yang ada di sana buka putrinya melainkan orang lain. Handoko sendiri tidak percaya kalau Stefani mengatakan sesuatu yang kejam seperti itu.
“Apa terjadi sesuatu, Pak Handoko?” tanya Daisy. “Sebenarnya saya ingin menemui Stefani sekali lagi. Saya merasa bersalah karena saya Pak Handoko beserta keluarga harus keluar dari rumah. Saya ... tidak bermaksud mengadu pada Papa.”
Suara dentangan cangkir di atas tatakan membuat Handoko menoleh. Dilihatnya Raise tengah mendorong troli berisi perlengkapan teh mahal. “Nona, saya benar-benar tidak harus dijamu seperti ini!’ kata Handoko panik.
“Kenapa? Saya menginginkannya, kok. Lagi pula ... saya sudah lama tidak duduk bersama Papa. Bapak bisa menganggap kalau saya sebagai putri Anda.” Suara Daisy terdengar sedih di telinga Handoko sehingga dirinya tidak bisa menolak tawaran ini.
***
Stefani sudah melakukan sesuatu dan itu mengacaukan keharmonisan yang dibentuk kembali oleh Daisy saat berada di dalam tubuh gadis itu.
__ADS_1
Ajakan minum teh ini murni hanya untuk melihat bagaimana reaksi Stefani setelah kembali ke tubuhnya sendiri. Melihat wajah Handoko, bukan sesuatu yang baik. Apa gadis itu mengamuk seperti pada saat kembali di kesempatan pertama?
Teh di hgelas Handoko tampak disesap dengan tergesa-gesa. Kue yang dihidangkan oleh Daisy juga di makan dengan cara yang sama. Kecanggungan Handoko terhadap status yang dimiliki Daisy sedikit menyesakkan. Maka Daisy pikir sudah waktunya ia mengakhiri acara minum teh ini.
“Terima kasih sudah menemani saya, Pak Handoko!” ujar Daisy saat Handoko berdiri, membantu raise mengemasi semua perlengkapan minum teh.
“Sama-sama Nona!” jawab Handoko sedikit ragu.
“Untuk pagi ini saya mau ke kantor Tuan Muda Mahardika!” kata Daisy memberitahu. “Saya akan turun dalam satu jam, jadi bersiaplah, Pak!” tambahnya.
Handoko mengangguk. “Baik, Nona, saya akan segera menyediakan mobil.” Lalu pria itu berdiri dan beriringan dengan Raise keluar dari balkon.
Daisy menatap kedua orang itu pergi terlebih dahulu tersebut. Ia berdiri ketika telah benar-benar sendirian ditandai dengan suara berdebam pintu kamarnya yang ditutup. Saat ini Daisy masih belum selesai dengan fashionnya karena Handoko keburu datang.
“Apa ada seseorang di luar?” tanya Daisy.
Ia tidak mungkin ditinggalkan sendirian begitu saja. Bukan begitu cara para pelayan yang bekerja di rumahnya melayani. Paling tidak ada seseorang yang berjaga di luar sana dalam jarak lima meter.
“Saya ada di luar, Nona!” Raise ternyata tidak pergi sesuai perkiraannya. Ia pasti telah menugaskan pelayan lain yang kebetulan berjaga di pintu untuk membawa troli berisi teko teh dan cangkir turun ke bawah.
__ADS_1
“Masuklah, Raise, bantu aku bersiap!” perintah Daisy.