
“Aku tidak ingin menyetir hari ini!” Stefani mengatakannya.
Ia hampir saja tergoda untuk membawa mobil yang biasa dikendarai Daisy yang asli. Tetapi, Stefani bahkan tidak bisa naik sepeda karena benda itu buka prioritas ayahnya dahulu. Jadi membawa mobil sendiri amat sangat berlebihan untuk Stefani.
Ia tidak ingin cepat mati dan masih ingin menikmati kehidupan sebagai Daisy.
“Apa kamu butuh sopir?” Mama tiri Daisy bertanya-tanya dengan mata berbinar-binar. Tampaknya ia telah menanti hal-hal seperti ini.
“Yah, kalau boleh. Atau aku terpaksa naik taksi saja!” kata Stefani dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
Ia telah melakukan percobaan di depan cermin semalam, membuat wajah sedih, marah, cemberut, manis, dan masih banyak lagi. Wajah cemberutnya adalah yang paling mengemaskan dan pasti akan sangat berguna untuk menaklukan semua orang.
“Tidak! Sebaiknya kamu menggunakan sopir saja. Kamu mau diantar siapa?” tanya papanya pada Daisy.
Stefani tersenyum. Inilah yang diinginkan. Ia tidak mau diantar oleh sopir yang ada, tetapi ada satu orang yang pekerjaannya bukan sopir tetapi bisa menyetir. “Bisakah aku diantar Pak Handoko?’
“Handoko bukan sopir,” jawab papa Daisy lekas.
Stefani memasang wajah cemberut lagi. Ia tahu. Tetapi pria itu jelas-jelas bisa menyetir. Entah kenapa ayahnya menjadi tukang kebun yang gajinya sama dengan pelayan selama ini. Padahal kalau jadi sopir, pasti akan lebih baik bagi pria itu dan Stefani juga.
“Ya, tapi Pak handoko bisa menyetir. Saya hanya mau dia saja yang jadi sopirnya.”
Papa Daisy menurunkan cangkir kopi yang belum disesap, memandang wajah putrinya yang mengemaskan karena cemberut. Tidak mengerti kenapa Daisy malah semakin aneh saja sejak pesta ulang tahun yang diakhiri dengan pingsan tanpa penyebab pasti itu.
“Sopir berpengalaman lebih baik, Daisy. Bagaimana kalau Pak Handoko kecelakaan di jalan karena tidak biasa?” Ada banyak sopir di rumah ini. Totalnya ada tiga orang dan hanya dua yang difungsikan dengan benar. Satu lagi adalah sopir cadangan.
“Papa mau saya celaka?”
“Bukan begitu maksud Papa!” Papa Daisy mengeleng.
Stefani tersenyum melihatnya. Sepertinya ia telah menang dalam perdebatan ini. Yang jelas ayahnya akan menjadi sopir untuk Stefani ke depannya. “Pak Handoko kan pekerja lama di rumah ini! Masa sih dia tidak bisa dipromosikan!” katanya merungut kecil.
“Terserah kamu saja!” kata papa Daisy akhirnya.
__ADS_1
Pria itu meraih cangkir lagi, menegukanya hingga hanya tersisa sebuk hitam di dasar cangkir dan berdiri. Ia menoleh pada istri keduanya Aida terlebih dahulu sebelum kemudian pada Daisy.
“Uang jajanmu minggu ini sudah Papa transfer. Jangan buat masalah!”
Stefani mengerjap mendengar kata “transfer”. Ia bukan Daisy yang asli bagaimana caranya mengunakan uang itu?
***
“Pak Handoko, Anda dipanggil Nona Daisy!”
Handoko yang tengah sarapan di ruang tamunya mengangkat kepala pada pelayan wanita yang datang ke pavilliun. Pelayan wanita itu adalah yang paling akrab dengan Nona Daisy, hampir mengurus semua masalah anak majikannya itu.
“Ada apa ya?” tanya Handoko.
Ia sempat melirik putrinya, Stefani, yang kini juga tampak tertarik dengan alasan dirinya dipanggil.
“Mulai hari ini Pak Handoko akan menjadi sopir pribadi Nona Daisy. Jadi kemungkinan akan diberikan kunci mobil dan seragam.” Seperti halnya Handoko yang melirik putrinya, Raise pun melakukan hal yang sama. “Nona Daisy bilang, kamu tidak boleh ikut!” katanya setelah bertatapan dengan Stefani.
