Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Bukan Permintaan Maaf


__ADS_3

Mahardika tahu kalau ia tak bisa melakukan ini. Tetapi, walau pun tidak bisa ia harus melakukannya. Perasaan kesal merayap di dalam hati Mahardika.


Ia berbelok di parkiran kampus, tetap berada di mobil selama beberapa saat untuk menghubungi Stefani yang kini kemungkinan masih ada di dalam gedung.


Mahardika: Di mana kamu Stefani?


Anehnya tidak ada jawaban padahal lima belas menit telah berlalu. Apa gadis itu sedang sok jual malah pada Mahardika? Ia memang sudah tidak menelepon ke ponsel Daisy lagi sejak sepuluh hari yang lalu. Padahal biasanya setiap malam ia memberi kabar pada tunangannya itu. Seperti itulah perasaannya berubah karena bukan jiwa Daisy yang asli yang ada di dalam tubuh tunangannya itu.


Mahardika benar-benar berkeinginan memaki. Tetapi, rasa tamparan yang dilayangkan papinya kemarin malam masih terasa.


Mahardika mencoba menghubungi ponsel Daisy sekarang, bukan hanya mengirimkan pesan. Ponsel itu berdengut terhubung. Butuh hampir beberapa kali mencoba sampai ponsel tersebut diangkat.


“Halo, Tuan Mahardika?”


“Ini siapa? Mana Daisy?” Mahardika balik bertanya. Aneh sekali karena ponsel yang biasanya dipakai oleh Daisy dengan seharusnya juga digunakan oleh Stefani kini malah diangkat orang lain.


“Nona tidak membawa ponselnya, Tuan Mahardika. Sudah tiga hari saya melihat ponselnya ada di atas meja rias. Saya Raise Tuan!”


Mahardika menyandarkan punggungnya di atas kursi mobil, memejamkan mata. Kalau Sefani tidak membawa ponsel kemungkinan karena Daisy sudah memberikan kunci pengaman pada ponsel itu sehingga tidak bisa dibuka.


“Baiklah! Terima kasih!” kata Mahardika.


Tepat saat itu Mahardika terpaku pada mobil yang parkir berhadapan dengannya. Dari mobil berwarna putih susu itu keluar Stefani tampak senang dan penuh semnyuman.


Rasa kesal yang memang sudah ada di dalam hatinya pada Stefani semakin membesar. Setelah memberikan Mahardika masalah, gadis itu malah tidak berpikir.


Didorongnya pintu mobil hingga terbuka, kakinya bahkan baru menjejak satu ke lantai beton, suara Mahardika sudah mengelegar menyambar Stefani yang mengunakan tubuh Daisy.


“DAISY!”


Daisy yang akan pergi ke arah gedung jurusan berhenti dan menoleh seketika kepada Mahardika yang berdiri di sisi mobilnya. Pria muda yang bersama Stefani juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Oh, ada Mas Dika! Kalau begitu saya kembali ke kelas lebih dulu!” kata si pria yang dilupakan namanya oleh Mahardika.


“Oke! Makasih traktirannya!” Stefani melambai pada pria muda itu.


Tanpa berbalik, si pria  muda  melakukan hal yang sama. Tak lama hanya ada Mahardika dan Stefani saja yang ada di lapangan parkir.


Mahardika membuang napas keras. Ia kemudian membuka pintu mobil lagi dan mengambil sebuah ponsel dari dalam rak dashboard. “Pakai ini! Susah sekali menghubungimu kalau kamu tidak memiliki ponsel!”


Stefani malah bersedekap, sama sekali tidak berniat menerima ponsel yang disodorkan Mahardika.


“Jika ini bentuk permintaan maaf, Mas Dika, aku sama sekali tidak menginginkannya!”


“Apa aku sudah menyebutkan sebagai sebuah permintaan maaf? Sepertinya tidak ada perkataan seperti itu yang aku katakan!” tegas Mahardika.


“Jika bukan sebuah permintaan maaf, kenapa Mas Dika sampai menyodorkan ponsel pada saya?”


“Jangan memperumit masalah yang sebenarnya tidak ada hubungannya Stefani. Aku menyerahkan ponsel ini supaya kamu bisa dengan mudah dihubungi, tidak ada hubungannya dengan permintaan maaf!”


