Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kembali Tukar Jiwa (2)


__ADS_3

Mahardika sudah mengirimkan pesan pada Maulana. Pesan yang mengatakan kalau ia akan datang ke rumah Daisy pagi ini dan sepertinya agak terlambat untuk datang ke kantor.


Tolong handle semua pekerjaan! Begitu bunyi perintah di dalam pesan yang dikirimkan.


Entah bagaimana reaksi asisten sekaligus sekretarisnya itu sekarang. Mahardika tidak bisa membayangkannya dengan benar. Pikirannya sedikit kalut karena kabar tentang Daisy yang sama sekali tidak enak. Ia datang siang kemarin ke rumah Daisy, tetapi ditolak dengan alasan gadis itu sedang tidur. Saat ia menelepon malam hari, Daisy tidak mengangkat teleponnya.


Pagi tadi sekitar pukul enam ia menelepon kembali dan mendapatkan informasi kalau Daisy masih belum keluar dari kamarnya.


“Selamat siang, Pa!” sapa Mahardika setelah turun dari mobilnya.


Ia kemudian  mendekati pria yang akan naik mobil itu dan bersalaman. Ibnu, papa Daisy seakan tidak mengerti kenapa Mahardika ada di sini di pagi hari. “Tumben ke sini jam segini, Dika?” tanya pria tua itu padanya.


“Daisy sejak kemarin belum keluar kamar, Pa, jadi saya kemari mau melihat! Apa dia sakit?”


Mahardika tidak mengerti kenapa Papa Daisy tidak tahu keadaan putri semata wayangnya. Mereka tinggal di rumah yang sama, pasti bertemu setiap hari. Tidakkah mengherankan jika salah satu anggotak keluarga tidak terlihat selama beberapa jam tanpa ada informasi.


Mahardika juga anak tunggal di keluarganya. Kedua orang tuanya kadang heboh dengan tidak jelas jika Mahardika tidak turun untuk makan malam.


Perkataan Daisy soal kondisi keluarganya yang buruk di dalam terngiang-ngiang di telinga Mahardika. Mulai sekarang Mahardika tidak boleh menanyakan keadaan Daisy pada salah satu dari orang tua Daisy tanpa persetujuan gadis itu.


“Kalau begitu saya masuk, ya, Pa!” kata Mahardika meminta izin.


Lelaki itu mengangguk dan membiarkan Mahardika berjalan melewatinya. Ketika sampai di undakan paling atas teras, Mahardika berpapasan dengan mama tiri Daisy. Ia mengucapkan salam dengan sopan. Wanita itu hanya mengangguk dan bergegas menghampiri suaminya di halaman.


Mahardika hampir mengenal rumah Daisy seperti rumahnya--Dalam konteks jalan mana yang harus diambil supaya bisa bertemu dengan Daisy. Ia berbelok di lorong dan naik tangga ke lantai dua. Kemudian belok lagi ke kanan dan lurus hingga mendapati satu pintu di sisi kanan. Saat ini pintu kamar Daisy terbuka.


“Berikan aku susu atau apapun yang bisa aku minum. Tenggorokanku sakit, Raise, dan pasti sulit menelan!” kata Daisy.


Raise menutup mulutnya dengan ekspresi yang mengatakan: Bagaimana saya tidak menyadarinya. Ia lalu berlari keluar dan hampir bertabrakan dengan Mahardika yang ada di pintu.


“Dia baik-baik saja?” tanya Mahardika pada Raise.


“Saya tidak bisa mengatakan kalau Nona baik-baik saja, Tuan! Badannya panas dan tenggorokannya sakit. Saya akan ke bawah dan membuatkan sarapan.” Raise menundukkan kepala kepada Mahardika, lalu bergegas pergi.

__ADS_1


Mahardika agak ragu untuk masuk ke dalam. Tetapi, ia ingin tahu apakah kondisi Daisy tidak buruk dan bisa dirawat di rumah. Atas perlakukan buruknya kemarin, Mahardika bersedia untuk dimarahi nanti.


“Daisy!” panggil Mahardika saat masuk ke dalam kamar.


Daisy menegakkan tubuhnya sedikit sebelum kemudian menjatuhkan dirinya kembali, tampak tidak bersemangat melihat kedatangan Mahardika.


“Apa yang Mas Dika inginkan kemari?” tanya Daisy menyebalkan.


Kening Mahardika berkerut seketika. Bukankah kemarin Daisy datang dan meminta maaf padanya atas sikap buruk yang tidak bisa dikendalikan. Kondisi Daisy baik-baik saja saat itu. Bahkan Mahardika sangat menyesal karena tidak mengantar gadis itu keluar.


“Aku ingin tahu kabarmu!” kata Mahardika.


