Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Makan Siang dengan Stefani (2)


__ADS_3

Restoran yang dipilih oleh Stefani adalam sebuah rumah makan yang sekarang ini sedang sering dibicarakan di media sosial oleh orang-orang. Tampaknya Stefani tidak sengaja menemukan restoran ini saat sedang membuka-buka aplikasi media sosial.


“Tempat ini memiliki reviuwnya tidak terlalu bagus!” kata Mahardika mengingatkan.


Akan tetapi, tampaknya Stefani tidak peduli dengan yang dikatakan oleh Mahardika. Ia tetap melangkah masuk ke restoran dengan penuh semangat. Mereka memilih meja di tengah ruangan. Para pelayan hilir mudik keluar masuk area dapur dan tempat meja para tamu.


Stefani mengangkat tangan memanggil pelayan, tetapi tidak ada yang mendekat walau sudah melihat lambaian Stefani.


“Tolong kemari, kami mau pesan!” Mahardika menghardik seorang pelayan yang mondar-mandir sok sibuk dari tadi.


Si pelayan tampak enggan mendekat, tetapi tak memiliki pilihan lain selain mendekat ke arah Stefani dan Mahardika.


“Jadi mau pesan apa?” Ekspresi pelayan itu sama sekali tak menyenangkan.


“Pesanlah!” suruh Mahardika.


Matanya mempelototi pelayan dengan ancaman yang jelas. Kalau sedikit saja ada ketidak sopanan dalam tindakannya menghadapi pelangan, Mahardika akan membabatnya habis sebagai pelajaran. Bukan karena Stefani, lebih karena ingin melampiaskan kekesalannya yang sudah menumpuk sejak pagi saja.


Stefani menyebutkan beberapa jenis menu yang terdengar biasa-biasa saja. Pelayan itu mencatatanya dengan asal dan menyebutkan pesanan sebanyak dua kali. Sebanyak itu pula Stefani meralat pesanan yang terdengar salah di telinganya.


“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak makan di sini!” ujar Mahardika setelah pelayan yang menerima pesanan pergi.


“Kenapa memang? Tidak suka dengan suasana ramainya. Tapi, aku ingin mencobanya setidaknya sekali. Kapan lagi aku bisa merasakan semua ini kalau tidak menjadi segabai seorang pewaris Aghra?”


“Kalau kamu mengatakannya kepada Maulana, dia akan membawamu kemari sebagai Stefani dan bukannya Daisy.”


“Aku tidak mau mendengar namanya!” kata Stefani.


“Kenapa, dia kakakmu. Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat orang salah paham padanya. Dia tidak melakukan hal yang jahat padamu!” kata Mahardika.


“Masalahnya dia melakukan banyak sekali kesalahan padaku saat aku menjadi Stefani. Apa kamu tahu bagaimana ia berubah sekarang? Dia berubah karena adiknya adalah Daisy, bukan aku!” seru Stefani memberikan penekanan di setiap kata-katanya.


Mahardika membuka dan menutup mulutnya karena kaget. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana ada banyak sekali kesalah pahaman di dalam kehidupan Maulana. Padahal pria itu sudah melakukan segala cara untuk menjadi Kakak yang baik selama ini.


“Apa kamu tahu kenapa tidak ada yang menganggumu saat OSPEK?” tanya Mahardika.

__ADS_1


“Karena aku tidak menarik?” tebak Stefani.


Mahardika tertawa karena mendengar itu. “Tidak! Itu karena kakakmu mengancam para penyelengaran OSPEK untuk tidak menganggumu apapun yang terjadi. Begitu-begitu Maulana adalah asisten dosen yang memiliki banyak pengaruh. Kamu pikir bagaimana ia menjadi asistenku? Keberuntungan?” ejek Mahardika.


Stefani memalingkan wajah seketika mendengarnya. Tampaknya ia tak mau mendengar hal lain seperti kakaknya.


“Aku tidak peduli!” katanya setelah keheningan yang aneh di antara mereka.


Mahardika mengeluarkan ponselnya segera, tidak peduli juga dengan makan siang Stefani yang akan terlambat keluar seperti pesanan yang lainnya.


***


Sudah lebih satu jam. Stefani yakin karena orang yang datang lebih setelah mereka dan duduk di sudut ruangan telah mendapatkan pesanan dan sudah membayar ke kasir. Sementara dirinya, jangankan makanan, pelayan yang menerima pesanannya tadi saya sudah tidak tahu di mana keberadaannya.


Stefani sebentar-sebentar berdiri dan kemudian duduk kembali. Ia kemudian merungut panjang pendek tentang pelayanan yang tidak baik di sini.


“Sudah kubilang padamu, kan, kalau pelayanan di restoran ini buruk.” Mahardika yang duduk di depannya menyimpan ponsel ke dalam saku dalam jasnya, memandang Stefani mengejek karena meremehkan peringatan.


“Aku pikir hanya karena ramai dan berisik saja!”