“Aku akan segera ke sana!” kata Handoko, melindungi putrinya dari kemarahan Raise.
“Apa kamu suka dengan sarapannya?” tanya Handoko.
Ia mengelap tangan dengan serbet kertas dan menatap piring Stefani yang masih banyak sisa. Roti bakar dan telur mata sapi, ditambah saus dan keju. Biasanya Daisy memakan apapun yang disediakan untuknya. Juga membuat apa yang dipikirnya akan disukai orang lain.
“Telurnya agak asin, Yah!” kata Maulana menginterupsi.
Handoko tidak makan telur tadi, karena menyajikannya untuk anaknya. Maka diambilnya telur bagian Maulana sedikit dan dimasukan ke dalam mulut. Bukan hanya asin saja, tetapi dekat sekali dengan rasa laun mati. Jadi ia tertawa.
“Maaf, ya, Stefani! Ayah tahu kalau kamu tidak suka dengan makanan yang kuat.”
Putrinya itu mengerjap-ngerjap. “Bukan begitu!” katanya agak gagap. “Saya akan memakannya sampai habis!”
Stefani mencocol telurnya dengan garpu, memotongnya menjadi bagian kecil sebelum memakannya.
__ADS_1
“Hei Stefani, apa kamu sudah mencoba menjadi gadis anggun seperti Nona Daisy sekarang?” Maulana menunjuk Stefani adiknya menggunakan garpu. “Pendidikan kalian berbeda, jadi jangan mencobanya!”
“Maulana, jangan buat adikmu jadi memikirkan hal kemarin lagi!”
Stefani tidak menyahut, bahkan tidak mengangkat kepalanya. “Aku tidak mencoba begitu!” katanya pelan, tetapi nadanya tegas.
Handoko seperti mendengar Nona Daisy sedang berbicara dengan seseorang. Setelah dipikirnya, mungkin Stefani hanya ingin mencoba bersikap begitu.
Putrinya telah terlalu banyak diabaikan sehingga ingin mencoba menjadi orang lain. Jadi rasanya itu biasa saja baginya.
“Ayah ... apa aku boleh ikut?” tanya Stefani pelan pada Handoko.
Handoko tersenyum. Sejak kemarin Stefani memiliki keinginan aneh untuk bertemu dengan Daisy, putri majikan mereka. Hanya saja, keputusan sudah diumumkan kepada semua orang kalau Stefani untuk sementara dilarang mendekati rumah utama, atau bertemu dengan putri majikan mereka.
“Larangan tidak kadang tidak dimaksudkan sebagai hukuman Stefani. Ini hanya sebagai introspeksi diri untukmu. Pikirkan apa yang sudah kamu perbuat, mengerti.” Karena putrinya sama sekali tidak menyahut, Handoko pikir kalau Stefani sudah paham betul. “Ayah akan pergi sekarang! Apa kamu butuh uang jajan!”
Kepala Stefani terangkat. “Ya,” jawabnya lekas.
Maulana tertawa melihat hal itu. “Apakah aku perlu memberimu uang jajan juga? Ini pertama kalinya kamu menyahut saat ditanya jajan.”
“Ya, berikan aku cukup banyak!”
Handoko ikut tertawa. Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang 50 ribu.
Maulana melakukan hal yang sama dan mengeluarkan uang 100 ribu. “Cukup?”
Stefani mengernyit, memikirkan hal yang tidak bisa diduga Handoko maupun Mulana dan kemudian mengangguk. “Sudah!” Tetapi wajah gadis itu jelas-jelas mengungkapkan hal lain.
“Kamu tahu kan kalau sekarang akhir bulan?” Kali ini Maulana mengoda adiknya itu.
Wajah Stefani menjadi cemberut. Handoko merasa pada akhirnya sang putri menjadi seperti anak perempuan lainnya yang pandai mengekspresikan perasaan. Ia membelai kepala putrinya yang sudah 20 tahun tersebut. Sudah lama sekali Handoko tak melakukan hal ini.
“Ayah akan bertanya pada Nona Daisy nanti, oke?” kata Handoko.
__ADS_1
Ia ingin putrinya lebih baik.