
“Ayah, jika pun benar yang merencanakan semua ini adalah Nona Daisy, saya akan menyelesaikannya.”
Handoko terkejut dengan perkataan Stefani putrinya. Harusnya gadis itu menangis seperti biasa, mengatakan kalau dunia sudah berbuat tidak adil padanya. Harusnya Stefani meminta tolong dan berkata hanya Handoko yang bisa melakukannya. Akan tetapi, Handoko melihat seorang gadis yang sudah terbiasa mengatasi semuanya sendirian.
Ia tersentak takala merasakan genggan di jarinya, lembut, hangat, dan masih kecil. Air mata Handoko tak terbendung lagi. Jatuh begitu saja tanpa aba-aba dan bahunya berguncang karena hal yang sama.
Stefani tampak terkejut melihat itu semua. Acara anak-anak di televisi yang mereka tonton terdengar menyenangkan dengan tawa terbahak-bahak tak tertahankan. Stefani tidak lantas meraih remote TV untuk menganti saluran.
“Apa saya sudah mengatakan sesuatu yang membuat Ayah sakit hati? Saya benar-benar tidak sengaja!” Stefani terdengar panik saat bicara.
Handoko merengkuh putrinya itu ke dalam pelukan, tidak peduli jika pada akhirnya menerima penolakan dari Stefani. Ia ingin melakukannya sudah sejak lama sekali. “Ayah memang tidak berguna! Ayah tidak bisa membuatmu bahagia dan tak bisa membantumu seperti yang lainnya.”
Stefani mendorong dada Handoko supaya pelukan mereka terlepas dan gadis itu menatap orang tuanya yang tersisa dengan iba. “Ayah berbuat kesalahan dan menyadarinya. Ayah sudah berusaha, mungkin pikiranku yang tidak dewasa sehingga tidak memahaminya.”
Gadis kecil yang bisanya dulu hanya menangis dan daim saja saat tak suka. Kadang kala ia membanting barang ketika ada hal yang tidak disukainya. Terkadang bertengkar dengan saudara laki-lakinya yang susah untuk mengekspresikan kasih sayang seperti Handoko. Kini mengatakan bahwa ia tidak melakukan kesalahan. Hati Handoko terenyuh, sedikit menyakitkan, juga tertampar.
“Ayah kehilangan masa di mana kamu seharusnya bergantung pada Ayah. Rasanya sedikit menyedihkan!”
Stefani tersenyum, menepuk-nepuk punggung tangan Handoko lembut sekali. “Tidak! Ayah tidak kehilangan apapun. Saya akan tetap bergantung pada Ayah kapanpun itu.” Sekali lagi gadis itu tersenyum. “Kata orang anak perempuan akan selalu bergantung pada ayahnya. Saya harap Ayah tidak akan meninggalkan saya, apapun yang terjadi!”
Mana mungkin Handoko meninggalkan putrinya ini. Ia membelai puncak kepala Stefani dengan sayang. “Tidak akan!” katanya dengan sangat yakin.
Televisi kembali berganti siaran dengan cepat. Tawa para bocah yang tampak tak seperti manusia di dalam animasi tadi menghilang berganti dengan iklan. Stefani sepertinya masih terlalu canggung untuk hanya menonton televisi berdua saja dengan Handoko.
“Apa aku melewatkan sesuatu? Kalian akan menyeberang ke sebelah mana?” tanya Maulana yang muncul tiba-tiba.
Di tangannya ada mug besar dan aroma bumbu mie instan menguar dari sana.
__ADS_1
“Bukannya tadi Kakak baru saja makan?” Stefani tertarik.
“Mau juga?” tanya Maulana menyodorkan. “Aku akan buat lagi!”
“Tidak!” Gadis itu menolak dengan tegas walau wajahnya tampak sangat tertarik dengan bau yang berasal dari dalam mug besar.
“Makan satu tidak akan membu**hmu!” seru Maulana. “Kamu berusaha diet?” tanya Maulana penasaran. Alis milik Maulana menyatu dan dahinya seketika berkerut.
“Tidak!” Stefani menyambar dengan cepat lagi.
“Kamu sudah kurus, jangan diet lagi! Astaga ... kamu mau terlihat seperti belulang? Makanlah lebih banyak dan lakukan itu agak sering!” Maulana mencerocos tanpa henti tanpa alasan.