“APA-APAAN INI! KALIAN PIKIR WAKTUKU TIDAK LEBIH PENTING DARI PELAYAN BURUK INI!” Seketika saja tempat itu menjadi hening seketika. Lalu Mahardika kemudian mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar dan menaruhnya di meja. “SAYA HARAP BESOK RESTORAN INI MASIH DENGAN PEKERJANYA YANG SEPERTI INI!


Stefani melongo melihat kelakuan Mahardika yang tidak diduganya itu. Jelas sekali kalau sejak tadi Mahardika sudah menahan kekesalan kepadanya. Mungkin ia akhirnya bisa melampiaskan kekesalan pada sesuatu yang menganggu. Sekali dayung, dia tiga pulau terlampaui.


“Ayo pergi! Masukan ulasan buruk di ponselmu untuk ulasan restoran ini. Aku juga sudah melakukannya.”


Stefani mengangguk-angguk patuh dan menyambar tasnya saat pergi keluar dengan pandangan orang-orang tertuju kepada mereka. Sebagai orang yang dirugikan di sini, kesalahan tidak akan membuat mereka menjadi kesusahan. Memang siapa yang akan marah pada seorang CEO dan putri tunggal keluarga Aghra.


Mahardika melaju dengan cepat keluar dari tempat parkir restoran itu. Mobil-mobil lain di jalanan tampak melesat dengan kecepatan lambat di kiri kanan mereka. Tahu-tahu Stefani sudah ada di rumah.


“Ayo turun!” kata Mahardika sambil membukakan pintu mobil.


Senyum di wajah lelaki itu tampak sangat terpaksa yang menyebabkan mimik wajahnya menjadi lucu. Mau tidak mau Stefani tertawa terpingkal-pingkal melihat itu semua.


“Mas Dika harus singgah dulu! Kalau bisa bertemu dengan Pak Ibnu di dalam ... nanti dilaporkan kembali pada orang tua Mas Dika, kan?”

__ADS_1


Stefani tidak bohong soal itu. Semua tindak-tanduk Mahardika saat ini sedang diawasi. Pak Ibnu yang kemarin malam memberitahu Stefani setelah makan malam. Pria itu mendatanginya ke kamar dan memberitahu apa yang direncanakan orang tua Mahardika.


Mahardika melenguh, tetapi tidak menolak. Ia mengiringi langkah kaki Stefani menaiki undakan dan sampai di teras. Ia juga membantu Stefani saat mendorong pintu besar di depan hingga terbuka.


“Aku sudah memperlihatkan betapa akurnya kita, kan, pada para pelayan. Ini harusnya sudah cukup!” kata Mahardika dengan suara pelan saat berdiri di tangga dengan Stefani.


“Bagaimana kalau kabarnya tidak sampai pada Pak Ibnu!”


Wajah Mahardika memerah kembali karena kesal. Ia tak tahu apa yang mesti dilakukan lagi untuk bisa membuat suasana terlihat baik-baik saja.


“Aku kan belum jadi makan, bagaimana kalau kita benar-benar makan siang bersama di ruang makan?” usul Stefani. Ia agak geli membayangkan Mahardika menikmati makan siang dengan memikirkan kalau harus bersamanya lebih lama lagi.


“Aku tidak ....”


“Nah, begitu dong! Harusnya sepasang kekasih akur begini. Aku tidak tahu angin apa yang membuat Mahardika bersikap dingin, tetapi melihat ini tampaknya sudah baik-baik saja!”


Stefani dan Mahardika mau tidak mau jadi harus menoleh ke belakang segera. Di sana, di ambang pintu ruang makan Aida dan Ibnu keluar, saling bergandengan tangan dengan cara yang menyebalkan.


Mahardika hanya bisa memperlebar senyumnya. Tetapi, Stefani senang dengan kedatangan kedua orang itu. Lekas Stefani menempel ke arah Mahardika segera. Mengabaikan semua hal yang merujuk kepada ketidak sukaan Mahardika terhadapnya.


“Semuanya baik-baik saja, kok, Ma,” kata Stefani sambil tersenyum.


“Jangan terlalu dekat!’ bisik Mahardika saat menoleh ke arah Stefani.


“Kalau tidak dekat, akan dapat masalah, kan?”


Aida mengatakan sesuatu lagi tentang bagaimana Mahardika dan putri tirinya tampak serasi. Tentu saja mereka tidak tahu kalau yang ada di tubuh Daisy sekarang adalah Stefani.


“Mahardika, bisa ikut Om sebentar?”


Mahardika tampak seperti seseorang yang baru keluar dari sebuah lubang yang sangat mengerikan. Ia melepaskan diri dengan cepat dari Stefani dan berjalan cepat mengikuti Ibnu.


“Dia sangat lucu, kan?” Aide mengedip menyebalkan pada Stefani.


Rasanya Stefani bisa paham kenapa Daisy tidak menyukai ibu tirinya.

__ADS_1


__ADS_2