“Mas Dika bisa melihat betapa buruk keadaanku sekarang. Aku benci sakit!”


Alarm di otak Mahardika berdering dengan keras memperingatkan. Ia mundur tanpa sadar.


“Kenapa Mas Dika melihatku begitu?” tanya Daisy dengan tidak mengerti.


Mahardika mengeleng. Lalu ia berbalik untuk segera pergi. Ia tidak mendengar suara Daisy memanggil namanya. Saat sampai di ambang pintu Mahardika berbalik ke belakang, menatap Daisy yang ada di atas ranjang, sama sekali tidak peduli padanya.


Gadis yang ada di atas ranjang langsung menoleh. “Ya!”


Kemudian mata gadis itu terbelalak. Ia bergegas turun dari ranjang, berusaha mengejar Mahardika, tetapi tidak berhasil. Mahardika saat ini tidak peduli lagi dengan gadis yang ada di ranjang. Ia berlari turun di tangga, berpapasan dengan Raise yang keheranan melihat kepanikannya.


Ia sampai di pintu samping yang menghadap pada pavilliun dan berhenti di sana.


***


“Kamu yakin tidak butuh tambahan uang jajan?” tanya Handoko pada Stefani.


Pria tua itu tidak akan pergi ke mana-mana hari ini karena tubuh Daisy sedang sakit. Raise baru saja mengabarkannya kemari dengan tergesa-gesa sambil melayangkan tatapan mengancam ke arah Stefani yang diam saja mendengarkan.


“Tidak, Ayah, uangnya masih banyak. Lagi pula kemarin sepertinya aku hanya di rumah saja!”

__ADS_1


Daisy tidak mungkin memberatkan Handoko yang sudah berusaha keras bekerja. Lagi pula ia tidak sabar mencoba naik kendaraan umum sendirian. Sepertinya ia tidak akan melupakan pengalaman pertama kali seumur hidup ini nanti.


“Seharusnya kamu minta kakakmu untuk mengantarmu!” keluh Handoko.


Kekhawatirannya tidak serta merta hilang begitu saja. Ia memandang putrinya dari atas sampai bawah. Tangannya terulur ke atas puncak kepala Daisy dan mengelus tempat itu dengan sangat lembut.


“Apa kamu masih marah pada Maulana karena menamparmu kemarin?” tanya Handoko lagi.


Daisy terkejut dengan informasi baru itu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Kakak yang baik seperti Maulan bermain kasar pada adik yang disayanginya. Tetapi, Daisy yakin ada alasan di balik tindakan kasar Maulana. Bahkan jika saja Daisy tidak mengendalikan diri dengan baik, kejadian pada hari ulang tahunnya kemungkinan akan dialami Stefani lagi.


“Tidak, Ayah, Kak Maulana pasti punya alasan kasar padaku! Walau aku lebih suka dia mengatakan baik-baik dibandingkan menampar!”


Daisy menyentuh pipinya yang ditampar Lola kemarin. Tetapi, tempat itu tidak bengkak atau ngilu. Rasa sakit berasal dari pipi sebelahnya. Benar juga, tubuh yang digunakan milik Stefani, bukan miliknya.


Pandangan Handoko meredup. “Begini saja, Ayah akan minta izin untuk menggunakan mobil Nona Daisy. Bagaimana?”


Daisy terbelalak seketika dan sekuat tenaga mengeleng. “Tidak, Ayah, aku bisa pergi dengan angkutan umum. Aku akan pergi sekarang!” kata Daisy sambil bergegas meninggalkan Handoko.


Jika pria tua yang merupakan ayah Stefani itu mendesak terus maka mau tak Daisy akan menyetujuinya. Ia tahu kalau Stefani tidak menyukainya kini. Entah apa alasan gadis itu membencinya dengan demikian parah sampai mereka bertukar jiwa.


Daisy baru melintasi halaman samping separuh saat mendengar seseorang menyerukan namanya.


“DAISY!”


Daisy berhenti seketika, kemudian menolah. “Ya?”


Lalu ia terdiam menatap Mahardika. Tenggorokannya mendadak serasa tercekik. Ia bertanya-tanya dengan nama yang baru diserukan Mahardika padanya.


“Astaga!” Mahardika lunglai dan jatuh terduduk di rerumputan, menengadah menatap Daisy.


“Maaf, Mas Dika, tadi saya hanya ....”


“Kamu menyahutinya! Kamu menyahuti saat aku memanggilmu dengan nama Daisy! Bagaimana bisa ....”

__ADS_1


Daisy tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Mahardika. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana dirinya ada di tubuh Stefani. Ia mengosok lengannya yang baik-baik saja.


“Maaf, Mas, saya harus pergi sekarang,” kata Daisy pelan dengan suara bergetar.


__ADS_2