Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Masalah-Masalah (1)


__ADS_3

Stefani melewatinya begitu saja tanpa menyapa atau melakukan hal lain seperti biasanya. Akan tetapi, Maulana jadi mengejarnya karena tahu kalau adiknya itu menangis. Pertanyaan jadi menghantam otak Maulana seketika, siapa yang sudah membuat adiknya kembali menangis. Stefani baru saja berhenti beberapa waktu lalu.


“Astaga, Stefani ... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Maulana sambil menangkap pergelangan tangan gadis itu lekas-lekas, menahannya dan memaksa Stefani mengikuti Maulana ke ruang tamu. Didudukan gadis itu di sana dan dipandangi Stefani yang berusaha mengenyahkan air mata yang mengalir di pipinya. “Siapa yang buat kamu menangis begini?” tanya Maulana.


“Tidak ada!” jawab Stefani lekas.


Suaranya sudah terdengar parau saat ini. Rasanya Maulana ingin sekali menghajar siapapun yang sudah membuat adiknya menitikan air mata di hari pertama di rumah baru mereka. Padahal Stefani baik-baik saja tadi. Ia membiarkan Stefani mengurus kamarnya yang terletak di tengah-tengah ruangan. Tiba-tiba saja saat bertemu sudah jadi seperti ini.


“Stefani, masalah tidak hilang walau kamu mengatakan tidak ada apa-apa, oke?” Maulana menekan hal itu dengan sangat baik pada Stefani. Ia berharap adiknya itu jujur padanya. Akan tetapi, gadis itu memalingkan wajah, tak mau bertatapan dengannya.


“Saya benar-benar tidak apa-apa, Kak!”


Terbersit sebuah nama begitu saja di kepala Maulana. Ia tahu tidak selayaknya menuduh seseorang yang belum tahu bersalah atau tidak. Bisa saja ia akan dituntut karena mencemarkan nama baik. Sekali lagi Maulana tidak peduli. Ada seseorang yang sudah mengusik adiknya sampai menangis.


“Ini ulah Maulana?” tebaknya.


Stefani lekas menegakkan punggungnya dan melotot kepada Maulana. Tampaknya tebakan Maulana tepat sekali, dilihat dari reaksi Stefani saat ini. Amarah Maulana jadi memuncak. Ia ingin mencari pemuda yang sok beramah tamah kepada adiknya itu tadi. Bagaimana mungkin sikap ramah tamahnya jadi membuat Stefani menangis.


“Apa dia mengatakan kalau menyukaimu dan kamu menolaknya? Lalu dia mengatakan hal yang jahat padamu? Aku akan ....”


“Tidak-tidak! Dia tidak melakukan itu, Kak!” Daisy mengeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Tatapan matanya mengatakan kalau Maulana sudah salah sangka kepada Azzam. “Dia bertanya apakah Saya suka dengan rumah ini! Saya tidak bisa menjawabnya. Lalu kemudian dia bertanya sebaliknya. Saya jawab kalau ini bukan soal suka atau tidak. Saya hanya sedih karena harus pindah.”


Mulut Maulana terbuka dan tertutup tak bisa mengatakan apa-apa. Akan tetapi, ia juga merasakan hal yang sama dengan Stefani. Rumah tempat mereka dibesarkan itu begitu penuh dengan kenangan. Entah sedih yang tak berkesudahan atahu kebahagiaan yang hanya secuil saja. Tempat itu harus ditinggalkan tiba-tiba karena keputusan dari Tuan rumah tempat mereka bekerja.


“Maaf, aku sudah mencurigai temanmu!” kata Maulana mengusap kepala Stefani.

__ADS_1


Stefani mengeleng perlahan. Ia mengusap air matanya dengan cepat dan mencoba tersenyum seperti biasa. Akan tetapi, ia tak berhasil karena air mata Stefani akhirnya keluar lagi. “Aku sudah banyak merepotkan Kakak. Walau rumah itu berisi banyak kenangan buruk, tetapi ada hal baik juga yang terjadi di sana!” kata Stefani.


“Kamu benar!” kata Maulana pelan.


Ia mengelus kepala Stefani supaya adiknya itu tidak menangis lagi. Ingatan tentang hari di mana ia begitu marah karena harus mencari Stefani ke seluruh tempat seperti orang gila terbayang lagi di dalam benaknya. Lalu tatapan Stefani yang terkejut karena kalimat kejam yang meluncur dari mulutnya kembali muncul.


“Kakak mau minta maaf padamu, Stefani! Kakak sudah menjadi saudara yang buruk. Semarah apapun Kakak hari itu, seharusnya tidak mengatakan hal kasar macam itu padamu. Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa atas kematian Ibu. Maafkan Kakak karena setelah itu bahkan tidak mengakui kesalahan dan mulai mengacuhkanmu. Kakak memang sangat jahat.”


Stefani mengangkat kepalanya dan memandang Maulana dengan tatapan yang tak bisa diterjemahkannya dengan kata-kata. Rasanya seperti dilihat luar dalam.


“Saya juga banyak bersalah pada Kakak. Saya kekanak-kanakan dan tidak bijaksana!”


