
Daisy benar-benar ingin menarik tangannya dari genggaman Mahardika sekarang. Ia kini dalam tubuh Stefani, bagaimana kalau ada seorang pelayan atau malah mama tirinya sendiri yang memergoki perlakukan Mahardika ini.
Namun, semua kekhawatiran Daisy seketika menjadi sia-sia. Sejak tangannya digenggam Mahardika tadi, sudah beberapa kali pelayan memergoki kami berdua. Selain itu di depan rupanya mama tiri Daisy masih berdiri, entah untuk keperluan apa.
“Mahardika?” sapa wanita yang mengantikan posisi ibunya itu.
Mahardika berhenti begitu juga dengan Daisy. Lalu ia melihat Aida, mama tirinya turun dari teras dengan tergesa-gesa menuju ke arah mereka.
Dengan segera, Daisy ditempatkan Mahardika di belakang tubuhnya. Sebuah pagar kokoh yang melindungi Daisy dari kemarahan yang tampak jelas di wajah Aida.
“Kenapa kamu menarik gadis itu pergi bersamamu?” tanya Aida pada Mahardika.
“Saya ada keperluan dengan gadis ini. Jadi saya akan membawanya bersama saya sekarang!” jawab Mahardika.
“Apa Daisy cemburu?” tanya Aida pada Mahardika. Pandangannya berpindah dari Daisy kemudian ke Mahardika kembali. Ia tampak seperti hewan buas yang akan menyergap mangsanya tetapi tertahan oleh keberadaan hewan buas lainnya.
“Kenapa Daisy harus tahu apa yang kulakukan?” tanya Mahardika bertanya kembali pada Aida.
Di dahi wanita yang mengantikan posisi ibunya itu muncul kerutan. Seperti orang yang mengatakan: kenapa kamu menyembunyikan sesuatu dari seseorang yang harus memperoleh kejujuranmu.
Seketika pikiran Daisy berteriak, aku ada di sini dan yang ada di dalam sana adalah Stefani yang mengunakan tubuhku. Ia geram melihat bagaimana Aida memandang Mahardika dengan cara yang buruk. Mahardika bukan pria yang pantas dipandang dengan tatapan seperti itu.
“Permisi, Nyonya!”
Daisy mengangkat kepala segera, menatap Mahardika yang untuk pertama kalinya terganggu dengan perhatian dari mama tirinya. Ia merasa mendapat dukungan dengan cara yang aneh.
Mahardika menarik kembali tangan Daisy, membukakan pintu mobil dan dengan akting yang sangat buruk, membuat kesan kalau sedang memaksa Daisy untuk ikut dengannya. Lalu mengitar depan mobil untuk bisa sampai di kursi kemudi.
“Aku akan menjemputmu untuk pergi ke kampus mulai hari ini!” kata Mahardika tanpa meminta persetujuan dari Daisy.
Padahal Mahardika tidak pernah seprotektif ini sebelumnya. Ia selalu terkesan cuek dan tidak peduli bagaimana Daisy sampai ke kampus atau dengan siapa ia pergi sebelumnya. Tiba-tiba diwajibkan pergi dengan Mahardika membuatnya penasaran akan alasan.
“Apa kamu menyukai Stefani sampai sebegitunya?” tanya Daisy terdengar sedih dan kecewa.
__ADS_1
Lampu merah yang membuat mereka berhenti, memberikan waktu sejenak buat Mahardika untuk menoleh pada Daisy, menatap keheranan. “Kenapa bicaa begitu?” Kepalanya terteleng sedikit. “Dengar, kalau ini adalah Stefani yang asli, maka aku tidak akan berkata begitu. Tapi, di dalam sini ada Daisy! Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendirian di tempat-tempat yang tidak kamu ketahui! Aku akan menjemput dan mengantarmu! Kabari aku kalau kamu ada jadwal kuliah dan sudah pulang! Paham?”
Daisy terkekeh kecil, merasa senang dengan perhatian tak biasa yang didapatkan. Akan tetapi, semua perhatian Mahardika akan membuat semuanya memburuk. Ia tak akan keberatan kalau sedang dalam tubuhnya sendiri, tetapi ini di mata orang lain ada Stefani dan Mahardika adalah pria yang sudah memiliki tunangan.
“Jangan lakukan itu!”
“Kenapa?” tanya Mahardika tidak paham.
“Kamu adalah Mahardika dan aku adalah Stefani sekarang. Jika Mas Dika kedapatan untuk mengantar jemputku setiap hari maka semuanya tidak akan baik jadinya. Mas Dika pasti paham jika sudah lebih tenang!” kata Daisy sambil tersenyum.
Daisy lalu menunjuk belokan yang akan mengantar mobil Mahardika menuju fakultas bahasa tempat Stefani kuliah.
“Tapi, bagaimana ....”
“Apa Mas Dika takut aku diganggu seseorang jika hanya sendirian?” tanya Daisy.
