
Azzam akan bisa melihat Stefani setiap hari mulai minggu depan paling lambat. Karena itu ia tampak riang mengambil KTP milik Handoko ayah Stefani dan pergi ke warung fotokopi di pengkolan jalan masuk.
“Riang banget, Tong!” kata si tukang fotokopi yang keturunan Betawi asli.
Azzam tidak menjawab hanya tersenyum-senyum saja. Ia menanti dengan sabar fotokopian yang berlangsung cepat dan melemparkan uang seribuan ke atas etalase sambil bergegas lagi.
Begitu sampai, tampaknya pembicaraan soal surat perjanjian sudah selesai dan ibunya mengisi surat perjanjian. Ketika surat perjanjian ditanda tangani, begitu senang hari Azzam. Seolah tempat ia mendengarkan di ruangan setelah ruang tamu layaknya taman bunga.
Ia bahkan mengantar kedua lelaki-laki yang merupakan keluarga Stefani ke pintu depan.
“Kalau kami sudah tingga di sini, ketemu sama Stefani ditahan-tahan dulu! Kalian masih kuliah!” tegur kakaknya Stefani pada Azzam.
Ia sedikit bingung mendengarnya. Kepala Azzam terteleng tidak paham.
“Tampaknya anak ibu belum mendapatkan restu dari kakaknya pacar, ya?” goda ibunya yang muncul dari belakang.
“Azzam sama Stefani tidak berpacaran, Bu!” elaknya.
Walau pun Azzam ingin, Stefani tampaknya masih tidak ingin memiliki hubungan seperti itu. Yang penting Azzam tidak lagi dihindari seperti dulu. Kalau dulu, untuk mengobrol dengan Stefani saja susahnya bukan main.
“Semangat, Nak!” Ibu Azzam tampaknya masih ingin mengoda sang anak.
Begitu selesai mengoda, ibu Azzam melarikan diri ke dalam.
Azzam merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.
Azzam: Sampai ketemu tetangga.
Setelah menekan dial kirim, Azzam masuk ke dalam rumah kembali. Sepertinya ia akan mengalami kesulitan tidur malam ini, tak sabar menemui Stefani dan mendengar kabar kapan gadis itu akan pindah.
***
Daisy tertidur kembali setelah ditinggalkan Maulana sendirian. Ia masih sempat mendengar suara pintu tertutup di luar, disusul suara Handoko yang bertanya apa yang sudah terjadi.
“Jam berapa sekarang?” tanya Daisy pada diri sendiri.
Ia berusaha mengapai ponselnya, meraba-raba sebelum menemukan benda itu terhimpit di bawah bantal.
__ADS_1
Ada pesan dari Azzam. Pesan terakhir mengatakan kalau Maulana dan juga Handoko setuju dengan rumah yang diperlihatkan Azzam. Tempat itu memang bagus. Semoga harga sewa rumah itu tidak terlalu mahal. Ia sebenarnya bisa dengan mudah mengirimkan uang ke rekening milik Handoko melalui ponselnya jika sudah kembali ke tubuhnya nanti.
Pesan lainnya berasal dari Mahardika yang menanyakan apa yang sedang dilakukan.
Daisy tidak berniat membalas pesan milik Mahardika, tetapi sudah beberapa kali pria itu menelepon. Baru saja berpikir untuk menelepon balik, nama Mahardika muncul sebagai pemanggil.
“Ya, Mas?” tanya Daisy pelan.
Ia berdehem sedikit untuk menghilangkan serak di dalam suaranya.
Ada apa dengan suaramu?” tanya Mahardika segera.
“Tidak ada, hanya sedikit serak karena batuk!” jawab Daisy berbohong. Dia ernah mengalami radang tenggorokan dahulu sampai suaranya menghilang.
“Apa kamu mau kubelikan sesuatu? Sup ayam atau teh papermint?”
Daisy tidak menemukan teh pepermint di dalam laci di dapur dan tertarik untuk menyeduh teh itu. Akan tetapi, ia tak bisa membuat Mahardika ke pavilliun saat kondisi tempat ini sedang panas-panasnya.
“Tidak, Mas, saya baik-baik saja! Apa Mas mendapat masalah karena semalam?”
Mahardika tidak menjawab, itu artinya tebakan Daisy benar. Lelaki itu sudah mendapatkan masalah sebelum ditanya Daisy.
Mana mungkin itu tidak akan menjadi masalah besar untuk dua keluarga yang dusah setuju menunangkan kedua putra dan putri mereka. Mahardika pasti sudah mendapatkan pukulan telak.
“Ayah Stefani dipanggil ke ruang kerja Papa. Lalu mereka meminta supaya aku dipindahkan dari pavilliun.”