Stefani memandang ponsel itu sebentar dan membuang napas kasar. Walau tampak enggan, tetapi gadis itu pasti paham fungsi ponsel yang diberikan Mahardika.


“Mana permintaan maaf untuk perlakuanmu kemarin?”


Mahardika tertawa. “Permintaan maaf untukmu? Apa tidak salah? Aku bahkan tidak melakukan hal yang salah padamu, oke! Aku menemui tunanganku Daisy dan memberitahumu kalau aku tahu masalah yang terjadi, kenapa hal itu jadi masalah untukmu? Bukankah dalam hal ini akulah yang dirugikan?”


Stefani mengepalkan tangannya, sangat marah. “Kamu berkata kasar padaku!” teriaknya.


Sekali lagi beruntung karena lapangan parkir sepi, hanya ada mereka berdua saja. Kalau tidak pertengkaran ini akan menjadi gosip yang beredar dengan cepat.


“Apa perkataanku yang kasar menurutmu?”


Stefani tidak bisa menjawabnya. Atau ia sedang berpikir sangat keras saat ini. Ketika ia akan membuka mulutnya, mobil yang kini disopiri Pak Handoko berhenti di sebelah mobil Mahardika dan pria tua itu turun dengan memandang keheranan kepada dua sejoli yang tampak sedang cekcok itu.

__ADS_1


Mahardika mengingatkan dirinya kalau hanya Stefani yang bersalah di sini. Makanya ia pamit, tanpa sekali pun menoleh pada Stefani.


***


Tidak ada kesalahan apapun pada ucapan Mahardika. Pria itu memang tidak pernah berkata kasar padanya. Akan tetapi, Stefani tetap kesal pasa semua perkataan Mahardika.


“Bagaimana mungkin aku suka padanya dulu?” tanya Stefani bergumam.


Anehnya sampai saat ini Mahardika sama sekali tidak menjadi benci. Ia malah ingin sekali menaklukan Mahardika apapun yang terjadi.


Stefani mendorong punggungnya sehinga tengadah, ia harus melupakan sementara semua hal tentang Mahardika dan fokus untuk membuat Daisy kehilangan kepercayaan dirinya. Gadis itu harus sampai pada titik menyendiri sepertinya dahulu.


Perundungan yang direncanakan Brian tidak akan berhasil kalau hanya selevel itu saja.


“Apa yang harus kulakukan?” Ia bergumam lagi.


“Apa ada sesuatu yang terjadi di kampus?” tanya Handoko, ayahnya pada Stefani.


“Kenapa Bapak ingin tahu? Memang ada hal yang bisa Bapak bantu kalau tahu?” Stefani menghujani Handoko dengan kalimat pertanyaan meremehkan.


“Kata orang masalah akan terasa ringan kalau dibagi dengan seseorang!”


“Ya, ringan kalau orang yang mendengar membantu. Kalau Bapas sih bakal mengabaikan semuanya, kan? Misalnya saja Stefani?”


Stefani bisa melihat kekagetan Handoko. Apa yang dipikirkan pria tua yang punggungnya bisa dilihat Stefani ini? Bahwa tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya. Ia tak bisa menyebutkan bahwa ayahnya yang tersayang kini sedang bicara dengan putrinya sendiri.


“Apa Anda mau singgah di suatu tempat dulu, Nona?” tanya Handoko.


Suaranya bergetar saat sampai di telinga Stefani. Anehnya, hal itu mengusik perasaannya sendiri. Seharusnya itu tidak terjadi karena Stefani sudah menunggu hal semacam ini terjadi.


Sebuah kalimat muncul lagi di dalam kepala Stefani. “Bapak rupanya masih berbakat untuk melarikan diri?”

__ADS_1


Dari spion tengah, Stefani bisa melihat wajah ayahnya yang tengah menyetir. Pria tua itu kelihatan sangat sedih. Dan Stefani juga merasakan hal yang sama karenanya.


Jadi ia menegakkan punggungnya, bersandar pada kaca dan menatap keluar jendela. Perasaannya tidak menjadi lebih baik saat melakukan hal itu. Akan tetapi, ia tidak harus menatap pantulan wajah Handoko kembali.


__ADS_2