
Kakek yang memberinya botol duduk di dekat jendela, tampak tidak senang. Matanya terpaku pada Stefani dan tidak berkedip sedikit pun. Stefani sedikit gentar menerima tatapan amarah tersebut. Ia bertanya-tanya apa kesalahan yang sudah diperbuat sehingga harus menerima tatapan semacam itu.
“Aku tidak mengerti harus berapa banyak supaya kamu sadar dengan apa yang kamu miliki.”
Kening milik Daisy yang kini tubuhnya dipakai Stefani berkerut. Memang apa yang dimilikinya sampai sekarang. Jelas tidak ada selain takdir menyedihkan.
“Anda berkata seolah sangat mengenal saya, Kakek. Kita pertama kali bertemu seminggu yang lalu malam hari di samping tong sampah. Apa Kakek perlu diingatkan apa yang Anda katakan?” Alis Daisy yang tubuhnya sedang digunakan Stefani terangkat.
“Beberapa orang tidak sadar. Kamu adalah salah satunya.” Kakek yang duduk tadi itu berdiri dari duduknya. Ia kemudian berjalan perlahan ke arah Stefani.
Stefani mundur sebanyal langkah kaki si kakek. Bagaimana kalau kakek tua yang memberikannya botol kecil berisi cairan biru berbuat buruk padanya. Otaknya mulai menghitung berapa banyak melangkah ke belakang untuk bisa mencapai pintu. Ia yakin bisa bergerak lebih cepat dari kakek tua yang memakai tongkat ini.
Bergegas Stefani berbalik lari ke belakang untuk mencapai pintu. Akan tetapi, tidak berhasil. Si kakek tua entah bagaimana sudah ada di depannya.
Kaki Stefani mendadak terbelit dan membuatnya jatuh terjerambab di lantai. Untung saja karpet kamar tidurnya tebal. Punggung dan bokongnya sedikit nyeri, tetapi tak begitu menyakitkan.
“Apa sebenarnya maumu!” teriak Stefani semakin kesal.
Kekesalannya masih belum sirna semua dan tiba-tiba saja harus mendapatkan masalah baru. Si kakek tanpa alasan yang jelas marah dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti.
“Tidak ada. Aku hanya mau memperingatimu. Semoga kamu tidak menyesal.”
Kakek tua itu menyeringai menakutkan.
Mau tak mau seluruh tubuh Stefani merinding karena takut dan ia berteriak sekuat tenaga. Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan dua pria yang dikenalinya sebagai penjaga meloncat masuk ke dalam kamar. Raise juga menyusul di belakang, membantu Daisy berdiri dan memeluk majikannya itu.
“Tenanglah, Nona, apa yang terjadi?” tanya Raise khawatir.
Stefani tidak bisa memberitahu kalau hal yang ditakutkan tidak bisa ditangkap. Sampai saat ini otaknya masih belum juga menemukan jawaban tentang bagaimana kemunculan si kakek selalu dengan cara tiba-tiba di dalam ruangan yang sama dengannya. Padahal pintu dikunci waktu itu. Padahal seseorang tengah berdiri di depan pintu sehingga pasti akan kelihatan kalau ada yang menerobos masuk.
__ADS_1
“Ke-coak!”
Stefani tidak punya pilihan lain selain yang dikatakannya. Ia hanya akan disebut gila jika mengatakan kalau ada seseorang yang sudah masuk ke kamarnya yang dalam keadaan terkunci.
“Kecoak?” Dua penjaga yang meloncat masuk lebih dulu dan kini memasang kuda-kuda di tengah ruangan bersuara serempak.
Mereka berdiri tegap kembali, hampir tertawa, tetapi berhasil melarikan diri. “Nona bisa tunggu di luar supaya kami mencarinya,” kata salah satu dari mereka.
Stefani mengangguk dan masih di dalam pelukan Raise pergi keluar.
“Tolong ambilkan kursi untuk Nona!” Raise melambai pada salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari lorong.
Yang dipanggilnya segera menghilang. Tak lama kursi yang diminta sudah diletakan di sisi dinding di depan pintu kamarnya. Lalu tangan Raise dengan ahli memijat dahi Stefani.
Ketegangan yang dirasakan Stefani sebelumnya lenyap seketika. Ia merasa sudah nyaman karena ada di dekat banyak orang. Kalau perlu ia ingin tidur dengan seseorang juga malam ini. Ia menatap Raise dengan sedikit malu.
