
Daisy tidak bisa menolak ajakan Handoko. Saat pria tua itu sedang membuat teh dengan label kotak bernama vanilla di dapur, Daisy mengeluarkan dua potong kue dari kotak yang dibawa ayah Stefani itu ke dalam dua piring kecil.
Ketika ia telah selesai meletakan semuanya di atas meja makan, Handoko juga telah sampai dengan teko dan cangkir tehnya.
“Apa terjadi sesuatu, Ayah?” tanya Daisy.
Ia bukannya ingin mencari gara-gara karena ingin tahu apa yang dilakukan Stefani dengan tubuhnya. Ia hanya mengantisipasi apa yang akan terjadi kalau tiba-tiba kembali ke tubuhnya kembali.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Nona Daisy, tapi tiba-tiba saja dia kesal dan kembali ke mobil dalam keadaan kesal. Dia akan melempar kotak kue yang dibawanya ke kantor Tuan Mahardika, tetapi setelah melihatku diberikannya.”
“Apa mungkin kedua bertengkar lagi?” tanya Daisy.
Handoko mengangkat bahu tidak mengerti. Kemudian ia duduk di kursi meja makan di depan Daisy, mulai menyesap teh yang panas. “Makanlah! Agak sedikit penyok, tetapi masih bisa dimakan!” Handoko tersenyum, mendorong sebuah kue yang pada Daisy.
Mungkin jika ia masih menjadi seorang Daisy yang bahkan tidak paham bagaimana memanfaatkan uang dua ratus ribu untuk beberapa hari, tak akan sudi dirinya menyendok kue yang sudah sedikit penyok itu. Atau kalau ia tak pernah mencoba masalan yang dimasak sepenuh hati oleh Maulana, Daisy akan berpikir ratusan kali memakan hidangan di depannya. Tapi, ia bukan dirinya yang dulu, yang berpikir dan bertindak dengan kemudahan di sekelilingnya. Ia adalah Daisy dengan kebijaksanaan yang sudah bertambah.
“Ayah juga harus makan. Ah ... kapan Kak Maulana pulang!” tanya Daisy sambil menoleh ke pintu.
__ADS_1
Mungkin saat ini Maulana ada di jalan, terjebak macet dan mengumpat-ngumpat karena kesal. Tapi, pada akhirnya ia akan sampai di rumah dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di sepanjang perjalanan. Daisy ingat kalau dirinya sudah mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan tadi. Ia berencana untuk minta maaf pada Maulana nanti.
Mereka sama-sama tidak dewasa saat semua kejadian buruk terjadi. Maulana dengan pikirannya bahwa apa yang dilakukan untuk sang adik benar. Sementara Stefani berpikir kalau semua orang membencinya.
Handoko merogoh saku celananya, lalu meletakan dengan hati-hati sebuah kalung dengan leontin daun semanggi di atas meja. “Ini milikmu kan?”
“Astaga ... saya pikir sudah menjatuhkannya di suatu tempat! Saya pikir tidak akan mendapatkan kalung itu lagi!”
Tubuh Daisy bergetar sedikit. Ini adalah tandanya saat kembali ke tubuhnya sendiri beberapa hari lalu. Saat itu Azzam memberinya kota hadiah berisi benda ini. Hadiah kecil yang mungkin tak seberapa, tetapi diberikan dengan tulus. Ia merasa sangat tersentuh saat itu.
“Dari siapa kalung ini? Bukan dari Tuan Muda mahardika, kan?” Wajah Handoko tampak takut saat menyebut nama tunangan majikan kecil mereka.
Pandangan Handoko sedikit sendu. “Maafkan Ayah karena tidak memerikan kado untukmu.”
“Ayah, apakah saya menuntut setiap kali kalian tidak memberikan kado?”
Ada beberapa kotak yang tampak seperti kado tersimpan di dalam lemari Stefani. Karena bukan miliknya, Daisy sama sekali tidak berpikir untuk membuka benda itu. Ia akan membuat Stefani marah. Kotak-kota tersembunyi itu tampaknya adalah rahasia Stefani.
__ADS_1
Pertanyaan Daisy sama sekali tida dijawab Handoko. Sepertinya tuntutan Stefani memang terjadi.
“Kadang-kadang Ayah menolak permintaanmu karena sangat tidak masuk akal. Tetapi, Ayah tetap memberikan yang bisa diberikan!” jelas Handoko.
Ia mungkin tak mau disalahkan seperti halnya Stefani. Keluarga ini hanya kurang berkomunikasi.
***
Pukul 4:30 sore, Maulana memarkir motornya di halaman rumah. Ia bekerja dengan penuh semangat setelah Nona majikannya keluar dari ruangan dan berhasil keluar dengan selamat tepat pukul 4 sore. Tetapi, a mendapati pemandangan yang tidak diinginkan di dalam rumah. Dua camgkir teh, dua piring kecil terletak di meja makan.
“Bukankah kita sudah berbaikan, Stefani?” tanya Maulana setengan tidak percaya dengan yang sedang disaksikan.
“Saya sudah mengatakan pada Ayah untuk menunggu Kakak, tetapi Ayah berkata kalau Kakak bisa makan sendiri setelah pulang!” tuntas Stefani padanya.
Adiknya itu berdiri, membawa piring-piring kotor ke belakang. Handoko mengalihkan pandangan ke arah lain, pura-pura tidak melihat kedatangan Maulana.
“Bagaimana bisa Ayah melakukan ini padaku!” bisik Maulana sambil menarik kursi di dekat Handoko. “Aku barusan baru baikan dengannya. Maksudku kesalahan pahaman tentang perlakuanku padanya selama ini sudah selesai. Dia bilang memahami apa yang kulakukan,” jelas Maulana.
__ADS_1
“Apa hubungannya itu dengan kue?” tanya Handoko pura-pura bodoh.
Mata Maulana terbelalak seketika. Ia berteriak di dalam kepalanya karena tak ingin ketahuan oleh Stefani.