Daisy harus jujur mengatakannya, supaya Mahardika sadar kalau terus mendekati dirinya akan membuat masalah bertambah besar. Padahal Daisy sudah mau memulai penyelidikan soal perpindahan tubuhnya.
“APA!”
“Jangan berteriak, Mas. Saya sudah memperingatkan Mas Diko, loh!” ingat Stefani.
Mahardika diam sebentar. “Maafkan aku! Aku hanya tidak bisa membiarkan dirimu menghadapi semuanya sendirian> jiwa kalian bertukar. Aku bahkan tidak percaya kalau hal itu terjadi padamu Daisy!”
“Karena kejadian ini sudah terjadi, Mas tidak bisa mengatakan tidak percaya. Saya mohon, untuk sementara jangan berusaha mendekati saya dahulu. Saya tidak tahu harus memulai mencari tahu hal ini dari mana kalau masalah lain terus menganggu!”
“Baiklah! Aku akan lakukan seperti keinginanmu!”
__ADS_1
“Terima kasih kalau Mas mau mengerti!” kata Mahardika sedih. “Jadi Pak Handoko dan Maulana sudah tahu akan menempatkan kamu di mana?’
“Mereka akan ikut pindah dengan saya!”
Daisy benar-benar sangat haru mendapati kalau keluarga Stefani berubah karena masalah yang dihadapi anggota keluarga yang lainnya. Mereka saling megakui kesalahannya tidak peduli dengan akibat yang akan dihadapi.
“Baguslah! Karena aku akan sangat khawatir padamu kalau kamu hanya sendirian saja!” ungkap Mahardika.
Sebenarnya Daisy juga khawatir pada dirinya sendiri jika hanya sendirian. Kehidupan Stefani masih sangat asing padanya dan itu membuatnya cemas setiap saat. Ia bahkan tidak tahu apa yang berusaha dipelajari di kampus.
Samar-samar Daisy mendengar suara kunci diputar di depan. Ia tahu sudah saatnya berhenti mengobrol dengan Mahardika. Ia tak mau ditanyai seperti dengan siapa sedang menelepon oleh Maulana.
“Mereka sudah pulang!”
“Kalau begitu aku akan meneleponmu lagi nanti!” kata Mahardika. Ia mematikan panggilannya setelah itu.
Daisy beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu, membasuh mukanya dengan air dngin untuk mengurangi bengkak. Akan tetapi, nyatanya sama sekali tidak berhasil. Matanya masih menyipit 80% dari sebenarnya dan ia merasa malu untuk keluar.
“Stefani!” Maulana memanggil dari ruang tamu.
Daisy tidak punya pilihan lain selain muncul di sana dengan keadaan seperti ini. Ia berjalan keluar pelan sekali, berharap Maulana tidak akan memanggil kembali. Anggaplah ia masih saja tidur sekarang ini.
“Stefani! Bisa kamu kemari sebentar!” Kali ini gilitan Handoko yang memanggil.
Ia jadi mempercepat langkahnya. “Saya ke sana sekarang, Yah!” sahut Daisy cepat.
Namun, kedua orang yang tampaknya bersiap makan malam itu terpana pada Daisy yang keluar. Maulana terbelalak dan segera berdiri. Ditangkupnya kedua pipi Stefani dan dipandanginya lekat-lekat wajah Daisy.
“Ada apa?” tanya Daisy malu.
Ia tahu betul kalau penampilannya sangat menyedihkan sekarang. Matanya bengkak, suara Daisy juga parau. Kepalanya agak sakit dan yang paling memalukan perutnya mendengkur dengan keras layaknya seekor kucing yang minta dielus.
“Sudahlah! Biarkan adikmu makan dulu, jangan menganggunya dengan pertanyaan!” Handoko menyelamatkan Daisy karena kedua tangan Maulana menghilang dari pipinya. “Kemari, Nak, kamu pasti lapar!”
Daisy duduk di samping Handoko, dan menerima sodoran nasi bakar yang wangi. Perutnya mendengkur kembali saat menerima makanan itu. Sendok diberikan Maulana pada Daisy dan mereka mulai makan tanpa aba-aba.
Daisy menyukai makanan yang dipilihkan Handoko. Bukan karena makanan itu malah dan biasa dimakan, tetapi karena bentuk perhatian pria tua itu kepada putrinya.
__ADS_1
“Ibumu orang yang cantik!”
Daisy berhenti menyuap. Wajah ibunya yang mengelus-ngelus kepalanya terbayang kembali. Air matanya jatuh ke atas nasi bakar dan ia meletakan makanan itu ke atas meja sebelum kembali terisak menangis.