
Mata Stefani terbelalak ke arahnya. Lekas Azzam refleks menutup mulut dengan kumpulan buku-buku tang dibawa. Tapi, tentu saja semua hal itu sudah tidak ada akhirnya. Orang yang seharusnya tidak tahu apa-apa sudah mendapatkan informasi untuk menyerang.
“Katakan padaku apa yang kamu maksud dengan dirundung?”
Maulana, kakak Stefani tampak marah dan kesal. Ia menahan Stefani tetap berada di pintu cukup lama. Azzam pikir sebaiknya pertengkaran atau disebut apapun kekhawatiran yang terpancar di mata pria muda itu dilakukan setelah pindah ke dalam.
“Maaf, Kak, sebaiknya pindah ke dalam dulu!” usul Azzam dengan suara yang sangat kecil.
Maulana menoleh kepadanya dengan tatapan tajam. Nyali Azzam yang sudah lebih dulu menciut karena takut semakin menghilang lenyap ke dasar bumi. Ia memangku buku yang baru saja dipunggutnya dengan erat-erat.
“Ayo ke dalam, Kak!” Stefani menyelamatkan Azzam, juga menyelamatkan dirinya sendiri. “Kamu juga masuk ke dalam Azzam!”
Azzam mengangguk dengan takut. Begitu mereka bergerak melewati pintu, Azzam kembali ditatap dengan instens oleh Maulana. Perasaan tak nyaman karena terancam bisa dirasakannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Saya akan ambil minum!” kata Stefani tidak ikut duduk di ruang tamu.
“Kamu duduk di sini dan jangan bergerak!” perintah Maulana sambil menunjuka sofa.
Stefani masih berusaha untuk menolak. Mereka benar-benar beradik kakak, seperti halnya Stefani yang keras kepala seperti itu pula Maulana menghadapinya. Karena tidak akan ada hasil perdebatan itu, Azzam meletakan buku di atas meja ruang tamu dan kemudian berdiri, mewakili kedua orang yang sedang berdebat itu.
“Biar saya saja yang ambil minumannya!”
Stefani dan Maulana secara serempak menoleh ke arah Azzam yang telah berdiri dan pergi ke dapur. Samar-samar Azzam masih bisa mendengar suara Maulana yang medesak Stefani untuk mengatakan semua hal yang ingin diketahui.
Azzam mengambil dua gelas kaca bening di lemari penyimpanan, membilasnya terlebih dahulu dengan air dari keran dan mengelapnya dengan serbet. Barulah setelah itu mengambil air pada dispenser minuman. Lepas itu ia membawanya menggunakan nampan ke depan.
“Terima kasih, Azzam. Kamu tampak sangat berpengalaman menghadapi orang-orang yang keras kepala.”
Stefani mengatakan hal itu mungkin dengan maksud menyindir kakaknya. Atau benar-benar sangat murni memuji Azzam. Mau yang mana pun tampaknya Maulana yang ada di sana tidak senang dengan pujian yang diberikan Stefani.
__ADS_1
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu belum memberitahuku siapa yang melakukan perundungan padamu!” tegas Maulana, kakaknya Stefani. “Dengar ... perundungan bukan sesuatu yang harsu kamu sembunyikan!”
Azzam menghela napas. “Kalau kamu tidak mau menceritakannya sendiri! Bagaimana kalau aku yang mengatakannya pada Kak Maulana!” Azzam pikir harus ada seseorang yang menjadi penengah. Stefani tidak mau mengatakannya walau sudah dipaksa. Mungkin ia mau menyelesaikan sendiri masalahnya. Tetapi, Maulana merasa sebagai keluarga berhak tahu apa yang terjadi.
“Tidak! Saya rasa bisa mengatakannya sendiri. Kak Maulana hanya perlu tahu karena saya akan mengurusnya sendiri!” kata Stefani.
Maulana menjatuhkan punggungnya dengan sangat berisik di sofa, bersedekap, tampak lega karena akhirnya Stefani mau bicara. Lirikannya tidak lagi berisi ancaman pada Maulana, tetapi perasaan terima kasih karena sudah membantu melunakan kekeras kepalaan Stefani.