Raise menatap Stefani dan tersenyum. “Tentu saja, Nona, saya akan menemani Anda sampai tertidur.”
Stefani bertambah tenang sekarang. Ia melupakan semua hal yang mengesalkannya. Toh, dirinya masihlah menjadi Daisy dan gadis yang dirasuki ini tidak pernah kehilangan apapun. Tidak pernah.
***
Orang itu yang dipanggil Master menyuruhnya bertanya pada orang yang dicintai. Masalahnya, bagaimana bicara dengan Daisy yang masih ada di dalam tubuh Stefani tanpa menarik perhatian. Datang ke sana dan kemudian berkata kalau ada hal penting yang mau dibicarakan tentu saja tidak mungkin.
Baik itu Maulana dan ayahnya tidak akan membiarkan Mahardika mendekati Daisy yang bersemayam di dalam tubuh Stefani. Lalu Daisy sendiri akan menghela napas saat dirinya muncul tiba-tiba padahal sudah diperingatkan.
“Ini mengesalkan!” gumam Mahardika sambil meregangkan tubuhnya.
Ia meletakan buku yang sedang dibaca di atas meja dan berjalan ke ruang makan yang tampak sibuk. Para pelayan berusaha menghidangkan makanan tepat waktu.
__ADS_1
Salah satu dari pelayan yang sedang bekerja menyadari kedatangan Mahardika. Ia lekas menyikut temannya kalau-kalau Mahardika melayangkan peringatan karena hidangan lama sekali diumumkan.
“Kerja saja, jangan pedulikan saya!” kata Mahardika sambil tersenyum.
Pelayan itu melongo dan kemudian semakin cepat mengerjakan menata hidangan di meja makan. Malahan, salah satu dari yang bekerja bergegas pergi ke dapur untuk mengabarkan kedatangan Mahardika.
Mahardika tidak mau memberikan kelonggaran. Ia senang para pekerja di rumahnya bekerja lebih giat saat mengetahui kedatangannya. Pertanda kalau loyalitas mereka masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia kemudian melintasi ruang makan dan sampai ke pintu yang terhubung dengan taman cantik.
Jikalau pagi dan siang, pintu ini akan terbuka sehingga bau bunga yang tumbuh di taman samar-samar akan tercium saat angin berhembus. Orang tua Mahardika yang tak lagi pergi ke kantor menikmati momen itu. Setelah mereka berdua pensiun dan menyerahkan semua pengurusan perusahaan padanya, Mahardika jadi jarang di rumah. Tetapi, ia bersyukur karena kedua orang tuanya bisa beristirahat.
Saat Daisy singgah ke rumahnya dulu, ia suka pada taman milik keluarganya dan berkata ingin tukang kebun keluarga Agra mempelajari taman yang ada di sini.
“Benar juga!” gumam Mahardika tiba-tiba.
Ia bersyukur bisa mengingat keinginan Daisy saat ini. Handoko, ayahnya Stefani yang tubuhnya tengah dirasuki Daisy. Pasti jika mencari Handoko maka tidak akan ada yang curiga. Apalagi ia beralasan tentang taman yang disukai Daisy. Paling-paling semuanya beranggapan kalau Mahardika tengah menyediakan hadiah tambahan untuk tunangannya.
“Sebaiknya aku juga membawa sesuatu.”
Mahardika mengingat kue yang disukai Daisy seketika. Gadis itu pernah dibawanya ke toko kue yang cukup terkenal. Pasti Daisy akan menyukai kuenya dan tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
Ditambah lagi besok adalah hari minggu, sehingga baik Daisy, Maulana, dan Mahardika tidak pergi ke kantor. Jadi ia bisa ke sana dan berbasa-basi. Yang paling membuatnya malas adalah bertemu dengan Stefani yang kini ada di tubuh Daisy yang asli. Kecurigaan akan datang kalau seandainya ia tak menemui tubuh Daisy yang asli.
“Aku bisa bertahan! Tidak masalah!” Mahardika meyakinkan diri kalau bisa melewati semua hal.
“Tuan!”
Mahardika terperanjat kaget karena terlau berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri. Ia menoleh dan mendapati kalau pelayan yang ada di ruang makan telah menyusul.
“Hidangan sudah selesai, Tuan. Nyonya dan Tuan Besar sudah menanti!” lapor pelayan itu padanya.
__ADS_1