Wajah Mahardika nampak kaget, tetapi telinganya memerah. Ia kemudian mengalihkan pandangan ke depan dan mencengkeram erat-erat setir mobil. Daisy tertawa menyaksikan semua hal itu.
“Itu manis sekali! Akan tetapi, aku tidak mengharapkan perhatian semacam itu dengan tubuh sebagai Stefani. Mas Dika bisa memperhatikanku dengan sangat baik jika nanti semua masalahku sudah selesai!” kata Daisy, menyentuh punggung tangan Mahardika yang memegang setir.
Pria itu mengambil napas dan membuangnya perlahan, paham betuk kenala Daisy mau seperti itu. “Maafkan aku! Aku tidak berpikir dengan jernih!”
“Tidak! Aku paham dan mengerti apa yang kamu cemaskan. Tetapi, Mas Dika harus tahu, aku sudah menjadi tunanganmu! Akan selalu seperti itu!” kata Daisy. Lalu ia meminta Mahardika berhenti di halte saja, alih-alih di depan teras gedung jurusan bahasa. “Terima kasih tumpangannya! Aku akan baik-baik saja sendirian!” kata Daisy.
***
Azzam berhenti tak jauh dari halte, menatap Stefani yang turun dan sebuah mobil jenis sedan tetapi bermerek.
Siapa ya? Azzam bertanya-tanya dalam hati.
Ia menanti sampai mobil tersebut pergi meninggalkan Stefani sendirian dan gadis itu berbalik dan pergi melintasi halaman depan gedung jurusan Bahasa kemudian melaju kembali dan bergegas memarkir motornya di parkiran.
“Stefani!” teriaknya memanggil saat dilihatnya Stefani hanya beberapa meter jauhnya dari tempat ia parkir.
__ADS_1
Stefani, gadis yang menawan hati Azzam tersebut berhenti berjalan, menoleh dan tersenyum lembut ke arahnya. Ia menanti sampai Azzam sampai di dekatnya. “Pagi, Azzam! Ah ... apa masih bisa disebut pagi, ya?” Stefani menengadah menatap langit yang cerah dan matahari yang bersinar terlalu kuat di atas langit, sedikit condong ke timur.
“Masih. Ini masih pukul 9 pagi! Ada kelas hari ini?” tanya Azzam berbasa-basi.
Padahal tadi ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Stefani. Begitu di dekat gadis itu semua pertanyaan yang ada di kepalanya menguap seketika ke atas langit. Menyebalkan memang, tetapi Azzam tak bisa mengendalikan perasaannya dengan baik di dekat Stefani.
“Ya, ada beberapa kelas sampai sore. Kamu juga begitu kan?” tanya Stefani.
Azzam mengangguk. Pikirannya menyuruh Azzam untuk menanyakan soal pengendara mobil yang menurunkan Stefani di halte juga soal gosip yang baru-baru ini di dengar. Stefani, gadis baik yang terlalu pendiam dan belangan sangat ramah padanya ini tidak akan melakukan hal buruk pada orang lain, kan?
“Ada apa?” tanya Stefani.
Ia menangkap gelagat Azzam dengan baik, memutar tubuhnya segera dan menanyakan apa yang diinginkan Azzam.
Namun, sebelum Azzam menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya, tatapannya berakhir di leher Stefani, pada liontin yang dihadiahkan untuk gadis itu.
“Kamu memakainya!” kata Azzam terdengar begitu riang bahkan untuk dirinya sendiri.
“Ya, ini terlihat bagus untukku, kan? Apa cuma perasaanku saja?’ tanya Stefani.
Azzam mengangguk terlalu berlebihan hingga kepalnya sedikit pusing. “Itu memang cocok denganmu. Karena itulah aku memberikannya padamu. Aku bersyukur kamu menerimannya, terima kasih!”
Azzam merasa sangat terharu. Ia tak menyangka Stefani akan menerima hadiah murahan yang diberikan. Hadiah itu harganya tak lebih dari beberapa lembar lima puluh ribuan hasil tabungannya.
“Mau ... makan siang sama-sama nanti?” tanya Azzam hati-hati.
Bagaimana kalau Stefani tidak suka dengan ajakannya dan marah. Ia tak keberatan kalau ditolak Stefani.
“Ide bagus! Aku juga tidak tahu harus makan di mana. Apa kamu punya ide, Azzam?”
Azzam lagi-lagi terpana. Ia mengenang hari-hari di mana Stefani mengajak setiap ajakannya. Ini adalah hal baik yang patut dirayakan. “Aku akan menjemputmu setelah kelas selesai nanti.”
“Tidak! Kita bertemu di lobi saja. Sepertinya kelasku selesai lebih cepat!” Lalu Stefani melambai padanya dan pergi berbelok ke lorong yang berhubungan dengan anak tangga ke lantai dua.
__ADS_1