“Soal bukunya! Ini semua seri tentang masalah yang sama. Kamu bisa memakainya dulu. Soalnya Dosen yang satu itu suka sekali pembahasan tema ini! Lalu ini contoh laporannya, kamu bisa mengacu kemari!” terang Azzam sebelum benar-benar pergi.
“Aku bisa membantunya dengan laporan. Terima kasih sudah membantunya!”
Itu sebuah kalimat yang artinya pengusiran. Bahasa lainnya: Kamu sudah bisa pergi sekarang karena menganggu.
“Kalau begitu aku pergi!” kata Azzam sambil berdiri.
Azzam bisa melihat kalau kakak Stefani mendelik memperingatkan. Bahasa lainnya: Hentikan dia kalau kamu masih ingin bertemu dengan adikku.
“Tidak usah! Pinggangmu sakit, kan. Kita bisa bicara besok atau besoknya lagi di kampus. Permisi, Kak!”
Begitu melewati pintu keluar, Azzam merasa seolah terbebas. Ia tidak mengerti kenapa Maulana menatapnya dengan penuh kebencian seperti itu. Padahal ia tidak melakukan apa-apa dan hanya memberikan buku yang diperlukan Daisy saja.
“Itu pasti tidak akan aku mengerti karena tidak punya adik perempuan!” gumamnya sambil mendorong gerbang hingga tertutup kembali.
***
Stefani meraih gelas yang telah dibawakan oleh Azzam, meneguk isinya sampai habis dan merasa lebih baik. Maulana masih bersedekap, sebuah tekanan yang mengatakan kalau Stefani harus menjelaskan semuantya tanpa ada rahasia lagi.
“Ada tiga orang yang merundungku. Say tidak tahu nama mereka awalanya, tetapi mereka menyuruh saya untuk menjauhi Azzam.” Stefani memulai penjelasan yang diinginkan Maulana.
__ADS_1
“Azzam? Azzam yang tadi?” kata Maulana sambil membelalakan mata.
“Ya, Azzam yang tadi. Itu terjadi sekitar sepuluh hari yang lalu. Saya melakukan yang mereka inginkan, tetapi tampaknya bukan itu yang menyebabkan mereka menganggu saya!” lanjut Stefani.
“Apa aku harus membuat Azzam ini menjauhimu selamanya. Berani-beraninya seseorang merundung adikku karena pria yang tidak penting!” teriak Maulana frustrasi.
Stefani tidak paham kenapa kebencian Maulana malah berpindah pada Azzam.
“Akan saya katakan sekali lagi. Saya menjauhi Azzam juga memintanya melakukan hal yang sama. Kalau bukan karena kita diminta keluar dari rumah, saya tidak akan bertemu dengan Azzam!” Saat mengatakan ini ekspresinya agak sedih.
“Ini bukan kesalahanmu. Lagi pula sudah saatnya kita memisahkan diri dari sana. Cepat atau lambat Ayah tidak akan bekerja lagi di sana kita akan meninggalkan tempat itu juga!” kata Maulana. Ia berpindah ke sisi Stefani sekarang, menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan sayang. “Jadi, kenapa ini tidak berhubungan dengan Azzam?”
“Para gadis itu menyebut-nyebut soal insiden pada pesta ulang tahun. Padahal saya tidak memberikan undangan pesta pada orang-orang di jurusan saya. Yah, saya memberikannya pada seseorang dan dia tidak datang. Syukurlah!”
“Kepada siapa kamu memberikan undangan pesta?”
Rasa penasaran Maulana membingungkan, melompat-lompat dengan tidak tenang dari satu topik ke topik lainnya. Membuat adiknya tidak tenang.
“Azzam!” jawab Stefani.
Rasanya Maulana ingin berlari keluar, menemukan Azzam kembali dan menguncang pemuda itu supaya mengaku apa yang sudah dilakukan terhadap adik yang paling dicintainya.
“Ah, aku akan bicara dengannya pada hari lain.”
“Kakak tidak boleh bicara padanya!” ujar Stefani dengan tegas. Lalu gadis itu menghela napas. “Mereka tahu hal yang seharusnya tidak mereka ketahui. Tidakkah itu aneh menurut Kakak?” ujar Stefani.
“Itu benar! Kecuali ada seseorang yang memberitahunya dari luar!”
“Persis seperti itulah yang saya maksud!”
__ADS_1