Maulana jelas tertawa mendengar perkataan Stefani. “Kamu masih muda, tentu masih boleh bersikap kekanak-kanakan. Akan tetapi, kamu tidak boleh merasa bersalah terlalu dalam, Stefani. Apapun yang terjadi pada kami dan Ibu bukan kesalahanmu!” tegas Maulana.


Stefani lekas mengangguk paham.


Daisy tidak mengacau, kan? Ia benar-benar takut sekali mengacau di dalam kehidupan Stefani. Keakrabannya dengan ayah dan kakak Stefani saja sebenarnya sudah salam jika merunut apa yang dikatakan Stefani sendiri dan juga Maulana. Hubungan mereka sekeluarga jelas tidak baik. Sama seperti hubungannya dengan Ibu dan Aida, kedua orang tuanya.


“Saya akan kembali ke kamar sekarang,” kata Daisy canggung kembali. Namun, syukurlah karena Maulana sama sekali tidak menyadari kecanggungan itu. “Apa ada sesuatu yang harus saya lakukan untuk membantu?” tanya Daisy tersadar di mana ia berada kini.


“Tidak! Temanmu itu berkata kalau rumah ini baru saja dibersihkan tadi pagi. Itu artinya tidak ada yang perlu kamu khawatirkan tentang apa yang akan terjadi pada rumah ini kalau kami yang mengerjakannya!” tolak Maulana pada usul Daisy untuk membantu. “Lalu kamu baru sakit kemarin!”


Daisy terkekeh kecl. Memang apa kemampuannya sampai harus membantu beres-beres barang. Ia akan menghabiskan waktu lama untuk berpikir di mana letak vas bunga paling bagus di ruang tamu. Untungnya mereka tidak memiliki vas bunga.


“Kembalilah ke kamar dan istirahat. Aku akan memanggilmu jika beres-beres sudah selesai dan makan malam telah sampai.” Maulana mendorong punggung Daisy untuk masuk ke dalam. “Kamu hanya belum bisa makan makanan pedas, kan?” tanya kakak Stefani itu meyakinkan diri apa yang akan dibelinya untuk Daisy.

__ADS_1


Bukannya “belum” tetapi Daisy memang tidak bisa makan makanan pedas. Tetapi, Daisy mengangguk juga. Ia tak mau membuat Maulana kecewa dengan memproklamirkan kalau pria itu tidak kenal adik semata wayangnya.


Daisy sampai di kamarnya dan melemparkan diri ke atas ranjang yang telah dialasi sprei berwarna ungu dan oranye. Benda itu diserahkan Handoko setelah Maulana membagi kamar. Untungnya ranjang rumah kontrakan baru ini sedikit lebih empuk dibandingkan pavilliun.


Daisy ingat pada misinya untuk memberantas korupsi barang pesanan untuk kesejahteraan karyawannya. Hal itu sama sekali tak bisa dibenarkan. Bagaimana ia bisa mengurusnya saat ada di tubuh Stefani begini. Tiba-tiba saja ia ingat akan Mahardika.


Ketika ia menemukan ponselnya, ada cukup banyak panggilan yang dbuat Mahardika untuk dirinya. Ia tak menunggu lama supaya panggilannya diangkat karena ponsel Mahardika tampaknya berada di dekat pria itu.


“Akhinya kamu mengangkat telepon!” kata Mahardika penuh syukur. “Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu soal ayahmu. Akan tetapi, karena kamu yang menghubungiku lebih dulu, aku akan bertanya apa sebenarnya yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Mahardika memberi kesempatan pada Daisy.


“Sebenarnya aku mau minta bantuan pada Mas Dika!” kata Daisy jujur.


Ia baru saja menemukan ide ini. Padahal masalah itu sudah ditemukan sejak petama kali pindah ke tubuh Stefani ini.


“Ya, apa itu?” tanya Mahardika pensaran.


“Bisakah Mas Dika meminta tolong kepada Papa untuk menyelidiki bawahannya yang melakukan korupsi pada pembelian barang-barang untuk pelayan?” tanya Daisy.


“Kenapa dengan itu memang?” tanya Mahardika lagi.


“Mereka mengajukan shower dan tempat tidur baru untuk pelayan yang tinggal di pavilliun dan pelayan yang diberikan kamar di ruang belakang rumah. Akan tetapi, barang-barang yang seharusnya ada itu tidak berganti.” Daisy menjelaskan duduk permasalahannya dulu. Karena tidak mungkin tiba-tiba saja menyelidiki tanpa alasan. “Memang barang-barang itu tidak terlalu mahal, akan tetapi itu sudah menjadi dasar suatu kejahatan besar. Bagaimana kalau ke depannya bukan hanya barang tetapi juga gaji pegawai lainnya?”


“Baiklah! Aku mengerti apa yang kamu katakan. Aku akan lakukan yang terbaik untuk mengungkapkannya kepada papamu!”


“Terima kasih!’ ucap Daisy. “Jadi apa hal yang ingin Mas Dika bicarakan?” tanya Daisy.

__ADS_1


Ia menganti posisi tubuhnya dari tengkurap ke telentang. Lalu mendengarkan dengan sangat saksama.


“Daisy ini soal papamu. Aku tahu kalau kamu sudah menduga ada hal aneh yang terjadi pada papamu. Aku menemukan hal aneh lainnya. Aku harap kamu tidak marah saat aku bicara!” kata Mahardika mewanti-wanti.


__ADS_2