Mungkin karena melihat wajah Handoko yang basah oleh air mata. Atau melihat Stefani yang canggung setelah melihat air matanya. Yang mana saja, interaksi kedua anaknya membuat perasaan Handoko merasa nyaman. Ia merasa lebih baik.
“Kakakmu benar, kamu sudah terlalu kurus. Makanlah lebih banyak! Mau Ayah buatkan?”
Handoko tertawa dan berdiri. Padahal mereka baru saja makan malam, tetapi sudah mau makan mie lagi.
“Anak-anak harus makan banyak supaya tubuh besar!” kata Handoko dengan senang.
“Ayah mau saya sebesar galon?” Stefani terdengar panik dan tidak terima.
Handoko memilih tidak menjawab apapun.
***
Kapan Daisy terakhir memakan mie? Ia tak ingat. Atau mungkin sebenarnya ia tak pernah menikmati makanan ini sebelumnya. Seperti katanya pada Handoko dan Maulana tadi, Daisy biasa menjadwal apa yang akan dimakan, menghitung kalorinya.
__ADS_1
“Stefani, aku akan mengatakannya karena kasihan padamu. Mie itu sama sekali tidak akan mengigitmu atau membuatmu jadi sakit! Sungguh!”
“Terlalu banyak makan MSG yang ada di dalam mie dapat menyebabkan keracunan. Siapa bilang itu tidak membuat saki?’ Daisy memberi pembelaan. Sendok dan garpunya masih melayang sejak tadi, belum turun ke mangkok berisi mie yang menguarkan aroma wangi.
Maulana menjulurkan tangan supaya bisa mencubit pipi Daisy keduanya. Ia terpekik dengan tidak suka. Dengan mata berair menatap pada pria yang dipanggilnya Kakak hampir dua minggu itu.
“Sakit!” protesnya dengan penuh tenaga.
“Kamu sangat mengemaskan sekaligus menyebalkan. Apa-apaan dengan sikap yang seperti itu! Makanlah ... kamu tidak akan keracunan!” suruh Maulana.
Mie di hadapan Daisy tidak terlalu panas lagi. Ia mengulungnya seperti makan spagetti dan menyeruput kuahnya dengan sendok. Lalu mie itu meluncur ke dalam mulutnya, sensasi kenyal dan gurih membuat matanya mengerjap kesenangan. Daisy bertanya-tanya kenapa tidak pernah mencoba makanan ini sebelumnya.
Ia mengangguk-angguk seperti gadis lain saat memakan makanan yang enak.
“Wajahmu jadi lebih baik setelah makan, ya? Haruskah aku menyetok makanan enak instan di dalam kulkas di belakang?” tanya Maulana.
Daisy mengeleng segera. Ia tak bisa membayangkan terus-terusan mengemil dengan tubuh yang kini digunakan. “Kalau Saya menginginkan sesuatu, Saya akan mengatakannya kepada Kakak!”
“Bagus!” Maulana terlihat senang. Lalu ia menengadah menatap langit-langit. “Sepertinya aku juga harus membawakan makanan enak untuk Mahardika,” gumamnya pelan.
Daisy tahu kalau Maulana sengaja mengatakannya. Bukan untuk menghukumnya, lebih tepat disebuat sebagai sebuah ujian. Tubuh yang Daisy gunakan adalah milik Stefani yang belum lama ini menyatakan cinta pada tunangan Daisy.
“Memang kenapa dengannya?” Bodoh kalau Daisy tidak bertanya. Sebab ia jadi kelihatan benar-benar menahan diri jika diam saja.
“Yah, dia mendapat masalah karena makan malam hari itu. Dia diawasi oleh orang-orang kepercayaan ayahnya di kantor sekarang dan harus menemui Nona Daisy dua kali sehari.” Maulana bercerita tanpa beban.
Ia sedikit merasa kasihan, akan tetapi ia sudah memperingatkan Mahardika untuk tidak terlalu dekat dengannya. Hubungan antara dua calon pewaris perusahaan itu berbeda dengan orang biasa. Mereka tidak hanya bisa berkata saling mencintai. Tidak tanduk juga akan diperhatikan supaya tidak merugikan satu sama lain. Daisy tidak mengerti kenapa Mahardika sampai melupakan hal itu.
__ADS_1